13 Pembunuh

13 Pembunuh
Penyerbuan. (bag1)


__ADS_3

Waktu sudah mendekati tengah malam. kegelapan menyelimuti langit. hujan dan badai yang turun menghempas semakin membuat gelombang lautan mengamuk. di tengah samudra terlihat beberapa kapal kecil yang nekat menerobos kabut gaib pelindung pulau 'Seribu Bisa' hancur pecah dan terbalik. para penumpangnya yang terjatuh ke dalam laut menjadi santapan ikan- ikan hiu siluman berkepala ular.


Jerit kematian di sertai teriakan meminta pertolongan seakan lenyap tertelan gemuruh badai. semua tokoh silat yang berada di kapal lainnya hanya mendengus sinis. dalam hati mereka justru merasa senang karena semakin banyak orang yang jadi korban di tengah laut ini malah makin bagus karena jumlah pesaing akan turut berkurang.


Di atas salah satu kapal berbendera kuning dengan sulaman lambang seekor angsa emas nampak si 'Dewi Malam Beracun' dan kawan- kawannya sedang berdiri menatap pulau Seribu Bisa. Perasaan mereka di liputi ketegangan. entah siapa orang yang telah mengucapkan mantra, tapi jelas dia mampu menyibak kabut gaib pelindung pulau itu.


Rupanya sudah terjadi kesepakatan di antara para penyerbu pulau yang menjadi markas rahasia dari 'Kelompok 13 Pembunuh'. suara teriakan bersemangat terdengar saat kapal dan perahu yang mereka tumpangi berhasil menerobos kabut penghalang yang sudah menghancurkan beberapa kapal orang dunia persilatan.


Saat 'Panglima Istana Kiri' dan 'Dewa Serba' Putih' alias I Gede Kalacandra yang berada di kapal satunya memberi perintah pada anak buahnya untuk menambah laju kapal, Roro Wulandari justru mencegahnya. ''Tahan dulu., biarkan saja dua kapal kita bergerak perlahan seperti ini.!''


''Memangnya apa masalahnya.?'' tanya Panglima Istana Kiri. ''Benar Roro, kurasa kita mesti melaju lebih cepat, jangan sampai ada pihak lain yang mendahului hanya karena kita terlambat sampai ke pulau itu..'' Panglima Istana Tengah turut ajukan pendapatnya sementara yang lainnya juga beranggapan sama.


''Itu semua kulakukan karena aku tahu betul untuk dapat masuk ke dalam pulau Seribu Bisa tidak akan semudah ini.!'' serunya sambil mengangkat tangan tanda agar semua kapal 'Istana Angsa Emas' berhenti melaju. meski tidak mengerti dan ragu namun semuanya menurut. sepasang Roro Wulandari menatap lurus ke muka, semua orang juga ikut melihat ke sana.


Tiga kapal kecil berpenumpang lima sampai sepuluh orang yang berada paling depan telah melewati kabut yang telah tersibak di ikuti oleh kapal- kapal orang persilatan lainnya yang melaju di belakangnya sehingga jarak kapal milik Istana Angsa Emas dengan mereka menjadi semakin jauh. tidak terjadi suatu apapun di sana seperti yang takutkan Roro.


Kecuali Puji Seruni, Sabarewang dan kawan- kawan dekat Roro serta anggota persekutuan 'Bulan Perak' hampir semua orang di atas kapal Angsa Emas tanpa sadar mendengus kesal dan sunggingkan cibiran. bukan saja hampir separuh dari jumlah belasan kapal- kapal orang persilatan dan kerajaan dari berbagai penjuru dapat melewati dinding kabut gaib dengan selamat, bahkan ombak lautan yang tadinya ganas menerjang kini nampak tenang hujan badaipun turut mereda.

__ADS_1


Anehnya raut wajah cantik si Dewi Malam Beracun malah berubah semakin tegang bahkan takut karena telah teringat sesuatu yang mengerikan. ''Celaka., cepat memutar haluan kapal. kita harus segera menjauh.!'' teriak Roro panik. ''Kau jangan berpikiran yang terlalu jauh Nyi Dewi. terbukti tidak terjadi apapun pada mereka..'' tukas Panglima Istana Kiri mencoba menenangkan.


Dewi Malam Beracun membalikan badannya sembari mendamprat. ''Heiih., kalau kalian mau mampus di lautan ini silahkan saja. tapi jangan membawa serta diriku dan semua kawanku. kau tidak tahu apapun soal pulau Seribu Bisa. keadaan yang sepintas terlihat tenang begini rupa justru adalah awal suatu malapetaka.!''


Melihat cara bicara wanita itu yang sangat mengancam membuat semua orang ikut terkejut saling pandang. tanpa sadar mereka menjadi panik. ''Putar haluan kapal. berbalik mundur sejauh mungkin.!'' seru Panglima Istana Tengah. meskipun agak ragu namun I Gede Kalacandra dan Kyai Jabar Seto yang menjadi pimpinan di kapal lainnya turut memberi perintah yang sama. sebentar saja dua kapal besar dan dua kapal kecil milik Istana Angsa Emas sudah berputar dan mulai bergerak menjauh.


Kejadian ini membuat curiga orang- orang persilatan yang berada di atas kapal lainnya. sempat terjadi keributan diantara mereka sebelum sebagian kapal memutuskan untuk ikut berbalik mundur, sementara yang lainnya terus melaju ke depan. hingga lewat jarak lima puluh tombak dari awal putaran kapal tidak terjadi apapun.


''Dasar kalian semua cuma kaum pengecut. kabur ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas. Haa., ha.!'' terdengar suara seseorang tertawa mengejek. ''Bodoh., jangan menyesal jika nantinya seluruh harta pusaka dan 'Darah Keabadian' lebih dahulu jatuh ke tangan kami.!'' umpat yang lainnya.


Tidak dapat di tahan lagi tiga kapal kecil yang berada paling depan berikut dua buah kapal berukuran sedang dan besar turut terhisap ke dalam pusaran laut setelah beberapa kali berusaha untuk berbalik arah menjauh. tapi sayangnya mereka terlambat. begitu cepat kejadian itu berlangsung hingga tidak ada satupun penumpang kapal yang selamat. semuanya lenyap tertelan pusaran air raksasa di sertai gulungan topan yang menggaung.!


Begitu kuatnya daya hisap pusaran air dan gulungan angin topan itu hingga kapal milik Istana Angsa Emas yang berada paling jauh dari titik pusaran itupun masih merasakan guncangan keras bahkan hampir ikut terseret arus. masih untung semua kejadian ini cepat berakhir hingga segalanya kembali tenang. dari lebih dua puluhan kapal besar maupun kecil yang turut berlayar menuju pulau Seribu Bisa kini tinggal sembilan kapal saja. empat di antaranya milik pihak Istana Angsa Emas.


Semua orang yang berada di atas kapal sama tertegun dengan muka pucat pias. mereka sadar jika baru saja lolos dari ancaman maut. seandainya saja mereka tidak mengikuti perintah Dewi Malam Beracun, pasti saat ini kapal yang mereka tumpangi sudah lenyap terhisap pusaran air dan nyawa semua orang bakal terbang ke akhirat.


Seluruh mata orang yang ada di sana sama menatap wanita secantik bidadari berjubah gaun hitam itu dengan pandangan penuh rasa hormat dan terima kasih. selain itu mereka juga penasaran bagaimana cara dia dapat memperkirakan semuanya. tanpa perduli dengan pandangan mata orang terhadapnya, Dewi Malam Beracun malah memberikan isyarat tangan agar kapal mereka kembali bergerak maju.

__ADS_1


''Tidak ada waktu bagiku untuk menjelaskan semuanya kepada kalian. singkatnya aku sudah cukup lama tinggal di pulau ini hingga paham bahaya apa saja yang berada di sana. timbulnya pusaran air raksasa tadi selain karena alam juga adanya pengaruh mahkluk siluman penghuni lautan di daerah ini yang sudah menjalin perjanjian dengan ketua dari Kelompok 13 Pembunuh..''


''Sangat mungkin mahkluk yang di panggil sebagai 'Datuk Naga Wisa' itulah pembuat segala bencana ini. aku dengar selain mendapatkan tumbal gadis persembahan dari pihak 13 Pembunuh, dia seringkali juga mencari mangsa sendiri dengan cara menyesatkan arah kapal para pelaut lantas menelan jiwa mereka..''


''Meskipun sudah sering mendengarnya tapi terus terang saja baru kali inilah diriku dapat melihat bahkan merasakan kejadian itu secara langsung. sejujurnya., dalam hati akupun merasa takut..'' terang Roro Wulandari membuat semua orang yang mendengar jadi berkeringat dingin karena seram dan ngeri.


Setelah kejadian menggegerkan itu segalanya seolah menjadi lancar. sembilan kapal yang tersisa dapat melaju mendekati pulau Seribu Bisa. hanya saja., semua kapal terpaksa hanya dapat berhenti lima puluh tombak dari pantai pulau karang yang menjulang karena dari arah pulau itu telah melesat ratusan panah berapi yang datang bagaikan hujan.!


Malam yang gelap dingin seolah menjadi terang dan panas. beberapa kapal mulai di lalap kobaran api. jeritan ngeri terdengar dari mulut para pesilat yang tersambar panah berapi. Roro naik pitam sekali dia berseru enam meriam kapal ganti balas melabrak pantai pulau karang hingga hancur lebur dihantam peluru bola meriam.


Ledakan keras beruntun yang memecahkan keheningan malam terdengar membahana berseling teriakan parau dari pihak lawan yang meregang nyawa. puluhan pesilat yang merasa mempunyai ilmu kepandaian tinggi langsung berkelebat terbang menyeberangi laut menuju ke pulau karang.


Sebagian besar dapat sampai di sana tapi ada pula yang tewas di tengah jalan karena tidak sanggup menghindari hujan panah api atau di sambar ikan hiu berkepala ular yang tiba- tiba mencuat muncul dari dalam laut. darah semua orang terasa mendidih di amuk gejolak nafsu membunuh. penyerbuan besar ke pulau itupun terjadi juga.!


*****


Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga menjadi berkah bagi kita semua, Amin🤲. Silahkan tulis komentar Anda. Terima kasih🙏.

__ADS_1


__ADS_2