13 Pembunuh

13 Pembunuh
Mau bertarung atau berunding., Terserah kalian.!


__ADS_3

Lembah padang rumput yang awalnya sunyi berselimut kegelapan malam kini terpecahkan oleh suara jeritan dan teriakan parau para anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dari 'Istana Angsa Emas' akibat dihujani berpuluh- puluh panah berapi yang datang dari empat penjuru arah. semua itu bukan saja membuat pihak lawan sangat terkejut, bahkan semua rekan Dewi Malam Beracun juga terkesima.


Jurata, Birunaka dan Sabarewang yang masih terduduk lemas saling pandang. menurut perintah Roro, mereka ingat betul hanya di minta untuk memasang semacam tabung- tabung besi di delapan penjuru arah. tabung itu mirip dengan yang di pegang Roro, hanya agak lebih panjang tapi dengan ukuran lubang yang lebih kecil. ada lima buah lubang di setiap tabung. sepintas ada semacam pegas di dalam tabung aneh itu.


Mulanya mereka mengira kalau itu semacam alat pelontar senjata rahasia baru buatan Dewi Malam Beracun. tapi karena tidak ada apapun didalamnya mereka jadi bingung sendiri. meski demikian ketiganya tidak berani banyak tanya karena mereka tahu betul hati dan isi otak wanita cantik itu terlalu sulit dipahami.


Kalau benar itu sebuah alat pelontar senjata rahasia, lalu siapa orang yang sekarang ini sedang menggunakannya. karena jelas tidak mungkin peralatan itu dapat bekerja sendiri. tanpa sadar semua orang melihat Roro yang menyeringai sinis. ''Apa kubilang., unggul jumlah orang belum tentu menang melawan satu otak orang pintar sepertiku..''


''Tapi tunggu dulu., sepertinya orang tua gundul bertubuh tinggi gemuk dan berbaju rompi merah yang jadi pemimpin mereka itu bukan pesilat sembarangan. dia bukan saja sanggup lolos dari hujan panah berapi dengan kibasan kedua tangannya yang gempal, namun juga mampu menyelamatkan beberapa anak buahnya.!'' desis Roro Wulandari terkesiap.


Semua kawannya seakan baru menyadari kejadian itu. disana terlihat seorang lelaki tinggi gemuk berompi merah dengan tenang menyapu semua panah berapi yang datang menghujani dengan kibasan kedua tangannya. dia tidak perlu meremas hancur panah itu, karena setiap kali panah berapi bersentuhan dengan lengan tangannya, seketika langsung hancur menjadi serpihan- serpihan kecil. padahal anak panah berapi itu terbuat dari batangan kayu besi yang sangat keras.


Orang tinggi gemuk itu menggembor keras. tubuhnya yang besar berkelebat secepat kilat menyambar, seringan angin berhembus. Roro dan semua kawannya terperanjat juga melihat gerakan ilmu meringankan si tinggi gemuk, seolah isi tubuhnya hanyalah gumpalan kapas.


Namun mereka tidak dapat berpikir panjang karena tubuh tinggi gemuk itu sudah berada lima langkah dari tempat mereka berada. kedua tangannya yang gempal menjotos, terasa dua gulungan pusaran angin laksana topan berhawa kekuningan melabrak dahsyat. hebatnya dua gelombang angin tenaga kesaktian seberat ribuan kati itu datang dari atas udara hingga tubuh dan perasaan semua orang seakan terhimpit puluhan karung batu.


''Awas pukulan 'Awan Sakti Runtuh Menimpa Bumi.!'' seru Ki Ageng Bronto terperanjat mengenali ilmu pukulan lawannya. ''Rupanya kau adalah si 'Tangan Penggoncang Langit' Ki Sabda Langitan.!'' sembari berteriak tubuhnya turut bergerak. golok Bayangan Setannya sudah di loloskan dari sarungnya. jurus 'Tujuh Bayangan Setan Lapar Meraung' balas menggebrak lawan.

__ADS_1


Tujuh buah bayangan wajah setan buas yang dibarengi sambaran tujuh gelombang angin panas dan suara raungan buas menyambar ke atas memapaki dua gulungan kepalan kuning raksasa yang terus menindih. dentuman keras terjadi hingga lebih sepuluh kali. bumi terasa berguncang hebat. tanah rengkah, hamparan padang rumput terbongkar. Birunaka, Jurata, Satriyana dan Sabarewang tidak mampu lagi bertahan, tubuh mereka terkapar roboh.


Guncangan keras laksana gempa besar yang melanda jagat itu tidak hanya membuat rengkah tanah disekitar Roro Wulandari dan kawan- kawannya saja, tapi juga daerah barisan tempat orang- orang Istana Angsa Emas berdiri juga demikian. dikejauhan terlihat puluhan orang anggota mereka berteriak panik dan bertumbangan ke tanah.


Ki Ageng Bronto yang menyadari kesaktian lawannya tidak mau berhenti menggempur. golok dipegang erat dengan kedua tangan, matanya menatap buas ke depan. kumis dan janggut tebalnya berjingkrak naik. bersamaan dengan tubuhnya yang besar berkelebat, Golok Bayangan Setan juga turut menebas.


Meskipun hanyalah dua buah bacokan miring bersilangan namun mampu menciptakan sepasang cahaya perak yang menyilaukan bersama dengan bayangan dua buah kepala tengkorak yang menyambar. suara raungan buas turut terdengar. inilah jurus 'Tebasan Bayangan Setan Tengkorak Kembar.!'


Orang lain yang melihat gerakan ini mungkin akan mengira kalau jurus serangan yang digunakan orang yang di juluki sebagai 'Pendekar Golok Bayangan Setan' itu kekuatannya masih di bawah jurus 'Tujuh Bayangan Setan Lapar Meraung', tapi sesungguhnya ilmu ini punya daya bunuh setingkat lebih hebat dari jurus golok lainnya.


Sementara itu sambil memukul tubuhnya juga terus bergerak maju mendekati tempat Roro dan semuanya berdiri. hebatnya setiap tapak langkah kakinya menimbulkan goncangan dan retakan besar diatas tanah. Respati dan Roro terkejut melihatnya. ''Gila., orang tua gundul itu memiliki Ilmu 'Tapak Lindu Buto Gajah.!''


Biarpun kedua bersepupu itu belum pernah melihat sebelumnya, tapi dari selentingan kabar mereka pernah mendengar kehebatan ilmu itu. kabarnya orang yang mengusai ilmu 'Tapak Lindu Buto Gajah' sanggup membuat rengkah tanah berbatu padas yang keras hingga jarak belasan langkah keliling hanya dengan sekali hentakan telapak kakinya.


Birunaka yang melihat kejadian itu dalam hati justru merasa penasaran, dia berpikir apakah ajian 'Rengkah Langit Bumi' dari pentung sakti miliknya dapat menandingi jurus Tapak Lindu Buto Ijo itu. sementara dia berpikir dari tempat pertarungan terdengar suara dengusan tertahan dan terlemparnya sesosok tubuh.


Saat dua buah bayangan tengkorak dari jurus golok Ki Ageng Bronto bertemu dengan ilmu pukulan 'Awan Sakti Runtuh Menimpa Bumi' terjadi dua kali ledakan yang menggoncang seantero lembah. terlihat bayangan tengkorak keperakan itu seketika meletus sekaligus menyemburkan hawa panas yang sangat tajam membakar jiwa raga saat beradu kekuatan dengan ilmu pukulan Ki Sabda Langitan.

__ADS_1


Rupanya dalam jurus 'Tebasan Bayangan Setan Tengkorak Kembar' Ki Ageng Bronto tidak hanya memusatkan inti kekuatannya di sabetan goloknya yang datang menyerang lebih dulu, tapi justru pada kedua bayangan tengkoraknya yang seketika meledakkan tenaga kesaktiannya berkali lipat jika beradu dengan ilmu pukulan lawan.!


Biarpun mempunyai kehebatan luar biasa, tapi ilmu ini juga punya kelemahan. orang yang menggunakannya akan kehilangan banyak tenaga saktinya untuk beberapa saat lamanya. maka tidaklah mengherankan jika tubuh Ki Ageng Bronto terpental jauh hingga empat tombak jauhnya bagai layangan putus tali. dari mulutnya tersembur darah. Respati cepat berkelebat menyambut tubuh rekannya lantas memapah ke dalam lingkaran kelompok. setelah menelan dua butiran obat, juragan kaya dari Wonokerto cepat bersemedi.


Di penjuru lain terlihat Ki Sabda Langitan alias si Tangan Penggoncang Langit masih berdiri tegak. mukanya kelam membesi menahan hawa amarah. sepintas orang ini tidak mengalami luka apapun, jangankan terpental jauh, bahkan tubuhnya juga tidak bergeming. tapi jika di perhatikan kedua buah kakinya sudah melesak hingga sebatas paha kedalam tanah.!


Orang tua gemuk tinggi berkepala gundul itu meraung keras. tanah rengkah terbongkar. tubuh besarnya melesat keluar dan jejakkan kakinya ke atas tanah dengan mantap. Roro dan yang lainnya terperanjat sekaligus merasa ngeri melihat daya tahan dan kesaktian orang tua itu.


Tetapi saat dia hendak kembali menghantam, yang keluar dari mulutnya malah suara menggerung dan semburan darah kental. bahkan pakaian rompi merahnya mendadak terkoyak panjang dari dada kiri melintang perut ke pinggang kanan. darah meleleh dari luka sayatan golok yang entah sejak kapan bersarang di sana.


Terdengar suara teriakan murka dari anggota Istana Angsa Emas, terlihat di kejauhan Kyai Jabar Seto, I Gede Kalacandra si 'Dewa Serba Putih', Nyai Juling Sumbing, Panglima Istana Kiri dan Tengah, seorang lelaki tua bertubuh kecil pendek namun mempunyai sepasang lengan panjang menjuntai tanah, juga seorang tua berjubah kuning yang terdapat sulaman angsa emas di dadanya bergerak memimpin ratusan Pasukan Pedang Angsa Sakti dari empat penjuru.


Dewi Malam Beracun sempat terkesiap kaget. meski kejadian ini agak diluar perhitungannya tapi dia tidak menjadi panik. dari balik jubahnya dia kembali mengeluarkan sebuah tabung pelontar bunga api. sekali goresan keatas batu, pijaran bunga api menyala ke atas langit. sekejap kemudian dari delapan penjuru seakan tercurah hujan panah berapi yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.


Hebatnya sebagian panah berapi itu malah lebih dulu meletus di angkasa. samar terlihat muncul gumpalan kabut dan bubuk putih halus yang turun menyiram ke bawah. bau wangi yang tajam menyengat hidung seketika memenuhi udara diatas lembah itu.


''Awas., wanita licik itu sedang menabur kabut beracun.!'' seru Nyai Juling Sumbing gusar. sebagai seorang tabib dia cepat memahami apa yang sedang terjadi. ''Haa., ha., rupanya ada juga yang menyadarinya. dengarkan diriku wahai orang Istana Angsa Emas., kita bisa saja bertarung sampai semuanya mati sehingga kelompok 13 Pembunuh yang mengambil keuntungannya. atau., kita bisa berunding atas dasar atas saling percaya. semuanya., terserah kalian.!'' seru Roro Wulandari dengan suara menggaung keras dilambari tenaga dalam tinggi.

__ADS_1


__ADS_2