
Dalam sebuah pertarungan adu jiwa baik itu besar maupun kecil, sebuah kelengahan meskipun hanya sekejapan mata saja sudah dapat membuat seseorang kehilangan nyawa. tidak perduli apakah dia hanya seorang pesilat rendahan atau kaum persilatan yang terkenal dan punya ilmu kesakitan tinggi.
Demikian juga dengan para anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' juga hampir semua pesilat yang sempat terperanjat bingung dengan kejadian menjauhnya binatang- binatang beracun dari pihak 'Istana Angsa Emas' yang baru saja tiba. mereka semua sama menjerit kesakitan bercampur umpatan kotor saat 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' datang menikam dan membabat tubuh mereka dengan ganasnya.
'Traaang., traaang., craang.!'
''Aaaakh., aaakh.!''
''Orang istana Angsa Emas keparat., bangsat sialan. mampuslah kalian semua.!'' maki para pesilat itu sambil balas babatkan senjata mereka masing- masing. hanya karena sedikit kelengahan membuat nyawa terancam. dalam sekejap mata saja belasan tubuh para pesilat baik dari pihak para penyerbu maupun penghuni pulau telah bertumbang mandi darah.
Seakan mendapatkan makanan, tubuh- tubuh yang terkapar tanpa nyawa itu dalam waktu singkat sudah tinggal kerangka dan sisa daging berdarah setelah di kerubuti ratusan binatang beracun yang menghuni pulau 'Seribu Bisa' itu. biarpun ini merupakan suatu pemandangan yang sangat menyeramkan tapi tidak ada waktu bagi mereka untuk berpikir lebih jauh.
Bentrokan senjata dan ilmu kesaktian yang berseling dengan jerit makian penuh amarah dan semburan darah segar yang membanjiri pulau Seribu Bisa, membuat suasana malam itu berubah semakin mencekam perasaan. jika dilihat sepintas pertarungan besar ini seolah tidak jelas mana kawan siapa pula lawannya tetapi bagi yang berpengalaman mesti dapat melihat jika mereka semuanya terbagi dalam lima golongan.
Dua golongan yang sudah jelas bermusuhan adalah dari pihak Istana Angsa Emas dan 'Kelompok 13 Pembunuh. sedang dua lainnya terdiri dari kaum persilatan aliran hitam yang memang berniat untuk merebut rahasia harta pusaka dan 'Darah Keabadian'. serta satu golongan lagi dari aliran putih yang 'Kabarnya' hanya berniat untuk mencegah semua itu terjatuh ke tangan kaum durjana, sekaligus turut melenyapkan Kelompok 13 Pembunuh. benar atau tidaknya niatan itu, hanya mereka sendiri yang tahu.
Satu golongan terakhir seperti sengaja tidak mau ikut campur meskipun sudah sampai di pulau itu. walaupun golongan ini hanya ada segelintir saja tapi tetap membuat hati orang merasa curiga. diantaranya adalah si pemuda berjubah putih yang entah sejak kapan sudah duduk santai di atas kursi malasnya.
__ADS_1
Dengan mata setengah mengantuk dan seringai tipis seperti mengejek, pemuda itu mengamati semuanya dari atas sebuah tebing batu karang yang agak tinggi dekat sekali dengan pantai. di samping kiri kanannya berdiri dua orang gadis muda berparas jelita berjubah gaun putih dan dua orang lelaki kekar yang juga berpakaian putih lengan pendek. debur ombak lautan ganas yang menghantam karang pantai di belakang punggung mereka seolah tidak mampu menyentuh tubuh kelima orang itu meskipun hanya sepercikan air saja.
Di sekitar tempat si pemuda pemalas terlihat bergelimpangan belasan anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis. anehnya tidak terlihat luka apapun di tubuh mereka hingga sulit diketahui penyebab kematiannya. bahkan semua binatang beracun juga tidak ada yang sanggup mendekati daerah itu, seolah ada suatu tabir penghalang disana.
''Hehm., sungguh pertarungan bodoh yang membosankan. apakah kalian benar merasa yakin sang ketua 13 Pembunuh memang menyimpan benda itu. aku tidak mau perjalanan jauh yang melelahkan ini sia- sia..'' terdengar si pemuda pemalas berucap lalu menguap.
''Cuihh., tuan muda selalu bicara seenaknya saja. lelah apanya., sejak keluar dari 'Kota Hantu Pagi' kau hanya makan tidur, mabuk dan bermalas- malasan diatas kursi goyangmu..'' sungut gadis di sebelah kiri. dia masih sangat muda mungkin baru empat belas tahunan. wajahnya cantik dengan dua lesung pipit kecil di pipinya dan nampak periang.
''Berita yang kami dapatkan bisa dijamin kebenarannya. jadi tuan muda tidak perlu merasa sangsi..'' sambung gadis satunya yang berada di samping kanan. jika dilihat selain lebih tinggi dan cantik jelita dia juga anggun dan terlihat lebih tenang serta penuh perhitungan dibandingkan gadis remaja berlesung pipit. usianya mungkin dua puluh satu tahunan, sebaya dengan si pemuda pemalas.
''Lihat tuan muda., sepertinya orang- orang dari 13 Pembunuh sudah muncul di sana.!'' seru gadis berlesung pipit menunjuk ke tengah kalangan pertempuran besar. meski jarak diantara mereka terpaut hampir seratus tombak dan ditengah gelap malam tapi mata gadis lima belasan tahun itu sanggup melihat semuanya pertanda dia punya ketajaman penglihatan yang luar biasa.
Di pimpin oleh si 'Setan Arak' dan Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis' tanpa banyak bicara mereka langsung mengempur balik para penyerbu pulau Seribu Bisa. anak buah 13 Pembunuh yang melihat kedatangan para pimpinannya sama keluarkan sorakan dan seruan buas. gelegak nafsu membunuh mereka menjadi semakin liar.
Setan Arak dengan langkah terhuyung bagai orang mabuk berat berkekebatan diantara tubuh Pasukan Pedang Angsa Sakti juga para tokoh persilatan lainnya. setiap dia melewati seseorang hampir pasti terdengar suara teriakan parau disertai tumbangnya tubuh lawan yang berani menghalangi langkahnya.
Jangan di bilang kakek bertubuh gemuk kekar berkepala plontos dengan meneguk kendi berisi minuman keras ini hanya berjalan sempoyongan mirip orang yang sedang mabuk berat, tangan kakinya tidak pernah berhenti menghantam, mengemplang dan menendang. hanya sedikit saja orang yang tahu kalau saat menyerang pemabuk jahat ini telah menggunakan gerakan silat yang dinamai jurus 'Setan Arak Mabuk Duniawi.!'
__ADS_1
Belum lagi semburan cairan tuak berbau menyengat yang keluar dari mulutnya saat terkena tubuh lawannya tidak berbeda dengan siraman air mendidih. kulit tubuh lawan tidak hanya melepuh namun juga sampai terkelupas dan membusuk sampai ke dalam tulang dagingnya pertanda minuman keras itu mengandung racun sangat ganas.
Amukan pemabuk ini mungkin tidak akan terbendung jika saja Ki Sabda Langitan atau si 'Tangan Penggoncang Langit' tidak keburu menghadangnya. ''Setan Arak keparat, malam ini akan aku buat dirimu mampus tenggelam bersama minuman kerasmu sendiri.!'' geram Ki Sabda Langitan sambil lontarkan jurus pukulan 'Awan Sakti Runtuh Menimpa Bumi.!'
''Huhm., kaulah yang bakal menjadi bangkai busuk.!'' dengus Setan Arak yang membalas dengan ilmu 'Semburan Arak Seribu Bangkai' terhadap lawannya. didahului suara bentakan keras dan dengusan kemarahan kedua tokoh silat kawakan itupun sudah terlibat dalam pertarungan yang sangat sengit hingga semua orang sama menjauh karena takut termakan ilmu kesaktian keduanya yang melabrak hancur apapun disekitarnya.
''Hee., he., para manusia tolol yang hendak berniat setor nyawa. bersiaplah untuk menjadi tumbal pulau Seribu Bisa ini.!'' gelak tawa Klowor Gombor terus saja terdengar meskipun 'Panglima Istana Tengah' berserta belasan orang Pasukan Pedang Angsa Sakti juga di bantu tiga orang tokoh silat lain dari pihak penyerbu sudah menghadangnya.
Dengan memakai ilmu kesaktiannya yang bernama 'Seribu Bisul Busuk Darah Setan' dia lepaskan sepuluh pukulan sekaligus kedepan. angin keras berbau busuk yang disertai semburan cairan merah darah beracun dari kedua lengannya yang kekar namun penuh dengan bisul menyapu semua orang yang berani menghalanginya.
Akibatnya enam anak buah Panglima Istana Tengah terjungkal roboh meregang nyawa setelah sempat menjerit parau berkelojotan menahan rasa perih dan gatal yang teramat sangat. sampai akhirnya tewas dengan tubuh gembung pecah bersimbah darah busuk.!
Pucat pias wajah para penghadang Klowor Gombor. demikian juga Panglima Istana Tengah. meskipun sudah pernah menghadapi salah satu pentolan lama 13 Pembunuh ini sebelumnya saat mereka bertarung sengit di kediaman Ki Ageng Bronto, tetap saja dia merasa bergidik.
Tapi wanita bercadar dan berjubah kuning itu tidak dapat tinggal diam dan melontarkan delapan pukulan telapak tangan yang turut menyebar cahaya kuning dan hawa panas beracun secara beruntun. dengan jurus 'Delapan Tapak Dewi Menyebar Bisa' dia balas menggempur si Gila Tangan Kudis.
Sisa anak buahnya dan tiga pesilat lain yang belum diketahui berasal dari golongan mana juga turut menyerbu dengan andalkan senjata dan ilmu kesaktian masing- masing. biarpun dia dikeroyok namun Klowor Gombor bukan saja tidak menjadi panik malah tertawa keras. dengan masih mengandalkan bisul darah beracunnya dia berniat membantai habis para pesilat yang telah berani menantangnya.
__ADS_1
*****
Silahkan tuliskan komentar anda yah. Trims👏...