
Senja mulai turun saat terdengar teriakan banyak orang yang berlarian.
''Kejar dia., cari sampai dapat,!''
''Benar-benar kurang ajar anak sialan itu, beraninya kabur dari rumah juragan Sarpa,.''
''Bukan itu saja, malahan dia juga membawa lari uang dan perhiasan milik Nyai Darmi, istri juragan Sarpa.,!''
''Ayoh kita cari terus.,jangan sampai lolos.!''
Teriakan dan seruan marah terdengar di sekeliling kampung, kelihatannya disana sedang terjadi pencurian, belasan lelaki kasar bersenjata tajam terlihat mondar-mandir dikampung itu, beberapa penduduk desa terlihat menyingkir, mereka enggan terlibat masalah dengan para centeng pengawal juragan Sarpa, orang paling kaya di desa Kembangsoka ini.
''Hee.,orang tua.! apa kau melihat ada anak perempuan berkulit kehitaman disini?'' tanya salah satu dari pengawal juragan Sarpa yang bermuka bundar kepada seorang tua yang berjalan sambil memanggul cangkul.
''Aku baru saja pulang dari sawah, anak perempuan siapa yang kau maksudkan itu?'' orang tua itu balik bertanya.
''Orang tua pikun., tentu saja anak gadis yang tadi pagi mencuri lalu kabur dari rumah juragan Sarpa.! namanya Satriyana, cucu Mbah Winong bekas kepala desa ini yang sudah mati setahun lalu., kau ingat tidak?''
__ADS_1
Orang tua petani itu tercengang, tentu saja dia tahu Ki Winong, atau biasa dipanggil Mbah Winong oleh para remaja dan anak-anak disini, orang yang sudah belasan tahun menjadi kepala desa Kembangsoka ini. lebih dari setahun yang lalu Ki Winong yang dikenal ramah dan bijaksana itu meninggal dunia secara mendadak, dia hanya mempunyai satu keturunan yaitu seorang cucu perempuan yang kira-kira umurnya 114 atau 15 tahun bernama Satriyana.
Anak perempuan ini berkulit sawo matang, rambutnya dipotong agak pendek, sejak kecil dia lebih suka bermain dengan anak laki-laki, bahkan dia sering menang kalau bertanding apapun dengan anak lain, bahkan saat berkelahi dia hampir tidak pernah kalah atau menangis.
Sejak kecil Satriyana sudah yatim piatu, Ibunya meninggal saat melahirkannya, sepuluh tahun kemudian ayahnya, yang juga menantu Ki Winong tewas saat memimpin warga desa melawan gerombolan perampok yang menyerang desa mereka, maka tak heran Ki Winong begitu menyayangi cucunya, juga warga desa Kembangsoka ini yang merasa berhutang budi pada ayah Satriyana.
Satu lagi keistimewaan cucu Ki Winong ini, selain cerdik, dia mempunyai daya ingat yang sangat kuat hampir terhadap apapun yang pernah dilihatnya, selain itu penglihatan serta penciumannya juga jauh lebih tajam dari orang lain.
Saat Ki Winong meninggal penduduk desa merasa sangat sedih dan kehilangan, selain itu mereka juga bingung menentukan siapa penggantinya, karena sangat sulit mencari pemimpin yang selalu ramah dan bersedia membantu kesulitan warganya.
Akhirnya dipilihlah Ki Sarpa atau juragan Sarpa, karena selain kaya dia masih sepupu dari Ibu Satriyana, maka dia juga yang berhak mengatur kehidupan keponakannya, juga harta warisan dari Ki Winong, hanya sayangnya sejak itu kehidupan Satriyana menjadi menderita.
''Ooh., baiklah nanti aku bantu mencarinya, tapi aku harus pulang dulu sekarang, takut orang dirumah menungguku.'' kata petani tua itu sambil berlalu.
''Hm., aneh sekali, selama ini kupikir orang tua itu hidup sendirian saja.'' gumam si muka bundar.
''Sudahlah.,kita harus kembali mencari anak brengsek itu sampai ketemu, kalau tidak Juragan Sarpa bisa marah besar.!'' ajak temannya sambil menyeret kawannya.
__ADS_1
Petani tua itu berjalan terus menuju rumahnya yang agak terpencil ditepian desa, dia tidak langsung masuk saat sampai didepan pintu rumah yang sudah agak reyot, melainkan terbatuk beberapa kali sambil menoleh kanan kiri, baru berkata perlahan, ''Buka pintunya, semuanya aman.!''
Pintu rumah gubuk bambu yang sudah reyot terbuka separuh, orang tua itu menyelinap masuk, pintu kembali tertutup. meski sudah mulai remang tapi masih bisa terlihat semua yang ada didalam gubuk itu, perabotan tua dan seorang anak perempuan yang mungkin berusia 15 tahunan,
Kalau dilihat sepintas, anak yang sedang duduk bersandar diatas kursi kayu ini terlihat memuakkan, kulit tubuhnya kehitaman, kotor juga bau, beberapa bekas luka memar dan sayatan benda tajam yang sudah mengering terlihat menghiasi kulitnya, tapi kalau diamati lebih lama, anak perempuan yang hendak beranjak remaja ini sebenarnya cukup menarik, sorot matanya meski lelah tapi tetap tajam, biarpun bajunya yang tanpa lengan sudah usang dan robek beberapa bagian, tetap tidak dapat dipungkiri kalau dia adalah anak perempuan hitam manis yang menarik hati.
''Orangnya juragan Sarpa masih mencarimu., bahkan lebih banyak jumlahnya.'' kata petani tua itu sambil duduk di depan si gadis. '-Semua orang desa sebenarnya tahu dengan apa yang selama ini dilakukan Ki Sarpa dan istrinya kepadamu, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, mereka takut dengan Ki Sarpa dan anak buahnya, selain itu banyak yang berhutang pada Ki Sarpa.''
''Aku sudah tahu semuanya, juga tidak menyalahkan mereka Ki Mijun., tapi aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku., juga bersiap untuk menagih hutang darah yang sudah terpendam lama,.!'' jawab gadis itu dengan suara pelan tapi penuh dendam, membuat petani tua bernama Ki Mijun itu ngeri dan bingung.
Gadis hitam manis yang bukan lain adalah Satriyana itu mengeluarkan sesuatu dari kantong kulit kambing yang ada di balik pakaian kotornya., Sebuah cincin dan gelang emas berukiran bunga melati, juga kalung permata biru yang sangat indah bentuknya.
''Jadi benar kau telah mencuri perhiasan Nyi Darmi, istri juragan Sarpa?'' tanya Ki Mijun yang langsung dipotong Satriyana dengan suara menahan sedih bercampur dendam.
''Aku hanya mengambil kembali milikku, semua ini adalah milik mendiang Ibuku, yang beliau dapat saat ayah melamarnya, sejak Ibu meninggal, ayah selalu membawa perhiasan ini kemanapun., tapi saat ayahku meninggal, ketiga benda ini lenyap, ada yang bilang kalau para perampok itu yang mengambilnya, dan secara tidak sengaja aku menemukannya di lemari Nyi Darmi.!''
''Dan kau tahu arti semuanya ini Ki Mijun., mereka berdua terlibat dalam pembunuhan ayahku, dan mungkin juga kematian dari kakekku.!''
__ADS_1
Petani tua itu seakan terjingkat, ''Kau jangan bicara ngawur Satriyana, biar bagaimanapun juga mereka itu masih paman dan bibimu.'' ''Aku tidak sembarangan bicara Ki.,!'' bantah Satriyana. ''Aku ingat betul, waktu itu paman Sarpalah yang membawa mayat ayah ke rumah., Kakek juga mengatakan luka bacokan di dada ayah meski parah tapi tidak mematikan, kakek sempat curiga dari keadaan mulut ayah yang membiru, sangat mungkin ayahku diracun terlebih terlebih dahulu sebelum beliau di bunuh.!''