
Dari pengerahan kekuatan sakti yang telah terpancar dari tubuh kedua pesilat muda ini hingga dapat membuat keadaan sekitarnya berguncang keras, orang bisa memperkirakan tingkat ketinggian ilmu kedigjayaan yang dimiliki oleh mereka berdua. padahal baik si pincang Pranacitra maupun si pemalas dari 'Kota Hantu Pagi' belum sampai saling labrak.
''Sejujurnya diantara para mantan pesilat pendatang baru seangkatan kita, sejak dulu diriku merasa paling tertarik denganmu. tanpa bermaksud membandingkanmu dengan si 'Ular Sakti Berpedang Iblis, 'Dewi Malam Beracun' atau si 'Arwah Hijau, kurasa memang kaulah orang yang paling sulit untuk dijajaki sampai dimana ketinggian ilmunya..''
''Sudah cukup lama aku tidak bertemu lawan sepadan yang pantas untuk membuat diriku beranjak bangun dari kursi malasku. meski aku menghargaimu sebagai lawan sepadan tapi selama ini orang yang berani memaksaku untuk turun tangan, selalu berakhir dengan kematian. kaupun tidak terkecuali.!'' gertak tuan muda pemalas mengancam.
Saat bicara pemuda yang menjadi penguasa sebuah wilayah terlarang di rimba persilatan ini seakan telah berubah menjadi orang lain. sikapnya yang hampir selalu nampak santai dan acuh kini hilang tanpa bekas. yang ada sekarang adalah seorang pemuda dengan pancaran hawa membunuh yang sangat menakutkan.!
''Dasar pemalas bodoh. apakah kau tidak menyadari kalau manusia licik itu sedang berusaha untuk mengadu domba kita berdua.?'' hardik Pranacitra gusar. meskipun demikian dia juga tidak tinggal diam dengan secepatnya kerahkan tenaga kesaktiannya dengan lebih hebat. belum lagi kedua orang ini beradu kedigjayaan, gelombang angin keras dan hawa sakti yang semburat keluar dari tubuh mereka sudah mampu membuat orang lain merasa sesak nafas dan ingin muntah darah seolah dia ditimpa bongkahan batu karang.
''Haa., ha., kita berdua adalah segelintir orang yang masih tersisa dari para pendatang baru dimasa lalu. jadi anggap saja., kau dan aku sedang mengulang sejarah dimana dulu orang- orang seperti kita saling berebut kedudukan untuk dapat menjadi yang terbaik dari jajaran sepuluh pendekar muda terkuat dunia persilatan..'' tukas tuan muda Kota Hantu Pagi tertawa bergelak.
''Huhm., baiklah jika itu maumu. dimasa silam diriku pernah membunuh 'Sepasang Gelang Malaikat' juga si 'Arwah Hijau'. dua orang yang menempati urutan ke tujuh dan terakhir dari sepuluh pesilat muda terkuat. agaknya hari ini akan bertambah lagi korban dari sisa persaingan masa lalu yang bakalan mati di tanganku.!'' dengus Pranacitra hambar.
Di dalam benaknya terbayang kembali saat para pesilat muda seangkatannya saling bersaing dan bertaruh nyawa untuk merebut kedudukan untuk menempati urutan teratas. biarpun waktu itu penuh dengan tetesan darah dan air mata tapi justru menjadi masa yang paling berkesan bagi kaum persilatan seperti mereka. mungkin dalam bahasa jaman sekarang kedua orang aneh ini sedang bernostalgia dengan masa lalu.
Senjata tongkat besi kepala tengkorak yang tergenggam di tangan kirinya bergetar keras pancarkan cahaya hitam pekat. suara keras bergemuruh yang di iringi kilatan cahaya mirip petir terlihat diujung tongkat. sebaliknya tangan kanan yang terkepal nampak bersemu sinar emas dan kehitaman dengan bayangan kepala seekor naga.
__ADS_1
Akibat terbangkitnya semangat pertarungan yang sudah sangat lama terpendam di dalam jiwanya, si pincang langsung kerahkan dua jurus ilmu kesaktiannya sekaligus. ''Kau yang memintanya. maka sangat tidak sopan jika diriku hanya bertindak setengah hati..'' ucap Pranacitra dengan sunggingkan seringai keji.
Pandangan matanya juga berubah kosong dan dingin menyeramkan seolah mata mayat. pemuda ini seperti baru saja menemukan kembali kepingan jiwa petarungnya yang hilang. walau bagaimanapun juga., Pranacitra tetap mempunyai darah seorang pembunuh. tongkat mulai terangkat naik, kepalan tangan juga sudah bersiap menghantam.
''Jurus 'Tongkat Hitam Guntur Tunggal' juga pukulan sakti 'Raungan Naga Kehancuran'. pincang celaka., rupanya kau benar- benar berniat untuk menyelesaikan pertikaian lama denganku secepat mungkin.!'' seru tuan muda pemalas setengah merutuk saat mengenali ilmu kesaktian yang dipersiapkan lawannya.
''Tapi jangan harap kau bisa mengalahkan aku. kurasa tidak perlu banyak gebrakan bagi kita berdua untuk beradu nyawa. paling lama pada jurus yang ketiga, kita sudah harus selesaikan semuanya. apakah kau berani merimanya pincang sialan.?'' tantang si pemalas. kedua tangannya yang sedikit menekuk membentuk cengkeraman sudah diselimuti cahaya putih keperakan yang amat menyilaukan mata.
Dari ancang- ancangnya, si pemalas hendak kembali menggunakan jurus' Tangan Hantu Mencengkeram Matahari' seperti saat dia membunuh Ki Ageng Bangkal Sungsang. ''Sesuai dengan keinginanmu. karena bagiku lebih cepat selesai tentu juga lebih baik..'' sahut Pranacitra dingin. ''Huhm., bagus. mampus kau 'Gelandangan Hantu' keparat.!'' bentak majikan Kota Hantu Pagi sembari kibaskan kedua tangannya ke depan.
Seperti sebelumnya, tidak terasa adanya sambaran angin keras dan tajam yang membawa kekuatan penghancur. tetapi hebatnya dua larikan cahaya putih perak yang menyilaukan berbentuk tangan tahu- tahu sudah melesat setengah jalan siap mencabik- cabik hancur tubuh Pranacitra menjadi seribu serpihan. tanah bebatuan juga onggokan mayat- mayat yang di laluinya seketika semburat terpecah ke seantero penjuru dengan kepulan asap panas dan bau hangus terbakar.!
Belum lagi tiga ilmu kedigjayaan tingkat tinggi itu bertemu, dataran sekitar pertarungan sudah lebih dulu di landa oleh amukan hawa panas dan tekanan yang begitu menindas. beberapa pesilat yang tidak tahan seketika jatuh terduduk muntah darah. diantaranya malah turut terhempas bersama tumpukan mayat yang berserakan bagaikan onggokan sampah.
'Whuuuusss., whuuuuss., wheeesss.!'
'Blaaaaammm., blaaaam., glaaarr.!'
__ADS_1
Empat cahaya panas yang saling beradu kekuatan membuat ledakan beruntun yang menggoncangkan seluruh pulau. bahkan di atas sana langit seolah tertutup awan gelap dengan angin guruh bergulungan seolah hendak runtuh. meski tidak ada satupun orang yang tahu benar hasil dari bentrokan pembuka antara si pincang dan si pemalas karena cahaya yang menyilaukan mata juga kepulan debu panas menutupi pandangan, namun jelas kekuatan sakti dari bekas para pendatang baru yang pernah berjaya dimasa lima tahun lalu itu sungguh tidak dapat di bayangkan lagi.
Walaupun semua orang telah lebih dulu menjauhkan diri dari kalangan pertarungan tapi tetap saja tubuh mereka terkena imbas dari benturan kekuatan sakti yang terjadi. sambil terus bertempur dengan pihak lawan, para tokoh silat dari kedua kubu itu juga masih merasa penasaran dengan hasil pertarungan itu.
Tentu saja yang merasa paling gembira dengan kejadian ini adalah sang ketua dari 'Kelompok 13 Pembunuh' dan seluruh anak buahnya. karena ibarat kata, hanya dalam sekali tepukan tangan saja mereka dapat langsung menyingkirkan dua ekor lalat pengganggu sekaligus. ''Haa., ha., bagus., bagus sekali. ini jauh lebih mudah dari yang kubayangkan..'' gumam ketua 13 Pembunuh dari balik topengnya.
''Apa kau memang memiliki dua batu hitam aneh seperti yang diminta oleh majikan Kota Hantu Pagi itu. lalu apa kegunaan benda itu.?'' bertanya si 'Setan Arak' setengah berbisik saking penasaran. Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis' yang hendak turut bergerak menyerbu pihak Istana Angsa Emas jadi ikut tertarik.
''Aku memang punya benda yang dia minta tapi hanya ada satu kepingan batu saja. soal kegunaannya diriku juga belum sempat untuk menyelidikinya. seingatku Jarot Winongko si 'Pedang Geledek' yang telah memberikannya padaku saat dia menerima pembayaran dari salah satu pelanggan kita..''
''Aah., aku ingat sekarang. menurut ucapan si pelanggan dulu dia mendapatkan kepingan batu aneh itu di suatu pedataran lembah yang penuh dengan ribuan tulang belulang bekas suatu pertarungan besar- besaran yang pernah terjadi di rimba persilatan dua ratusan tahun silam. ada yang bilang., kalau daerah itu dulunya adalah tempat terjadinya peristiwa bentrokan berdarah antara partai 'Gapura Iblis' dengan ratusan partai persilatan aliran putih.!'' terang ketua 13 Pembunuh.
Para bawahannya sama tertegun mendengar penuturan pimpinan mereka. sementara dalam hati orang tinggi besar berjubah kuning itu timbul sebuah pertanyaan. ''Apakah batu hitam aneh itu punya kaitan tertentu dengan partai Gapura Iblis atau pihak- pihak yang dulu pernah terlibat dalam pertempuran terbesar dalam sejarah dunia persilatan.?''
''Hehm., bagaimanapun juga setelah semua ini berakhir aku harus bisa mengungkap rahasia batu itu.!'' gumamnya memutuskan. ''Sekarang juga perintahkan anak buahmu untuk mengambil ratusan guci kecil berisi 'Darah Keabadian' dan bagikan pada semua orang yang bersekutu dengan kita.!'' perintah sang ketua pada 'Momok Jelaga Hitam'.
''Aku mengerti maksudmu ketua, dengan demikian kekuatan kita akan meningkat dan lebih cepat menyudahi pertempuran ini. meski dengan berbuat demikian kita jadi sedikit merugi tapi hasil akhirnya tetap saja adalah kemenangan bagi pihak kita. Hee., he..'' jawabnya terkekeh. dengan dikawal oleh beberapa anak buahnya nenek tua itupun berkelebat pergi menjalankan perintah pimpinannya.
__ADS_1
.............
Silahkan tuliskan komentar Anda. Terima kasih🙏.