13 Pembunuh

13 Pembunuh
Ancaman.


__ADS_3

Respati yang di juluki sebagai si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' itu melirik rekannya dengan pandangan heran, ngeri sekaligus kagum. wanita secantik bidadari kahyangan bernama Roro Wulandari yang dalam rimba persilatan di gelari 'Dewi Malam Beracun' ini ganti melihat pemuda yang masih terhitung sepupu jauhnya itu. ''Apa yang sedang kau pikirkan sepupuku sayang.?''


''Hehm., meskipun kita bedua sudah saling mengenal sejak jaman masih bocah ingusan, tapi aku merasa masih tidak dapat memahami isi kepalamu yang sebenarnya. aku ingin bertanya., apakah saat kau membangun jalan dan ruangan rahasia dengan berbagai macam perangkap mautnya di bawah rumah Ki Ageng Bronto, dirimu sudah memperkirakan semua yang bakal terjadi hari ini.?''


''Maksudku., apakah kau memang sengaja membuat persiapan ini sejak lama. lantas apa alasanmu memilih tempat di bawah tanah juragan kaya dari Wonokerto itu. kenapa juga saat kita semua sudah lolos dari ledakan itu, kau malah memerintahkan kita semua untuk kembali ke tempat itu.?'' cecar Respati tajam.


''Chuih., dasar ular tolol, hal sejelas inipun masih juga kau tanyakan. sebelum kujawab pertanyaan bodohmu itu, aku ralat dulu ucapanmu. dengar., sejak kecil diriku belum pernah dan tidak pernah ingusan. aku inikan anak orang kaya dan terpandang yang selalu di jaga serta di layani oleh para pembantu rumahku, jadi tidak mungkin anak perempuan secantik diriku bisa ingusan. kau dan semua anak- anak kampung Pendamaran itulah yang kotor, bau dan ingusan.!'' bantah Roro sinis mengejek.


Pemuda itu menarik nafas berat sambil mengelus dada. ''Sabar., sabar., mungkin sudah nasibku yang sial hingga mempunyai sepupu sekaligus rekan pembunuh yang sombong dan licik seperti dia..'' keluh Respati dalam hati. jika orang lain mungkin dia bakalan marah atau tersinggung mendengar ucapan wanita itu. tapi si pemuda yang sudah paham sifat Roro yang sombong dan suka bicara seenaknya hanya bisa diam mengelus dada.


''Soal pertanyaanmu tadi., saat itu aku hanya berpikir untuk membuat suatu tempat persembunyian jika kelak aku kabur keluar dari kelompok 13 Pembunuh. asal kau tahu saja masih ada beberapa persembunyian lainnya yang aku bangun di tempat berbeda lengkap dengan perangkap mautnya. hanya mungkin tidak sebesar yang ada di bawah rumah Ki Ageng Bronto..''


''Lalu alasanku kenapa mesti kembali ke sana, karena tempat persembunyian yang terbaik bagi seorang pelarian justru adalah tempat yang paling berbahaya dan tidak pernah di sangka oleh para pengejarnya. memangnya siapa yang mengira kalau di bawah reruntuhan bangunan rumah yang sudah habis terbakar, tersimpan ruang bawah tanah yang rahasia.?'' jelas Roro mendongak bertolak pinggang.


Dengan sunggingkan senyuman sombongnya, sang Dewi Malam Beracun seakan ingin menunjukkan perasaan bangga pada hasil pemikirannya sendiri, sekaligus mengejek rekannya. meskipun kesal tapi Respati tetap merasa kagum dengan kecerdasan otak wanita cantik ini.

__ADS_1


''Sekarang apa rencanamu selanjutnya. kau tetap mau melakukan penyamaran seperti ini lagi dan membuat anggota 13 Pembunuh saling curiga, ataukah dirimu masih punya tipu muslihat lainnya. Roro tersenyum sinis, ''Tentu saja kita masih bisa melakukan tipuan ini di beberapa tempat. kau mesti menghubungi lagi orangmu di pulau Seribu Bisa..''


''Soal itu bisa kutangani, sekalian juga akan aku minta dia agar mengatakan siapa saja orang persilatan yang bergabung dalam kelompok 13 Pembunuh. kemunculan tokoh silat seperti si 'Sukma Tertawa' menunjukkan kalau para pengganti kita berempat tidaklah main- main tingkatannya..''


Roro Wulandari tertegun sesaat, ''Jika saja kau tidak mengatakannya diriku pasti sudah melupakan masalah itu. kau benar Respati., aku jadi teringat beberapa tokoh persilatan kalangan atas yang muncul saat pertempuran besar di Wonokerto. seingatku di sana juga ada si 'Pengemis Tua Mata Setan.!''


''Kalau orang seperti si Sukma Tertawa bisa bersekutu dengan kelompok 13 Pembunuh, ada kemungkinan juga orang tua itu juga mau melakukan hal yang sama. jika saja apa yang kupikir ini benar terjadi, maka ancaman dari lawan- lawan kita kelak bisa jadi bakal lebih mengerikan.!'' desis Roro dengan muka berubah tegang.


Wanita cantik itu berdiri mondar- mandir diantara pepohonan. Respati tahu kalau dia sedang berpikir keras. ''Aah persetan., dari pada kita menunggu untuk di gebuk, kenapa tidak sekalian saja kita hantam mereka lebih dulu. aku sudah ada gambaran rencana. nanti saja aku jelaskan..''


Baru sepeminum teh berlalu dari satu arah muncul empat sosok bayangan manusia yang dalam sekejap saja sudah tiba di tempat itu. dua diantara mereka adalah lelaki tua enam atau tujuh puluh tahunan yang sama memakai jubah berwarna putih.


Dari penampilannya dapat di simpulkan kalau mereka berdua adalah I Gede Kalacandra atau yang di kenal dengan julukan 'Dewa Serba Putih' dan sahabat karibnya Kyai Jabar Seto. selain mereka juga masih ada seorang nenek tua berjubah kain ungu dan seorang kakek bertubuh agak pendek yang kaki kanannya buntung sebatas lutut. kaki buntung itu di sambung dengan sebatang besi yang bagian ujungnya pipih runcing menyerupai tombak.


Empat orang tua itu nampak terperanjat melihat banyak mayat berpakaian seragam hijau dan berkedok tengkorak putih terkapar di sana. ''Dari keadaannya dan senjata tombak bergerigi yang di bawa, mereka ini pastilah anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dari kelompok 13 Pembunuh.!'' seru Dewi Serba Putih.

__ADS_1


''Siapa orang yang telah membantai mereka di tempat ini. dari bekas luka yang terdapat di tubuhnya, si pembunuh menggunakan senjata pedang atau sejenisnya. di lihat dari keadaan mayat yang masih hangat dan bau darah yang belum mengering pembunuhan ini baru saja terjadi..'' gumam si nenek tua berjubah ungu. kalau di perhatikan lebih jauh selain mata nenek ini agak juling sebelah kanan, bibir atas juga rada sumbing.


Keadaan mata dan bibir inilah yang membuat nenek itu di pangil dengan nama Nyai Juling Sumbing. dia seorang tabib pertapa yang berdiam di lereng sebuah bukit kecil dan terpencil yang berada sebelah utara gunung Gede di daerah Jawa Barat. puluhan tahun silam nenek tua itu merupakan satu- satunya kepala pasukan wanita di dalam istana Angsa Emas.!''


''Kurasa semua ini tidak perlu kita pikirkan terlalu jauh, kematian anak buah para bedebah dari 13 Pembunuh ini malah menguntungkan kita. paling tidak kekuatan lawan sudah sedikit berkurang..'' dengus orang tua yang bertubuh agak pendek, berbaju hitam dan berkaki buntung sebelah kanan. dari tampang dan ucapannya, dia adalah orang yang keras hati.


''Kau benar sobatku Ki Sambi Puntung. tapi ada baiknya juga kita menyelidiki masalah ini, karena bisa jadi si pembantai dapat menjadi rekan kita dalam menghadapi 13 Pembunuh..'' kata Kyai Jabar Seto. dia paham betul dengan sifat bekas khulubalang kepala pasukan nomor delapan istana Angsa Emas itu yang keras hati.


Orang tua itu cuma mendengus. tiga rekannya maklum sejak lelaki ini kehilangan sebelah kakinya dalam peristiwa pemberontakan di Istana Angsa Emas, sifat kerasnya semakin menjadi. sejak saat itu dia berusaha untuk memperdalam ilmu silat dan kesaktiannya.


Dengan ilmu baru yang dia ciptakan orang ini menjadi seorang pendekar pengembara yang tidak kenal ampun terhadap kaum durjana dan secara diam- diam juga terus menyelidiki keberadaan 13 Pembunuh. bahkan konon dia pernah juga nekat masuk ke dalam 'Serikat Kalong Hitam' yang menjadi saingan dari 13 Pembunuh. dalam suatu peristiwa orang ini sempat juga melukai 'Kala Demit' si pembunuh nomor lima.


''Sejak kakinya buntung dan menjadi semakin keras hati, nama aslinya Ki Sambi Nanggala di ubahnya menjadi Ki Sambi Puntung. bahkan karena sepak terjangnya, rimba persilatan memberinya julukan 'Pendekar Kaki Buntung.!'' batin Kyai Jabar Seto.


''kurasa kita bisa menyelidiki masalah ini sambil jalan. sekarang secepatnya kita mesti menemui tuan 'Sesepuh Pelindung Istana' dan menyampaikan semua berita yang kita ketahui di dunia luar..'' putus Dewa Serba Putih. tanpa bicara lagi empat orang bekas kepala pasukan Istana Angsa Emas itupun berkelebat lenyap di kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2