13 Pembunuh

13 Pembunuh
Lorong rahasia si Maling Nyawa. (bag2)


__ADS_3

Kejadian itu begitu mengejutkan semua yang berada di dalam goa. selain tidak mengetahui bagaimana kepala rekannya bisa terpisah dari tubuhnya, mereka juga merasa bergidik ngeri melihat darah yang tersembur dari batang leher yang terpotong dan batok kepala yang menggelinding. untuk sesaat mereka hanya berdiri gemetaran.


Namun bagaimanapun juga sebagai anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' mereka tentu dapat lebih cepat menguasai diri. serentak mereka sama mencabut senjata tombak pendek bermata gergaji dari balik pinggang. ''Kurang ajar., siapa yang berani cari perkara dengan para pengawal 13 Pembunuh.?'' bentak si pemimpin gusar. ''Siapapun dirimu adanya, kami pastikan kau akan tergeletak menjadi bangkai.!'' teriak yang lainnya.


Tidak ada jawaban apapun dari teriakan mereka. bebatuan yang sudah tersingkir dari reruntuhan dilorong goa membuat ruangan di dalamnya menjadi lebih lapang. saat ini mereka berada di penghujung lorong goa batu. tidak nampak apapun kecuali meja kursi dan sebuah ranjang batu tempat untuk tidur. saat itulah dua obor yang menjadi penerang mendadak padam hingga keadaan menjadi gelap.


Dalam kegusarannya enam orang ini sama mencaci maki penuh dendam amarah. belum tahu siapa lawan tiba- tiba saja salah satu dari mereka yang berada paling belakang merasakan kedua kakinya terbelit sesuatu. berikutnya dari mulutnya keluar teriakan disertai dengan terjungkalnya tubuh. sepasang kaki sebatas betis telah terputus. darah segar kembali mengalir deras.


Satu orang rekannya berusaha memberikan pertolongan namun baru saja dia mendekat, terasa sebuah benda panjang serta panas menusuk punggungnya hingga tembus ke dada. dalam kegelapan dia dapat merasakan darahnya sendiri yang menetes membasahi kakinya. orang ini masih sempat meronta dan meraung kesakitan sebelum benda panjang seperti batangan besi itu tercabut dari tubuh. begitu dia tersungkur nyawanyapun terlepas dari raga.


Dalam kegelapan lorong goa terdengar suara jeritan kesakitan yang bercampur dengan rasa ketakutan. dua orang terakhir berusaha kabur keluar goa tapi hanya tiga langkah saja mereka berhasil sampai di luar goa batu itu, keduanya mendadak hentikan langkahnya. walau tidak terlihat raut wajahnya yang tertutupi topeng tengkorak putih tapi dari tubuh mereka yang gemetaran dapat diduga kalau kedua orang ini sedang di landa rasa takut, seram dan kesakitan.


Orang yang sebelah kiri berusaha menoleh ke belakang tapi separuh tubuh bagian bawah tidak ikut berputar. darah tersembur dari pinggang yang putus. kedua kakinya sesaat masih menjejak tanah namun bagian perut ke atas sudah jatuh ke lantai goa. kedua tangan orang ini masih menggapai- gapai seolah ingin meraih pinggang dan kakinya yang terpisah dari badannya sebelum dia tewas dengan mata mendelik.


Rekannya yang berdiri di samping kanan hanya diam menatap lurus keluar goa. hanya tiga langkah saja jaraknya tapi baginya terasa begitu jauh. matanya melotot ke atas. entah bagaimana di dahinya telah muncul sebuah ujung tongkat besi hitam. darah bercampur cairan otak yang mengalir dari ujung tongkat itu menetes ke hidung dan mulut melalui celah di balik topeng tengkorak membuatnya sadar, kalau baru kali inilah dia tahu aroma dari darahnya sendiri.


Rasa kesakitan yang teramat sangat masih sempat dia alami meskipun cuma sekejapan mata. kepala tertutup topeng tengkorak putih itu pecah terbakar hangus hingga sulit untuk di kenali. tongkat besi hitam telah tercabut dari batok kepala. tubuh yang punya kepala seketika jatuh terkapar di atas lantai goa batu.

__ADS_1


Sebuah pelita minyak tahu- tahu sudah menyala di atas meja batu yang berada dekat ujung lorong goa. dua orang lelaki tua terlihat duduk di atas kursi batu. satu diantara mereka memakai pakaian hitam perlente dengan jemari berhias cincin emas permata warna- warni. sebuah pipa cangklong yang menyebar bau asap kemenyan terjepit di sela bibirnya yang peot.


Lelaki tua yang seorang lagi berambut panjang putih di ikat seperti ekor kuda serta berbaju kelabu hitam. wajah kakek yang berperawakan sedang ini nampak lugu dan umum. pendek kata tampang tua seperti itu dapat di jumpai di manapun. hanya saja dua jari telunjuk dan jempol tangan kanannya buntung.


Sekali lagi orang tua berblangkon hitam yang ada didepannya menyedot pipa cangklongnya lalu mencibir. ''Chuih., setelah melihat goa tempat tinggalmu aku rasa kau sudah hidup susah selama di pulau sialan ini 'Maling Nyawa'. jelas jauh berbeda kelasnya dengan markas rahasia perkumpulan 'Maling Kilat.!''


Orang tua yang memang Maling Nyawa ini hanya nyengir tanpa membalas sindiran sobat lamanya yang tentunya si 'Malaikat Copet' itu. ''Tapi kuakui, hebat juga dirimu sampai bisa menciptakan lorong rahasia lainnya di bawah meja batu ini hingga tembus ke luar pantai..'' puji Malaikat Copet sambil menggeser meja batu di depannya.


Perlu pengerahan tenaga dalam tinggi untuk dapat menggeser meja batu yang mungkin beratnya mencapai lebih lima ratusan kati itu. meski hanya sedikit berpindah tempat tapi jelas dibawah meja nampak ada sebuah rongga yang dalam juga lebar. inilah jalan rahasia lainnya yang diam- diam di buat oleh si Maling Nyawa.


Rupanya pencuri sakti itu sengaja membuat dua buah jalan rahasia. satu tersembunyi di balik dinding goa pada ujung lorong, satu lagi berada dibawah meja batu dekat dengan tempat tidur batu. selama tinggal di sana, dia akan sangat marah jika ada orang lain yang berani duduk di kursi batu tanpa seijinnya. bahkan sang ketua 13 Pembunuh juga tidak terkecuali.


Maling Nyawa paham betul tabiat si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' yang tidak pernah mau perduli orang lain. dia cuma mengerti cara terbaik dan paling cepat dalam membunuh lawannya. dari sini Maling Nyawa membuat siasat, dari luar dia memaksa masuk dua orang pesilat jahat golongan hitam yang kebetulan dia temui saat terjadi penyerbuan.


Dengan totokan dan di cekoki racun, si Maling Nyawa memaksanya untuk masuk ke dalam lorong goa yang pertama. ibarat kata., orang ini di jadikan bahan percobaan maut. benar saja, bahan peledak yang di pasang oleh anak buah Lengan Tunggal Pengejar Roh seketika merenggut nyawa orang ini hingga tubuhnya hancur sekaligus membuat runtuh goa batu.


Potongan tulang daging dan percikan darah dari tubuh mayat dapat menjadi bukti kalau para penyusup telah tewas. dengan demikian dapat menghapuskan kecurigaan. setelah terjadi ledakan mereka sengaja tidak terburu- buru untuk keluar dari bawah lorong rahasia tapi memilih menunggu di dalam.

__ADS_1


Ada dua alasan mereka berbuat demikian. pertama ada kemungkinan para pimpinan dari 13 Pembunuh untuk membongkar reruntuhan goa agar dapat memastikan kematian lawan. karena bagaimanapun juga sang ketua adalah orang licik yang gampang curiga. alasan yang lainnya. Maling Nyawa serta ketiga kawannya tidak perlu lagi susah payah menyingkirkan bebatuan besar dan berat yang menutupi lorong goa untuk bisa keluar dari sana.


Sebagai dua orang yang pernah bertahun- tahun bekerja dalam perkumpulan pembunuh bayaran yang sama, tentunya mereka tidak perlu lagi untuk bersepakat mengatur siasat tertentu. biarpun kedua orang tua itu saling membenci satu dengan yang lainnya karena persaingan tapi disisi lain juga telah saling memahami tabiat dan kebiasan masing- masing.


Sekali menemukan ada lubang rahasia di balik dinding goa batu tempat tinggal bekas rekannya itu, Lengan Tunggal Pengejar Roh juga dapat menyimpulkan kalau si Maling Nyawa pasti mempunyai jalan rahasia lainnya yang tersembunyi di dalam goa ini. orang tua berlengan buntung sebelah ini teringat kalau dimasa lalu pencuri sakti itu sangat menjaga meja kursinya. maka diapun dapat menduga letak dari jalan rahasia yang kedua itu berada dibawah meja batu.


Tentu saja semua itu dia pendam sendiri, karena berkaitan dengan rencana si Maling Nyawa. bagi si Lengan Tunggal Pengejar Roh, dia tidak mau terang- terangan mengkhianati pimpinannya karena bagaimanapun juga pada masa lalu dia juga punya hutang budi kepada sang ketua 13 Pembunuh saat dia berada dalam pelarian.


Meskipun sebenarnya orang tua buntung itu berasal dari sebuah partai aliran hitam yang terkuat dan ditakuti seluruh dunia persilatan namun baginya itu cuma masa lalu yang bahkan ketua 13 Pembunuh juga tidak pernah mengetahuinya. karena baginya., pulau Seribu Bisa dan Kelompok 13 Pembunuh sudah menjadi bagian dari hidupnya. ada perasaan sayang dan memiliki yang tidak gampang dia hilangkan dari dalam hatinya.


''Kedua anak muda itu benar- benar tidak mengerti bagaimana cara membunuh yang punya rasa seni. perempuan muda itu cara membunuhnya terlalu kasar, main potong tubuh lawan dengan benang- benang peraknya. sedangkan si pincang itu masih saja sama dengan beberapa tahun lalu, tetap tanpa perasaan..''


''Coba kau lihat, kepala orang dia tikam dengan tongkat besi lalu dibakar dan ledakkan begitu saja. sedangkan tubuh yang lainnya dia cabik lantas merenggut keluar jantung berikut isi jeroannya..'' gerutu si Malaikat Copet pandangi sekeliling lantai goa yang dibasahi oleh darah juga potongan tubuh manusia.


''Aah., anak muda jaman sekarang memang begitu. jangan kau samakan dengan masa kita dulu..'' potong Maling Nyawa sambil melihat dua orang muda- mudi yang berdiri di dekat mulut goa. jika si pemuda berbaju gelap terlihat pincang kaki kirinya, maka si gadis berbaju kuning justru buntung di tangan kiri.


''Kalian berdua ikutlah si copet tua duluan, aku masih harus lakukan sesuatu dan mesti temukan Respati secepatnya..'' ucap si Maling Nyawa pada kedua orang muda yang bukan lain si pincang Pranacitra dan Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' itu. keduanya cuma mengangguk. berikutnya keempat orang tokoh silat itupun berkelebat keluar dari dalam goa batu.

__ADS_1


 


Silahkan tuliskan komentar Anda, like 👍, vote👌, favorit☝, juga share novel ini. Trims, 👏.


__ADS_2