
Seorang pemuda berjubah putih bersih itu dengan santainya terus mengamati semua peristiwa yang terjadi di bawah sana sambil duduk di kursi malasnya. padahal jika diamati sepintas lalu, orang berparas tampan namun nampak seperti seorang yang pemalas ini seakan sedang mengantuk atau bahkan tertidur.
Dengan memilih berada di atas salah satu puncak tebing karang seperti ini dia bersama empat orang pengikutnya yang terdiri dari dua orang lelaki gagah serta sepasang gadis muda berparas cantik jelita, si pemuda dapat mengetahui hampir segala pertumpahan darah yang terus berlangsung dibawahnya termasuk juga pertarungan antara 'Dewi Malam Beracun' dan si 'Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma'.
Saat itu mungkin sudah merupakan saat yang paling menentukan antara hidup dan mati bagi kedua pendekar wanita itu. kalau di lihat sekilas saja pesilat yang paling bodoh sekalipun juga pasti tahu jika Roro Wulandari telah terjatuh ke jurang kekalahan. bahkan mungkin saja nyawanya telah amblas ditelan gulungan hawa hitam dari ilmu lawannya.
Demikian juga dengan kedua gadis muda yang sama memakai jubah gaun berwarna putih seperti si pemuda pemalas. satu orang diantaranya yang umurnya paling muda sampai menjerit khawatir seakan menyesali keadaan yang menimpa Roro. hampir saja dia tidak dapat menahan diri untuk mencoba menolong wanita itu jika saja si pemuda tidak memberi isyarat tangan mencegah.
''Ingatlah tujuan utama kita datang ke tempat ini. jangan ikut campur masalah orang lain. walau bagaimanapun juga semua yang terjadi diantara mereka berdua telah diselesaikan melalui pertarungan yang adil..'' ujar pemuda itu sambil menarik selimut tebalnya lebih ke atas. ''Lagi pula., kurasa wanita sombong itu juga belum tentu kalah..''
''Tuan muda kalau berbicara selalu membuat orang lain bingung. semua orang juga dapat melihat kalau wanita itu sekarang sudah berada ditepi jurang kematiannya. aa., aak., aku dengar wanita cantik itu mempunyai masa lalu yang sangat menyedihkan. bahkan sekarang, disaat ajalnya dia juga harus mati secara mengenaskan. ini sungguh tidak adil tuan muda..'' sungut gadis tujuh belas tahunan itu cemberut hingga lesung pipinya yang manis terlihat.
''Tuan muda pasti punya alasan jika berani berkata seperti itu. lagi pula kudengar wanita ini punya kemampuan otak yang luar biasa..'' ucap gadis cantik bertubuh sedikit lebih tinggi yang berdiri di sebelah kanan pemuda pemalas dan mereka sebut sebagai tuan muda itu. ''Hhm., hanya nona 'Camar Anggun' yang paling mengerti isi hatiku..'' gumam si tuan muda melirik gadis di sebelah kanannya.
''Chuih., selalu saja kakak yang dipuji, aku tidak pernah kau perhatikan..'' gerutu gadis berlesung pipit mencibir kesal. ''Kau jangan iri dan cemburu begitu, nanti mukamu yang manis jadi cepat tua. lagi pula., kalau soal makanan, di seluruh 'Kota Hantu Pagi' hanya masakan buatan nona 'Pipit Lincah' yang dapat memuaskan selera tuan muda kita yang pemalas ini..'' hibur gadis bernama Camar Anggun itu tersenyum.
''Aash., benar juga ucapan kakak. setidaknya dalam soal membuat kenyang tuan muda pemalas ini aku tetap jadi yang terbaik..'' saat bicara raut wajah kesalnya dengan cepat kembali berubah riang. ''Haa., ha., setelah urusan di sini selesai, aku ingin makan ikan gurami bakar dan tumisan udang kangkung buatanmu..''
__ADS_1
Gadis bernama Pipit Lincah itu masih hendak menyahuti ucapan tuan mudanya tetapi orang itu sudah menunjuk ke depan. di kejauhan sana terlihat ada suatu perubahan dalam pertarungan antara Dewi Malam Beracun dan Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma. ''Kau lihat bukan, wanita yang pernah menempati salah satu dari sepuluh pesilat pendatang baru terhebat pada masa lalu tentunya bukan manusia yang gampang untuk dibunuh..''
Pada mulanya tubuh Roro Wulandari yang lenyap tertelan gulungan hawa hitam dari tiga wujud tengkorak masih sempat keluarkan suara jeritan menyayat hati. sebaliknya wanita cabul yang menjadi lawannya malah tertawa mengikik karena dia sangat yakin kalau Dewi Malam Beracun telah mampus dengan raga tidak berbentuk.
Malahan dengan menggunakan kekuatan dari ilmu 'Tiga Kutukan Penghisap Sukma' dia dapat menyedot kesaktian lawannya yang tersisa untuk meningkatkan kekuatan ilmunya sendiri. perempuan jahat itu bahkan sudah membayangkan kalau rimba persilatan akan menjadi geger mendengar wanita cantik yang katanya punya segudang akal licik itu tewas di tangannya.
Namun saat dia hendak menarik balik tiga kekuatan hawa hitamnya sekaligus mulai menyedot kesaktian lawan, mendadak saja gulungan hawa kabut hitam pekat yang menyelimuti tubuh Dewi Malam Beracun mulai terpecah dan tersibak oleh cahaya merah darah yang menebarkan aroma anyir dan gelombang sangat panas juga tajam merobek udara malam.
Kilatan- kilatan cahaya merah darah yang disertai gelombang angin keras bergemuruh bagaikan badai melanda bumi yang muncul dari tengah terus berusaha membongkar tiga gulungan hawa hitam pekat yang masih membungkus tubuh Roro Wulandari. hingga beberapa saat berikutnya terdengar bentakan keras dibarengi sambaran cahaya merah dan kuning emas yang mampu menjebol tiga gumpalan hawa hitam yang membelenggu.
''Wanita sundal sialan. sebenarnya apa yang telah terjadi. perempuan keparat itu tidak mungkin dapat bertahan hidup setelah tubuhnya di telan kekuatan ilmu Tiga Kutukan Penghisap Sukma milikku..'' rutuk anggota baru dari Kelompok 13 Pembunuh itu gusar bercampur rasa penasaran melihat lapisan cahaya merah darah mulai melibas lenyap hawa kabut hitam busuk.
Dengan menyumpah serapah perempuan cabul yang sudah setengah telanjang ini mencelat mundur sambil kibaskan senjata kipas hitamnya berulang kali untuk dapat membendung sambaran cahaya merah emas yang entah berasal dari mana. tidak dapat dicegah lagi gelombang angin keras dan sinar merah keemasan beradu kesaktian dengan cahaya kabut hitam yang menghadangnya.
Daerah sekitar pertarungan yang memang sudah kacau bertambah semakin porak poranda. bebatuan karang sebesar kerbau hancur terpecah bahkan banyak pula yang terlempar kelautan akibat tersapu ledakan dari dua kekuatan sakti. biarpun tempat kedua pesilat wanita itu beradu ilmu terpisah agak jauh dengan yang lainnya tetapi guncangan hebat dari tanah terbongkar akibat ledakan terasa sampai ke tengah gelanggang pertempuran besar.
Tubuh perempuan cabul setengah bugil itu masih sempat bertahan sebelum akhirnya turut terlempar hingga empat tombak ke belakang. cermin bundar berbingkai emas yang punya kekuatan sihir sudah lebih dulu terlepas dari tangannya. dia langsung jatuh terduduk dan muntah darah.
__ADS_1
Sepasang mata Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma mendelik gemetaran saat merasakan tiga kekuatan roh hitam dari senjata Kipas Tiga Kutukan berbalik datang merasuki dirinya melewati ubun- ubun kepala. suara raungan melengking parau yang keluar dari mulutnya seakan melambangkan sukma yang terbetot dari tubuh dan pikiran.
Kini raganya kembali di kuasai tiga roh jahat penghuni kipas itu. wajahnya yang cantik nampak menghitam bahkan mengalami beberapa kali perubahan bentuk. meskipun jiwanya sendiri belum hilang dari dalam tubuh juga pikirannya tapi dia sudah tidak dapat lagi mengendalikan tubuh sepenuhnya.
Inilah salah satu akibat dari menggunakan ilmu jahat 'Tiga Kutukan Penghisap Sukma'. orang yang menyerahkan dirinya pada tiga toh terkutuk yang ada dalam 'Kipas Tiga Kutukan' itu memang akan mendapatkan kekuatan yang dahsyat. tapi sebagai gantinya kesadaran jiwanya perlahan akan lenyap hingga pada ujungnya dia akan berubah menjadi seperti boneka mayat hidup.
Dengan sepasang matanya yang hitam Menggidikkan perempuan cabul ini menatap ke depan. meskipun dia sudah mulai tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya sesuai dengan keinginannya tetapi hati serta otaknya masih dapat berpikir dan merasakan semua yang sedang terjadi disekitarnya. terpisah jarak sepuluh tombak dari tempatnya berada terlihatlah suatu pandangan angker.
Kabut merah darah yang bercampur dengan kobaran bara api seolah menyelimuti sosok tubuh wanita berjubah gaun hitam itu. ujung sepasang mata yang sedikit mendongak nampak mengalirkan tetesan air mata berwarna merah. hawa panas dan dingin yang datang silih berganti menyapu habis daerah sekitarnya.
Di langit gemuruh guntur kilat bersautan. satu ledakan keras halilintar sesaat membuat langit malam seperti terbelah. tiga roh hitam jahat di dalam raga Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma seperti berkecamuk. wajah hitamnya yang buruk sempat berubah tiga kali seakan dilanda kegentaran juga amarah.
''Dulu aku pernah mengincar Kipas Tiga Kutukan itu namun selalu saja gagal untuk mendapatkannya. tapi akhirnya diriku malah bersyukur setelah tahu kalau senjata itu memiliki sisi jahat yang sangat mengerikan bagi pemakainya. lagi pula., sekarang ini aku malah memperoleh jauh yang lebih baik..''
Suara itu terdengar dingin menyeramkan hati. sambil berbicara perlahan Roro Wulandari berjalan setapak demi setapak ke depan. setiap langkahnya terlihat anggun namun membawa hawa kematian. seiring kabut merah darah yang menyebar, Roro lambaikan tangan kanannya. sebuah bayangan benda lebar bercahaya merah terbentang di telapak tangannya.
''Bukan cuma kau saja yang gemar bermain- main dengan kipas pusaka. aku juga punya kipas sakti serupa milikmu, malahan kipas inilah yang akan mengantarmu ke akhirat untuk bertemu dengan para korbanmu..'' desis Dewi Malam Beracun. perempuan keji itu terpekik kaget. kipas hitamnya bergetar keras saat dia melihat sebuah kipas merah darah dengan lukisan matahari emas dan rembulan berwarna perak. itulah 'Kipas Darah Bulan Mentari.!'
__ADS_1
*****
Silahkan tuliskan komentar Anda. Terima kasih🥱😁🙏