13 Pembunuh

13 Pembunuh
Merekalah Keluargaku.,


__ADS_3

Sebuah kereta kuda yang ditarik oleh dua cokelat masih berhenti di tempatnya. tepat disamping kanan kereta kuda berdiri Sabarewang dengan sikap kewaspadaan. biarpun malam semakin larut, bahkan mungkin juga sudah melewati tengah malam orang tinggi kekar dan brewokan ini belum juga mau mau tidur. padahal malam ini terasa cukup melelahkan baginya juga ketiga kawan karibnya.


Hati orang ini terasa risau, sungguh dia tidak pernah menyangka latar belakang Satriyana yang merupakan darah keturunan terakhir penguasa istana Angsa Emas ternyata masih sangat banyak menyimpan rahasia.


''Tuan putri., dari tiga puluh kulubalang kepala pasukan istana Angsa Emas, sekarang yang masih hidup cuma tinggal enam orang saja termasuk kami berdua..''


''Dulu lebih dari separuh telah tewas saat terjadi pemberontakan yang melibatkan kelompok 13 Pembunuh. beberapa diantaranya malah ikut berkhianat dan menikam kawan sendiri..''


Di dalam kereta kuda Satriyana yang duduk bersandar dalam pelukan Roro Wulandari cuma bisa diam. pikiran gadis remaja ini terasa kalut. bahkan sepertinya dia tidak menaruh perhatian pada ucapan I Gede Kalacandra si Dewa Serba Putih dan Kyai Jabar Seto yang bergantian menuturkan ceritanya.


''Maaf tuan- tuan berdua., kurasa sekarang adikku masih merasa terlalu terkejut dengan semua peristiwa yang terjadi malam ini, dia butuh istirahat dan menenangkan pikiran..''


''Jadi akan lebih baik jika semua masalah dan urusan diantara kalian bisa dibicarakan lagi lain waktu., bagaimana menurut pendapat tuan berdua.?'' tanya Roro sambil mendekap lembut Satriyana yang terus pejamkan matanya. sementara Respati yang juga duduk di dekat pintu kereta kuda hanya diam menunduk.


Baik I Gede Kalacandra dan Kyai Jabar Seto cuma bisa diam dan saling pandang. mereka merasa masih banyak hal yang mesti di bicarakan. tapi melihat keadaan Satriyana yang kurang baik, rasanya juga percuma jika memaksakan kehendak mereka.


Tapi saat kedua orang yang mengaku bekas kulubalang kepala pasukan nomor dua dan lima itu hendak kembali bicara, mendadak Satriyana bangkit lepaskan diri dari dekapan Roro. sepasang mata gadis itu terlihat penuh pancaran semangat dan kewibawaan. tanpa sadar semua orang yang ada di dalam kereta kuda itu tergetar hatinya. gadis remaja itu seperti berubah menjadi orang lain.


''Paman kulubalang I Gede Kalacandra dan paman kulubalang Kyai Jabar Seto., aku ucapkan terima kasih atas kesetiaan paman berdua pada istana Angsa Emas..''


''Aku merasa masih terlalu muda dan bodoh untuk memikul sebuah tanggung jawab yang sebesar ini., jadi aku mohon maaf sikapku kurang berkenan di mata paman berdua, untuk selanjutnya aku yang bodoh ini masih sangat mengharapkan petunjuk dari paman kulubalang berdua..'' ucap Satriyana lalu berlutut untuk menghormat kedua orang tua itu.


Dengan sigap tangan Kyai Jabar Seto menahan gerakan Satriyana. ''Tuan puteri tidak perlu merasa sungkan., jangan sekali- kali merendahkan diri di hadapan kami..''


''Benar tuan puteri., malah kami berdua yang merasa malu karena baru sekarang ini dapat menemukan dirimu..'' sambung I Gede Kalacandra. orang ini sekejap memandang Roro dan Respati. ''Aku ucapkan terima kasih kepada kalian karena telah menjaga dan melindungi tuan puteri kami..'' ucapnya sambil sedikit menjura dengan sikap kaku, seakan ada ganjalan di hati orang tua itu.

__ADS_1


''Aah., itu tidak masalah bagi kami., lagi pula sebenarnya pertemuan kami berempat juga terjadi secara tidak sengaja..'' jawab Roro dengan senyuman sinis. sebagai wanita berotak licin yang sangat pandai menilai sikap orang, tentunya dia sadar jika Dewa Serba Putih masih merasa tidak suka dan curiga dengan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun serta Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis yang berasal dari kelompok 13 Pembunuh.


Ini dapat dimaklumi karena kelompok inilah yang punya andil besar dalam terjadinya pengkhianatan di istana Angsa Emas puluhan tahun silam. sesaat suasana menjadi kaku dan tegang. meskipun kereta kuda itu cukup besar, tapi terlalu sempit untuk lima orang yang berada di dalamnya.


Tanpa terasa hawa membunuh menyeruak di dalam kereta itu. Satriyana beringsut mundur kebelakang Roro. dia selalu merasa nyaman jika berada di dekat kakak angkatnya yang cantik jelita ini. biarpun Respati dan Roro bukanlah manusia jahat dan culas, tapi mereka berdua juga tetaplah para kaum pembunuh yang punya jiwa petarung.


Jika dalam hati merasa terancam atau diremehkan, mereka tidak akan segan untuk mengadu jiwa tanpa pernah perduli sedang berhadapan dengan siapa., karena kedua orang ini sadar pada ujungnya cuma ada membunuh atau mati terbunuh.!


''Meskipun selama ini kalian berdua sudah menjaga tuan puteri kami, tapi orang- orang dari kelompok 13 Pembunuh tetap tidak layak untuk dipercayai.!'' tegas Dewa Serba Putih dengan suara angkuh.


''Dengan tanpa mengurangi rasa hormat serta terima kasih pada kalian berdua, mulai sekarang segala tanggung jawab dan keselamatan tuan puteri Satriyana kalian serahkan pada kami berdua..'' ujar Kyai Jabar Seto dengan nada lebih halus namun juga tersirat ketegasan.


''Haa., ha., kami para pembunuh bukan orang yang takut dengan ancaman maut., biarpun ilmu kalian berdua sangat tinggi bukan berarti kami berdua yang bakalan kalah..'' ucap Roro Wulandari sambil bentangkan kipas peraknya. bibir merahnya sunggingkan senyuman manis setengah mengejek. karuan Dewa Serba Putih jadi naik pitam.


''Huhm., jadi kau tidak mau menyerahkan puteri Satriyana pada kami dua kulubalang istana Angsa Emas.?''


Saat susana semakin panas Respati yang sedari awal diam langsung menyela ''Aku sependapat dengan Roro., kalau kalian ingin menyelesaikan masalah ini lewat adu ilmu kami berdua tidak akan mundur. mari kita keluar, karena kereta kuda ini terlalu sempit..''


''Tapi., jika mau bicara baik- baik juga tidak masalah. asalkan kedua pihak bisa saling mempercayai, kurasa semuanya bisa selesai tanpa pertarungan..'' meskipun sudah mulai tersulut kemarahan atas ucapan I Gede Kalacandra yang terdengar meremehkan, tapi pemuda ini masih tetap berusaha menahan diri.


''Haa., ha., apa kaum pembunuh bayaran seperti kalian masih ada harganya untuk dipercaya. huhm., jangan coba melawak di depan kami.!'' dengus Kyai Jabar Seto.


"Tuan puteri Satriyana tidak pantas berada ditengah manusia rendahan seperti kalian., dia harus berada di lingkungan keluarga yang jauh lebih layak bersama dengan orang- orang istana Angsa Emas yang berani dan setia.!'' timpal Dewa Serba Putih.


''Kami mungkin kaum rendahan, tapi tidak semua pembunuh bayaran bisa kalian buat seenaknya. kami juga masih punya harga diri.!'' damprat Respati marah seraya melompat keluar kereta di ikuti Roro yang merangkul Satriyana. karena gerakan kedua orang ini cepat dan mendadak, baik Dewa Serba Putih dan Kyai Jabar Seto tidak sempat menahan mereka.

__ADS_1


Dengan mendengus gusar Dewa Serba Putih cepat berkelebat menyusul kedua anggota kelompok 13 Pembunuh itu. rupanya kedua orang ini tidak berniat kabur, mereka malah menunggu dengan sikap menantang serta senjata pusaka tergenggam di tangan.


Satriyana berdiri agak menjauh, berlindung dibelakang tubuh Sabarewang yang tinggi besar.


''Paman kulubalang berdua., kalian boleh saja tidak mempercayai kedua sahabatku itu, tapi asal kalian tahu aku sangat percaya pada mereka berdua, juga orang yang berdiri di depanku dengan pedang buntungnya.!"


"Kami berempat sudah mengalami banyak sekali kesulitan., meskipun kakang Respati, kakang Sabarewang dan kakakku Roro yang cantik jelita itu mungkin bukan termasuk golongan pesilat yang paling sakti di dunia persilatan, tapi aku sangat yakin dengan kemampuan mereka. kalian tahu kenapa., itu karena kami berempat sudah saling percaya dan mengerti, saling menjaga serta melindungi.."


"Jadi., aku putuskan akan tetap ikut serta kemanapun mereka pergi. aku hanya akan berpisah jika ada dua kejadian, pertama takdir kematian dan yang kedua jika mereka sudah tidak menghendaki diriku berada di tengah kelompok kecil ini.!"


"Mungkin benar kalau aku adalah keturunan keluarga istana Angsa Emas yang sudah sewajarnya memiliki tempat tinggal besar, para pengawal dan lingkungan yang luar biasa. tapi saat ini mereka bertigalah keluargaku dan kereta kuda itulah istana juga rumahku.!" ucap Satriyana. meskipun hanya bicara sewajarnya bahkan tersunging senyuman. tapi dari sorot mata dan air mukanya terpancar sikap yakin penuh ketegasan.


Jika I Gede Kalacandra dan Kyai Jabar Seto sampai terhenyak tanpa tahu mesti berkata apa mendengar semua itu, Roro Wulandari dan kedua rekannya tanpa sadar merasa terharu. bersamaan mereka menoleh ke arah si gadis cantik berkulit sawo itu. di dalam hatinya mereka sama berkata "Hhmh., Bocah perempuan nakal ini sudah tumbuh semakin dewasa.."


''I Gede Kalacandra, Kyai Jabar Seto., kalian dua orang tua sudah mendengar sendiri ucapan dari putri istana Angsa Emas. jika memang tuan berdua adalah para kulubalang yang setia, maka biarkanlah Satriyana tetap berada dalam kelompok ini seperti keinginannya..''


''Keinginan seorang junjungan bagaikan perintah bagi bawahannya. kami tidak pernah sekalipun memaksa tuan puteri istana Angsa Emas untuk ikut serta dalam perjalanan ini. jika Satriyana ingin pergi, dia bisa meninggalkan kami kapan saja. tapi kalau ada yang ingin merebutnya secara paksa., kami akan melindunginya dengan taruhan nyawa.!'' kali ini Sabarewang yang bicara keras menimpali ucapan Respati.


Satriyana memeluk erat belakang punggung kusir kuda itu. gadis ini merasa sangat terharu hingga tanpa sadar mengambang air matanya. ''Terima kasih kakang Sabarewang karena selalu menjagaku..''


''Huhm., aku cuma kawatir, jika kau pergi dari sini bakalan kangen dengan masakanku. karena di tempatmu pasti tidak ada tukang masak yang bisa kau ganggu setiap hari dan mencocoki selera nafsu makanmu yang menakutkan..'' gurau Sabarewang hingga membuat Satriyana tertawa geli dan malu memukuli punggung kusir kuda itu.


Dua orang bekas kulubalang istana Angsa Emas itu saling pandang sekejab, entah apa yang ada di dalan pikiran mereka berdua. Respati dan Roro berdiri paling depan dengan senjata di tangan. hawa pertarungan sudah mulai terasa.


****

__ADS_1


Maaf baru bisa upload., sebenarnya urusan pekerjaan masih banyak yang belum sekesai, tapi karena janji cuma seminggu yah saya sempatkan untuk bikin., maaf kalau agak berantakan ceritanya.


Terima kasih,🙏 Wasalam.


__ADS_2