13 Pembunuh

13 Pembunuh
Terbongkar.


__ADS_3

Jurata dan Birunaka berjalan cepat di antara lorong rumah penduduk yang lumayan padat di Wonokerto. keduanya seperti sengaja bergerak memutar beberapa kali melewati jalan- jalan kecil. setelah yakin aman dan tidak ada yang mengikuti, barulah mereka bisa bernafas lega.


''Huhh sialan., hampir saja penyamaran kita ketahuan. untung mereka masih bisa kita tipu. kemampuanmu mengamati tanda sandi rahasia yang digunakan pelayan warung itu boleh diandalkan juga..'' puji Jurata sambil tepuk bahu rekannya.


''Haa., ha., gertakan kakang Jurata juga sangat meyakinkan, tidak sembarangan orang dapat melakukannya. kurasa bergaul dengan ketua Nyi 'Dewi Malam Beracun' membuat otak kita berdua menjadi lebih licin seperti belut..'' ujar Birunaka tergelak. keduanya terus lanjutkan perjalannannya. setelah melewati dua buah tikungan kecil, mereka berhenti di belakang sebuah rumah gubuk.


Setelah memandang sekelilingnya Jurata mengetuk pintu gubuk bambu, tiga ketukan cepat, tiga lambat hingga dua kali. tidak berapa lama kemudian pintu belakang rumah gubuk di buka dari dalam. kedua orang ini sempat tertegun sebelum akhirnya masuk ke dalam gubuk dan pintupun tertutup kembali.


Di dalam gubuk itu gelap tanpa cahaya. meski demikian masih terlihat beberapa perabotan tua yang sudah lama di tinggalkan pemiliknya. sesosok tubuh terlihat berdiri di sudut gubuk. wajahnya tidak terlihat karena selain gelap dia juga memakai caping bambu di kepalanya. ditengah ruangan gubuk ada sebuah meja kayu persegi dan kursi yang sudah lapuk. orang ini melepas pakaian hitam gombrong yang menutupi tubuhnya. rupanya di balik baju hitam itu dia memakai sebuah pakaian lain.


Jurata duduk di sana tanpa banyak bicara, sementara Birunaka berdiri di belakangnya. sosok tubuh itu maju beberapa langkah ke depan. kini terlihat kalau orang itu memakai seperangkat pakaian hijau dan membekal tombak pendek. saat dia sedikit mendongak nampak sebuah topeng tengkorak putih tersembunyi di balik capingnya.


''Sebentar saja kalian berdua terlambat datang, aku sudah akan pergi dari sini. bagaimanapun juga., bukannya mudah untukku menjadi mata-mata..'' tegur orang berpakaian hijau dan bercaping bambu. dari balik pakaian hijaunya dia mengeluarkan sebuah gulungan daun lontar. walaupun Jurata hanya membaca sekilas isi gulungan daun lontar itu, tapi dia tidak mampu menahan rasa terkejutnya.


''Katakan pada si Ular Sakti Berpedang Iblis' kalau sementara ini jangan menghubungiku dulu. peraturan 13 Pembunuh menjadi lebih ketat sejak peristiwa di Wonokerto juga karena tewasnya tuan Kamajaya dan Nyi Sira..'' ujar si baju hijau yang bukan lain adalah salah satu anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang menjadi kaki tangan Respati di pulau 'Seribu Bisa.!'


''Kau hendak pergi sekarang juga., tapi apakah tidak ada pesan atau hal lain yang perlu kami sampaikan pada si Ular Sakti Berpedang Iblis, tuan penolongmu itu.?'' tanya Birunaka melihat orang ini memakai kembali baju hitamnya lalu berjalan keluar pintu depan gubuk. yang ditanya cuma berhenti dan berbalik.

__ADS_1


''Katakan pada Ular Sakti Berpedang Iblis dan si 'Dewi Malam Beracun' agar jangan sampai lupa mengabarkan kepadaku setiap hendak melakukan suatu rencana hingga kita bisa membuat persiapan. Aah., masih ada satu hal lagi, aku ingin tahu sebenarnya dimana kalian bersembunyi selama ini, hingga jejak kalian tidak di ketahui para atasan kami.?''


Jurata dan Birunaka sesaat tertegun dan saling pandang mendengar pertanyaan lelaki ini karena terasa sedikit aneh. ''Soal itu., kami selama ini terpaksa hidup berpencar dan menyamar. kami hanya dapat berkumpul saat ada masalah penting yang harus dibicarakan. maklum saja., kami semua adalah buronan kelompok 13 Pembunuh. bahkan sekarang ini pihak kadipaten dan kerajaan Demak juga ikut memburu kita..''


''Entah bagaimana Dewi Malam Beracun selalu saja dapat menemukan persembunyian kami. dialah orang yang menghubungi semuanya jika ada pertemuan rahasia. memangnya ada urusan apa kau menanyakan masalah ini.?'' timpal Birunaka balik bertanya.


Orang itu menarik nafas dalam. ''Mungkin kalian merasa curiga kepadaku. tapi terus terang saja aku memerlukan keterangan yang lebih jelas agar dapat terus menghubungi kalian, karena tempat pertemuan rahasia ini sudah tidak aman lagi untuk di gunakan..''


Setelah berkata orang inipun berkelebat hingga sosoknya lenyap dari ruangan gubuk yang gelap. Jurata dan Birunaka saling pandang. meskipun tanpa bicara pikiran keduanya seolah tersambung. setelah berpikir sebentar mereka memutuskan untuk secepatnya juga meninggalkan tempat itu.


Orang berbaju hitam itu terus berjalan cepat menyusuri jalanan di kadipaten Wonokerto. caping bambunya di benamkan lebih dalam. setiap kali dia melihat ada prajurit kadipaten yang berkeliling menjaga keamanan, orang itu dengan cepat menyelinap diantara rumah penduduk. dari gerakannya dapat diketahui ilmu ringan tubuhnya cukup tinggi.


Setelah memasuki hutan itu orang ini buang pakaian hitamnya lalu terus menerobos masuk lebih dalam ke tengah hutan. setelah melewati rimbunan pepohonan dia sudah sampai ke tempat tujuannya. di sana sudah menunggu lima orang berpakaian hijau dan memakai kedok topeng tengkorak putih yang sama seperti dirinya.


''Bagaimana keadaanmu., apakah semua yang direncanakan atasan untuk menjebak para buronan itu dapat kau jalankan dengan lancar.?'' tanya salah satu diantara ke lima orang ini. meskipun tampangnya tertutup topeng tengkorak dan bercaping bambu, tapi perawakannya yang paling tinggi besar di antara mereka semua.


''Meskipun mereka berdua sempat curiga, tapi semuanya dapat berjalan dengan baik. sama persis seperti yang mata- mata itu katakan sebelum dia mampus, gubuk bambu itu memang tempat pertemuan rahasia mereka. sayangnya., aku belum dapat mengorek keterangan lebih banyak. terutama di mana tempat persembunyian para buronan dan pengkhianat itu berada..'' jawab orang yang baru datang.

__ADS_1


Rupanya dia bukanlah orang yang sama dengan mata- mata Respati. dari sini dapat di duga rahasianya mungkin telah terungkap dan orangnya juga sudah tewas. kemungkinan dia sempat di siksa dengan sangat kejam hingga terpaksa mengatakan semua rahasianya sebelum di habisi.


''Hhm., aku rasa atasan juga tidak akan menyalahkan kita. yang terpenting lembaran daun lontar itu sudah sampai ke tangan mereka. dengan begitu kita tinggal menunggu gerombolan ikan masuk perangkap, sesuai dengan yang direncanakan para atasan kita..'' ujar si tinggi besar seraya mendengus. orang ini lantas menoleh ke samping kanan melihat seorang rekannya yang berdiri diam di sana.


''Untung sekali kau dapat memergoki mata- mata dari si Ular Sakti yang hendak bertemu dengan para keparat itu, sehingga semua rahasianya dapat terungkap. bahkan ketua dan para atasan sampai memujimu dan memberi imbalan uang jasa yang besar. tapi kau bukan orang yang tamak, hingga kami juga kebagian hasilnya. untuk itu kami patut mengucapkan terima kasih padamu sobat, Haa., ha., ha.!'' puji si tinggi besar sambil bergelak bersama kawan- kawannya.


Orang yang dipuji hanya tertawa sekedarnya seakan ada suatu masalah berat yang sedang dia pikirkan. hampir bersamaan dengan itu dari balik pepohonan muncul dua sosok bayangan hitam yang berkelebat cepat ke arah enam orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis. seorang diantaranya menggunakan golok besar yang agak melengkung bentuknya untuk membabat putus sekalian mencincang habis tubuh lawan.


Sementara satunya lagi membekal sebuah pentungan kayu besar guna mengepruk hancur kepala dua orang sekaligus, si tinggi besar dan orang yang tadi sempat dia temui di dalam gubuk. dalam sekali gebrakan Jurata dan Birunaka bertekat menghabisi enam orang lawannya secepat mungkin.


Enam orang anggota bawahan dari kelompok 13 Pembunuh itu sama terperanjat kaget. mereka sungguh tidak menyangka bakal mendapat serangan mendadak seperti ini. buru- buru mereka melompat menghindar. sambil memaki- maki gusar bercampur ngeri tangan sama mencabut senjata tombak gergaji iblisnya dari balik punggangnya.


Si tinggi besar masih mampu selamat dari amukan pentung sakti Birunaka, tapi rekannya cuma dapat mundur menjauh sambil memutar tombaknya dua tiga kali gerakan saja untuk menangkis sebelum senjatanya terpental di susul rengkahnya bagian belakang batok kepalanya setelah di hantam senjata maut pemuda itu. tubuh orang ini tersungkur tiga empat langkah ke depan, tewas dengan darah dan cairan otak berhamburan.!


Dalam serangan goloknya, Jurata langsung gunakan jurus 'Bacokan Golok Penindas Jiwa'. maka tidaklah mengherankan jika empat lawannya sama merasakan hawa menakutkan dari sambaran senjata itu. seorang yang bertubuh paling gemuk hanya sempat menjerit parau saat perutnya robek, bahkan nyaris putus dengan usus terburai dibabat golok Jurata. tiga lainnya meskipun lolos dari maut, tapi nyalinya sudah sama pecah.


Dua orang itu terus mengamuk dengan senjata yang berbeda. seorang mengepruk dan menghantam hancur sasaran, yang lainnya membabat serta membacok putus tubuh lawan. angin serangan jurusnya satu tajam membelah, satu lagi berat menghantam. perpaduan dua jenis jurus berbeda yang sulit untuk dihadapi.!

__ADS_1


****


Asalamualaikum, salam sehat sejahtera selalu., maaf sering lambat update. authornya masih kurang sehat meskipun sudah bisa kembali bekerja. silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍 vote atau favorit👌jika anda suka. Terima kasih sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca novel ini, yang tentunya banyak kekurangannya. 🙏 Wasalamualaikum.


__ADS_2