
Sepasang lelaki dan perempuan setengah tua berjubah hitam yang sebagian raut mukanya ditumbuhi bulu- bulu putih mirip monyet itu sekilas saling lirik. kejap berikutnya mereka tertawa bergelak. ''Haa., ha., sudah bertahun- tahun kami berdua tidak pernah turun gunung tapi tidak dinyana masih ada kaum muda yang bisa mengenali suami- istri yang buruk rupa ini..''
''Bukan saja berparas cantik juga berilmu silat tinggi, perangai gadis muda ini juga lumayan baik. meskipun namanya cukup terkenal dan menjadi ketua dari sebuah perkumpulan di Lembah Seruni, dia masih mau menghormati kaum tua seperti kita..'' ujar kedua orang itu memberi pujian.
Meskipun diluarnya gadis yang memang Puji Seruni si 'Dewi Seruni Putih' sang majikan Lembah Seruni itu terlihat tenang mengurai senyuma namun sebenarnya dalam hatinya dia merasa terperanjat saat mengenali siapa adanya kedua orang tua berwajah mirip kera lutung itu.
Dalam dunia persilatan saat ini nama suami- istri 'Raja Ratu Lutung Sakti' dari gunung Ciremai mungkin jarang terdengar. tapi jika orang melihat dua atau tiga puluh tahun silam sewaktu mereka masih malang- melintang diluaran, hampir tidak ada seorangpun yang berani mencari perkara dengan mereka berdua.
Konon kabarnya dimasa lalu mereka punya kisah asmara yang memilukan. dulu mereka berdua cuma murid rendahan dari sebuah padepokan silat kecil yang saling mencintai. yang lelaki muda bernama Tirtayasa sedang si gadis dipanggil dengan nama Kunarsih. kisah cinta mereka tidak berjalan mulus karena Praptiwi, putri tunggal guru mereka menaruh hati bahkan tergila- gila pada Tirtayasa yang berparas tampan dan luhur budi.
Sebaliknya Ki Palengger guru mereka yang waktu itu belum berumur lima puluhan dan sudah lama menduda juga ingin memiliki Kunarsih yang berparas cantik sebagai istrinya. tapi dia tahu kedua muridnya itu sudah lama saling menaruh hati. ayah dan anak itu yang saling tahu dengan keinginan dihati masing -masing akhirnya membuat sebuah kesepakatan
Melalui sebuah tipuan pada suatu malam mereka memberikan sejenis obat perangsang birahi dalam makanan keduanya. saat tubuh mereka sudah terpengaruh, Praptiwi dengan tidak tahu malu memasuki kamar Tirtayasa sebaliknya Ki Palengger dengan penuh nafsu menggauli Kunarsih ruang tidurnya. saat semua usai keduanya baru menyadari telah masuk perangkap ayah dan anak itu.
Meskipun tahu tidak mungkin untuk melawan tapi keduanya juga tidak sudi menuruti kedua ayah dan anak yang cabul itu bahkan berniat untuk bunuh diri bersama. semua itu membuat Ki Palengger dan Praptiwi marah dan terhina. dengan menggunakan sejenis racun jahat mereka bukan saja membuat kemampuan silat dua muda- mudi itu lenyap, malah tubuh dan wajahnya berubah buruk ditumbuhi bulu lebat seperti monyet.
__ADS_1
Setelah puas menyiksa dan membuat mereka nyaris lumpuh, kedua murid malang itupun dibuang ke jalanan dengan mengatakan kalau mereka telah dikutuk karena telah berbuat zina di tempat suci. masyarakat yang jaman itu sangat percaya dengan takhayul seketika menghina, menyumpahi dan menyiksa mereka berdua. tidak satu orangpun yang menaruh belas kasihan walaupun keduanya berusaha untuk membantah semua fitnah yang ditimpakan kepada mereka.
Meskipun penderitaan lahir batin, usiran dan hinaan kerap mereka rasakan tapi baik Tirtayasa dan Kunarsih seakan tidak pernah perduli. selama mereka berdua tetap bersama biar sampai matipun keduanya tidak bakal mau menyerah dan saling menguatkan hati.
Berita tentang sepasang muda- mudi yang dikutuk menyerupai monyet akibat berbuat mesum ditempat suci yang dikeramatkan itu menarik perhatian seorang pendekar tua aneh yang punya kegemaran mengumpulkan barang antik dan binatang langka. awalnya dia juga percaya dengan berita kutukan itu, tapi akhirnya dia tahu kalau semuanya hanya masalah keracunan.
Mulanya orang tua ini hanya berminat untuk membawa keduanya sebagai mahluk piaraan belaka, namun setelah mendengar kisah mereka yang menyedihkan timbul perasaan simpati lantas memutuskan untuk memberi mereka pelajaran silat dan kesaktian.
Dari orang tua sakti bergelar 'Pendekar Seribu Aneh' itulah keduanya dapat memiliki ilmu kesaktian luar biasa yang kemudian mereka gunakan sebagai bekal membalas dendam. hebatnya sang guru sengaja menciptakan ilmu kesaktian baru yang disesuaikan dengan keadaan tubuh mereka yang mirip kera lutung. anehnya meskipun guru mereka sanggup memusnahkan racun ditubuh mereka tapi baik Tirtayasa dan Kunarsih justru tidak mau menerima.
Singkatnya beberapa tahun kemudian mereka kembali muncul dengan membuat kegegeran didunia persilatan. sasaran pertamanya jelas adalah bekas guru mereka berikut anak gadisnya yang cabul. cara mereka untuk membalas dendam sangatlah keji.
Setelah membikin mata keduanya buta dan hancur kaki tangannya, mereka dipaksa meminum sejenis racun yang membuat sekujur tubuh mereka dipenuhi bulu hitam lebat. lalu keduanya menyebar berita kalau ayah dan anak itu telah dikutuk karena mesum berhubungan badan sedarah.!
Setalah puas malang melintang dan hampir tidak pernah kalah Tirtayasa dan Kunarsih yang kemudian diberi julukan Raja dan Ratu Lutung Sakti itupun menghilang dari dunia ramai. tahu- tahu lebih dari sepuluh tahun belakangan ini mereka berdua mendirikan sebuah perguruan silat bernama Lutung Ciremai.
__ADS_1
Seperti namanya letak padepokan ini berada dilereng gunung Ciremai yang terletak di Jawa belahan barat. meskipun bukan termasuk deretan sepuluh perguruan silat teratas aliran putih namun nama mereka juga tidak dapat dipandang remeh siapapun. itulah sekelumit kisah cinta masa lalu keduanya.
''Gadis cantik., dimasa lalu kami berdua punya hubungan baik dengan gurumu Nyi Pariseta. sayangnya kami baru belakangan tahu kalau dia sudah tewas akibat ulah biadab adik seperguruannya sendiri. aku dan suamiku ikut prihatin dan berbela sungkawa..'' ujar Nyi Kunarsih berdiri dan membungkuk disertai Ki Tirtayasa.
Puji Seruni terkejut juga saat tahu kedua orang tua itu mengaku kenal dengan mendiang gurunya. ''Aah., harap maafmu karena aku yang muda ini tidak tahu kalau kalian bertiga adalah sahabat lama. mohon terimalah salam hormatku..'' ucapnya balas membungkuk. ''Tapi jika aku boleh tahu., ada urusan apa kalian berdua turun gunung.?''
''Hee., he., dia mirip dengan Pariseta, diluar nampak santun dan pendiam tapi saat bicara selalu langsung pada intinya. gadis baik., terus terang saja kami kemari karena ada barang yang ingin kami ambil. mungkin kau juga punya alasan yang sama. tapi percayalah benda itu bukan saja tidak berguna berada ditanganmu, malah membuat kau celaka..''
''Kami sebenarnya tidak mau ikut campur, tapi saat ini dunia persilatan sedang kacau hingga terpaksa kami berdua turun gunung, benda yang kami cari bisa menjadi kunci untuk mencegah kaum jahat makin merajalela..'' timpal Ki Tirtayasa sambil meneguk kendi minumannya.
Meskipun sudah menduga barang apa yang sedang mereka incar tapi Puji Seruni tetap coba bertanya. ''Lalu., benda apakah yang kalian sedang cari didesa terpencil bernama Kembangsoka ini.?'' kedua suami istri itu tidak menjawab. sebaliknya dua tangan mereka menggebut kesamping. serangkum sinar putih menyambar ganas memapaki puluhan benda bundar kecil berwarna kemerahan hingga beberapa diantaranya meledak diudara.
''Kurang ajar., siapa bedebah pengecut yang beraninya menyerang secara gelap.?'' bentak Ki Tirtayasa bengis. bulu- bulu ditubuhnya seolah berjingkrak kaku. ''Huhm., rupanya Nyi 'Balung Geni, 'Pendekar Pedang Lali Jiwo' dan 'Hantu Caping Getih' yang datang..'' geram Nyi Kunarsih mengenali tiga orang setengah tua yang barusan muncul.
Sementara itu Puji Seruni justru terkesiap saat melihat di belakang ketiganya turut bermunculan puluhan orang berbaju hijau dengan caping bambu dan topeng tengkorak putih menutupi wajah mereka. dari belakang pinggang masing- masing tersembul senjata berupa tombak pendek dengan mata bergerigi tajam.
__ADS_1
Walaupun belum pernah bertemu dengan gerombolan orang- orang ini sebelumnya, tapi dari cerita sahabat karibnya Roro Wulandari, gadis cantik murid Nyi Pariseta ini segera tahu kalau mereka inilah yang disebut sebagai 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dari kelompok 13 Pembunuh.!