
Siang hari itu terasa panas, sepanas hati para tokoh silat berbagai aliran yang memperebutkan peta rahasia 'Istana Angsa Emas'. jika kemarin pagi hujan membasahi bumi, kini tanah yang mereka pijak di basahi oleh darah.
Pertarungan sengit yang mungkin lebih tepat di sebut pembantaian besar- besaran tanpa kenal ampun dan waktu terus berlangsung. awalnya yang datang hanya belasan orang, lalu meningkat ratusan orang tokoh silat dan terus saja bertambah.
Korban yang berjatuhan, mayat- mayat terpotong bersimbah darah serta ratusan nyawa yang melayang seakan malah menambah keberingasan hati semua orang yang telah di penuhi keserakahan. padahal apa yang mereka inginkan belum tentu ada di sana.
Melewati tengah hari para tokoh silat yang mampu bertahan dalam pertarungan besar yang terjadi di luar gapura timur Wonokerto itu masih melebihi lima puluhan orang. jika di lihat mereka semua adalah para pesilat yang cukup punya nama besar di rimba persilatan. paling tidak menjabat ketua salah satu aliran perguruan silat.
Keadaan semakin bertambah kacau saat muncul empat buah kereta kuda hitam yang datang dari empat penjuru. seketika semua tokoh silat itu mengalihkan perhatiannya pada keempat kereta kuda itu.
Bodohnya tanpa berusaha untuk menyelidiki terlebih dahulu semua orang di sana sudah sama yakin kotak kayu cendana hitam yang kabarnya menyimpan peta rahasia istana Angsa Emas berada dalam salah satu kereta kuda itu. meskipun semua pesilat itu sudah memiliki pengalaman luas, namun ***** serakah sering kali dapat menutupi akal pikiran hingga merubah manusia pandai menjadi orang tolol.
''Kalian semua memang layak mampus.!'' maki Ki Maruta alias 'Pendekar Belibis Putih' sambil babatkan pedang 'Sayap Belibisnya' dengan gerakan luwes namun sangat cepat. berturut- turut enam orang anak buah dari Sepasang Iblis Cebol tersungkur roboh bersimbah darah. luka mereka terlihat sama, lehernya hampir putus tertebas pedang. saat hendak memotong rantai pengikat pintu kereta kuda, sudah datang beberapa pesilat lain yang menghalanginya.
''Jangan harap kau bisa mendahului kami Ki Maruta.!''
''Apa kau pikir nama Pendekar Belibis Putih dapat menakuti kita semua.!'' bentak para tokoh silat itu bengis. tanpa banyak bicara lagi mereka melabrak Ki Maruta. terpaksa orang tua ini melayani serangan lawannya.
Si 'Iblis Cebol Kepala Plontos' bukannya tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengan anak buahnya. satu- satunya orang yang masih tersisa dari Sepasang Iblis Cebol ini terpaksa harus menahan kegusarannya karena di saat bersamaan Ki Lembu Singkil atau si 'Raja Celurit Emas' bersama para muridnya berusaha menahannya untuk masuk ke dalam salah satu kereta kuda hitam yang ada di sana.
Ketua perguruan silat Celurit Kembar yang bercokol di pulau Madura itu babatkan sepasang celuritnya bersilangan. gerakan membelah dan mencabik dia lakukan dengan ganas hingga terlihat dua bayangan sinar kuning keemasan berkelebatan menyilaukan pandangan.
__ADS_1
Para pentolan tokoh silat dan pimpinan prajurit kerajaan Demak serta kadipaten Wonokerto juga tidak tinggal diam, serentak mereka berebutan ingin masuk lebih dulu ke dalam salah satu dari empat kereta kuda hitam yang berada di sana.
Dari sekian banyak pesilat tangguh, selain Ki Maruta si Pendekar Belibis Putih, Ki Lembu Singkil, ketua perguruan Pangrango Sakti dan Iblis Cebol Kepala Plontos, di sana juga nampak Nyi Wisa Geni, 'Ratu Siluman Gagak' dan si 'Sukma Tertawa' yang terlihat paling menonjol dalam pertarungan besar- besaran itu. belum lagi pesilat kawakan sekelas 'Pengemis Tua Mata Setan' yang terus mengincar kesempatan.
Meskipun para pesilat yang terlibat dalam pertarungan masal itu sudah berkurang banyak jumlahnya, namun karena mereka berilmu kesaktian tinggi membuat semuanya malah menjadi semakin sengit.
Cahaya matahari siang yang membakar bumi seperti turut menertawakan jiwa manusia yang di bodohi ***** angkara. meskipun jauh dalam hati mereka juga timbul keraguan tentang isi kereta kuda hitam itu yang sebenarnya, namun mereka lebih tidak sudi lagi membiarkan pihak lain mendahuluinya.
Tidak begitu jauh dari tempat pertarungan di luar gapura timur Wonokerto ada sebuah tanah pedataran yang agak tinggi yang di tumbuhi pepohonan dan rimbunan bambu, dari balik kerimbunan ada empat ekor kuda di tambatkan. tiga orang yang ada di sana sedang merunduk. dari sini mereka dapat melihat semua pembantaian besar yang terjadi di sana. dalam hati mereka merasa sangat ngeri bahkan mual ingin muntah melihat genangan darah dan ratusan mayat yang bergelimpangan.
Seorang berbaju dan bercaping hitam dengan membekal sebilah golok besar terlihat berkelebat mendatangi tempat ketiga orang itu mendekam. seorang tinggi kekar yang membekal sebilah pedang buntung cepat mengenali si pendatang.
Orang yang di panggil sebagai Jurata buka caping hitamnya. ''Mereka adalah orang yang tidak suka ikut campur masalah. begitu upah bayaran kuberikan, ketiganya langsung pergi dan menghilang dari tempat ini. tapi aku berani menjamin mereka dapat di percaya..''
Sementara itu Satriyana terlihat sibuk mempersiapkan diri. senjata 'Busur Panah Srikandi Kencanawungu' miliknya di rentangkan ke atas. kekencangan tali busurnya di atur sedemikian rupa. sejak pagi tadi gadis ini sudah menghitung jarak antara tempat pertarungan besar dengan dirinya yang hampir mencapai seratus lima puluhan tombak.
Satriyana mendongak pejamkan matanya. dia perlu merasakan arah dan kecepatan angin, juga cahaya sinar matahari agar tidak salah perhitungan. gadis ini sadar kesempatannya hanya satu kali saja. dia punya pilihan untuk menggunakan empat anak panah sekaligus atau satu persatu. semua pilihan itu punya akibat baik dan buruk sendiri.
Ketiga rekannya bergerak mundur., dalam hati mereka merasa tegang namun tetap percaya dengan kemampuan gadis pewaris istana Angsa Emas itu. mereka tersentak saat merasakan munculnya hawa tenaga sakti yang menyelimuti Satriyana. mereka segera sadar gadis itu sedang berada dalam puncak kepercayaan diri dan kesaktiannya.
Busur telah terentang dengan dua buah anak panah ungu yang siap melesat. pertama Satriyana membidik dua buah kereta hitam yang terletak hampir segaris di jurusan barat dan utara, lalu busur panahnya terangkat naik ke arah langit.!
__ADS_1
Dua buah anak panah melesat ke atas meninggalkan titik cahaya ungu keemasan. sesaat semuanya seperti di selimuti kesunyian. berikutnya terdengar dua buah ledakan keras dari atas langit yang di susul sambaran cahaya ungu keemasan yang turun menghantam dua buah kereta kuda hitam. inilah ilmu 'Panah Langit Petir Ungu.!'
'Whuuuss., whuuus.!'
'Glaaaarr.!'
Dua ledakan keras yang hampir bersamaan terdengar di barengi berkobarnya api yang membakar dua kereta kuda. seketika terjadi kepanikan hebat di kejauhan sana saat terjadi belasan ledakan beruntun yang di barengi semburatnya bunga api ke segala penjuru.
Satriyana kembali melakukan hal yang sama, sasarannya dua kereta kuda hitam yang ada di sisi timur dan selatan. Jurata dan anak buahnya yang sengaja mengatur titik hentian kereta itu agar membuatnya lebih mudah membidik.
Jika memanah satu persatu tentunya lebih butuh banyak waktu meskipun tentunya lebih mudah membidik sasaran. sebaliknya kalau sekaligus menggunakan empat anak panah, selain perlu pengerahan tenaga dalam yang berkali lipat lebih tinggi, kemungkinan meleset dari sasaran menjadi lebih besar. meskipun di sisi lain waktunya juga lebih singkat.
Karenanya Satriyana memilih jalan tengah, membidik empat sasaran kereta kuda yang berisi bahan peledak dalam dua kali memanah. empat kereta kuda itu hasil kerja Jurata, sedangkan Birunaka yang di perintah Roro memasang beberapa kantung kulit berisikan serbuk peledak yang di dapat 'Dewi Malam Beracun' dari Lembah Seruni ke dalam kereta hitam itu.
Jeritan menyayat di sertai ratusan mayat yang terpental hancur terbakar, sungguh menjadi suatu pemandangan yang terlalu menyeramkan untuk di lihat.
Satriyana berbalik karena tidak sanggup melihat semuanya meskipun hanya dari kejauhan. dia langsung naik dan menggebrak kencang kudanya di ikuti ketiga rekannya. mereka hanya ingin secepatnya pergi dari tempat itu dan melupakan segala kengerian yang terjadi hari ini, meskipun mungkin peristiwa itu akan terus menghantui mereka seumur hidup.
*****
Mohon sampaikan koment, kritik saran, dan like 👍 vote jika anda suka. Terimakasih🙏
__ADS_1