13 Pembunuh

13 Pembunuh
Cerita kelam masa lalu


__ADS_3

Senja telah tiba, burung- burung sudah terbang kembali ke sarangnya, pancaran cahaya jingga di langit barat melukiskan pemandangan yang indah.


Sabarewang menjalankan kereta kudanya dengan perlahan, perasaannya terasa berat, seumur hidup dia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian yang dialaminya hari ini.


Saat itu keadaan diluar kereta kuda sangat menegangkan, Respati tergeletak tak berdaya dihajar sabit perak Ki Suket Gajah, mungkin tidak lama lagi Dewi Malam Beracun juga tidak akan bisa bertahan. dia ingin sekali keluar untuk membantunya, tapi itu akan sia- sia, ilmu silat yang dimilikinya jauh dibawah mereka berdua.


Dikala pikiran buntu dan kepanikannya sudah memuncak, tiba- tiba Satriyana mencabut sebilah pisau kecil dari balik bajunya, pisau itu baru dibelinya saat berada di Punggingan bersama Respati. belum sempat Sabarewang bertanya, gadis kurus itu sudah menyayat pergelangan tangannya sendiri. darah segar seketika mengucur.,


''Bocah gila., Apa yang telah kau lakukan.,?'' sentak Sabarewang kaget bercampur geram.


Satriyana maju mendekat, sepasang mata gadis itu yang seakan memancarkan cahaya kemerahan menatap tajam Sabarewang,


''Cepat kau minum darahku.!''


''Ap., apa kau bilang., apakah sekarang ini kau sudah tidak waras, jangan berbuat gila.!'' bentak Sabarewang sambil mendorong tubuh gadis itu, tapi bukannya mundur malah Satriyana balik membentak ''Minum kataku.!''


Entah kenapa Sabarewang seakan merasa ngeri melihat gadis itu, sepasang matanya yang bersinar merah tajam menusuk jiwa, suara bentakannya bagaikan mempunyai pengaruh gaib yang sulit dilawan.


''Minum darahku sekarang Sabarewang.!'' Suara perintah gadis itu seakan menggaung ditelinganya, tanpa sadar dia menurut, darah yang menetes dari pergelangan tangan kanan Satriyana mulai diminumnya, darah itu meskipun panas tapi terasa manis, setiap tegukan darah yang dia hisap dari tangan Satriyana seakan membuat tenaga dan hawa sakti di tubuhnya meningkat. sebaliknya Satriyana terlihat mulai pucat.


Sabarewang langsung tersadar melihatnya, dengan sekuat tenaga di dorongnya tubuh gadis kurus itu hingga membentur dindung kereta kuda, Sabarewang merasa menyesal. ''Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau melakukan ini., siapa kau sebenarnya.,?'' tanya Sabarewang sambil memeluk tubuh gadis kurus itu.


''Kau tidak perlu takut., aku tidak apa- apa..'' jawab Satriyana lirih sambil menunjuk Anggana yang tertidur lelap, ''Aku sama dengannya, kami masih sedarah.!'' bisik Satriyana tersenyum lemah.


''Kau., kau., 'Jadi kau juga keturunan dari keluarga Istana Angsa Emas.?'' desis Sabarewang tidak percaya. gadis itu cuma mengangguk, ''Aku ingin berkata bukan, tapi kenyataannya seperti itu, aku bisa apa.,?''


Satriyana meronta bangkit, dia seakan tersadar, ''Sekarang juga kau bantu Dewi Malam Beracun., bawa Respati lebih dulu kemari, akan kugunakan darahku untuk menolongnya.,!''

__ADS_1


''Tapi Satriyana.,kalau begini caranya kau bisa kehabisan darah.,!'' ujar Sabarewang khawatir. ''Kau lakukan saja perintahku.!'' Sentak Satriyana, matanya kembali memancarkan cahaya kemerahan. tubuh kurusnya menegak dengan angker, Sabarewang tersurut, tanpa banyak kata orang inipun keluar dari dalam kereta kuda.


Langit sudah mulai gelap, gerombolan kelelawar yang terbang melintas dan suara serangga malam seakan menyadarkan Sabarewang dari lamunannya, dalam hatinya lelaki ini masih tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya, dia juga tidak dapat membayangkan penderitaan seperti apa yang telah dialami gadis itu selama hidupnya. perlahan dia arahkan kereta kudanya agak masuk kedalam hutan, dia mesti mencari tempat yang aman dan terlindung dibalik pepohonan untuk mereka beristirahat.


Di dalam kereta kuda tubuh kurus Satriyana yang masih lemah nampak terkulai dalam pelukan Respati, sepasang matanya terlihat sayu, gadis itu tersenyum saat merasakan Pemuda itu membelai dan sesekali mencium rambutnya yang hitam pendek. ''Maafkan aku karena tidak sedari awal berterus terang pada kalian..'' gumam gadis itu menunduk.


''Kau jangan banyak bicara dulu., justru kamilah yang harusnya meminta maaf dan berterima kasih kepadamu., kalau bukan karena pengorbananmu mungkin kita semua sudah mati.,!'' bisik Dewi Malam Beracun dengan mata sembab, meskipun seringkali bersikap sombong dan galak, tapi sebenarnya wanita ini gampang tersentuh hatinya.


''Dengarkan aku., apa yang terjadi hari ini jangan sampai tersiar keluar, yang terpenting sekarang kau harus beristirahat memulihkan diri, akan kuminta Sabarewang membantuku membuat ramuan obat untukmu.,!'' ujar wanita itu, dia sempat melirik Respati yang terus mendekap Satriyana, lalu turun dari kereta kudanya.


''Dulu dimasa kecil aku terkenal sebagai bocah perempuan nakal. kalau anak perempuan lain bermain boneka, masak- masakan, dan menari, aku lebih suka bermain dengan anak laki- laki, memanjat pohon, berburu binatang, atau malah ikut berkelahi, aku sering menang., kalau terluka aku juga lebih cepat pulih di bandingkan anak lain..''


Gadis itu terbatuk kecil, Respati memintanya untuk tenang, tapi dia menolak, ''Aku hanya ingin bercerita., apakah kau tidak suka mendengarnya.?'' pemuda itu menggeleng, ''Aku cuma khawatir denganmu., tapi kalau kau suka teruskan saja ceritamu itu., aku senang mendengarkannya..''


Satriyana tersenyum, lalu kembali berkisah, ''Mulanya aku mengira tubuhku ini memang terlahir lebih kuat dari anak lain, tapi ternyata lebih dari itu., 'Suatu ketika ada seorang pengemis tua yang sekarat dipinggir sungai dekat desaku, lalu pengemis tua itu dibawa kerumah kami untuk ditolong, tabib kampung mengatakan kalau sakitnya sudah sangat parah dan mungkin umurnya tidak lama lagi..''


''Dia hanya menyuruh membuatkan wedang jahe dan temulawak untuk menghangatkan badan pengemis tua itu, saat mengupas jahe tanpa sengaja jariku tergores pisau, tetesan darahnya tercampur kedalam gelas bambu berisi air wedang., karena malas merebus air lagi, wedang jahe itu langsung kuberikan pada pengemis tua itu., dan kau tahu apa yang terjadi,? keesokan paginya pengemis itu sudah merasa sehat, tabib dan orang sekampung sampai kebingungan melihatnya. Hii., hi, hi.,!''


Satriyana menoleh, ''Aku ingin bertanya., kau pernah bilang sudah membunuh lima orang waktu umurmu baru tiga belas tahun, benarkah itu.,?''


Pemuda itu seakan terhenyak, otot tubuhnya menegang, setelah menarik nafas panjang diapun mengangguk membenarkan. ''Kejadiannya sudah sangat lama, kenapa kau tanyakan itu.,?''


Gadis kurus itu menatap tajam si pemuda, lalu berkata tajam, ''Semua kejadian pasti ada sebabnya, katakan kenapa kau sampai bisa menjadi pembunuh di usia semuda itu.? 'Pertanyaanku ini boleh tidak kau jawab kalau kau tidak suka.!'' ujar Satriyana tegas.


Respati terdiam, sejujurnya dia paling benci mengingat masa lalu.


''Kau selalu ingin tahu hubunganku dengan Dewi Malam Beracun, nama dia yang sebenarnya adalah Roro Wulandari, Ibu kami berdua masih saudara sepupu. jadi aku dan Roro masih satu buyut..''

__ADS_1


''Ooh., jadi kakak Dewi Malam Beracun masih adik sepupumu.?'' tanya Satriyana tertarik.


''Kau salah, umurnya hampir empat tahun lebih tua dariku..'' jawab Respati. ''Benarkah., tapi dia sepertinya masih dua puluhan tahun, kakak Dewi benar- benar wanita yang pandai merawat diri.!'' seru gadis itu tidak percaya sekaligus kagum. ''Tapi apa hubungannya dengan ceritamu,?''


Respati melanjutkan ceritanya, ''Ayahku seorang prajurit keraton, dia gugur di medan peperangan, sejak itu kami tinggal bersama keluarga paman Sindu Wijoyo, ayah Roro yang sangat kaya raya..''


''Kau tahu semua sawah, ladang dan ternak di desa itu adalah milik keluarganya. meskipun kami masih terhitung saudara, tapi Ibu tidak mau hanya hidup menumpang, beliau juga ingin bekerja pada keluarga itu sebagaimana semua orang di kampung..''


''Sampai suatu ketika ada saudagar emas kaya raya kenalan paman Sindu yang berniat menjodohkan anak lelakinya dengan kakak sepupuku itu, sejak kecil Roro memang terkenal cantik dan sombong, meskipun begitu dia tidak jahat. hanya., sedikit jahil dan suka menang sendiri.!''


'Aku tidak menyangka kalau ternyata kakak Dewi berasal dari kekuarga terpandang..'' gumam Satriyana geleng- geleng kepala. ''Kalau begitu kenapa dia juga jadi pembunuh bayaran sepertimu., apa yang sudah terjadi padanya.?'' desak Satriyana tidak sabaran.


''Kalau kau ingin tahu, lebih baik tanyakan saja langsung pada orangnya.,!'' gerutu Respati kesal. Satriyana nyengir, ''Baik- baik., ayoh lanjutkan kisahmu, kau jangan marah aku tidak akan menyela..'' pintanya merayu.


Si pemuda menghela nafas, ''Kalau semua diceritakan akan sangat panjang., singkatnya keluarga paman menolak secara halus, selain dikarenakan Roro sendiri belum ingin menikah, paman juga tahu anak saudagar itu biarpun gagah dan tampan tapi bukanlah pemuda yang baik kelakuannya.,!''


''Meskipun kecewa dan tersinggung, tapi saudagar emas itu tidak dapat berbuat banyak, dengan kesal dia bersama anaknya berpamitan pulang., tapi rupanya kejadian ini tidak dapat diterima oleh anak juragan emas itu, diam- diam dia menyuruh beberapa orang untuk menculik Roro. dan usahanya berhasil.!''


''Waktu itu keluarga paman dan semua orang dikampung sangat panik dan marah, mereka berusaha mencari kakak sepupuku itu juga para penculiknya, meskipun umurku masih sangat muda, tapi aku juga tidak bisa hanya


tinggal diam menunggu. dengan semua petunjuk yang kudapat akhirnya mereka dapat kutemukan berada didalam sebuah gubuk tua yang ada ditengah hutan..''


''Sebenarnya aku hendak memberitahu paman dan para penduduk terlebih dahulu, tapi sepertinya pemuda laknat itu beserta keempat orangnya yang sudah mabuk minuman keras hendak berbuat tidak senonoh kepada Roro yang masih terbaring pingsan. tanpa pikir panjang diam-.diam aku membakar sekeliling gubuk itu, saat api mulai berkobar aku menerobos gubuk itu melalui celah dinding bambu yang sudah reot.!''


''Sebisanya kuseret sepupuku, beberapa


pukulan dan tendangan sempat kuterima dari mereka berlima, juga terjilat api yang membakar gubuk. entah kudapat kekuatan dari mana hingga aku mampu menahan semua itu., mungkin karena sudah mabuk berat dan kepulan asap gerakan para penculik itu menjadi lambat, satu orang sempat hampir lolos keluar gubuk, tapi bisa kuhantam pingsan dengan mengunakan balok kayu dan batu.!''

__ADS_1


Respati terdiam sesaat, matanya menatap nyalang kedepan, bibirnya menyeringai tipis, darah Satriyana berdesir, dia merasa ada hawa gelap yang menyeramkan terpancar diwajah pemuda itu. tanpa sadar dia merasa takut.!


''Teriakan kesakitan dan lolongan meregang nyawa dari mulut mereka seakan masih bisa kudengar ditelingaku, meskipun itu sebuah perbuatan yang keji, tapi aku tidak pernah menyesalinya.!'' tutup si pemuda mengakhiri cerita masa lalunya. gadis itu ternganga, hatinya merasa ngeri seakan dia baru saja menyaksikan sendiri kejadian itu.


__ADS_2