13 Pembunuh

13 Pembunuh
Bertemu teman lama (bag 1)


__ADS_3

Waktu sudah hampir tengah hari, saat seekor kuda hitam berlari cepat melewati jalanan berdebu, penunggangnya dua orang, pemuda berumur dua puluh lima tahunan dan seorang anak gadis yang mungkin baru berusia empat belas tahun. mereka bukan lain adalah Respati dan Satriyana yang hendak menuju Punggingan. sepanjang perjalanan Satriyana terlihat gembira, mulutnya bersenandung merdu menyanyikan lagu berirama riang, mungkin dia sudah lama tidak merasa bebas seperti ini, bajunya yang tadinya masih basah kuyup terkena air sungai sudah mengering kembali diterpa hembusan angin dan panas matahari. Respati sampai tersenyum geli melihatnya.


Gadis remaja itu manoleh, ''Kenapa kakang Respati tertawa, apa ada yang lucu,?''


''Tidak ada., aku hanya heran kenapa kau kelihatan begitu senang sampai bernyanyi segala.,?'' tanya si pemuda, sementara dalam hatinya berpikir lain, ''Kakang Respati., 'Aneh kenapa aku merasa agak risih saat anak ini memanggilku seperti itu.,?''


''Eehm., sebenarnya aku baru menyadari kalau salah satu yang harus kita syukuri dalam hidup ini adalah kebebasan.,!''


Respati sengaja sedikit memperlambat laju kudanya, ini tidak luput dari mata Satriyana, ''Kenapa kau malah memperlambat lari kudamu, nanti kita bisa terlambat sampai di Punggingan.''


''Tempat itu tidak begitu jauh lagi, ini sengaja kulakukan agar kau lebih bisa menikmati perjalanan ini. 'Eeh., tadi kau bilang sangat suka dengan kebebasan, memangnya selama ini hidupmu dikurung dikandang ayam.?'' pancing Respati setengah bercanda. Anak itu diam menunduk senyum cerianya mendadak hilang, ''Meskipun tidak persis kandang ayam, tapi juga tidak berbeda jauh..'' ucapnya lirih. si pemuda hanya diam tidak bertanya lebih jauh.


Keduanya sama membisu untuk beberapa lamanya, ''Kenapa kau diam,?'' tanya Satriyana sembari menoleh kebelakang. ''Memangnya aku harus bicara apa., soal kandang ayam, kandang kebo atau kandang kuda.?'' jawab Respati ngawur. diluar dugaan gadis itu malah tertawa ''Hi.,hi,hi., Mungkin kandang buaya atau macan saja.,''


''Kalau aku lebih suka kandang semut saja.,!''


''Kandang semut.,? memangnya ada.?''


Respati cuma angkat bahunya, ''Entahlah., aku belum pernah melihatnya, kau tanya saja pada para semut.,!'' lagi- lagi gadis ini tertawa lepas, padahal Respati hanya menjawab sekenanya saja tanpa ada niat bergurau.


Puas tertawa perasaan Satriyana kembali riang, dengan seenaknya dia menyandarkan punggungnya ke dada Respati, aroma tubuh gadis remaja ini tercium, ''Anak ini badannya kotor dan bau asem, rambutnya kumal juga apek, berbeda jauh dengan Dewi Malam Beracun yang bersih dan wangi. tapi., kenapa aku masih bisa tahan berdekatan dengan gadis ini.,?'' pikir Respati bingung.


''Dulu di waktu kecil, aku sering berkuda seperti ini dengan ayahku, kadang juga bersama kakek, mereka berdua sangat menyayangiku.,'' ungkap Satriyana tiba- tiba.


''Lalu sekarang dimana mereka, kenapa kau malah keluyuran sendirian begini.? saat ini mereka tentu sedang khawatir mencarimu,!'' Satriyana menarik nafas dalam, ''Tidak ada yang mengkhawatirkan aku., karena semua orang yang kusayang dan menyangiku sudah mati.,!'

__ADS_1


Respati tertegun lalu hentikan laju kudanya. ''Jadi maksudmu sekarang ini kau sebatang kara,? lalu dengan siapa dirimu tinggal selama ini.,?''


Gadis itu menoleh, matanya menatap tajam si pemuda. ''Apakah saat ini kau sedang berusaha mencari tahu tentang aku.,?''


Respati mendongak, caping bambu yang menutupi sebagian wajahnya di lepasnya, wajahnya yang jantan terlihat angker, dia menarik nafas berat lalu berkata dengan dingin, ''Kau tahu siapa aku dan wanita cantik berjubah gaun hitam itu sebenarnya.?'' Gadis itu tanpa sadar menggeleng, dalam hatinya tiba- tiba merasa diselimuti keseraman.


''Dengar gadis ceking yang bau badan., Kami berdua adalah anggota dari kelompok pembunuh bayaran yang paling ditakuti orang. kami selalu curiga pada siapapun, tidak perduli dia orang tua atau anak kecil. karena bagi orang seperti kami., lebih baik salah bunuh daripada mati terbunuh.!''


''Berapa usiamu sekarang,?'' tanya Respati setengah membentak. ''Eem., lima belas tahun.,'' jawab gadis itu gugup.


''Aahh., Umur lima belas tahun tanpa sengaja sudah membunuh orang, hmm., lumayan juga.,'' ujar Respati menyeringai sinis.


''Aku umur tiga belas tahun sudah berani menghabisi nyawa lima orang, mereka sengaja kubakar hidup- hidup.! jeritan mereka saat meregang nyawa sungguh indah terdengar., aku berani menjamin, andai kau bisa mendengarnya, seumur hidup tidak akan bisa melupakannya.!''


''Kau tahu berapa nyawa yang sudah melayang ditanganku selama ini.? Sudah lebih dari seratus orang., dan aku tidak keberatan kalau harus menambah satu nyawa lagi., sekarang, ditempat ini.!''


Bukannya menjawab gadis itu malah menangis tersedu, Respati tahu anak ini bukan menangis karena ketakutan, tapi karena ada beban berat yang sulit diungkapkan. dengan lembut didekapnya gadis kurus itu, ''Kau boleh katakan semuanya saat dirimu siap. sekarang yang terpenting saat sampai di Punggingan segera cari pemandian, bersihkan badanmu yang kotor dan bau asem ini., anak gadis harus bisa merawat diri. kalau tidak., dia akan sulit dapat jodoh dan jadi perawan tua.,!''


Muka Satriyana bersemu merah, dia merasa malu juga geli. keadaan ini mengingatkannya saat pertama kali bertemu Respati di sungai tadi pagi. ''Kalau kakak Dewi melihatmu memelukku seperti ini, kau bisa ditamparnya lagi.!''


''Dia tidak ada disini.!' 'Eeh., kenapa kau seperti khawatir denganku, jangan katakan kalau kau mulai suka padaku.,?'' goda Respati.


''Sembarangan., siapa yang suka padamu., kau jangan berpikir yang aneh- aneh yah.,!'' ''Ehm, tapi., apakah kaliyan ini sepasang kekasih.,?'' tanya Satriyana pelan.


Yang ditanya tersenyum pahit., ''Aku tidak yakin hubungan kami ini seperti apa sebenarnya, hanya memang sejujurnya dulu kami berdua pernah sangat dekat,!'' jawab Respati sambil kembali memacu kudanya.

__ADS_1


Lewat tengah hari sampailah mereka di Pungingan, tempat itu memang ramai, banyak pedagang dan warung makan berjajar di pinggir jalan, beberapa malah menyediakan tempat menginap bagi orang yang sedang dalam perjalanan hendak keluar atau masuk wilayah kadipaten Wonokerto, maklum Punggingan adalah perbatasan terakhir Wonokerto. beberapa prajurit kadipaten tampak berjaga di beberapa sudut keramaian.


Respati hentikan kudanya didepan sebuah warung besar yang juga menyediakan tempat menginap. warung ini berbeda dengan sebelumnya, tempat Dewi Malam Beracun membuat kegegeran dengan membunuh Tiga Macan Ireng.


Setelah memesan makanan dan tempat untuk mandi Respati duduk sambil menunggu pesanannya datang, sementara Satriyana masuk ruang kedalam untuk membersihkan tubuhnya. membayangkan betapa air dalam gentong besar yang tadinya jernih dan harum bertabur bunga- bunga bakal menjadi keruh dan bau karena gadis dekil itu membuat si pemuda tertawa sendiri. bersamaan itu pesananpun datang, kali ini Respati minta ubi dan ketan bakar untuk dimakan dan tiga potong ayam panggang beserta nasinya untuk di bungkus, dia tidak mau kalau sampai Dewi Malam Beracun mengomelinya sepanjang hari.


Sambil menikmati makan dan minum, Respati mengamati seisi warung yang penuh pengunjung ini , mejanya yang terletak di pojokan membuatnya bisa melihat seluruhnya, bahkan sampai ke jalanan luar. pemuda ini terkejut saat mendapati hampir separuh pengunjungnya adalah orang dari dunia persilatan, bahkan setidaknya ada dua orang yang dikenalinya. Respati tidak mau terjadi masalah, caping bambunya di tarik kebawah menutupi wajahnya, lalu kembali makan.


Baru dua potong ubi masuk ke perutnya, Satriyana sudah selesai mandi dan langsung duduk disampingnya. ''Wuiih., ada makanan enak, kebetulan aku belum makan,.'' ujarnya tanpa malu lantas melahap ubi dan ketan bakar diatas meja. bau harum segar terpancar dari tubuh gadis itu, kulitnya yang sawo matang terlihat bersih dan halus, rambut pendeknya yang tadinya kotor dan bau apek kini hitam wangi. gigi putihnya terlihat rapi saat tersenyum. Respati sampai pangling melihatnya.


''Kenapa kakang melihatku seperti itu.,?'' tanya Satriyana, karena masih ada makanan di mulutnya, hampir dia tersedak. Respati tertawa geli, ''Kalau begini kau kelihatan manis juga, bau wangi lagi.!'' ujar si pemuda sambil kucek- kucek rambut Satriyana.


Gadis kurus itu tersipu malu, tapi tanpa segan dia sandarkan dirinya ke tubuh kekar Respati. ''Kalau melihat kita seperti ini, kakak Dewi marah tidak yah.,?'' gumam Satriyana, gadis ini punya sifat terbuka dalam pergaulan dan kurang perduli dengan adanya batasan diantara dua lawan jenis.


''Cepat habiskan makananmu., kita segera pergi membeli barang pesanan wanita itu.,!'' bisik Respati, sepertinya pemuda ini berubah sedikit tegang, meskipun tak mengerti tapi gadis itu menurut. sebentar kemudian mereka berdua sudah terlihat berjalan sambil menuntun kudanya. sesekali mereka keluar masuk tempat para pedagang, macam- macam barang yang mereka beli, bahkan ada beberapa barang yang aneh. Satriyana sampai heran untuk apa Dewi Malam Beracun membeli semua ini. sementara itu Respati melirik sekejab ke belakang. ''Seperti yang kuduga., mereka juga mengenaliku dan kini mengikuti kami.,'' batin Respati. lengannya memeluk erat pundak Satriyana, ''Dengarkan aku gadis ceking., ada dua orang yang sedang mengikuti kita, keduanya kawan lamaku. tapi sepertinya mereka bukan mau bertegur sapa sambil minum kopi denganku.,!'' bisik Respati.


Gadis itu kesal dipanggil ceking, tapi hatinya senang saat Respati merangkulnya. ''Lalu apa yang akan kau lakukan.?''


''Pindahkan semua barang ke punggung kuda, lalu pergilah menaikinya ke arah barat berjalan biasa saja, tapi dalam jarak lima puluh tombak kau memutar kembali kearah tempat kita datang tadi, cari tempat yang agak terlindung, tunggu sampai aku datang menyusul., kau mengerti anak manis.,?'' bisik Respati sambil mengecup rambut kepala anak itu.


Dipuji sebagai anak manis, membuat gadis remaja yang cerdik tapi masih polos itu sumringah, apalagi saat si pemuda mencium rambutnya, diapun mengangguk mantap.


''Kau pulanglah ke rumah duluan nanti aku menyusul, ada barang yang terlupa.!'' seru Respati. gadis itu mengiyakan lalu menaiki kuda hitamnya dan pergi ke arah barat. sebaliknya sipemuda balikkan tubuhnya dan berjalan berlawanan arah. dia seperti sengaja melewati jalanan yang sepi lalu menghilang di luar pedukuhan Punggingan.


''Sepertinya bocah itu menyadari kehadiran kita.,!'' berkata seorang setengah tua bejubah biru muda yang sudah kumal dan robek- robek, raut muka orang ini terlihat lesu dan pucat seakan sedang menanggung beban hati. kedua tangannya memegang sebuah kecapi berukuran kecil yang sudah usang.

__ADS_1


''Hhmm., salah kita juga kenapa tidak menghadangnya dari tadi.,'' jawab perempuan setengah umur yang juga berjubah biru muda, raut wajahnya juga sama pucat dan terlihat selalu berduka. dipinggangnya terselip sebuah suling besi yang sudah karatan. ''Disana ramai., akan menarik perhatian banyak orang, sedangkan barang yang kita cari belum tentu ada padanya.,'' ujar orang yang membawa kecapi sambil menghela nafas membuat wajahnya semakin terlihat sedih. tapi kemudian keduanya terperanjat saat mendengar suara tawa.


''Haa., ha, ha., 'Apa gerangan yang membuat 'Sepasang Pengamen Murung' sampai mau- maunya mengejar bocah sepertiku.?''


__ADS_2