13 Pembunuh

13 Pembunuh
Guratan Pesan Terakhir


__ADS_3

Malam mulai mendekati ujungnya, tidak berapa lama lagi ayam jantan akan berkokok dan hari akan berganti pagi. di dalam sebuah goa batu yang tersembunyi diantara celah bebatuan diatas sebuah bukit kecil, terlihat seorang pemuda sedang membalut luka sayatan pedang di lengannya dengan selembar kain putih yang di ambil dari robekan bajunya.


Meskipun pedang kedua orang murid utama Nyi Sumbar Geni mengandung racun tapi tidak begitu berbahaya, hanya membuat luka terasa panas dan bengkak. setelah di lumuri obat kini rasa panas dan sakit sudah berkurang, bengkak juga mulai membaik.


Pemuda yang memang Respati adanya itu melihat sekeliling goa batu, dalamnya cuma lima enam langkah dengan atap rendah membuat siapapun yang masuk harus merundukkan kepalanya. lebarnya juga hanya satu tombak saja. tapi cukup nyaman dan tersembunyi untuk tempat berlindung.


Di pangkuan si pemuda ada dua buah buntalan kain, satu panjang yang lainnya lebih pendek. saat berada dalam salah satu ruangan penyimpanan pusaka yang ada di dalam Pesanggrahan Selaksa Pedang, Respati mengambil dua buah pedang yang tergantung diatas dinding. dia tidak tahu pedang pusaka apa itu karena cuma asal mengambil sekenanya. lagi pula tugasnya cuma sebagai pengalih perhatian saja.


Dengan malas dibukanya buntalan kain yang membungkus kedua pedang itu. kini terlihat bentuk keduanya.


Pedang yang pertama bersarung kuning, saat di cabut terpancar cahaya terang kekuningan. panjang keseluruhan dari gagang ke ujung pedang lebih dari lima jengkal. mata pedang cukup tipis sangat tajam dan agak lentur. di bagian hulunya terukir tulisan huruf jawa kuno berbunyi 'Pedang Rondo Kuning' yang berarti pedang janda kuning. "Apa pemilik pedang ini seorang janda muda yang punya penyakit kuning,?'' gumam Respati tertawa sendiri.


Pedang yang kedua adalah sebuah pedang pendek, mata pedang terbuat dari baja keras yang tebal, berat dan lebar mirip golok. cahaya merah redup menyelimuti pedang itu. saat Respati melihat ke ujung pedang, barulah dia paham kalau itu bukanlah sebilah pedang pendek melainkan sebuah pedang yang sudah patah.


"Pantas saja sarung pedang dan isinya tidak sama panjangnya..'' batin si pemuda sambil memasukkan pedang patah itu ke sarungnya yang terbuat dari belahan kayu jati merah.


Respati melihat keluar, meskipun langit masih sangat gelap tapi dia tahu hari sudah berganti. sebentar lagi pagi akan segera tiba.


"Kalau semuanya berjalan sesuai rencana paling telat sebelum matahari terbit orang tua itu sudah sampai kemari. masih ada waktu sepenanak nasi, sebaikya aku tunggu sambil tiduran.,'' gumam pemuda itu sambil bersandar di dinding goa.


Pikirannya mulai melayang membayangkan semua kejadian yang dialaminya selama ini. soal orang tua berjari buntung itu, hingga sekarang Respati sama sekali tidak pernah mengetahui siapakah dia sesungguhnya. siapa namanya dan berasal dari mana. yang diketahuinya cuma orang tua aneh ini sangat gemar dan ahli dalam mencuri segala macam barang. ibarat kata biar benda itu disimpan diatas langit atau dipendam ke dasar bumi juga tetap mampu dIcurinya.


Kemudian dia teringat sepupu jauhnya Roro Wulandari yang sombong, suka bertingkah seenaknya, merasa paling berkuasa, jahil dan menyebalkan. diluar itu harus diakui kalau Roro adalah gadis yang sangat cantik jelita, lagi pula Respati tahu meskipun galak tapi sebenarnya dalam hati gadis itu sangat penuh perhatian dan mudah tersentuh.


Entah kenapa dia jadi merindukan gadis sombong itu, membayangkan dia dulu selalu diperintah Roro berbuat ini dan itu malah membuat Respati tertawa sendiri. herannya meskipun kesal dan mengomel tetap saja dia selalu menurutinya.

__ADS_1


Suara kokok ayam jantan yang sayup terdengar di kejauhan membangunkan si pemuda dari tidurnya. dia memandang sekeliling, orang tua yang dinantikannya belum datang juga. hati Respati mulai cemas. dari awal dia sudah merasa kalau pencurian kali ini bakal tidak mudah. tapi maling tua berjari buntung itu dengan santainya berkata "Mencuri itu suatu seni., semakin sulit dicuri semakin menantang.!'' "Kalau kau tidak berani menghadapi bahaya, hidupmu akan terasa hampa selamanya.!''


Masalahnya kalau bisa menghindari suatu bahaya, kenapa juga malah menantangnya.? "Dasar pencuri gila., membuat orang lain khawatir saja..'' gerutu Respati seraya beranjak keluar goa. sekeliling cuma ada bebatuan dan pepohonan tanpa ada tanda- tanda kedatangan manusia. "Apa sebaiknya aku kembali kesana saja.?'' pikir si pemuda ragu.


Di saat dia bingung mengambil keputusan, dari bawah bukit terdengar langkah kaki yang ringan namun bergerak sangat cepat. Respati tersenyum tipis "Panjang umur juga maling tua ini.!'' batinnya lega. dan seperti dugaannya hanya beberapa kejab mata saja orang yang dinantikannya tiba juga di sana.


"Bocah., apa kau baik- baik saja, kenapa berdiri terus disitu, cepat masuk kedalam goa ada banyak masalah yang harus kusampaikan padamu.!'' ujar si pencuri tua sambil berkelebat masuk ke dalam goa batu. Respati yang merasa heran segera menyusul masuk.


Di dalam goa batu pencuri tua itu duduk bersila sambil pejamkan matanya mengatur pernafasan. wajahnya yang keriput terlihat lelah. kini baru Respati dapat melihat ada beberapa luka berdarah ditubuh orang tua itu, tapi tertutupi oleh baju gelapnya yang tebal dan gombrong. dipangkuan si tua berjari buntung tergeletak sebilah pedang pendek bersarung hitam dan sejilid kitab tipis. pada bagian depan kitab tergambar seekor ular kobra.


Meskipun baru melihat bagian luar pedang hitam itu tapi anehnya Respati merasa ada hawa menyeramkan yang terpancar dari sana. "Tadi sempat kulihat ada dua buah pedang pusaka, salah satunya Pedang Rondo Kuning., apa itu hasil kerjamu.?'' tanya pencuri tua itu yang telah selesai bersemedi. dari suaranya yang terdengar lemah dan terbatuk sepertinya dia sedang terluka dalam.


''Iya., aku cuma asal mengambil saja lalu kabur dari sana..'' sahut Respati.


''Setelah mencari dari satu ruangan ke ruangan penyimpanan lainnya, akhirnya kutemukan juga yang kucari., bocah lihatlah 'Pedang Iblis Hitam' ini.!'' seru orang tua itu sambil mencabut pedang pendek bersarung hitam itu.


Begitu pedang tercabut seketika hawa dan cahaya hitam beraroma busuk menebar menggidikkan hati. sinar mata si pencuri tua yang tadinya lemah sayu mendadak menjadi tajam air mukanya juga berubah kejam dan beringas penuh nafsu membunuh membuat Respati tersurut ngeri melihatnya.


Untung si maling tua itu cepat kembali memasukkan pedang Iblis Hitam ke dalam sarungnya hingga hawa kegelapan yang ada disana turut lenyap.


Dengan nafas tersengal dan terbatuk darah orang tua ini berkata, "Untuk bisa menguasai Pedang Iblis Hitam, orang mesti mempelajari kitab ilmu silat 'Kobra Iblis.!''


"Tololnya., Nyi Sumbar Geni si perempuan sundal yang cabul itu juga tidak tahu kalau kedua benda ini saling berkaitan., Hek., he.,!''


''Orang tua., ceritamu dapat disambung lain kali saja, sekarang ini kau harus beristirahat., setelah kau pulih kita bisa kembali ke tempat persembunyian kita di bukit Lading..'' potong Respati saat menyadari kalau orang tua ini benar sedang mengalami luka dalam cukup parah.

__ADS_1


''Kau bocah kemarin sore tahu apa., jangan berani memotong ucapanku.!'' damprat orang tua berjari buntung marah. ''Sekarang juga kau keluar goa ini, perutku lapar carikan aku makanan.!''


Pemuda itu merasa ada yang aneh dengan pencuri tua yang juga penyelamat hidupnya itu. setelah ragu sesaat akhirnya diapun menuruti kemauan orang tua itu.


Saat hari terang tanah Respati kembali kedalam goa batu sambil membawa dua ekor ayam alas yang sudah dibakarnya.


''Orang tua., lihat aku bawakan ayam bakar kesukaanmu.!'' teriak si pemuda sambil masuk ke dalam goa, tapi si pencuri tua sudah lenyap dari sana. Respati menjadi panik melihat ada bekas muntahan darah kental di lantai goa. pedang Iblis Hitam dan kitab pusaka Kobra Iblis juga seperti sengaja di tinggalkan diatas sebongkah batu bersama pedang buntung hasil curiannya. sedangkan pedang pusaka bernama Rondo Kuning tidak terlihat disana.


Saat hendak keluar dilihatnya ada banyak sekali tulisan yang terukir di dinding goa batu yang keras. butuh tenaga dalam tinggi untuk dapat membuat tulisan jari di dinding goa batu.


''Akibat bertarung dengan Nyi Sumbar Geni diriku terluka dalam cukup parah. aku tidak yakin akan dapat bertahan hidup lebih lama. meskipun begitu aku sudah merasa puas karena telah mampu membunuhnya. kuakui tingkat ilmu kesaktiannya lebih tinggi dariku, tapi kelemahannya juga sudah kudapatkan.'


Pada malam- malam tertentu wanita jalang ini suka memuaskan nafsu bejatnya dengan para lelaki simpanannya termasuk juga kedua murid utamanya. setelah melakukannya hawa kesaktian wanita itu akan berada pada titik terendah untuk beberapa lama. karena itulah dia tidak keluar dari ruangannya meskipun kau membuat keributan dengan membakar hampir separuh lorong utama di dalam rumah itu.'


''Pedang Iblis Hitam dan kitab ilmu silat Kobra Iblis harus kau pelajari sebagai bekalmu kelak di dunia persilatan. pedang Rondo Kuning akan aku kembalikan kepada pemiliknya meskipun aku tidak yakin kalau dia masih hidup. sedang pedang yang buntung aku belum pernah mendengar tentangnya.''


''Terus terang saja aku menyelamatkan sekaligus mengujimu saat kau dikepung kawanan serigala lima tahun silam karena ingin kelak kau dapat melakukan suatu tugas dariku.''


''Di dunia yang kejam ini penuh dengan manusia culas, jahat dan licik. kau mau ikuti jalan hitam atau putih semua terserah padamu. tapi ingatlah satu hal., 'Apapun yang kelak kau perbuat janganlah pernah lari dari tanggung jawab.!''


Seluruh harta di goa rahasia kuberikan untukmu meskipun aku tahu kau tidak tertarik benda- benda semacam itu. mau kau apakan terserah padamu.


Tulisan berikutnya adalah sebuah permintaan dari pencuri tua itu kepada si pemuda yang berkaitan dengan suatu perkumpulan rahasia pembunuh bayaran yang bernama Kelompok 13 Pembunuh.! Respati merinding dan ngeri saat membaca isi pesan dibagian ini.


Respati tertegun diam., dia tidak mengejar atau berusaha mencari orang tua itu karena sadar tidak ada gunanya. yang dilakukannya malah duduk di atas batu sambil memakan ayam bakarnya. air liur dan ingus bercampur dengan air matanya yang tak berhenti mengalir. mulutnya merasakan nikmat tetapi hatinya terasa hampa dan kehilangan, walaupunpun sampai saat ini dia tidak pernah tahu siapa pencuri tua itu sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2