13 Pembunuh

13 Pembunuh
Buronan.


__ADS_3

Saat hari mulai terang tanah dan cahaya mentari menembusi celah dedaunan hutan terlihat sebuah kereta hitam yang di tarik dua ekor kuda sedang bergerak keluar dari kelebatan hutan itu. yang menjadi kusir kuda tetap Sabarewang. di sanping kiri orang tinggi kekar brewokan ini duduk Satriyana yang dengan gaya seenaknya mengangkat sebelah kakinya ke bangku kusir.


Dari mulut gadis cantik enam belas tahunan berkulit sawo matang itu keluar suara nyanyian merdu bernada riang. Sabarewang hanya tersenyum melihat tingkah tuan putri istana Angsa Emas itu yang lebih mirip gaya kaum lelaki muda.


Dalam kereta hitam yang di namai sebagai 'Kereta Kuda Maut' itu Respati dan Roro terlihat duduk menjaga sang Putri Penjerat yang sedang bersila mengatur pernafasan sekaligus memulihkan kekuatan tenaga dalamnya. tangannya yang sekarang tinggal sebelah kanan di angkat di atas kepala terus perlahan turun hingga sama rata dengan dada, sementara kedua matanya terpejam.


Asap putih tipis bersemu sinar kekuningan terlihat menyelimuti separuh tubuhnya yang langsing dan agak pendek. di bandingkan Roro Wulandari, bekas pembunuh nomor empat ini tingginya cuma sepundak wanita yang biasa berpakaian jubah gaun hitam itu.


Sepeminum teh kemudian perempuan berbaju dan bercadar kain kuning itu mulai membuka kedua matanya yang terpejam. dia sempat merasa bingung dan curiga di manakah sekarang ini dia berada. perasaan curiga itu seketika hilang saat melihat Roro dan Respati juga berada di sana.


Wanita itu mengeluh tertahan kala teringat sebelah tangannya yang buntung. dari cerita mereka berdua akhirnya sang 'Putri Penjerat' dapat memahami kenapa Roro sampai memotong sebelah tangannya.


''Terima kasih karena sudah menolongku., tapi bagaimana ceritanya kalian bisa berada di sana?'' tanya si Laba- Laba Kuning, dia masih ingin mengucapkan sesuatu tapi Roro si 'Dewi Malam Beracun' keburu memotong.


''Itu tidak penting., sekarang katakan dulu bagaimana keadaan tubuhmu, apakah kau merasakan ada keanehan dalam mengatur hawa kesaktianmu..''


Yang di tanya tersenyum menggeleng sambil meraba pangkal lengannya yang buntung. ''Aku hanya merasa sedikit kelelahan saja, kurasa semuanya akan baik- baik saja..''


''Baguslah kalau begitu., sekarang ceritakan bagaimana awalnya kau bisa bentrok dengan si jangkung nomor tujuh 'Datuk Tinggi Mayat Besi'. serta apa yang sudah terjadi dengan Ki Manggal si 'Pengemis Watu Item'..''


''Katakan juga apa yang menjadi alasanmu hingga berani kabur dari kelompok 13 Pembunuh, apa lagi di saat sang ketua alias si nomor satu hendak melancarkan rencana besarnya menguasai dunia persilatan. memangnya kau sudah bosan hidup.!'' sambung Respati yang sedari tadi diam.

__ADS_1


''Kalian berdua tidak perlu berpura- pura lagi bertanya padaku. bukankah kalian sendiri sudah tahu jawabannya. kita semua., kecuali para anggota lama kelompok 13 Pembunuh hanya jadi bidak catur, cuma alat pembunuh yang dapat di korbankan kapan saja oleh si nomor satu..''


''Contoh paling anyar., Ki Manggal alias Pengemis Watu Item yang belum sebulan bergabung sudah di lenyapkan. padahal dia sedang terkuka dalam sangat parah. saat itu tuan Kamajaya memerintahku untuk segera membunuhnya. tapi., melihat pengkhianat perkumpulan pengemis 'Sembilan Tambalan' itu yang sekarat entah kenapa aku menjadi tidak tega..'' gumam Putri Penjerat bimbang.


''Kalian tentu bisa bayangkan kalau kejadian itu menimpa kita, perasaan terbuang seakan seonggok sampah busuk yang tidak berguna bisa membuat orang yang selalu merasa paling kuat sekalipun menjadi lebih buruk dari pada di datangi kematian..''


Baik Roro maupun Respati sama terdiam, dalam hati mereka mengakui kebenaran semua yang dikatakan oleh Putri Penjerat. secara tidak sadar si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' dan Dewi Malam Beracun merasa jika rekannya ini lebih punya harga diri dibanding mereka berdua. biarpun sudah sama- sama keluar dari 13 Pembunuh, tapi Putri Penjerat keluar atas kemauannya sendiri sedangkan mereka berdua di buang oleh pemimpinnya.


''Selain Nyai Bawang atau 'Nenek Bawang Beracun Belatung Darah', bekas nomor dua belas dan Nyi Sira 'Mambang Wanita Buta' bekas nomor empat angkatan lama. sempat kudengar kabar tuan Kamajaya juga berhasil mengundang dua orang tokoh silat lainnya untuk melengkapi jumlah 13 Pembunuh..''


Respati dan Roro seketika menoleh tajam seakan tertarik. Putri Penjerat alias Laba- Laba Kuning menyeringai, ''Seorang pesilat wanita bermata picak dan bertubuh gemuk padat seperti lelaki berjuluk si 'Kapak Jagal'. seorang lagi pesilat kawakan dari kawasan barat utara yang dikenal dengan gelar 'Iblis Tua Berjanggut Perak'.!''


Respati diam merenung, Roro cuma melirik rekannya tanpa berani bertanya karena dia tahu saat ini si pemuda sedang memikirkan sesuatu yang rumit.


''Yang menjadi pertanyaanku adalah kenapa tempat Ki Ageng Bronto si Pendekar Golok Bayangan Setan sampai di serbu oleh orang- orang dari pulau Seribu Bisa, apakah jejak pelariannya sudah tercium. jika benar lalu siapa pengganti si nomor sembilan ini.?''


''Apa kau tahu sesuatu tentang penyerbuan ke tempat Ki Ageng Bronto, juga orang yang kemungkinan akan menggantikannya.?'' tanya Roro pada Putri Penjerat. yang di tanya hanya mendesah gelengkan kepala.


''Waktu kita tidak banyak., kejadian yang di alami Putri Penjerat di luar perhitungan. kurasa kita perlu sedikit merubah rencana. kalau kuperkirakan saat ini semua orang persilatan yang ingin merebut Peti Kayu Cendana Hitam sudah menuju Wonokerto..''


''Jika pada rencana awalnya kita akan masuk lewat pintu gapura perbatasan sebelah timur, sekarang kita memutar masuk lewat gapura barat..'' tutur Respati.

__ADS_1


''Kenapa kau malah merubah rencana, lalu apa gunanya barang yang aku ambil dari dari 'Lembah Seruni.?'' sungut Roro kesal.


''Bukankah lebih baik kita menyerbu saja langsung ke tengah kalangan, lalu Satriyana membidik kereta ini dengan panah berapi hingga semua orang- orang serakah itu dapat kita lenyapkan. meskipun mungkin., juga kita bisa turut menjadi korbannya..''


''Maafkan kalau aku menyela., tapi apa sebenarnya yang sedang kalian bicarakan.?'' potong Putri Penjerat ikut penasaran. Roro dan Respati saling lirik. akhirnya wanita itu jelaskan juga semua rencana mereka pada Putri Penjerat.


Bekas pembunuh nomor empat itu seketika terperangah. lebih merasa ngeri lagi saat dia tahu kalau didalam kereta kuda itu tersimpan barang menakutkan yang sanggup membuat hancur luluh sebuah benteng yang kokoh sekalipun. dalam hatinya si Laba- Laba Kuning bersyukur karena sudah keluar dari kekompok 13 Pembunuh. seandainya tidak, bisa jadi dia akan turut musnah binasa.


''Aku sungguh tidak menyangka kalau bekas nomor dua belas dan tiga belas ini sanggup membuat rencana yang sangat mengerikan seperti ini..''


''Dibalik sikap dingin pendiam dari Ular Sakti Berpedang Iblis dan gaya anggun, genit serta lemah lembut sang Dewi Malam Beracun, tersimpan kekejaman yang tiada ampun. aku baru sadar di antara orang seangkatanku dalam 13 Pembunuh, mungkin kedua orang inilah yang paling menakutkan.!'' batin Putri Penjerat bergidik.


''Sabarewang, Satriyana., kita akan merubah rencana. atur jalannya kereta agar sebelum pagi hari tiba sudah sampai di Wonokerto, tapi kita masuk memutar lewat pintu barat. ikuti petunjukku agar kita dapat tiba di tempat Ki Ageng Bronto tanpa banyak orang yang tahu..'' perintah Roro yang langsung di sahuti Sabarewang dan Satriyana.


''Kau sendiri akan terus ikut kami atau punya tujuanmu sendiri.?''


Putri Penjerat sandarkan bahunya di kereta kuda, 'Sekarang aku orang buronan kelompok 13 Pembunuh sama dengan kalian berdua. apa yang dapat dilakukan wanita buntung sepertiku kecuali ikut dalam perjalanan ini..''


''Haa., ha., bagus Laba- Laba Kuning, biarpun tanganmu buntung sebelah tapi aku percaya nyali keberanianmu tidak berkurang.!'' seru Roro tertawa merangkul pundak rekannya. sebentar saja kedua wanita cantik itu sudah terlibat pembicaraan dan gurauan seru seputar urusan kaum perempuan yang tidak jauh- jauh dari barang perhiasan mewah, bermacam alat kecantikan dan wewangian, pendekar- pendekar muda yang gagah juga para pangeran tampan di kerajaan.


Sementara Respati cuma termenung, entah kenapa mendadak dia teringat dengan si pincang yang aneh. dulu pada awalnya yang dia ketahui tentang orang ini cuma seorang pendekar muda yang mewarisi ilmu lima orang dedengkot persilatan aliran hitam.

__ADS_1


Namun baru belakangan ini dia tahu kalau sebelumnya si pincang itu juga mempunyai beberapa orang guru lagi. satu diantaranya adalah seorang kakek sakti yang pernah menjadi ketua perkumpulan 'Maling Kilat' dan bergelar si 'Malaikat Copet'. sobat karib sekaligus saingan gurunya 'Maling Nyawa'.!


Jika benar demikian, menurut pesan yang si Maling Nyawa, bisa jadi kelak di kemudian hari dia dan si pincang bakal bertemu dalam sebuah pertarungan untuk mewakili kehormatan guru masing- masing. kalau itu benar terjadi., Respati tidak yakin bakal bisa menang.


__ADS_2