13 Pembunuh

13 Pembunuh
Hanya main- main.


__ADS_3

Saat pertama kali mereka masuk ke dalam ruangan batu itu hampir semua orang yang hadir serentak berseru kaget melihat seorang nenek buta berjubah hitam yang membekal sebatang tongkat merah sedang berdiri agak terbungkuk di tengah ruangan itu. hawa membunuh yang menskutkan terpancar dari tubuhnya.


''Gila., dia., dia., bukankah nenek itu Nyi Sira.!'' seru Jurata ketakutan. ''Jangan berkata tolol., nenek buta itu sudah mampus di ujung pedangku..'' bantah Sabarewang. biarpun demikian dia juga merasa kebingungan. ''Lan., lantas ken., ken., kenapa dia., dia muncul di., di sini. apakah dia hantu penasaran.?'' desis Satriyana gemeletuk seram sambil berlindung di belakang tubuh 'Putri Penjerat'. padahal wanita bertangan buntung sebelah itu juga di landa kengerian.


''Sabarewang., kau bilang Respati dan Dewi Malam Beracun sedang menanti kita, di mana mereka sekarang.?'' geram Ki Ageng Bronto gusar seraya mencabut golok Bayangan Setan miliknya. ''Apakah mere., mereka sudah di., di makan hantu Nyi sira itu.?'' jerit Satriyana membuat hati semua orang bertambah seram. Birunaka yang biasanya selalu siap melindungi sang tuan putri, kini dia malah berdiri paling belakang.


''Hik., hi., kalian semua akan mati hari ini juga, akan kubawa jiwa kalian kembali bersamaku ke alam kematian. aku inginkan pembalasan terutama padamu, karena kaulah yang telah membunuhku.!'' bentak Nyi Sira tudingkan tongkatnya pada Sabarewang. suara si nenek terdengar menyeramkan penuh hawa dendam. tanpa terasa kusir kuda ini tersurut mundur, begitu juga yang lainnya. jelas sekali mereka merasakan sangat ketakutan bertemu hantu Nyi Sira ini.


''Sudahlah Roro., berhentilah bermain hantu- hantuan seperti anak kecil dengan mereka. masih banyak masalah yang jauh lebih penting untuk di urusi.!'' satu seruan terdengar dengan di susul turunnya tubuh Respati dari atas ruangan batu. ''Respati, kau., kau masih hidup.?'' seru Sabarewang dan Satriyana hampir bersamaan. serentak semua orang menoleh pada hantu Nyi Sira yang tertawa bergelak.


Suara tawanya sangat berlainan dengan yang sebelumnya, semerdu suara seorang wanita cantik. raut muka semua orang mengkelam, mata mereka melotot penuh perasaan sebal dan benci pada si nenek buta, saat tangan keriputnya mengelupas selembar topeng tipis dari wajahnya. seraut wajah cantik jelita sang 'Dewi Malam Beracun' muncul di sana.


''Aduuh., kenapa mata kalian semua mendelik begitu, jelek tahu.!'' ujarnya mengejek seakan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Satriyana dan 'Laba- Laba Kuning' menggeram, berikutnya tubuh dua orang perempuan yang juga cantik ini melesat maju.


Satriyana gunakan kedua kepalan tangannya untuk lepaskan tinju yang mengarah ke perut dan dada kiri Roro. gebrakan itu diakhiri dengan tendangan kaki kiri ke arah pinggang. dari angin serangannya yang tajam menderu menandakan kekuatan ilmu silatnya sudah mengalami peningkatan.


Putri Penjerat alias Laba- Laba Kuning melesat ke udara hingga mencapai atap ruangan yang hampir mencapai tiga tombak. di atas sana kedua kaki tangannya sempat bergelantungan beberapa kejapan mata seakan seekor laba- laba yang sedang mengincar mangsa. detik selanjutnya tubuhnya meluncur cepat dengan kedua kaki menjejak lebih dulu. yang dia serang bagian kepala dan punggung lawan.

__ADS_1


Meskipun serangan kedua kaki itu cukup hebat, tapi Roro paham kalau yang paling berbahaya adalah sambaran telapak tangan si Putri Penjerat yang menghantam paling akhir. lima larik sinar kuning keemasan berserabutan bagaikan cambukan lidah petir. jurus 'Jaring Kilat Elmaut Kuning.!'


Tubuh Roro Wulandari berputar meliuk tiga kali seperti seorang penari, bersamaan tangan kirinya mengibas lalu menggunting ke bawah. ini adalah sebuah gerakan untuk menghindar dan menangkis serangan Satriyana sekaligus juga bersiap balas menyerang.


Sementara itu tangan kanannya tidak tinggal diam. tongkat merah di lemparkan lurus ke atas untuk membendung serangan jurus 'Jaring Kilat Elmaut Kuning' si Putri Penjerat. walaupun tongkat merah yang menghunjam mampu dia babat mental, tapi Putri Penjerat tahu kalau serangan yang datang berikutnya pasti lebih menakutkan.


Sekelebat cahaya keperakan berbentuk kipas yang disertai sambaran angin setajam pedang menyambar ke atas, jurus 'Kipas Bayangan Pengejar Sukma' dia mainkan untuk menahan serangan Putri Penjerat. sementara langkah kakinya bergerak mundur dua tindak untuk menghindari serangan Satriyana yang mulai menggunakan busur emas dan anak panah ungunya untuk menggempur Roro dengan gerakan babatan dan tikaman. dua jurus pertama dari ilmu silat 'Busur Panah Srikandi' berturut- turut dia mainkan.


'Whuuut., wheeet., ctaaarr.!'


'Traaaang., traaaang.!'


Hanya Respati dan Ki Ageng Bronto saja yang tetap berdiri tenang di tempatnya. dengan tingkat ilmu kesaktian mereka yang sangat tinggi membuat keduanya tidak terpengaruh. jika ada serangan jurus yang nyasar, tenaga sakti pelindung dari tubuh mereka seketika dapat memusnahkannya.


Kalau orang lain yang melihat, mungkin sekali mereka akan mengira kalau tiga wanita cantik itu sedang bertarung mengadu nyawa, padahal sebenarnya semua ini cuma latihan dadakan. hanya saja., jauh lebih ganas jika dibandingkan latihan umumnya, hingga sebentar saja dua puluhan jurus telah terlewati.


Dikepung dari atas dan bawah membuat Roro sedikit kerepotan juga, dalam hatinya dia agak terkejut juga melihat kemajuan ilmu silat kedua rekannya ini. tidak mau kalah, Dewi Malam Beracun lancarkan jurus 'Kipas Penggulung Awan' di susul 'Kipas Pengejar Rembulan' yang diakhiri dengan gerakan sapuan kaki kiri kanan yang di namai jurus 'Bidadari Menendang Bintang.!'

__ADS_1


'Wheess., Wheet., Sraaat.!'


'Dhaaas., dheees., Braaak.!'


Tiga tubuh serentak terpisah. Satriyana gunakan busurnya yang ditancapkan ke lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak terseret mundur terlalu jauh. Putri Penjerat buat sekali gerakan salto di udara sebelum menjejakkan kakinya kembali ke bawah dengan mantap. ilmu peringan tubuhnya memang jempolan.!


Roro terlihat agak terbungkuk dengan kedua kaki sedikit goyah. setelah mengatur nafas dia baru dapat kembali berdiri tegak lengkap dengan senyumannya yang sombong namun menawan hati. ''Huhm., aku cuma sedikit main- main saja tapi kalian sudah mengamuk seperti ini. dasar kekanak- kanakan..'' omelnya.


Kedua rekannya saling pandang, ''Siapa yang bilang kami ngamuk, kita berdua juga hanya main- main saja. kaulah yang gampang naik darah dan kekanakan seperti anak kecil, pakai bermain hantu Nyi Sira segala.!'' Putri Penjerat dan Satriyana balas mengejek.


''Salahmu sendiri, saat kami bertanya apa yang hendak kalian berdua lakukan di luar sana, kau tidak mau menjawabnya. lalu tiba- tiba saja saat kembali si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' bilang kalau kau menunggu kami di dalam ruangan ini. tentu saja semuanya terkejut saat melihat ada nenek buta yang sudah mati, hidup kembali dan mengancam kami. dasar wanita licik.!'' sungut Putri Penjerat.


Roro merengut kesal, tapi selanjutnya tertawa geli. ''Kalau teringat bagaimana kalian sampai ketakutan begitu, aku jadi ragu kalau kalian semua adalah orang yang telah melewati banyak pertarungan antara hidup dan mati. tapi., syukurlah tingkat ilmu silat kalian berdua sudah mengalami banyak peningkatan, bahkan tadi diriku sampai kewalahan..''


''Kurasa saudara- saudara yang lainnya juga demikian, aku percaya ilmu silat dan kesaktian kalian semua pasti menjadi lebih kuat dari sebelumnya. itu sangat bagus untuk bekal saat kita keluar dari tempat ini..'' ujar Roro menghela nafas berat.


Kecuali Respati, semua rekannya yang lain jadi curiga dan saling pandang tidak mengerti. ''Kakang Bronto., sepertinya kita semua tidak dapat lagi menempati ruang rahasia di bawah tanah rumahmu ini, karena aku merasa kalau kelompok 13 pembunuh cepat atau lambat akan kembali lagi ke mari.!''

__ADS_1


*****


Silahkan tulis komentar anda, kritik saran juga like👍, vote atau favorit👌 jika suka. Terima kasih.🙏


__ADS_2