
Menyadari keadaan sudah terlanjur seperti ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh pihak anggota 'Istana Angsa Emas' kecuali hanya menuruti yang di minta Dewi Malam Beracun. di pimpin Tuan Sesepuh Pelindung Istana, rombongan itu mulai bergerak meninggalkan lembah sunyi yang berada di antara gugusan perbukitan itu.
Mata Roro Wulandari sempat melirik ke arah ratusan 'Pasukan Pedang Angsa Emas' yang tetap tegak berbaris di kejauhan menunggu perintah. meskipun begitu masih terlihat olehnya seeorang lelaki tua kurus berdiri setengah terbungkuk dengan kedua tangan panjang yang menjutai ke tanah.
''Siapa orang tua yang sepintas mirip kera lutung itu.?'' dalam hati dia bertanya. 'Panglima Istana Tengah' yang seakan mengerti pikiran wanita cantik itu berbisik, ''Dia adalah salah satu hulubalang kepala pasukan Istana Angsa Emas pada masa lalu yang dijuluki sebagai 'Raja Lutung Merah Berlengan Delapan.!''
Roro sedikit tertegun mendengar nama tokoh silat itu disebutkan. dia sempat melirik Respati yang kebetulan juga sedang melihatnya. meskipun cuma sesaat tapi pikiran kedua pembunuh yang masih bersepupu jauh itu seakan tersambung pada sesuatu. dengan gerakan menggeliat halus Roro menguap lebar sambil mengangkat tangannya dan bertepuk beberapa kali.
''Hhoam., kurasa sudah lewat tengah malam. rasanya aku ngantuk sekali..'' gumamnya terus melangkah dibelakang Tuan Sesepuh Pelindung Istana. semua gerakan yang dia lakukan itu seakan tidak ada artinya, tapi beberapa rekannya secara perlahan bergerak merapat melindungi Satriyana.
''Eehm., setahuku nama Raja Lutung Merah Berlengan Delapan sudah lama tidak terdengar lagi di dunia persilatan, sungguh tidak kukira kalau ternyata dia merupakan salah satu petinggi Istana Angsa Emas. apakah selain yang berada di sini masih ada yang lainnya.?'' tanya Respati tiba- tiba. perempuan bercadar kuning itu menggeleng, ''Hanya inilah kekuatan kami..'' jawabnya setengah menggumam.
Sekelebat bayangan manusia melesat cepat menghampiri rombongan itu diikuti semua anggota Pasukan Pedang Angsa Emas. rupanya mereka berniat untuk bergabung dengan para pimpinannya dan bersama- sama meninggalkan lembah itu kembali ke markas rahasia mereka.
__ADS_1
Dengan gerakan yang ringan selincah monyet tahu- tahu dia sudah tiba di tengah rombongan itu. tanpa sadar Putri Penjerat yang sangat hebat ilmu meringankan tubuhnya terkesiap. dalam hati dia memuji tingkat ilmu peringan tubuh orang tua itu. satu lirikan mata tajam dari Dewi Malam Beracun sesaat membuatnya termangu. seketika dia juga teringat sesuatu.
Manusia yang barusan datang adalah seorang kakek tua setengah bungkuk berbaju merah gombrong dengan lengan pendek. sehingga terlihat kedua tangannya yang kekar panjang dan berbulu kemerahan menjuntai tanah. kesepuluh jemari tangan kakinya besar dan berkuku tajam. mukanya berbulu mirip monyet dan terlihat bengis kemerahan. kakek inilah yang disebut sebagai si 'Raja Lutung Merah Berlengan Delapan'.
''Salam hormat tuan putri Satriyana., aku yang tua ini dipanggil sebagai Raja Lutung Merah Berlengan Delapan. pada masa silam diriku adalah hulubalang kepala pasukan ke tiga di Istana Angsa Emas. jika ada perintah saya selalu siap melaksanakannya.!'' tegas orang tua bermuka mirip monyet itu. karena berdiri terbungkuk ditengah jalan membuat mereka sejenak berhenti melangkah.
Satriyana yang dikawal oleh Jurata, Birunaka dan Sabarewang bergegas maju menghampiri untuk menyambuti bawahannya. tapi kejadian berikutnya sungguh tidak disangka siapapun. bahkan Roro Wulandari yang biasanya selalu penuh perhitungan sampai kecolongan juga. saat mereka semua tersadar segalanya sudah terlambat.
''Hek., hee., he., pewaris Istana Angsa Emas, sang pemilik 'Darah Keabadian' akhirnya jatuh ke tanganku. minggir kalian semuanya jika tidak ingin melihat tuan putri ini tergeletak mati.!'' bentak Raja Lutung Merah Berlengan Delapan mengancam. Satriyana cuma dapat mengeluh lemas. baru dua langkah dia maju kedua tangan orang tua bermuka monyet itu sudah bergerak secepat hantu gentayangan meraih punggang sekaligus mengirim tiga buah totokan di tubuhnya. saat tersadar dia sudah berdiri kaku dalam kuncian lengan lawannya.
''Dasar monyet tua tolol, bertahun lamanya dirimu menghilang, saat muncul kembali kau malah menjadi gila dan bodoh hingga berani berbuat kurang ajar pada putri Satriyana.!'' Ki Sambi Puntung alias 'Pendekar Kaki Buntung' turut mendamprat sambil jejakkan senjata kaki tombaknya ke tanah hingga rengkah.
''Raja Lutung tua., kita semua adalah bekas kulubalang kepala pasukan Istana Angsa Emas yang sudah melewati banyak ancaman maut bersama, entah apa yang sedang terjadi dengan dirimu hingga berani berbuat kurang ajar seperti ini. apakah kau tidak sadar kalau perbuatanmu sudah termasuk pengkhiyanatan besar.?'' bentak nenek tua berjubah ungu yang disebut sebagai Nyai Juling Sumbing.
__ADS_1
''Raja Lutung tua., kulubalang kepala pasukan ketiga Istana Angsa Emas, sekarang juga aku perintahkan padamu untuk membebaskan putri Satriyana. hukumanmu akan kuperingan jika kau menurut dan jelaskan semuanya.!'' sang Tuan Sesepuh Pelindung Istana akhirnya turut pula membentak. dia benar- benar tidak mengira akan terjadi masalah seperti ini. wajahnya memerah bagaikan habis ditampar pulang balik. malu, bingung bercampur murka.
''Huhm., harap maafmu tuan sesepuh tua, tapi saat ini bukan kau yang berkuasa melainkan akulah yang berhak memberi perintah. setan alas., jangan pernah berani maju mendekat atau pewaris Istana Angsa Emas ini kubuat patah lehernya.!'' ancam Raja Lutung bengis saat melihat Panglima Istana Kiri dan Tengah hendak maju melabrak. terpaksa keduanya mengurungkan niat mereka. apalagi jemari besar berkuku tajam orang tua itu semakin erat mencengkeram leher si gadis.
''Kalian cepat lepaskan tanda isyarat agar mereka tahu sasaran sudah berada ditangan kita.!'' perintah Raja Lutung Merah Berlengan Delapan pada beberapa orang anggota Pasukan Pedang Angsa Emas yang berada di belakangnya. tiga orang diantaranya cepat mengeluarkan busur dan anak panah. dengan bantuan obor ujung anak panah itu dibakar hingga menyala merah. berikutnya tiga buah panahpun di lepaskan ke atas langit gelap.
''Sialan aku sudah menduganya.!'' geram Roro kesal sambil babatkan kipas peraknya ke atas bermaksud memotong panah lawan. dua dipatahkan ditengah jalan tapi satu lolos melesat dan berpijaran di langit malam. ''Kau sudah terlambat wanita setan licik. sebentar lagi semuanya akan datang kemari. dan tuan sesepuh tua bangka., kau mungkin bakal bertemu dengan kawan lamamu yang sudah terlupakan. Hek., he.!'' Raja Lutung tertawa bergelak.
''Kulubalang ketiga jahanam., apa maksud ucapanmu.!'' bentak Tuan Sesepuh Pelindung Istana gusar sampai dari tubuhnya keluar cahaya kuning keemasan berhawa panas pertanda kemarahannya sudah memuncak. Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan alias si 'Tangan Penggoncang Langit' sampai turut berusaha menenangkan amarah pimpinannya.
''Masalah yang sudah jelas didepan matamu begini perlu apa kau pertanyakan lagi., dalam anggota dari kelompok 13 Pembunuh yang baru, hanya terdapat dua belas orang saja. satu nama lagi sengaja dirahasiakan karena dia bukan lain adalah anak buahmu sendiri. si lutung tua gila yang kini sedang menyandera Satriyana..'' ucapan Ki Ageng Bronto seketika membuat suasana menjadi tegang dan kacau.
''Beberapa tahun lalu Kamajaya salah satu pentolan 13 Pembunuh pernah diperintah oleh sang ketua untuk mencari jejak orang ini. kudengar setelah berkali- kali menemui jalan buntu akhirnya dia bisa juga menemukannya. meskipun demikian tidak jelas apa yang terjadi dengan si Raja Lutung Merah Berlengan Delapan ini. saat sekarang dia mendadak muncul kamipun sudah curiga padanya..'' ujar Respati seraya loloskan pedang Iblis Hitamnya.
__ADS_1
''Huhm., si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' juga Ki Ageng Bronto bekas anggota 13 Pembunuh memang punya otak lebih encer dari para kaum tua yang sudah jompo di Istana Angsa Emas. meskipun semuanya benar tapi apa yang bisa kalian lakukan. sejak dulu., Darah Keabadian dan seluruh harta pusaka Istana Angsa Emas sudah ditakdirkan menjadi milik kelompok 13 Pembunuh. Hek., he.!'' dengus Raja Lutung Merah terkekeh licik.
Dewi Malam Beracun bersuit nyaring. dari delapan penjuru terdengar sautan anak buahnya. semua rekannya sudah bersiap. sejak Roro memberi isyarat untuk menjaga Satriyana mereka sudah mengira kalau malam ini bakal terjadi pertarungan besar di lembah sunyi itu yang mungkin dapat mengakhiri hidup mereka.