
Ada tiga orang anggota perkumpulan 'Bulan Perak' pimpinan Roro yang terlihat di atas perahu. satu perahu bisa terisi empat hingga lima orang. Satriyana dan Sabarewang berada dalam satu perahu bersama seorang anak buah Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun. sementara Birunaka dan Jurata berada dalam dua perahu lainnya.
''Salam hormat pada ketua perkumpulan. perahu sudah kami siapkan, silahkan ketua dan saudara- saudara menaikinya..'' kata seorang anggota perkumpulan Bulan Perak sambil menjura hormat.
Roro cuma mengangguk, dalam hatinya dia merasa puas dengan cara kerja anak buahnya. sekali tubuhnya melayang dia sudah berada dalam perahu yang di kemudikan salah satu anak buahnya, di ikuti oleh si 'Laba- Laba Kuning' dan Ki Ageng Bronto. sementara Respati memilih satu perahu bersama Sabarewang dan Satriyana.
Dua orang anggota perkumpulan segera menyusul naik ke perahu setelah sebelumnya menutup kembali lubang rahasia di bawah tebing sungai dengan batu besar dan di tutupi semak belukar. mereka mengendalikan perahu yang di tumpangi Birunaka dan Jurata. satu perahu lagi oleh Satriyana, Sabarewang juga Respati.
Dengan sebuah dayung dan galah bambu ke tiga perempuan itu terlihat cukup cekatan mengemudikan perahu masing- masing. meskipun tenaga dalam mereka tidak begitu tinggi namun cukup kuat hingga tiga perahu itu dapat melaju kencang di atas sungai berarus deras.
''Respati., siapa orang berblangkon hitam dan membekal golok besar itu. apakah dia yang di sebut sebagai Ki Ageng Bronto atau 'Pendekar Golok Bayangan Setan' bekas rekanmu dalam kelompok 13 Pembunuh.?'' bisik Sabarewang sambil melirik ke belakang. Satriyana yang mendengar turut menoleh. yang di tanya cuma mengangguk membenarkan.
Tiga perahu itu terus melaju hingga akhirnya merapat ke tepi saat tiba di hilir sungai yang menyempit dan berbatasan dengan sebuah hutan. sinar matahari pagi terasa hangat meskipun ada gulungan awan mendung di langit sebelah selatan. mungkin sebentar lagi cuaca cerah akan berubah.
Semua orang melompat ke tepi sungai. tiga orang perempuan berbaju dan bercadar hitam tambatkan perahunya pada sebuah batu kali yang menonjol sebelum ikut ke tepi sungai. ''Sampai di sini apakah masih ada perintah lain dari ketua Dewi Malam Beracun untuk kami bertiga.?'' tanya salah satu dari mereka. Roro berpikir sebentar lalu kibaskan tangan kirinya dengan anggun.
''Hm., kurasa cukup sampai di sini saja. terima kasih atas semua bantuan kalian bertiga pada kami. kalian telah bekerja dengan sangat baik. sampaikan salam hormatku pada wakil ketua perkumpulan Nyi Sapta Kenanga. katakan padanya untuk selalu bersiap jika aku membutuhkan. kalian boleh pergi..''
''Baik ketua. sebelum mohon diri, kami berikan sekedar bekal perjalanan titipan dari Nyi Sapta Kenanga..'' sahut mereka bersamaan sambil menjura hormat. sekejap kemudian ketiganya sudah menaiki perahunya dan lenyap di ujung kelokan sungai. Roro membuka sebuah buntelan kain putih pemberian anak buahnya. isinya berbagai macam makanan enak, pakaian dan sebuah kotak kayu berukiran pedang dan bulan sabit. wanita cantik itu tersenyum mengangukkan kepalanya.
''Kalian para lelaki siapkan makanan, kami kaum perempuan hendak membersihkan tubuh lebih dulu. awas yah., jangan berani mengintip atau kulubangi mata kalian dengan jarumku..'' ancam Roro seraya merangkul bahu Satriyana dan Putri Penjerat mengajak mereka mandi di celukan tepi sungai yang terlindung.
__ADS_1
''Kenapa tidak kita siapkan makanan bersama, baru kalian mandi. lagi pula., sejak kapan kau jadi pemimpin di sini..'' gumam Respati kesal. yang lainnya tanpa sadar sama mengangguk membenarkan.
''Ooh., jadi kalian keberatan.?'' gertak Roro mendelik berkacak pinggang. seketika semua pria itu menunduk diam tanpa berani bersuara.
''Eeh tid., tidak., tidak ada yang bicara begitu Nyi Dewi. kurasa ini cuma salah paham saja..''
''Ben., benar. semuanya terserah Nyi Dewi saja..'' ucap Sabarewang dan Birunaka gugup. ''Huhm., baguslah jika kalian sadar. ingat saat kami kembali semuanya harus sudah siap makan dan jangan berani mendahului untuk melahapnya sebelum kami kembali. paham.!'' dengus Roro Wulandari lalu ketiga perempuan itu menghilang di balik kelokan sungai.
''Dasar bodoh., kenapa kau sukanya mencari perkara dengan perempuan galak yang licik itu, memangnya kau belum sadar juga sifatnya yang suka memerintah orang seenaknya.?'' geram Sabarewang sambil memukul tengkuk Respati. pemuda itu cuma nyengir lalu siapkan perapian untuk memasak. di kantung besar itu ada daging rusa dan ikan kering bersama bumbu sayuran dan kuali tempat memasak. sebentar saja semuanya sudah siap di atas perapian.
''Menurutmu hendak kemana tujuan kita selanjutnya nomor tiga belas.?'' tanya Ki Ageng Bronto memecah kebisuan. Respati hanya angkat bahunya. ''Saat ini kelompok 13 Pembunuh sudah pasti saling bentrok dengan pihak 'Istana Angsa Emas'. tapi kita belum tahu berapa korban di pihak mereka. siapa anggota 13 Pembunuh yang tewas dalam ledakan di rumahmu itu..''
''Aku mau bertanya, peti penuh harta curian yang kau gelapkan dari pelanggan 13 Pembunuh tentu masih terkubur di dalam sana, lalu bagaimana caramu untuk bisa mengambilnya kembali.?''
''Wanita itu bukan saja sangat pintar dan licik. tapi juga penuh rahasia. Eeh., tadi dia juga menyebutkan nama Nyi Sapta Kenanga. bukankah dia ini si 'Tujuh Bunga Terbang' yang seharusnya sudah mati.?'' tanya Ki Ageng Bronto heran. Respati dan Sabarewang lantas menjelaskan semuanya mengenai Nyi Sapta Kenanga dan persekutuan Bulan Perak.
''Jadi ketiga perempuan tadi adalah anggota perkumpulan persekutuan Bulan Perak yang kerjanya mencuri dari si kaya yang jahat kikir untuk di bagikan pada orang miskin dan lemah. ternyata dibalik sifat kejamnya masih ada juga kebaikan di hati wanita itu..'' gumam Ki Ageng Bronto kagum.
''Kurasa semuanya sudah matang. di mana ketiga orang itu, lama juga mereka mandi..'' ujar Jurata yang sedari tadi diam sambil mengaduk kuah daging dalam kuali masak yang mengepulkan aroma menggugah selera.
''Biasanya wanita perlu lebih banyak waktu untuk mandi dan berdandan. tapi kalau selama ini rasanya rada keterlaluan juga, apa mereka sengaja melakukan ini untuk mengerjai kita.?''
__ADS_1
Sementara ketiga perempuan yang sedang mereka bicarakan justru sedang enak- enakan berendam di dalam sungai yang terlindung bebatuan. Roro yang berada di tengah tertawa kegelian saat dua rekannya menggelitik tubuhnya. ''Hii., hi., kalian berdua curang, beraninya main keroyok. jelas saja aku kalah..''
''Tidak disangka Dewi Malam Beracun yang tidak takut pada apapun, rupanya ketakutan dan tidak tahan kalau di gelitik..''
''Benar., kakak Roro memang tidak tahan geli..'' olok Putri Penjerat dan Satriyana tertawa.
''Chuih., memangnya kalian juga tahan. sudah., sudah., aku mau naik ke atas. kurasa mereka sudah selesai memasak..'' ucap Roro terkikik sambil menepis tangan kedua sahabatnya yang hendak menggelitik tubuhnya.
''Yah., dia mau kabur dari kita.!'' seru Satriyana.
''Chuih., cepat sekali mandimu, setidaknya kau bersihkan dulu ini. jijik, bikin risih saja..'' ucap Putri Penjerat. tangannya yang tinggal sebelah bergerak cepat ke bawah lengan kiri Roro lalu mencabut bulu- bulu hitam halus yang tumbuh di ketiak wanita itu.
''Adduuh., sakit tahu.!'' jeritnya terpekik kesal. kedua rekannya tertawa geli. sekali berkelebat tubuh telanjang itu sudah berada di atas tebing. sekejap saja jubah gaun hitamnya sudah terpakai menutupinya.
Roro Wulandari masih hendak mengomel, saat merasakan kehadiran seseorang di sana. dua sahabatnya ikut tertegun. mereka menyusul naik ke atas dan cepat berpakaian di balik rimbunan daun.
''Ooh., Dewi Malam Beracun. sang bidadari pujaan kaum lelaki. biarpun ada seribu wanita cantik hadir dalam kehidupanku, tapi hanya dirimu seorang yang pantas mendampingiku..''
Roro Wulandari bergetaran tubuhnya. jika saat berhadapan dengan Nyai Bawang dia hanya merasa ada keraguan dan agak takut, maka di depan orang ini juga terselip rasa dendam, menyesal bercampur segan yang tidak dapat terkatakan.
Putri Penjerat juga tersurut mundur saat melihat kehadiran orang itu. Satriyana merasa heran melihat kemunculan seorang lelaki tampan berjubah hijau yang terlihat lemah lembut dan santun berjalan pelan di antara pepohonan. tangannya yang halus dan kokoh terlihat mengukir sebuah boneka kayu dengan sebilah pisau kecil. ''Apa yang menakutkan dari orang ini, kenapa mereka berdua seperti gentar berhadapan dengannya.?'' batin Satriyana penasaran.
__ADS_1
*****
Maaf jika ada tulisan yang terkesan jorok😓, saya cuma bantu up date saja.🙏Terima kasih.