
Hari sudah beranjak siang, hembusan angin panas musim kemarau mengiringi laju kereta kuda maut yang kembali bergerak menuju Wonokerto. kusirnya masih si brewok Sabarewang. di sampingnya duduk si gadis lincah yang hitam manis Satriyana, di sepanjang perjalanan anak ini selalu menyanyikan lagu berirama riang, mungkin hatinya sedang gembira. Sabarewang cuma geleng- geleng kepala melihat tingkahnya.
Di dalam kereta kuda duduk berhadapan Respati dan Roro Wulandari. dalam benak keduanya masih jelas terlintas peristiwa tadi pagi. pertarungan pertama antara anggota kelompok 13 Pembunuh dan Istana Angsa Emas.!
Saat berpisah ketiga orang panglima istana itu baru menerangkan kalau mereka bertiga adalah anggota Istana Angsa Emas yang sedang menjalankan tugas. salah satunya untuk menyelidiki markas rahasia dari perkumpulan 13 Pembunuh. beruntung kedua orang yang masih bersepupu ini tidak terlepas omongan, hingga rahasia mereka sebagai anggota perkumpulan pembunuh bayaran itu tidak sampai terungkap. kalau ini sampai terjadi masalah pasti akan bertambah runyam.
''Luka luar dan dalam yang dialami wanita bergelar Panglima Istana Tengah itu sangat parah, untung kakak Rumilah membekali kita obat yang baru diraciknya menggunakan campuran tetesan darah Satriyana hingga wanita itu seakan bangkit dari kematian.!'' ujar Dewi Malam Beracun sambil menyimpan kotak berisi obat- obatan buatan Rumilah.
''Kau tahu betapa berharganya ramuan obat ini., apa tidak ada cara lain untuk mengobati luka wanita itu.?'' tanya Respati. dia merasa sayang kalau obat yang menggunakan campuran darah ajaib Satriyana di berikan pada orang lain.
''Kalau memang ada cara lain tanpa perlu kau suruhpun pasti sudah kulakukan., tapi mau bagaimana lagi, meskipun sangat di sayangkan terpaksa kita memakai obat ini.!'' jawab Roro kesal.
Respati mengetuk- ngetuk lantai kereta kuda bagian dalam, ''Aku baru tahu kalau kalian juga membuat ruang rahasia dibawah lantai kereta ini.,'' tangan pemuda ini sedikit mengungkit papan kayu jati di lantai kereta kuda. dan benar ada sebuah ruangan kotak seluas dua kali tubuh manusia yang tersembunyi di bawah sana.!
Rupanya di sinilah wanita yang dikenal sebagai Panglima Istana Tengah itu sempat di sembunyikan oleh Roro untuk mengelabui kedua kawannya.
''Kalian berdua sungguh pandai menyimpan rahasia. Sabarewang juga tidak pernah bilang padaku.!'' Roro tertawa bangga. ''Itu cuma sebagian rahasia kecil dari kereta kuda maut ini. dalam perjalanan setiap ada kesempatan aku selalu menambah atau memperbaiki senjata rahasia didalamnya.''
__ADS_1
''Pantas saja pada saat- saat tertentu kau menyuruh kami untuk keluar dari dalam kereta ini., aku sudah lama ingin bertanya dari mana kau belajar semua itu.?''
''Hik., hi, jadi kau penasaran.? duh., maaf saja Respati sayang., itu semua raa., haa., siiaa..!'' ujar Dewi Malam Beracun sambil menyentuh hidung Respati dengan jari telunjuknya yang panjang lentik. pemuda ini menepis tangan si wanita cantik. bersamaan itu kereta kuda terguncang saat rodanya melewati bebatuan jalan hingga tubuh Roro Wulandari hilang keseimbangan lalu terjatuh di dada Respati.
Walaupun bukan yang pertama kalinya, tapi berpelukan berdua karena ketidaksengajaan seperti ini membuat mereka merasa malu dan rikuh sendiri. tapi anehnya tidak ada yang mau melepaskan diri dari keadaan itu. 'meski terlihat memalukan, tapi kalau dihati terasa nyaman yah., teruskan.' mungkin itu yang ada dipikiran mereka berdua.
''Apakah kita akan seperti ini terus.?'' bisik Respati sambil membelai rambut hitam Roro yang panjang dan wangi. ''Ini semua salah Sabarewang yang tidak mampu menghindari jalanan yang penuh dengan batu.!'' gerutu Roro sambil pasang wajah jengkel.
''Kalau begitu kau bilang padanya supaya mencari jalanan yang mulus dan rata..'' ucap Respati sambil mengendurkan pelukannya. tapi Roro malah menggelendot makin erat. ''Eehm., setelah kupikir- pikir kurasa jalanan berbatu juga tidak ada masalah.!'' gumamnya tersenyum simpul. Respati cuma bisa menghela nafas. melihat wajah yang cantik jelita berada dalam dekapan, dia merasa enggan juga untuk melepaskan.
Roda kereta kuda terus bergulir menyusuri jalanan berbatu. jika tidak ada rintangan menghadang besok malam atau paling lambat lusa pagi mereka akan segera tiba Wonokerto.
Sebenarnya perbukitan kecil yang oleh penduduk sekitar dinamai perbukitan Gandaruwa ini tidak benar- benar berhantu, melainkan ada penghuni lain yang tinggal disana.
Yang menghuni perbukitan Gandaruwa ini bukan golongan mahluk alam gaib, mereka juga manusia biasa. hanya saja punya sedikit keahlian ilmu silat. penghuni bukit Gandaruwa ini hampir semuanya adalah kaum pengemis.
Bicara soal pengemis., kaum gembel miskin yang kerjanya hanya meminta sedekah untuk menyambung hidup, di jawa barat ini terdapat satu perkumpulan persilatan kaum pengemis yang sudah lama berdiri dan terkenal bernama 'Perkumpulan Pengemis Sembilan Tambalan.'
__ADS_1
Seperti namanya setiap anggota perkumpulan ini memakai baju yang sudah usang, robek- robek dan bertambalan di sana- sini. meskipun kalau dilihat lebih jelas jumlah kain tambalan yang ada di pakaian para pengemis itu sama berjumlah sembilan buah. jumlah tambalan kain inilah salah satu tanda pengenal dari anggota perkumpulan pengemis itu.
Konon warna kain tambalan ini juga sebagai pertanda tingkatan para anggotanya. semakin banyak warna tambalan makin tinggi pula tingkatan dari si pengemis. kabarnya ketua dari perkumpulan Pengemis Sembilan Tambalan ini memakai sembilan kain tambalan dengan sembilan warna yang berbeda. itulah tingkatan tertinggi dalam perkumpulan ini. singkatnya perkumpulan pengemis inilah yang menjadi hantu penghuni bukit Gandaruwa.
Ada tiga buah bukit yang berjajar di perbukitan Gandaruwa. di puncak bukit sebelah tengah, terlindung dibalik bebatuan besar dan pepohonan yang lebat berdiri tiga buah bangunan kayu. meskipun sederhana tapi terlihat kokoh dan bersih. satu bangunan yang ada ditengah adalah yang paling besar di bandingkan dua bangunan lainnya.
Di bagian luar terlihat belasan orang pengemis pria dan wanita tua. sebagian sedang sibuk memasak makanan ada pula yang duduk beristirahat sambil menghitung uang hasilnya seharian mengemis. meskipun sepintas terlihat santai tapi sebenarnya mereka selalu siaga dan waspada.
Sore itu di dalam ruangan gubuk kayu yang ada di tengah, duduk bersila beberapa orang pengemis. sebagian sudah berusia tua tapi banyak pula yang masih muda.
Satu orang pengemis yang paling menarik perhatian adalah seorang tua tujuh puluh tahunan, kurus keriput berkepala agak botak dengan rambut yang sudah jarang. pengemis tua ini memakai sebuah jubah usang berwarna kelabu yang robek- robek bertambalan, kotor dan bau apek. dilihat dari sembilan buah tambalan dengan sembilan warna kain yang berbeda mungkin orang tua inilah sang ketua perkumpulan Pengemis Sembilan Tambalan.
Satu lagi yang aneh sekaligus menjijikkan dari orang tua itu, kesepuluh jari tangannya terlihat menggembung berlendir, bengkak membiru dan selalu gemetar seakan menahan rasa sakit. konon keadaan jemari inilah yang membuat orang tua ini disebut sebagai 'Pengemis Jari Biru.!'
''Apakah semua saudara kita sudah hadir di sini.?'' bertanya si Pengemis Jari Biru. suaranya terdengar agar parau dan bergetar. para anggota sesaat saling lirik. seorang diantaranya memberanikan diri menjawab, ''Mungkin tinggal Nyi Dawuhan dari cabang tenggara dan Pengemis Penceng dari wetan yang belum datang. kami mengira jarak perjalanan yang cukup jauh hingga membuat mereka terlambat datang..''
'Aku rasa kalau kita bisa memulai pertemuan ini sekarang saja sambil menunggu dua saudara kita itu tiba.!'' ucap salah satu pengemis tua dengan enam warna tambalan di bajunya pertanda kedudukannya cukup tinggi. semua yang hadir sepakat menyetujuinya.
__ADS_1
Pengemis Jari Biru menarik nafas panjang, tangannya gemetaran saat meminum wedang gula aren yang ada di gelas tanah liat. ''Baiklah., sambil menikmati hidangan sekedarnya kita mulai saja sekarang. seperti yang telah terdengar, belakangan ini muncul berita mengenai surat rahasia peta harta pusaka Istana Angsa Emas.!''