
Waktu sudah lama berlalu melewati dini hari, mungkin dua kali penanakan nasi suara ayam jantan akan mulai berkokok. setelah membubuhi obat luka penangkal racun dan membalut pangkal lengan kiri si 'Putri Penjerat' yang buntung dengan selembar sapu tangan hitamnya yang bersulam bulan sabit emas, Roro memanggul tubuh kecil wanita bekas rekannya itu.
Meskipun harus membawa beban tapi bukan masalah sulit bagi 'Dewi Malam Beracun' untuk bergerak cepat menembusi lebatnya hutan. Respati mengikutinya dari belakang sambil mengawasi keadaan.
Sebenarnya pemuda ini hendak membopong si 'Laba- Laba Kuning' bekas nomor empat dalam kelompok 13 Pembunuh itu namun dia merasa ragu. bagaimanapun juga Putri Penjerat juga seorang gadis. akhirnya Roro Wulandari yang membawanya. mungkin karena sesama wanita dia tidak merasa canggung.
Setelah lebih tiga ratusan langkah berlarian diantara lebatnya hutan, mereka sampai juga di tempat tujuannya. meskipun masih jauh tapi samar terlihat sebuah kereta hitam yang di tarik dua ekor kuda jantan cokelat yang kekar tertambat di antara lebatnya pohon di tepian hutan itu.
Respati si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' dan Roro Wulandari sang 'Dewi Malam Beracun' sama hentikan larinya. jarak di antara mereka berdua dengan 'Kereta Kuda Maut' terpaut lebih dua puluhan tombak jauhnya. tapi mereka perlu waspada karena cahaya lentera penerangan yang tergantung di ujung kereta terlihat padam sehingga suasana menjadi gelap.
Kedua orang bersepupu jauh itu saling lirik. meskipun tidak mendengar ada pergerakan apapun, tapi naluri alami sebagai bekas anggota kelompok pembunuh bayaran yang terkuat membuatnya selalu waspada dalam bertindak.
Pemuda itu membuka mulutnya menirukan suara lolongan serigala hutan sebanyak dua kali panjang dan sekali pendek. beberapa saat kemudian dari balik jendela depan kereta kuda hitam muncul sebuah lentera yang minyak yang di gantung seseorang di atas kereta itu.
''Kurasa semuanya aman., lain kali kau buat suara burung hantu atau binatang lain saja. kurasa lolonganmu lebih mirip anjing buduk yang kelaparan dari pada suara serigala..'' olok Roro mendahului berkelebat menuju kereta kuda. Respati cuma bisa nyengir tanpa berani membantah, karena dia paham tidak ada suatu apapun yang lolos dari celaan mulut tajam si cantik sombong yang sok kuasa itu.
Sabarewang dan Satriyana bekerja cepat membuat perapian kecil. sebuah kuali tanah berukuran sedang yang berisikan bermacam daun obat dan air terlihat mulai panas. setelah mendidih dan menebarkan bau rempah dedaunan yang agak menyengat, kuali itupun di berikan kepada Roro yang berada dalam kereta.
Kokok ayam jantan terdengar sayup- sayup di kejauhan. meskipun masih gelap gulita tapi hari sudah menjelang pagi. dalam kereta kuda Respati sedang duduk bersila di belakang punggung Putri Penjerat. kedua telapak tangannya yang di tekankan ke punggung perempuan itu terlihat mengepul asap tipis. dua kali hentakan perlahan mengakhiri penyaluran tenaga dalam itu. tubuh si Laba- Laba Kuning langsung terkulai lemas. Roro dengan cekatan menahan lalu membaringkannya di lantai kereta kuda.
Respati perlu waktu sepeminum teh untuk mengatur pernafasan dan memulihkan dirinya. setelah itu baru pemuda ini keluar dari dalam kereta kuda dan menutup pintunya. kini tinggal Dewi Malam Beracun dan Putri Penjerat alias si Laba- Laba Kuning yang berada di sana.
__ADS_1
''Siapa perempuan berbaju kuning itu yang tangannya buntung sebelah itu. siapa juga yang telah memotong tangannya.?'' tanya Satriyana penasaran.
''Kalian temukan di mana wanita itu., perasaan kita sudah dua kali ini ketemu dengan wanita berbaju kuning yang sekarat..'' tambah Sabarewang heran. dia jadi ingat waktu menemukan wanita yang bergelar 'Panglima Istana Tengah' dari kelompok istana 'Angsa Emas' yang sudah sekarat dan tubuhnya tersangkut di batuan sungai.
''Dia bekas rekan satu perkumpulan. nomor empat dalam kelompok 13 Pembunuh. dia di panggil sebagai Putri Penjerat atau si Laba- Laba Kuning..''
''Soal siapa orang yang telah membuntungi tangannya., dia bukan lain adalah si wanita galak yang sering kali mengaku paling cantik di dunia persilatan..'' bisik Respati sambil menunjuk ke arah kereta. kedua rekannya langsung terbungkam. niat mereka berdua untuk mencari tahu masalah seketika hilang. karena jauh lebih aman tidak tahu soal apapun dari pada nanti berurusan dengan Dewi Malam Beracun yang menakutkan.
''Seperti yang kalian tahu., saat kereta kuda kita baru saja memasuki wilayah hutan ini, aku dan Roro sempat sekilas mendengar suara keributan dari kejauhan. untungnya waktu itu lentera kereta sudah dipadamkan hingga tidak menarik perhatian orang lain..''
''Sebenarnya aku enggan mencari tahu masalah orang lain. tapi., kalian tahu sendiri Roro suka ikut campur hingga tanpa pikir langsung pergi kesana. dan pada akhirnya aku terpaksa mengikutinya..''
Tanpa di minta Respati menceritakan semua kejadian yang dia alami bersama Roro di hutan itu termasuk pertarungan dengan si nomor tujuh 'Datuk Tinggi Mayat Besi'.
Akhirnya dengan ilmu tusuk jarum serta ramuan obat hasil racikan Rumilah dengan campuran 'Darah Keabadian' Satriyana, sisa racun yang sangat ganas itu baru dapat di punahkan seluruhnya.
''Untuk sementara ini dia sudah dapat terlepas dari ancaman maut. meskipun begitu dia mesti berisirahat lama untuk dapat kembali pulih. kita juga baru bisa memastikan keadaanya setelah dua atau tiga hari kedepan..'' terang Roro mendahului menjawab apa yang akan di tanyakan ke tiga kawannya lalu duduk di depan perapian kecil bekas merebus kuali obat.
''Hhm., dari apa yang dikatakan oleh 'Datuk Tinggi Mayat Besi' dapat kusimpulkan kalau saat ini dalam kelompok 13 Pembunuh telah membuang empat orang anggotanya termasuk juga kita berdua., bagaimana menurutmu Respati.?'' gumam Roro melirik rekannya. Sabarewang dan Satriyana sama tertegun mendengarnya. sementara Respati hanya mengangkat bahu tidak perduli.
''Suatu ketika kita tetap akan keluar dari perkumpulan itu. cepat atau lambat kita juga akan di jadikan tumbal. meskipun mulai saat ini kita jadi buruan mereka, kukira juga bukan masalah besar. lagi pula., kita berdua bukan orang yang gampang untuk di bunuh..''
__ADS_1
''Hii., hi., kau benar sepupuku sayang, mereka boleh datang kapan saja. secepatnya kita kirim mereka ke neraka.!'' Roro Wulandari seketika hentikan tawanya saat mendengar seseorang mendatangi. dari langkah kakinya yang ringan nyaris tidak terdengar, dapat dikira ilmunya cukup tinggi. hampir saja dia lepaskan beberapa paku terbang beracun jika saja Respati tidak keburu mencegah.
''Tahan dulu Roro., yang datang adalah orang kepercayaanku..'' cegah Respati. sementara ketiga rekannya mengernyit tidak mengerti, ''Sejak kapan Respati punya anak buah.?'' mereka membatin.
Ketiganya semakin heran saat melihat sesosok tubuh berdiri di bawah pepohonan beberapa langkah dari tempat mereka berkumpul. biarpun tidak begitu jelas, namun dapat dipastikan orang ini memakai baju hijau bercaping bambu, serta membekal sebatang tombak pendek. di keremangan cahaya perapian terlihat dia memakai penutup wajah tengkorak putih.
''Kenapa orang bawahan dari 13 Pembunuh di pulau 'Seribu Bisa' dapat muncul di sini.?'' pikir Roro melirik Respati minta penjelasan.
''Harap maafmu aku datang terlambat., sulit untuk mencari kesempatan seperti ini. jadi waktuku tidak banyak..'' ucap si pendatang.
''Aku tahu., tidak perlu bertele- tele, katakan langsung semuanya yang kau tahu..'' Respati cepat memotong. orang itu mengangguk lantas bertutur semua persoalan yang terjadi di pulau Seribu Bisa, juga kejadian di dunia luar yang mungkin tidak di ketahui Respati.
''Aah., ada satu lagi masalah yang mungkin penting, ada suatu penyerbuan ke tempat seorang juragan kuda bernama Ki Ageng Bronto, sempat kudengar kalau orang ini sebenarnya adalah si nomor sembilan alias 'Pendekar Golok Bayangan Setan'. siapa orang yang memimpin tidak sempat aku ketahui. tapi., dia membekal senjata golok kembar berwarna kemerahan. hasil dari penyerbuan itu tidak diketahui, seakan sengaja dirahasiakan oleh orang atas..'' pungkas orang itu.
Respati dan Roro saling pandang. biarpun masih terlihat tenang namun dalam hati mereka cukup terkesiap kaget. beberapa perkataan orang bawahan pulau Seribu Bisa itu mengejutkan keduanya.
''Terima kasih., kau sudah bersusah payah menyampaikan semua berita ini padaku..'' ujar Respati sambil lemparkan sekantung uang ke pada orang itu. baru saja tangannya menerima sudah bertambah lagi tiga keping uang emas yang di lemparkan Roro. orang itu tertegun sebentar. setelah menjura hormat dia balikkan tubuhnya lalu pergi tinggalkan tempat itu.
''Dulu orang ini adalah anggota rendahan pulau Seribu Bisa yang jadi pesakitan dan hendak di hukum mati karena suatu kesalahan. singkatnya diam- diam dia aku tolong dan orangnya kugantikan dengan anggota terhukum lain yang memang sudah sekarat karena siksaan berat..''
''Kebetulan sekali waktu itu aku di tugaskan untuk membunuh para narapidana anggota rendahan yang berbuat kesalahan. orang ini lalu kususupkan sebagai mata dan telingaku di pulau Seribu Bisa, hingga segala hal yang terjadi di sana hampir semuanya dapat aku ketahui..!'' jelas Respati mendahului bicara.
__ADS_1
''Wah hebat juga., tapi kenapa kau tidak pernah bercerita padaku..'' sungut Roro gemas. ''Kakang Respati mulai main rahasia- rahasiaan juga..'' cibir Satriyana. pemuda itu cuma nyengir. ''Setiap orang punya rahasia sendiri. lagi pula sekarang kalian bertiga sudah mengetahuinya..''
''Eeh., menurut Nyi Dewi siapa orang yang memimpin penyerbuan ke rumah Ki Ageng Bronto. kurasa kita mesti tahu jelas masalah ini karena kesanalah tujuan akhir kita.!'' ucap Sabarewang membuat Dewi Malam Beracun merasa penasaran juga.