13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia rumah neraka


__ADS_3

Lima tahun kemudian.,


Senja baru saja berganti malam saat hujan turun dengan derasnya disertai hembusan angin kencang dan guntur petir yang bergulung. diantara suara gemuruh hujan badai yang mencekam, terdengar bentakan dan teriakan keras yang diselingi suara dentingan beradunya senjata, terkadang terdengar suara jeritan parau dan makian kemarahan. sepertinya telah terjadi satu pertarungan yang cukup sengit disekitar sana.


Tapi semakin lama suara keributan yang awalnya sanggup menembus gemuruh lebatnya hujan angin yang menderu kencang, sekarang menjadi terdengar makin melemah sampai sebuah jeritan panjang penuh kengerian mengakhiri semuanya.


Hujan deras sudah berakhir, tapi gerimis masih membasahi bumi. dihalaman pelataran sebuah rumah besar dan luas milik seorang saudagar emas, terlihat sesosok tubuh gadis remaja berjubah hitam sedang berdiri disana, sebuah kipas perak yang menebar aroma wangi dan berlepotan darah tergenggam ditangan kanannya. di sekeliling tanah pelataran yang luas itu terlihat puluhan tubuh tergeletak mandi darah, ada yang sekarat, banyak pula yang sudah jadi mayat.


Masih ada tiga orang lelaki yang bertahan hidup. seorang setengah tua bertubuh tambun dan berpakaian mewah, sekujur tubuhnya sudah basah kuyup oleh siraman air hujan bercampur keringatnya sendiri.


Orang setengah tua ini bernama Ki Durganda seorang saudagar emas yang terkenal kaya raya dan punya hubungan baik dengan para pejabat kerajaan baik di wilayah barat maupun timur. tapi kini dia hanyalah seorang tua yang penuh rasa ketakutan dan ngeri. dengan berlindung dibelakang tubuh kedua anak buahnya, dia masih berharap bisa selamat dari wanita cantik yang dianggapnya sebagai jelmaan Iblis ini.


''Bunuh dia., Lindungi diriku., Ayoh cepat maju habisi wanita itu.!'' seru Ki Durganda pada kedua anak buahnya. kedua orang itu saling pandang, dengan menahan rasa takut mereka nekat menyerbu dengan babatkan goloknya, hanya dengan menggeser tubuh semampainya ke samping lalu memutar, dua serangan itu berhasil dihindari. dalam tiga jurus perempuan ini cuma bergerak menghindar tanpa mau balas menyerang. dan saat kipas perak bergerak membabat kedua pengawal itupun langsung terjungkal roboh dengan leher masing- masing nyaris putus.


Serangan wanita cantik ini tidak berhenti, kipas perak yang tadinya terkembang kini menutup, tubuhnya yang semampai meluncur kedepan kirimkan lima totokan kipas sekaligus ke tubuh Ki Durganda yang tambun. lelaki itu cuma mendelong, sesaat tidak terjadi apapun padanya. tapi detik berikutnya di perut, dada, leher, wajah dan selakangannya mulai terasa gatal luar biasa, tidak tahan dia mulai menggaruk, semakin digaruk rasa gatal itu semakin menjalar, kini kulitnya di lima tempat itu mulai lecet, terkelupas dan mengucurkan darah. anehnya saudagar itu seakan tidak merasa, dia terus menggaruk tanpa perduli tubuhnya sudah nyaris mandi darahnya sendiri.


Dengan keluarkan suara seperti orang mengorok keras, Ki Durganda menggaruk jakun lehernya sendiri hingga nyaris terbetot keluar, orang ini mati dengan kadaan tubuh terkelupas mandi darah.!


Perempuan muda berjubah gaun hitam ini sudah basah kuyup, tubuhnya cukup tinggi dan langsing, saat cahaya kilat menyabar sekilas terlihat wajahnya yang cantik jelita, hanya saja wajah cantik itu terlihat dingin dan kejam seakan penuh dengan dendam. sebenarnya gadis ini umurnya sudah hampir dua puluh lima tahun, tapi yang terlihat dia seperti belum mencapai umur dua puluhan tahun.


Beberapa langkah dihadapan gadis berjubah hitam itu terlihat seorang perempuan setengah umur yang sedang memeluk satu anak laki- laki yang baru berusia empat tahunan, mungkin mereka adalah Ibu dan anaknya. keduanya telihat menangis dan ketakutan. perempuan ini ingin menjerit melihat kematian Ki Durganda yang bukan lain adalah suaminya, tapi suaranya seakan tercekat di tenggorokan, ketakutan sudah merasuki jiwa raganya.!


Setindak demi setindak gadis bejubah gaun hitam itu perlahan mendekat, sebaliknya perempuan setengah umur itu malah mundur dengan rasa ngeri sambil terus mendekap bocah lelaki itu.

__ADS_1


''Ku., kumohon., Le., pas., lepaskan kami., suamiku juga sudah kau bunuh., kumohon.,!'' ratap perempuan yang mungkin sudah berumur empat puluh lima tahun itu. dengan penuh rasa ngeri dia memandang sekeliling, hampir semua pengawalnya sudah mati terbunuh. jika ada yang masih hidup mereka juga terluka parah, tidak satupun yang sanggup melindunginya.


Hanya tersisa beberapa pelayan perempuan yang sedang meringkuk ketakutan disudut teras depan rumahnya. seorang gadis kurus berkulit pucat terlihat mengawasi mereka, seorang kepala pelayan rumah bertubuh gemuk besar yang terkenal galak mencoba melawan, tapi dengan satu dua kali gamparan dari tangan si gadis kurus mampu membuatnya terkapar dengan kedua pipi bengkak dan mata lebam. satu tendangan menghajar lambung si pelayan gemuk, seketika isi perutnya bercampur darah termuntah keluar. pelayan ini langsung mati mendelik.


Istri saudagar emas masih ingat, dulu kedua gadis muda itu pernah tinggal dirumahnya. yang kecil kurus dan pucat adalah seorang pelayan rendahan dengan pekerjaan yang berat, seringkali dia mendapat bentakan dan caci maki dari kepala pelayannya yang galak. satu lagi gadis berjubah hitam yang berada di depannya dan telah membantai suami serta belasan orang pengawalnya. dulu dia sangat membenci gadis ini karena menjadi penyebab kematian putra pertamanya. tapi sekarang dihatinya hanya ada rasa takut kepada gadis yang seakan telah bangkit dari kematian itu.


''Melepaskanmu.,? Hak., ha., ha., 'Pernahkah kau berpikir kenapa aku bisa kembali hidup setelah mati terkubur., 'Itu karena dalam jiwaku sudah tertanam dendam kesumat setinggi gunung sedalam lautan pada kalian semua. begitu besarnya rasa dendam yang berkobar dihatiku sampai malaikat mautpun enggan mencabut nyawaku dan setan- setan kuburan juga menolak mayatku.!''


'Dan sekarang bisa- bisanya kau memintaku untuk melepaskanmu., ''Dengar wanita keparat.! kematianmu belum cukup untuk menebus semua hutang darah dan perlakuan kejam yang kau lakukan padaku., sekarang aku datang menagihnya berikut rente bunganya.!'' bentak gadis berjubah hitam itu dengan penuh kebencian.


''Ba., baik., baiklah., kau bunuh saja diriku, tapi tolong., kumohon lepaskan anakku, dia tidak tahu apa- apa.,!'' ratap Nyai Durganda sambil terus mendekap anaknya. tapi bocah itu meronta lepas dari pelukan Ibunya.


''Ibuu., aku tidak mau berpisah denganmu., Kakak., tolong kau bebaskan Ibuku., jangan sakiti dia.,!'' teriak bocah laki- laki itu sambil rentangkan tangannya, seakan hendak melindungi Ibunya. gadis berjubah hitam itu tertegun sesaat. matanya menatap tajam si bocah. ''Aku suka dengan anak yang berbakti dan pemberani sepertimu, tapi sayang sekali Ibumu tetap harus mati.!'' desis gadis itu penuh dendam.


''Jangan sakiti Ibuku., dia sudah sangat menderita, hampir setiap hari ayah selalu memukuli kami berdua., tolong kakak lepaskan Ibuku.,!'' jerit anak itu sambil menangis memeluk Ibunya. sikap kedua Ibu dan anak ini mampu membuat hati orang tersentuh, demikian pula kedua orang gadis muda yang tidak lain Roro Wulandari dan Rumilah itu. tanpa terasa Roro menghela nafas. ''Katakan bocah., satu alasan saja kenapa aku tidak boleh membunuh Ibumu.!'' tanya Roro sambil berjongkok didepan si bocah.


Anak itu menunduk tidak menjawab. ''Dia tidak tahu yang telah dia katakan, lepaskan anakku, dan cepat ambil nyawaku.,!'' ujar Nyai Durganda. ''Tidak., Ibu tidak boleh mati, kakak jangan membunuhnya.!'' jerit anak itu. satu totokan dileher sibocah membuatnya lemas dipangkuan ibunya.


''Jangan khawatir, dia hanya tertidur., sekarang katakan sejujurnya kenapa anakmu bilang kau hidup menderita.!' tanya Roro agak menggertak.


Nyai Durganda menark nafas berat, wajahnya seakan terlihat jauh lebih tua dan penuh beban. ''Sejak kelahiran anakku ini suamiku jadi berubah lebih pendiam, lalu mulai berkata kasar dan ringan tangan, semakin anak ini besar semakin dia menjadi- jadi., hinaan, makian dan pukulan selalu kuterima, tidak jarang Linggarana anakku juga menjadi sasarannya.!''


''Ada sebab pasti ada akibat., katakan kenapa lelaki keparat itu sampai melakukannya, apakah karena kelahiran anakmu.?'' desak Roro, meskipun sebenarnya dia sudah bisa menduga sebabnya. ''Ba., bagaimana kau bisa tahu.,?'' tanya Nyai Durganda bingung bercampur takut.

__ADS_1


''Hik., hii., hi., 'Seorang lelaki yang sudah tidak mampu lagi memenuhi kewajibannya sebagai suami bagaimana bisa punya keturunan., dulu dia pernah mencoba berkali- kali menggauli diriku, tapi tidak pernah mampu untuk melakukannya.!''


''Kau telah menipunya dengan hamil dari hubungan gelapmu bersama lelaki lain., bagaimana dia tidak merasa dikhianati dan tercoreng harga dirinya, dasar perempuan rendah.,!'' bentak Roro penuh penghinaan.


Nyai Durganda terduduk lemas, kedua tangannya mendekap wajahnya, wanita ini menangis sesengukan, ''Itu bukan salahku., sejak awal dijodohkan oleh orang tua kami, aku sudah tahu keadaannya, aku terpaksa menerima dirinya karena orang tuaku punya banyak hutang pada keluarganya. dan saat dia inginkan anak, laki- laki itu memaksaku untuk berhubungan dengan seorang pengawalnya., jika aku menolak maka pukulan dan siksaan yang kudapat. sampai akhirnya aku melahirkan Brajawana..'' tutur perempuan itu disela tangisnya. Roro hanya mendengus, dia merasa jijik sekaligus kasihan dengan Nyai Durganda.


''Setelah anak pertamaku mati, dia kembali menginginkan aku mengulangi hal yang sama, aku menolaknya dan berkata bisa menerima keadaannya, kuusulkan agar mengangkat anak saja, tapi dia bersikeras anak itu harus lahir dari rahimku.!'' sambung Nyai Durganda. ''Tentu saja., karena dia tidak ingin orang lain tahu kalau dia tidak mampu punya anak.!'' potong Roro.


''Aku sudah melakukan apa yang dimintanya, tapi kenapa dia memperlakukan kami berdua seperti ini.!'' teriak Nyai Durganda sambil menengadah, wajahnya dibasahi gerimis dan air matanya sendiri.


''Karena semakin anak ini besar wajahnya semakin mirip seseorang., Orang yang berani memakinya sebagai lelaki lemah tanpa daya, orang yang pernah meludahi wajahnya karena tidak mampu melakukan apapun pada seorang wanita.,!'' desis Roro dengan mata berapi- api.


''Aku mengetahui semuanya, karena dirikulah korban mereka didalam kamar terkutuk yang ada dirumah neraka itu.,!'' jerit Roro sambil menunjuk ke rumah besar yang ada di sana. ''Biar kutebak., bukankah bapak anak ini adalah si lelaki biadab yang bernama Gumoro.!'' gertak gadis itu sambil tersengal menahan rasa dendam di dadanya. Nyai Durganda hanya menangis pasrah sambil mendekap Linggarana, mungkin hanya anak inilah sumber kekuatan hidupnya.


Malam semakin dingin, tapi hati setiap orang terasa panas dan sesak. Roro menengadah dalam hati dia berpikir, kehidupan macam apa yang telah dialami wanita ini, mungkin penderitaannya tidak sebanding dengan apa yang telah dia alami. tapi bukan hal yang mudah untuk bisa bertahan dari semua itu. akhirnya dia sudah mengambil keputusan, meskipun tidak yakin keputusannya ini benar atau salah.


''Mbak Rumilah., suruh para pelayan disana mengumpulkan semua harta dan barang berharga dan letakkan di tengah halaman., suruh mereka bekerja secepatnya.!'' ujar Roro Wulandari kepada Rumilah yang memegang sebatang tongkat sepanjang satu depa. dan berjaga di teras rumah besar. ''Kalian semua cepat lakukan semua perintahnya.!'' bentak Rumilah sambil gebrakkan tongkatnya ke lantai batu hingga pecah.


Tidak berapa lama kemudian semua harta dan barang berharga yang ada didalam rumah sudah berpindah ketengah pelataran. Roro Wulandari geleng kepala melihatnya, meskipun berasal dari keluarga berada tapi harta emas permata yang bertumpuk di depannya baru kali ini dilihatnya.


Satu persatu pelayan dipanggilnya lalu diberi sedikit uang dan perhiasan. kemudian setelah memberikan beberapa pesan, secepatnya mereka disuruhnya pergi dari sana. kini tinggal seorang pelayan yang masih sangat muda.


''Kudengar Nyai masih punya seorang paman dan bibi yang sudah tua di Demak, mulai sekarang kau tinggal disana saja.!'' ujar Roro sambil memberikan buntalan besar kain berisi uang dan emas pada wanita itu.

__ADS_1


''Aku tidak pernah melihatmu., pasti kau orang baru. tugasmu tetap melayani Nyai Durganda.,!'' perintah si gadis kepada pelayan yang masih muda itu sambil berjalan kearah seorang pengawal yang tergeletak pingsan, dengan kaki kiri ditendangnya perut si pengawal hingga terbangun. ''Hei., aku masih ingat diantara para pengawal itu, kaulah yang tidak pernah mau menyiksaku, karenanya kubiarkan dirimu selamat., 'Kawal Nyai Durganda dan putranya sampai ke Demak., jika sampai terjadi sesuatu pada mereka kuhabisi kau.,!'' ancam Roro dingin. pengawal itu cuma mengangguk, baginya asalkan bisa selamat dia sudah merasa beruntung.


Dua buah kereta kuda melaju meninggalkan rumah besar yang mulai habis terbakar api, seakan ingin menghapus cerita kelam yang pernah terjadi di sana.


__ADS_2