13 Pembunuh

13 Pembunuh
Panah berapi.


__ADS_3

Dalam kegelapan malam dilembah padang rumput itu, empat bendera kuning bersulam seekor angsa emas sedang merentang yang sayap dan diterangi cahaya puluhan obor ini terlihat mencolok mata. jika bendera besar itu berkibaran tertiup angin, selintas pandangan sulaman angsa emas seolah nampak hidup.


Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun melirik Respati yang berdiri sedikit di belakangnya. ''Lagak mereka lumayan gede juga., sepertinya kekuatan dari 'Istana Angsa Emas' memang cukup menggetarkan..'' diluarnya saja Roro memuji, tapi bibir indahnya jelas tersenyum sinis seolah mengejek.


''Setelah melihat kekuatan mereka, apakah sekarang kau jadi ketakutan.?'' sindir Respati mencibir. wanita itu mendelik kesal, ''Sejak kapan aku si cantik dan pintar., Dewi Malam Beracun, yang lima tahun silam masih termasuk dalam jajaran sepuluh pesilat pendatang baru terhebat menjadi seorang penakut. kalau mau bicara pakai dulu otakmu., dasar ular sialan.!'' semprotnya kesal. Respati dan semua rekannya langsung diam menahan tawa. mereka paham kalau wanita cantik ini punya rasa percaya diri yang agak berlebihan.


''Kenapa dia selalu senang membuat masalah dengan wanita galak itu, aku jadi tidak yakin apakah benar mereka berdua ini sepasang kekasih.?'' bisik Ki Ageng Bronto. Sabarewang cuma angkat bahunya. ''Entahlah., aku sendiri kadang merasa bosan mendengar keributan mereka berdua..''


''Tapi ada kalanya kami justru senang melihat pertengkaran mereka. masalah kecil saja bisa menjadi adu mulut bahkan otot. semuanya terasa menggelikan sekaligus menyeramkan..'' timpal Satriyana sambil beberapa kali mengusap wajahnya yang entah kenapa jadi nampak pucat, kaku dan sedikit lebih tembem. ''Kakak Roro., mereka sudah mengepung kita. memangnya apa yang mesti kita perbuat sekarang. pokoknya aku tidak mau kalau disuruh ikut dengan mereka ke Istana Angsa Emas.!''


''Kau dan semuanya tenang saja., biar aku yang mengurusi. mereka boleh saja berjumlah banyak, tapi itu tidak menjamin bakal menang melawan kita..'' ucap Roro Wulandari sambil bertolak pinggang membuat gayanya yang sombong menjadi semakin kentara. ''Ingat Roro., jangan terlalu percaya diri dan meremehkan lawanmu.!'' Respati memberi peringatan. sepupunya cuma mendengus pendek tanpa merubah sikapnya.


''Malam ini terasa luar biasa karena kami delapan orang kaum persilatan rendahan bisa bertemu langsung dengan para petinggi Istana Angsa Emas yang luar biasa. aku Roro Wulandari yang punya gelaran buruk 'Dewi Malam Beracun' mewakili semua rekanku menyampaikan salam hormat dan selamat bertemu kepada tuan- tuan semuanya.!'' seru Roro lalu menjura hormat dengan sikap anggun.


Seakan sudah di sepakati sebelumnya, Jurata dan Birunaka menjaga Satriyana yang berada di tengah. sementara empat penjuru arah berdiri Respati si 'Ular Sakti Berpedang Iblis', Sabarewang dengan pedang buntungnya, Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' serta Ki Ageng Bronto dengan memanggul Golok Bayangan Setannya. sedangkan Roro sendiri maju paling depan sambil berjalan berkeliling sebagai juru runding kelompok.


''Kudengar Dewi Malam Beracun si nomor dua belas dalam kelompok 13 Pembunuh adalah wanita cantik yang sombong, keji dan licik. rupanya kabar itu ada benarnya..'' seru seorang tua berkaki buntung sebelah kanan sebatas lutut yang di sambung dengan tombak besi. orang bernama Ki Sambi Puntung ini mencoba untuk menyindir lawannya.

__ADS_1


''Wah., terima kasih atas pujianmu. sayangnya hatiku tidak merasa senang dipuji dengan orang tua buntung, jelek dan tidak penting sepertimu. jadi sebaiknya kau menyingkir saja karena aku hanya mau bicara dengan pimpinanmu.!'' balas Roro mengejek lebih sengit. jelas saja Ki Sambi Puntung yang bersifat keras berangasan seketika naik pitam.


''Perempuan keparat., jangan salahkan diriku jika kusumpal mulut busukmu dengan kaki tombakku ini.!'' bentaknya gusar. jarak diantara keduanya terpaut lebih sepuluh tombak. tapi hanya dengan dua kali menutulkan kakinya ke tanah orang ini mampu melesat ke depan. dalam dua kali kedipan mata saja tubuhnya sudah berada tiga langkah di depan Roro. ujung mata kaki tombaknya yang tajam menghunjam kepala lawan dengan kilatan cahaya merah sepanas besi membara.!


Meskipun yang di serang keluarkan suara dan raut muka tercekat kaget, tapi anehnya dia tidak berusaha mundur. tubuhnya masih saja berdiri diam ditempatnya. wanita cantik itu memang tidak perlu bergerak, karena saat itu sekelebat bayangan merah dengan lima buah tikaman sinar pedang yang juga berwarna merah mendadak menghadang serangan kaki tombak Ki Sambi Puntung.


''Kakimu buntung, pedang di tanganku juga buntung. sungguh tidak pantas seorang lelaki menyerang wanita. jadi., menyingkirlah dari hadapanku.!'' bentak Sabarewang seraya berkelebat menghadang. mata pedang 'Lading Buntung' ditangannya berubah menjadi lima. suara ledakan turut mengiringinya. jurus 'Lima Sambaran Petir Maut.!'


'Traaaang., traaang., Craaang.!'


Bentrokan senjata disertai baku pukul tangan dan kaki terjadi di udara beberapa kali. bunga api berpijar seiring dengan dua tubuh yang terpental. Sabarewang jatuh bergulingan diatas tanah basah berumput. bekas kusir yang brewokan ini menggeram marah. tanpa peduli dengan luka dalam di tubuhnya, dia mencelat ke udara hampir dua tombak.


Dari atas sana pedangnya berputar setengah lingkaran lalu kirimkan dua kali tikaman. dua kilatan cahaya merah menyambar membelah kegelapan malam. suara ledakan petir kembali terdengar. tidak mau tanggung- tanggung, Sabarewang langsung lepaskan dua jurus pedang sekaligus. 'Pusaran Petir Tunggal' yang di susul dengan jurus 'Bintang Langit Terpecah.!'


Meskipun terkesiap kaget dengan jurus pedang lawan, tapi sebagai bekas salah satu dari kulubalang kepala pasukan Istana Angsa Emas, Ki Sambi Puntung alias si Pendekar Kaki Buntung tidak menjadi panik. bukannya mundur menjauh, tapi justru dia sapukan kaki tombaknya ke atas bersamaan kedua kepalan tangannya menghantam. tiga larik cahaya merah menggebrak. satu seruncing tombak, dua lainnya seberat gada. inilah ilmu kesaktian 'Gada Tombak Peruntuh Langit.!'


Dua jurus kesaktian beradu di udara. cahaya merah saling hantan dan libas tanpa ampun. hamparan tanah berbatu yang menjadi tempat pertarungan rengkah empat bagian. rumput belukar tercabut lalu musnah tersapu angin serangan yang menyambar. seruan berseling makian gusar terdengar. dua tubuh terpental berlawanan. untuk kedua kalinya Sabarewang jatuh bergulingan hingga tiga empat tombak. pedang buntungnya terlepas.

__ADS_1


Roro kibaskan kipas peraknya beberapa kali. segulungan angin berputaran ke atas. dengan ilmu kesaktiannya dia berusaha menahan agar pedang pusaka itu tidak jatuh ke tempat lawan. Putri Penjerat tidak tinggal diam, selarik benang baja melesat keudara. membelit lantas menarik pulang pedang buntung Sabarewang. orang tinggi besar itu kembali jatuh terduduk saat hendak bangkit. dari sudut bibirnya keluar tetesan darah.


''Kau tidak perlu bertarung lagi., usahamu sudah sangat bagus..'' ucap Dewi Malam Beracun yang bertindak sebagai pimpinan. Satriyana hendak bermaksud menolong, tapi Roro memberi isyarat agar gadis itu tetap diam ditempatnya. Ki Ageng Bronto memapah kusir kereta kuda itu kembali ketempatnya untuk memulihkan diri.


Di penjuru lainnya Ki Sambi Puntung tetap tegak berdiri. wajah tuanya yang keras nampak mengkelam. tanpa bicara apapun dia balikkan tubuhnya. tapi belum separuh jarak orang tua itu melangkah dia terlihat mengejang. dari beberapa bagian tubuhnya tersembur darah segar. dengan keluarkan suara meraung dia roboh terkapar di atas padang rumput.


Terdengar seruan kaget bercampur dengan teriakan penuh kemarahan. dipimpin oleh seorang lelaki tua tinggi gemuk berbaju rompi merah, belasan orang anggota bawahan Istana Angsa Emas yang tergabung dalam 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' berkelebatan menyerbu. sebagian berusaha menolong Ki Sambi Puntung, yang lainnya terus menggebrak maju.


''Sepertinya sudah dimulai., kalau dilihat jumlah mereka lebih lima ratusan orang. tapi aku merasa kalau pimpinannya sengaja masih menyimpan sebagian pasukan mereka untuk berjaga- jaga..'' gumam Respati melirik Roro. ''Ehmm., apa yang kau pikirkan itu juga bisa terjadi. tapi lihat saja., akan aku buat mereka berpikir ulang untuk menyerang kita.!'' ucap sepupunya seraya sungingkan senyuman licik.


Kipas perak beralih ketangan kiri. dari balik jubah gaun hitamnya Roro mengekuarkan sebuah tabung besi bersumbu sepanjang hampir dua jengkal. dengan batuan tenaga dalamnya dia goreskan ujung sumbu keatas sebuah batu hingga menyala mirip obor. saat diangkat terdengar letusan nyaring dibarengi semburan bunga api yang mencuat kelangit malam.


Terdengar seruan- seruan kaget dari pihak lawan. mereka semakin panik saat dari berbagai arah melesat puluhan panah berapi yang menghujani anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti yang datang menyerbu. dengan pedang ditangan mereka berusaha untuk menangkis dan bertahan. tapi hujan panah api yang datang dari berbagai penjuru membuat mereka harus menjadi korbannya.


*****


Asalamualaikum., Salam sehat dan sejahtera selalu.🙏 silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍, vote juga favorit jika anda suka. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga berkah untuk kita semuanya. Terima kasih. Wasalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2