13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia Si Maling Nyawa.


__ADS_3

Sepasang mata di balik topeng tengkorak si jubah kuning menyorot tajam. dia tahu betul dunia ini masih ada orang lain yang punya ciri jemari kaki tengah dan manis sama rata sepertinya. yang laki- laki ada di sebelah kiri, sebaliknya perempuan di kaki kanan. sudah bertahun- tahun lamanya dia memburu para manusia yang bercirikan sama sepertinya. entah dengan turun tangan sendiri atau menggunakan tenaga orang lain.


Biarpun sudah mengejar hingga ke seluruh penjuru bumi tapi orang yang mempunyai keturunan Darah Keabadian murni belum juga dapat dia ditemukan. si jubah kuning bertopeng tengkorak yang tidak lain adalah sang ketua perkumpulan pembunuh bayaran 13 Pembunuh itu menghela nafas.


''Sedari tadi kau cuma berdiam dibelakangku, apakah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu..?'' bertanya si jubah kuning pada orang berlengan buntung. saat dia berbicara suaranya terdengar berat menggeram dan menggaung seram seperti berasal dari dasar liang neraka.


''Turut perhitunganku seharusnya dua orang kawan lama kita sudah tiba di pulau Seribu Bisa ini, apakah mungkin mereka engan datang atau berubah pikiran.?'' si lengan buntung yang berada di belakang balik bertanya. saat dia bicara terdengar keras dan lugas seakan tidak punya rasa sungkan pada pimpinannya.


''Semua kemungkinan bisa terjadi, tapi aku yakin mereka bakal datang menghadapku karena hanya Kelompok 13 Pembunuh yang dapat memberi apa yang mereka inginkan.!''


''Tapi ketua., bagaimana kau bisa tahu apa yang mereka berdua incar..?'' tanya si buntung tanpa dapat tutupi rasa penasarannya.


''Hak., haa., ha., tidak biasanya kau ingin tahu masalah orang, seperti bukan dirimu yang biasanya Lengan Tunggal Pencabut Roh..!'' sindir si jubah kuning bergelak.


''Nyi Sira alias Mambang Wanita Buta selain menginginkan penglihatannya kembali juga terus memburu si 'Iblis Pedang Buntung' yang telah membutakan matanya., apakah kau tahu kalau sebenarnya dulu mereka berdua adalah sepasang kekasih..?'' gumam si jubah kuning alias si nomor satu dari 13 Pembunuh.


'Kalau benar mereka sepasang kekasih., lalu kenapa bisa saling bunuh.,?'' desak si lengan buntung.


''Jika ada pasangan pendekar pedang tiba- tiba menemukan sebuah kitab ilmu pedang yang menarik, tentunya akan saling berbagi. tapi apabila ada orang ketiga yang terlibat mereka bisa saling bunuh karena berebut..''


''Hhmm., tentunya kau pernah mendengar nama Nyi Sumbar Geni.,?''


Si lengan buntung mengangguk ''Dia pemilik Pesanggrahan Selaksa Pedang yang berjuluk Dewi Pedang Api. kabarnya perempuan itu keranjingan ilmu pedang dan gemar mengumpulkan pedang pusaka..''


''Hek., he., cuma itu yang kau tahu.? Selain tergila- gila pedang pusaka, wanita ini juga suka pria tampan dan perkasa. lalu dia mendengar soal Nyi Sira dan kekasihnya si Iblis Pedang Buntung yang pada waktu itu merupakan sosok lelaki gagah rupawan..''

__ADS_1


''Setelah Nyi Sumbar Geni muncul, dia bukan saja mampu memikat Iblis Pedang Buntung sehingga dia mengkhianati kekasihnya dengan membutakan kedua biji matanya. tapi juga berhasil merebut kitab ilmu pedang dari tangan Nyi Sira..''


''Orang ini pasti mati jika saja tidak diselamatkan oleh ketua kelompok 13 Pembunuh yang terdahulu, sebelum dia tewas ditanganku sekaligus aku rebut kedudukannya sebagai ketua kelompok ini lebih dua puluh tahun silam..!'' terang si jubah kuning sambil mengenang masa lalunya.


''Kuakui ilmu kesaktian yang dimiliki manusia keparat yang hanya bisa tunduk pada semua perintah Istana Angsa Emas itu sangat tinggi., tapi semua itu hanya menjadi sampah dihadapanku., Hak., ha., haa..''


''Seandainya waktu itu kau gagal merebut kedudukan ketua, mungkin sampai saat ini kami masih menjadi budak rendahan dan anjing pemburu yang cuma dapat menuruti perintah tuannya. untuk itu kuucapkan terima kasih padamu wahai ketua.,!'' ucap si lengan buntung lalu menjura hormat dengan sikap kaku.


''Eehm., tidak biasanya kau banyak berbicara seperti hari ini., tapi mengenang masa lalu memang bisa menghibur hati kita.,''


''Kau belum katakan bagaimana menghadapi tuntutan Nyi Sira dan Nyai Bawang. terus terang saja aku rada khawatir dengan mereka berdua .''


Si jubah kuning mendengus, kepalanya menoleh sekejab ke belakang. ''Apa yang kau takutkan., semuanya ada dalam kendaliku..!''


''Dulu aku sengaja merahasiakan semuanya dari mereka karena berkaitan erat dengan salah satu anggota lama kita.,''


''Siapa orang yang kau maksudkan itu..?'' tanya si lengan buntung menyahut.


Si jubah kuning bertopeng tengkorak menggeram., ''Dia bukan lain si nomor tiga belas yang menghilang, si Maling Nyawa..!''


''Kau tahu, dulu Pesanggrahan Selaksa Pedang suatu ketika pernah hampir habis terbakar. selain itu Nyi Sumbar Geni juga diketahui mati terbunuh dalam keadaan bugil., bertahun lamanya tidak pernah diketahui siapa pembunuhnya. baru beberapa tahun belakangan aku mendapatkan kabar kalau si Maling Nyawa pelakunya..!''


''Aah., aku mengerti. kalau sampai Nyi Sira tahu kalau Maling Nyawa telah membunuh Nyi Sumbar Geni yang merebut kekasihnya, dia tentu bakal melabrak pencuri tua itu karena membuat dia gagal balas dendam. dengan kata lain kau tidak ingin terjadi perpecahan diantara para anggota kita..''


''Lebih dari itu., pedang pusaka buntung milik kekasihnya kabarnya juga turut menghilang dari gudang pusaka Nyi Sumbar Geni. konon di dalam gagang pedang buntung itulah si Iblis Pedang Buntung menyimpan lembaran kitab ilmu pedang yang menjadi rebutan mereka berdua..''

__ADS_1


''Ini menunjukkan kalau si tua Maling Nyawa bukan saja pelaku pembunuhan Nyi Sumbar Geni tapi juga pencuri pedang pusaka buntung..!''


''Masih ada satu lagi., kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti yang di inginkan Nyai Bawang alias Nenek Bawang Beracun Belatung Darah awalnya juga berasal dari si Maling Nyawa., maling tua itu sudah mencuri bermacam barang pusaka dalam seumur hidupnya. termasuk kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti yang awalnya berasal dari gudang pusaka Istana Angsa Emas. setan tua keparat., sayang aku terlambat mengetahuinya. tapi tidak apalah, biar Nyai Bawang sendiri yang mengurusnya..!''terang si jubah kuning.


Wajah dibalik topeng tengkorak menyeringai saat dia melihat dua orang perempuan tua perlahan berjalan mendekat dari kejauhan. ''Sudah kubilang bukan., mereka berdua pasti datang kembali kepadaku., Hak., ha., ha.!''


Waktu sudah lewat tengah hari saat Sabarewang menghentikan laju Kereta Kuda Maut ditepian sebuah sungai kecil yang agak masuk kedalam hutan. daerah itu sepertinya sangat jarang di datangi manusia, apalagi banyak semak belukar lebat di sekitarnya.


''Nyi Dewi., kita bisa beristirahat. kurasa tempat ini cukup aman dan terpencil. apakah ada perintah lain..?'' bertanya Sabarewang sambil ketuk dinding kereta kuda.


''Kurasa belum ada, terima kasih kakang Sabarewang kau tentunya lelah dan lapar istirahat saja dulu. kutahu dirimu belum makan sejak pagi tadi..!'' terdengar jawaban Roro dari dalam kereta kuda. sebuah jendela di samping kereta terbuka, sepasang tangan putih mulus berbulu halus mengulurkan kendi air serta bungkusan daun pisang berisi nasi dan lauk. Sabarewang terkekeh, tanpa banyak bicara di sambarnya bungkusan nadi dan kendi itu. orang ini memang sedang kelaparan.


Di sudut kereta kuda Respati memperhatikan Roro Wulandari yang dibantu Satriyana sedang berusaha mengobati Birunaka yang masih tergeletak pingsan. meskipun sudah memberi pemuda itu obat hasil campuran darah Satriyana yang ajaib, tapi dia masih belum sadar. hanya nafas dan aliran darahnya sudah mulai lancar.


''Bagaimana ceritanya sampai Pengemis Watu Item bisa masuk kedalam kelompok 13 Pembunuh, bahkan mengaku sebagai anggota nomor lima..?'' gumam Respati bingung. ''Setahuku orang ini adalah anggota perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan yang biasa bergerak didaerah tanah sunda. jarang sekali anggotanya muncul di wilayah tengah tanah jawa ini..''


''Itu berarti cuma ada satu jawaban., anggota kelima 'Malaikat Kembar Bermuka Cacat' sudah di gantikan olehnya, mungkin mereka mati dalam menjalankan tugas, atau bisa juga ketua sendiri yang menghabisinya..'' kata Roro sambil mengusap peluh di dahinya. ''Duh panas sekali sih.'' omelnya. ''Satriyana adikku., tolong kau buka kedua jendela kereta ini biar ada angin masuk..'' padahal dia cuma memakai baju dalam berupa kutang. tapi tetap saja masih mengeluh kepanasan.


''Untung saja dia membekal batu Lencana Ketua 13 Pembunuh. kalau tidak sudah aku habisi dengan pukulan 'Cakar Tengkorak Darah'. walaupun diriku tidak bisa membunuhnya karena dia membawa pesan dari si nomor satu, tapi masih sempat kuhajar sampai pingsan lalu kita tinggalkan begitu saja disana karena telah berani melukai teman Satriyana.!'' gerutu Roro kesal. ''Tapi benar juga katamu., kenapa anggota perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan bisa masuk kelompok 13 Pembunuh.?''


''Eeh kau ingat tidak., sebelum kita hendak ke bukit Lading Sabarewang bilang sempat bertemu dengan beberapa anggota perkumpulan pengemis itu dijalan. kurasa sudah terjadi sesuatu masalah besar di dalam perkumpulan kaum gembel itu sampai harus berkeliaran jauh ke wilayah tengah. Aah persetan., itu bukan urusan kita..''


''Menurut Pengemis Watu Item, si nomor satu ingin kita secepatnya ke Wonokerto, tapi setelah memberikan kotak kayu cendana hitam pada Ki Ageng Bronto, lalu apa yang mesti kita perbuat selanjutmya. kalau kupikir semua akar masalah ini ada pada kotak peti kayu sialan itu dan isinya..''


''Tapi biarpun sudah kuteliti beberapa kali tetap saja tidak kutemukan sesuatu yang mencurigakan..!'' ujar Respati sambil keluar kereta kuda. perutnya sangat lapar, dia perlu makan sampai kenyang agar otaknya bisa berpikir jernih. saat keluar pintu kereta dia sempat melihat Satriyana membolak- balik peti kayu cendana hitam dengan raut muka aneh.

__ADS_1


__ADS_2