13 Pembunuh

13 Pembunuh
Nyi Sira, Mambang Wanita Buta.


__ADS_3

Kereta kuda itu terus bergerak menuju Wonokerto. matahari mulai condong ke arah barat pertanda hari sudah beranjak menuju senja. Sabarewang memandang berkeliling mencari tempat yang bagus untuk berhenti beristirahat. Satriyana sudah sejak tadi mengeluh lapar. meski bertubuh agak kurus tapi takaran makan gadis ini lumayan banyak. dari dalam kereta kuda tidak terdengar suara apapun. Sabarewang tertawa dalam hati. ''He.,he., paling pemuda itu sekarang sudah takluk dibawah dekapan ketiak Nyi Dewi Malam Beracun.!''


''Eeh., apa yang membuatmu tersenyum- senyum sendiri, kau ini mulai gila atau baru kesambet setan.?'' seloroh Satriyana melihat kelakuan Sabarewang. lelaki brewok itu mendengus ''Jangan bicara sembarangan bocah tengik., awas jangan harap aku mau memasak lagi untukmu.!"


"Aduh., kenapa kau mudah sekali marah, aku hanya heran kenapa kakang Sabarewang tertawa sendiri.?"


Sabarewang cuma memberi isyarat dua jari telunjuknya di pertemukan, sementara mulutnya sedikit monyong membentuk ciuman, lalu menuding ke dalam kereta. "Aku sedang membayangkan mereka berdua yang sedang., hek., he.,"


"Membayangkan apa.?" tanya Satriyana tidak paham. tapi berikutnya diapun mengerti apa yang di maksud si kusir kuda itu. wajah gadis itu seketika memerah karena jengah, sementara di hatinya malah timbul perasaan aneh yang sukar di jelaskan.


Kereta Kuda Maut kebanggaan Sabarewang berhenti di bawah dua batang pohon cemara yang sebagian daunnya rontok kekeringan. jendela samping kereta terbuka, seraut wajah cantik melongok keluar. "Apa kita beristirahat dulu di sini kakang Sabarewang.?" tanya Roro dengan suara manja. yang ditanya tertegun sesaat.


"Iya Nyi Dewi., kurasa ini tempat yang bagus untuk melepas lelah.!" jawabnya terbata.


"Hik., hi., hi. Apa kau merasa heran karena aku memanggilmu kakang Sabarewang.?"


"Duh., jangan berprasangka buruk padaku, aku cuma mencoba berkata lebih sopan, bagaimanapun juga umurmu lebih tua dariku.."


"Lagi pula., hatiku sedang gembira, diriku merasa cukup puas dengan kehidupanku sekarang." ujar Roro Wulandari sembari turun dari kereta kuda. di luar wanita cantik ini seenaknya menggeliat dan menguap. dia cuma memakai baju dalam warna hitam bertali kecil hingga kulit tubuhnya yang putih mulus berbulu halus terlihat jelas.


"Eehm., jadi kak Dewi baru bangun tidur yah.?" tanya Satriyana. yang ditanya tersenyum mengangguk. "Eeh., tidurnya barengan kakang Respati.?" selidik gadis itu. Roro cuma mengangguk "Hemh iya., kenapa kau ingin tahu.?"


"Jadi kalian berdua benar- benar sudah melakukan hal itu.,?" seru Satriyana sambil mematukkan dua jari telunjuknya sementara bibir mungilnya mengecup- ngecup seperti orang berciuman.


"Hei gadis sial., memangnya apa yang sedang kau pikirkan. dasar masih bocah kemarin sore sudah bicara mesum..!" damprat Dewi Malam Beracun geram malu bercampur geli. "Siapa yang mengajarimu berpikir bodoh seperti itu., hah.?"


Satriyana jadi bergidik, tangannya tepat menuding Sabarewang. "Dia kak., orang ini yang bilang padaku.!"


Roro mendelik gusar. Sabarewang langsung mengkeret ketakutan. orang ini cepat pergi menghindar. "Aa., Aku akan pergi dulu mencari ka., kayu bakar untuk memasak.!" matanya sempat melototi Satriyana sebelum berlalu.


"Tunggu sebentar., ada yang ingin aku tanyakan padamu.!" satu suara menegur Sabarewang. kusir ini mengeluh karena mengira Respati pasti turut marah padanya. tapi dia kecele.


"Berapa lama lagi kita akan sampai di Wonokerto.?" tanya si pemuda sambil turun dari kereta kuda. sementara matanya menatap tajam sebuah bayangan bukit kecil yang ada di kejauhan.


"Eehm., paling lambat lusa pagi. itupun kalau perjalanan kita lancar.." jawab Sabarewang.

__ADS_1


"Pedangmu sudah patah, sekarang dirimu tidak bersenjata. apa kau tidak ingin mencari gantinya.?" tanya Respati sambil terus menatap bukit di kejauhan. tanpa sadar semua orang ikut melihat ke arah sana.


"Apa yang menarik dengan bukit itu.,?" pikir mereka heran.


"Ehm., itu cuma pedang biasa, tapi karena sudah lama bersamaku senjata itu tetap kupakai meskipun sudah pernah kau patahkan. nanti di Wonokerto akan kucari pandai besi yang bisa membuat pedang. sementara aku bisa memakai pisau belati sebagai senjata.!" jawab Sabarewang. sementara dalam hatinya merasa heran kenapa kawan karibnya menanyakan soal pedangnya yang sudah dibuang karena tidak mungkin dipakai lagi.


"Kita tunda sebentar perjalanan kita ke Wonokerto. aku mau pergi kesuatu tempat karena ada beberapa barang yang harus kuambil. mungkin ada gunanya buat kita.!" kata Respati. "Memangnya kau mau kemana Respati.?" tanya Dewi Malam Beracun.


"Saat melihat bukit di kejauhan itu, baru aku sadari kalau kita dekat dengan tempatku pernah tinggal selama bertahun- tahun.!"


"Jadi kau mau pergi ke bukit itu., tidak akan pernah aku ijinkan. kecuali..,"


"Kecuali apa.,?" tanya si pemuda dingin.


"Hik., hi. Kecuali kau ajak juga kami semua kesana.!" jawab Roro tertawa genit. pemuda itu cuma bisa diam. akhirnya mereka kembali bergerak menuju sebuah bukit di kejauhan sana. "Apa nama bukit itu kakang Respati.?" tanya Satriyana sambil melongok keluar jendela menatap bukit di kejauhan.


"Bukit Lading.!" jawab Respati singkat sembari duduk bersila pejamkan matanya.


Dua orang penunggang kuda berbaju hijau seketika sama hentikan laju tunggangannya saat melihat ada sebatang pohon besar tumbang melintang jalan. "Di lihat dari patahannya, jelas pohon ini bukan tumbang karena rapuh, tapi ada yang sengaja memotongnya.!" bisik baju hijau di sebelah kanan. orangnya tinggi kurus dan berkumis tipis.


Kedua orang berbaju hijau ini edarkan pandangannya. mereka seakan mencium bahaya yang mengintai. tangan masing- masing meraba gagang golok yang terselip di pinggangnya.!


"Sobat., kalau hendak bertemu kenapa juga harus membuat rintangan di jalan dan main sembunyi.!" tegur baju hijau kekar. "Adikku Karsongko., rupanya orang yang hendak bertemu mendadak ciut nyali setelah menyadari sedang berhadapan dengan siapa., Hak., ha.!" ujar Martopo tertawa bergelak di ikuti oleh adiknya.


"Orang yang mau mati biasanya memang suka bicara pongah., kalian dua orang bersaudara sering disebut orang sebagai 'Dua Benggolan Ijo.' buronan kerajaan Blambangan yang lari ke wilayah Demak.!"


"Dalam masa pelarian sempat juga kalian merampok dan membunuh. Hik., hi., lumayan nekat., sayangnya pelarian kalian akan berakhir disini.!" satu suara perempuan tua menegur dari belakang.


Kedua orang bersaudara baju hijau ini kaget bukan kepalang, serentak keduanya menoleh kebelakang. sepuluh langkah dari sana entah sejak kapan muncul seorang nenek tua enam puluhan tahun berjubah hitam. rambutnya yang memutih diikat secarik kain merah. satu keanehan sekaligus keseraman ada dimata nenek ini.


Satu goresan luka bekas senjata tajam terlihat jelas melintang dari pangkal mata kiri hingga ujung mata kanan melewati tulang hidungnya yang pesek. sebuah tongkat berwarna kemerahan sepanjang lebih setengah tombak tergenggam di tangan kirinya yang kurus. nenek tua ini buta.!"


Dua Benggolan Ijo saling pandang lantas tertawa menghina. "Haa., ha. seorang tua buta berani menghadang kami berdua., hoii nenek tua., apa kau sudah menyiapkan liang kuburanmu.?" gertak Karsongko. "Kami sedang terburu- buru, jadi tidak ada waktu untuk menggali makam untukmu.!" tambah Martopo bengis.


Angin mendadak berhembus dingIn disekitar tempat itu. daun- daun rontok berguguran, suasana mendadak hening dan seram. tanpa sadar Dua Benggolan Ijo bergidik. golok ditangannya seakan ikut menjadi dingin.

__ADS_1


"Sii., siapa kau nenek tua.?" bertanya Martopo tanpa sadar. keadaan mata nenek tua itu membuatnya teringat pada seseorang tapi dia masih ragu.


Yang di tanya cuma mendongak agak miring. "Hheih., aku tidak mengerti kenapa Blambangan menghargai kalian begitu tinggi. empat puluh dua keping emas, ditambah tujuh puluh keping perak dan seratus tiga puluh keping tembaga hanya untuk menghabisi nyawa dua orang goblok seperti ini.,"


"Sebenarnya yang tolol itu pihak Blambangan atau kalian berdua yang terlalu bodoh.?" gumam nenek buta itu sambil geleng kepala.


Mendengar ucapan nenek buta itu Dua Benggolan Ijo langsung naik darah. sambil membentak keduanya menggebrak laju kudanya ke depan, sementara goloknya dibabatkan hendak memotong leher si nenek.


Yang diserang hanya diam menunggu. baru saat dua golok lawan tinggal sejengkal dari leher kurusnya, tubuh si nenek mengegos. secara aneh golok lawan membabat tempat kosong hingga kedua penyerang terkesiap.


Dengan menutul punggung kuda Dua Benggolan Ijo berbalik dan melesat cepat. golok di putar membacok empat bagian tubuh lawannya. si nenek buta angkat tongkat merahnya, diputar kanan kiri lalu balik membabat.!


'Traang., traang., crang.!'


Beberapa kali terdengar benturan senjata. Dua Benggolan Ijo terpental ke udara. tangan mereka yang memegang golok terasa nyeri.


"Nenek buta keparat.!" maki Martopo "Matilah kau.!" rutuk Karsongko gusar.


Dari atas udara keduanya meluruk deras sambil bacokkan goloknya. yang diincar tetap leher kepala si nenek buta. kali ini nenek tua itu mendengus, hawa membunuh yang menyeramkan terpancar dari tubuhnya.!


Hanya terdengar dua kali benturan senjata, dibarengi munculnya kilatan benda tajam yang menyilaukan pandangan. tubuh Dua Benggolan Ijo menjejak bumi. mereka membalik mulutnya menyeringai aneh. mirip tertawa tapi juga seperti menangis. kedua golok menuding si nenek., "Ken., kenapa., bisa kau., kau mun., muncul laa., gii.!"


Cuma itu ucapan yang dapat keluar dari mulut dua bersaudara ini sebelum tubuh mereka terbelah dari ujung kepala hingga pangkal pahanya.!


Nenek buta itu mendongak agak miringkan kepalanya. "Aku masih tidak mengerti siapa yang lebih tolol, Blambangan atau mereka berdua.," gumannya sambil melangkah pergi dibantu tongkatnya. tapi baru beberapa langkah dia mendadak berhenti. "Siapa yang ada disana, cepat keluar.!"


"Hak., ha., ha. sungguh tidak disangka bertahun- tahun menghilang rupanya Nyi Sira, si 'Mambang Wanita Buta' masih gemar membunuh demi imbalan..!"


"Kurang ajar., katakan siapa kau.!" bentak nenek buta bernama Nyi Sira. sementara dalam hati dia membatin "suara orang ini sepertinya pernah kudengar., Aah jangan- jangan.,!"


Nyi Sira atau si Mambang Wanita Buta tidak sempat berpikir lebih jauh karena terasa olehnya ada sebuah benda melesat cepat ke arahnya.


Dengan tenang tangan kanannya bergerak menyambut benda bundar berwarna kemerahan itu. tangannya bergetar saat meraba benda berukiran tiga belas muka tengkorak yang ada di telapak tangannya. mulut peotnya menyeringai kejam. "Wahai ketua., walaupun kau punya ratusan orang-orang baru, tapi tetap saja orang lama yang paling bisa kau andalkan., Hek., he. he.!"


Seiring hembusan angin yang meniup dedaunan rontok, tubuh Nyi Sira turut lenyap dari pandangan. hanya tertinggal bau anyir darah yang membasahi tanah dari dua tubuh yang terbelah.

__ADS_1


__ADS_2