
Dalam sebuah ruangan batu pualam yang cukup luas dan berhawa sejuk, terlihat Panglima Istana Kiri dan wanita cantik pasangannya si Panglima Istana Tengah sedang berdiri tertunduk. meskipun mereka jelas merasa sangat tidak puas dengan semua keputusan yang diambil oleh Tuan Sesepuh Pelindung Istana, tapi mereka juga tidak berani membantah. paling tidak., untuk saat ini.
''Dari sikap kalian berdua yang hanya cuma diam ini saja, jelas sudah memperlihatkan kalau kalian sudah mulai lepas kendali. terutama kau., Panglima Istana Kiri.!'' damprat orang tua berjubah kuning emas berang. ''Apa dirimu tidak menyadari akibatnya jika saja Ki Sambi Puntung tidak sempat mencegah kalian berdua pergi keluar untuk membalas dendam pada 13 Pembunuh.?''
''Saat ini mereka jelas mengetahui kalau kekuatan kita sudah berkurang dengan kematian saudara kalian sang Panglima Istana Kanan. tapi sebaliknya kita justru tidak tahu siapa saja yang berada dalam kelompok itu sekarang ini, juga tingkat kepandaian anggota mereka.!''
''Dengan ilmu yang belum seberapa itu kalian malah hendak membuat ulah, sialan., sungguh membuatku kecewa saja. apa kalian pikir selama ini aku bersusah payah mendidik kamu berdua hanya untuk mampus sia- sia. jawab pertanyaanku, dasar anak- anak keparat.!'' maki orang tua itu jengkel.
''Dari pada kalian berdua mati konyol di luaran sana, lebih baik kuhabisi saja sendiri sekarang juga.!'' bentak Tuan Sesepuh Pelindung Istana murka saat melihat kedua anak asuhnya itu hanya diam menuduk dengan sikap keras kepala tanpa mau bicara apapun.
Tanpa bangkit dari tempatnya duduk, sebelah tangan kiri orang tua itu mengibas ke depan. serangkum angin keras berhawa panas yang di sertai kemilau cahaya kuning emas lebar bagai sayap seekor angsa melabrak dahsyat hendak menghantam tubuh kedua panglima Istana Angsa Emas itu.
''Tuan Sesepuh., mohon tahan amarahmu, kau bisa membunuh mereka berdua.!'' jerit I Gede Kalacandra dan Ki Sambi Puntung kaget. buru- buru kedua orang ini lepaskan sebuah pukulan sakti untuk menahan ilmu kedigjayaan Tuan Sesepuh Pelindung Istana.
'Whuuuuk., whuuuss., wheeeess.!'
'Blaaang., blaaaamm.!'
Cahaya putih berselimut embun sedingin es dan selarik sinar merah berbentuk sebatang tombak pendek menyambar. tiga ilmu kesaktianpun bertemu. ledakan keras yang mengoncangkan ruangan batu pualam terjadi. sepasang panglima muda itu terpental bergulingan sampai muntah darah.
Di lain jurusan I Gede Kalacandra dan Ki Sambi Puntung harus berjumpalitan ke belakang sebelum dapat menjejakkan kakinya ke lantai. pusaran angin tenaga berseling hawa panas dan dingin terus berpusaran di seluruh ruangan yang masih bergoncang seakan hendak runtuh.
Setelah semuanya kembali tenang, telihat orang tua yang di panggil sebagai Tuan Sesepuh Pelindung Istana masih tetap duduk diatas kursi berukiran seekor angsa emas. meskipun tubuhnya sempat bergetar, tapi jelas dia tidak mengalami suatu apapun. di raut wajah tuanya nampak ada suatu penyesalan.
Ki Sambi Puntung si Pendekar Kaki Buntung juga Dewa Serba Putih tidak dapat menutupi rasa kagetnya melihat tingkat ilmu kesaktian yang di miliki pimpinannya. padahal mereka sadar kalau tuan sesepuh cuma menggunakan sebagian kekuatannya. hampir bersamaan pintu ruangan batu pualam terbuka, Kyai Jabar Seto yang disusul seorang wanita tua berjubah ungu bernama Nyai Juling Sumbing menerobos masuk.
__ADS_1
Mereka sesaat terperanjat melihat keadaan yang terjadi di dalam sana. tanpa banyak bicara kedua bekas khulubalang kepala pasukan istana Angsa Emas itu menolong sepasang panglima muda istana Angsa Emas yang tergeletak luka dalam.
''Mohon ijinmu Tuan Sesepuh. kami hendak membawa mereka ke tempat pengobatan, luka dalam keduanya., agak parah juga..'' ucap Nyai Juling Sumbing yang juga seorang tabib. orang tua itu menarik nafas berat pejamkan matamya. sebelah tangannya memberi isyarat menyetujui. ''Lakukan semua yang kamu bisa Nyai Sumbing Juling..'' gumamnya pelan.
Empat orang anggota istana Angsa Emas berseragam kuning hitam dan membekal pedang di punggungnya masuk ke dalam ruangan, setelah menjura hormat mereka menggotong keluar tubuh kedua orang panglima muda itu di susul Nyai Juling Sumbing.
''Kita lupakan semua yang sudah terjadi, aku mengaku salah karena tidak dapat menahan amarahku. tiga anak muda itu sudah aku anggap sebagai anak cucuku sendiri. kehilangan salah satu dari mereka di tangan para bajingan 13 Pembunuh sudah membuat diriku nyaris putus asa. aku., tidak sanggup menerima jika mereka berdua mati menyusul saudaranya..'' gumam tuan sesepuh pelindung istana penuh perasaan sedih dan sesal.
Dewa Serba Putih, Kyai Jabar Seto dan Ki Sambi Puntung alias Pendekar Kaki Buntung hanya bisa menghela nafas dan saling pandang. mereka tahu betul kalau kedukaan besar sedang terpendam dalam hati pimpinannya, tapi mereka juga tidak tahu bagaimana cara untuk menghiburnya.
''Tuan Sesepuh tidak perlu terlalu sedih. kita harus tetap mencurahkan perhatian kita pada masalah besar yang menghadang di depan..'' cuma itu saja yang dapat mereka bertiga ucapkan. ''Apakah kedua orang penyelidik kita sudah kembali dari Wonokerto.?'' tanya tuan sesepuh pada ketiga bawahannya.
''Mereka masih bertugas di wilayah Wonokerto karena merasa madih ada sesuatu yang harus di selidiki. tapi mereka sudah menyampaikan hasil penyelidikannya kepada anggota kita yang lain dan melapokan pada kami. kedua orang mata- mata kita bilang pernah melihat si Naga Urat Hijau dan Sukma Tertawa muncul di sana beberapa minggu setelah ledakan itu..'' lapor Kyai Jabar Seto.
''Bagaimanapun caranya kalian mesti dapatkan jejak tuan putri Satriyana, juga mereka semua yang selama ini bersamanya. jika mereka berani berbuat diluar perjanjian yang telah kalian buat, aku perintahkan untuk menghabisi mereka. Aaih., sebenarnya aku punya satu pikiran, hanya saja., mesti meminta pendapat kalian semuanya lebih dulu..'' ucap tuan sesepuh bangkit berdiri mengusap- usap janggutnya seperti berpikir keras.
Ketiga bawahannya saling pandang. orang tua itupun mulai bicara sesuatu yang sangat diluar dugaan mereka. ''Mohon maafmu Tuan Sesepuh, tapi kurasa kita tidak bisa melakukan apa yang kau katakan tadi, karena selain terlalu berbahaya juga sangat memalukan bagi kita untuk meminta bantuan pihak lain, apalagi mereka dari aliran hitam.!''
''Benar yang di ucapakan I Gede Kalacandra, kita adalah orang Istana Angsa Emas yang punya kedudukan tinggi, bagaimana mungkin bisa menerima penawaran bantuan dari partai aliran hitam terkuat yang terkenal sangat jahat itu. aku lebih memilih mati daripada mesti bersepakat dengan partai 'Gapura Iblis.!'' geram Ki Sambi Puntung yang terkenal tinggi hati dan berangasan. Kyai Jabar Seto meski hanya diam tapi jelas sekali diapun menolak.
''Haa., ha., semua yang aku katakan tadi cuma suatu pemikiran yang timbul di kepalaku. beberapa waktu setelah peristiwa besar di Wonokerto, ada seorang tua berjubah hitam dan bermata buta memberikan sebuah surat rahasia yang menawarkan bantuan kekuatan dari partai Gapura Iblis untuk menghancurkan kelompok 13 Pembunuh..''
''Awalnya orang tua buta itu ingin menemuiku langsung, tapi dia menemui kesulitan dalam mencari letak markas kita. entah bagaimana caranya pihak Gapura Iblis bisa menemui anggota kita yang bertugas di perbatasan Jawa barat. dari sana mereka menitipkan sebuah surat rahasia yang akhirnya sampai ke tanganku..'' kata tuan sesepuh melemparkan gulungan kain hitam. dengan sigap Kyai Jabar Seto menyambut benda itu. bersama kedua rekannya mereka membaca tulisan yang ada disana.
Sebuah lembaran kain berwarna hitam pekat dan lapat- lapat tercium bau anyir darah busuk, hingga ketiga orang ini mesti kerahkan tenaga dalam dan menutup jalan nafas beberapa saat lamanya. di sana tergambar dua buah gapura dengan latar belakang bulan purnama yang berselimut darah merah. itulah lambang dari partai aliran hitam terkuat., Gapura Iblis.!
__ADS_1
Di bawahnya terdapat beberapa baris tulisan yang intinya memberikan penawaran bantuan kekuatan bagi Istana Angsa Emas dalam menghadapi kelompok 13 Pembunuh, lengkap dengan jumlah biaya mahar pembayarannya. yang membuat tiga orang ini naik pitam, terdapat syarat utama bahwa Gapura Iblis berhak atas satu kendi berisi penuh 'Darah Keabadian.!'
''Kurang ajar., mereka anggap apa Istana Angsa Emas kita ini sampai berani mengirim selembar surat busuk. jika saja saat ini kita tidak sedang di sibukkan dengan urusan 13 Pembunuh, sudah kita obrak- abrik mereka.!'' gembor Ki Sambi Puntung mengamuk, lembar surat hitam itu dia robek hancur. dua rekannya juga mendengus marah dan merasa terhina.
''Kalian bertiga tidak perlu gusar, aku tentu saja langsung menolak mentah- mentah semua penawaran mereka. jika semua urusan dengan 13 Pembunuh sudah selesai dan kita masih bernyawa, Gapura Iblis juga akan kita lenyapkan dari muka bumi ini.!'' potong Tuan Sesepuh Pelindung Istana. ''Tapi mengingat Istana Angsa Emas butuh kekuatan yang besar untuk menghadapi 13 Pembunuh, mau tidak mau kita mesti bekerja sama dengan pihak lain yang punya kepentingan sama..''
''Apa maksud dari ucapanmu tuan sesepuh.?'' tanya Kyai Jabar Seto agak curiga. ''Sulit bagi kita keluarga Istana Angsa Emas yang besar untuk bersekutu dengan pihak lain..'' I Gede Kalacandra menimpali. ''Tuan Sesepuh., harap kau jelaskan semuanya pada kami.!'' tekan Ki Sambi Puntung hentakkan kaki tombaknya ke lantai batu hingga berlubang hangus.
''Hhmm., kutahu kalian pasti sangsi dan curiga, tapi percayalah semuanya sudah aku perhitungkan masak- masak. kuncinya adalah kita mesti temukan keberadaan tuan putri kita. setelah itu bujuk agar dia mau kembali. ada kemungkinan besar tuan putri Satriyana akan menolak ajakan kita dengan alasan dia tidak mau berpisah dengan semua temannya..''
''Jika demikian., kita tinggal persilahkan dia untuk mengajak serta semua rekannya kemari. terutama para bekas anggota 13 Pembunuh. si Ular Sakti Berpedang Iblis, Ki Ageng Bronto, Laba- Laba Kuning serta tentunya sang ahli siasat tipu muslihat, Dewi Malam Beracun..''
''Kalau rencana ini dapat terwujud, kita bisa mengorek keterangan dari mereka tentang semua rahasia dari kelompok 13 Pembunuh termasuk juga tempat persembunyiannya, sekaligus pula mendapatkan bantuan tenaga yang cukup bisa diandalkan.!'' jelas Tuan Sesepuh Pelindung Istana.
Ketiga bawahannya seketika tertegun. biarpun akan sedikit merendahkan harga diri mereka sebagai bagian dari keluarga Istana Angsa Emas, tetapi dalam hatinya mereka juga mengakui kalau rencana pimpinannya ini sangat luar biasa. ibarat seorang nelayan, mereka cukup menebar jaring dan umpan lalu tinggal menunggu gerombolan ikan yang terperangkap.
''Tapi bagaimanapun juga., mereka bukanlah bagian dari Istana Angsa Emas. bagaimana jika saat semuanya ini telah selesai, mereka ingin ikut mengambil bagian harta pusaka dari istana kita.?'' tanya I Gede Kalacandra bengis. Kyai Jabar Seto yang biasanya terlihat tenang juga ikut bersikap keras. ''Jika sudah tidak kita butuhkan tapi mereka berani bertindak yang macam- macam, yah., habisi saja semuanya.!'' desis tuan sesepuh dengan sunggingkan seringai buas dan licik.
*****
Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu bagi kita semua🙏
Mohon sudi menulis komentar, kritik saran, like👍,vote atau Favorit👌jika anda suka. tolong untuk Share👏 novel ini pada teman" yang lainnya.
Terima kasih kami ucapkan kepada para reader pembaca, yang telah meluangkan waktunya untuk mengikuti novel 13 Pembunuh dengan segala kekurangannya, hingga tanpa kami sangka dapat sampai 500K 🤗. bagi kami itu sudah sangat luar biasa mengingat kami jarang banget update karena kesibukan kerja. Terima kasih 🙏Wasalamualaikum.
__ADS_1