13 Pembunuh

13 Pembunuh
Siulan kematian yang menyedihkan.


__ADS_3

Angin malam yang berhembus semakin dingin membuat suasana hati semua orang menjadi tercekam ketegangan. segala perubahan yang terjadi begitu cepat dan tiba- tiba dengan kemuculan kembali bekas pembunuh nomor tiga belas angkatan lama yang menghilang, si 'Maling Nyawa' jelas menambah kegegeran dilembah itu, hingga tanpa sadar banyak pesilat dari kedua pihak menghentikan pertarungan mereka.


Demikian juga Respati, jika benar orang yang muncul serta memberinya petunjuk secara diam- diam lewat ilmu menyampaikan suara adalah si pincang yang dalam dunia persilatan mempunyai seabrek gelar yang seram seperti 'Setan Pincang Penyendiri' si 'Siulan Maut' atau 'Pendekar Tanpa Kawan, dia tidak tahu mesti beryukur atau malah khawatir. karena bagaimanapun juga mereka berdua seakan kelak sudah ditakdirkan untuk saling bertemu dalam suatu pertarungan.


''Tadi kau bilang akan ada bantuan lainnya lagi yang bakal datang, lantas dari mana kau tahu dan siapa saja yang akan menyusul kemari.?'' tanya Respati bergumam juga lewat getaran ilmu menyampaikan suara. ''Kenapa dirimu bagitu lamban, nanti kau juga akan tahu sendiri. sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan semua rekanmu yang terluka..''


''Jangan lupakan juga si tuan putri 'Istana Angsa Emas' yang sedang terancam bahaya. soal orang tua bertangan buntung itu biar aku yang hadapi..'' potong suara yang dianggap Respati sebagai si pincang itu. ''Memangnya ada urusan apa kau dengan sibuntung ini.?'' suara si pincang terdengar naik darah. ''Ular sialan., sudah lakukan saja semua secepatnya. jangan banyak bertanya.!''


Dengan agak ragu Respati berkelebat mundur dari tempatnya berdiri. seperti dugaannya si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' tidak memberi kesempatan untuknya berlalu. tanpa sepatah katapun tangan kirinya bergerak membabat dan mencengkeram. lima larik cahaya hijau menyambar merobek udara malam.!


Meskipun Respati sudah menduga lawan tidak akan membiarkannya terlepas begitu saja, namun dia juga tidak mengira kalau orang tua buntung buntung itu begitu tidak kenal ampun. belum lagi inti serangan jurusnya sampai, baju putih sudah robek tercabik dan kulit tubuhnya terasa perih seakan tergurat, bahkan tulang iganya juga seolah diremas remuk.


Dengan merutuk pemuda itu membalik tubuh sambil terus mundur menjauh. tangan kirinya bersiap hendak balas menghantam dengan pukulan sakti 'Kobra Kuning Penjebol Karang'. tapi belum sempat ajian itu terlontar, dari sudut kegelapan melesat lima larik cahaya merah kehitaman berbentuk cakar burung buas yang menebar hawa panas. anehnya suasana sekitar sesaat bertambah semakin gelap dan pekat.!


'Whuuuuss., whuuut.!'


'Slaaaash., blaaaamm., blaaaarr.!'

__ADS_1


''Pukulan sakti 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan.!'' seru Lengan Tunggal Penyambar Roh terkesiap kaget mengenali jurus kesaktian yang sanggup menahan ilmu pukulan saktinya hingga lawan yang dia incar mampu lolos dari maut. dengan pandangan dingin dia menatap kesatu arah.


Dari balik kabut kegelapan malam yang pekat terdengar suara siulan aneh yang membawa kesedihan hati. dari beratus- ratus orang yang berada disana tidak ada satupun yang dapat mengira siulan lagu berirama sedih itu sedang mengungkapkan apa. tapi yang pasti semua orang sesaat terdiam. beberapa orang berilmu rendah bahkan sampai ingin menangis dan berurai air mata.


Siulan lagu yang memedihkan perasaan itu dibarengi dengan suara benda berat dan tajam menyaruk tanah hingga menimbulkan suara menyeramkan yang merobek relung jiwa. kesedihan berbalut kengerian ini sungguh keanehan sukar untuk digambarkan meskipun oleh orang yang pernah mengalaminya sendiri.


'Taapp., sraak., trapp., sreek.!'


'Traapp., sreek., taaapp., sraak.!'


Suara langkah kaki yang terseok menyeret menembusi kegelapan dan tongkat besi hitam yang menancap dan menyaruk permukaan tanah keras berbatu dari seorang pemuda pincang itu seperti membuat iba hati yang melihatnya. tapi anehnya., tidak seorangpun disana yang merasa kasihan. sebaliknya dalam hati mereka sama diliputi ketegangan karena hampir semuanya tahu siapa pemilik siulan dan langkah kaki yang aneh ini.


Entah memang sengaja atau tidak, pemuda yang meskipun berwajah tampan namun agak pucat ini berdiri tepat diantara ketua dari 13 Pembunuh dan si Lengan Tunggal Pengejar Roh. ''Aku tidak ada urusan denganmu. diriku cuma mau bicara empat mata dengan salah satu anak buahmu, sang pembunuh kawakan nomor dua yang dipanggil sebagai si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh.!''


Dengan hanya meliriknya sekilas saja pemuda pucat itu berbicara pada ketua 13 Pembunuh, seakan dia tidak perduli kalau orang tinggi besar berjubah kuning dengan wajah ditutupi topeng tengkorak itu adalah tokoh yang paling menakutkan dalam pertempuran besar di lembah ini. bukan itu saja, bahkan saat bicara nada suara, sorot mata dan raut wajahnya seakan selalu dingin tanpa menyiratkan suatu perasaan apapun. anehnya justru keadaan ini membuat semua orang merasa ngeri dihati.


''Hak., ha., ha., satu lagi kejutan muncul malam ini. tidak kusangka sang pewaris dari lima orang dedengkot tua golongan hitam dari 'Lembah Seribu Racun' juga muncul dilembah sunyi ini untuk turut meramaikan pembantaian besar- besaran yang terjadi disini..'' seru ketua 13 Pembunuh tertawa bergelak.

__ADS_1


''Iblis Pincang Kesepian, si 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan, 'Gelandangan Hantu atau siapapun julukan angkermu diluar sana, mau apa kau datang kemari. ataukah., dirimu sudah merasa bosan dan putus asa karana terus berseteru dengan partai 'Gapura Iblis' hingga memilih bergabung dengan kelompokku..''


''Eehm., tapi kalau kau berminat bersekutu denganku, sekarang juga satu tempat dalam 13 Pembunuh aku pastikan menjadi milikmu. bukan itu saja, perselisihan dendam apapun antara dirimu dengan partai Gapura Iblis akan aku bantu untuk mengatasinya.!'' tegas ketua kelompok 13 Pembunuh alias 'Tuan Sesepuh Istana Utara' ini berusaha menarik dukungan.


Meskipun hampir semua tokoh silat yang berada disana sudah mengira siapa pemuda pincang ini adanya, tapi tetap saja mereka merasa kedatangan pemuda yang lima tahun silam pernah bertengger dijajaran teratas dari sepuluh pendekar muda pendatang baru terkuat dunia persilatan itu sungguh diluar perhitungan siapapun.


Sebagian pentolan lama 13 Pembunuh juga berpikir apakah kemunculan pemuda ini yang hampir bersamaan dengan si Maling Nyawa cuma kebetulan saja ataukah ada hubungan tertentu. selain itu mereka juga penasaran ada urusan apa antara si pincang dengan Lengan Tunggal Pengejar Roh.


Pemuda pincang itu cuma menyeringai sinis, ''Aku mungkin akan tertarik bergabung dengan 13 Pembunuh jika kau berikan jabatan ketua padaku. meskipun orang persilatan yang ingin membunuhku sangat banyak dan bertebaran didelapan penjuru, tapi aku cukup punya kemampuan dan nama besar hingga mampu bertahan hidup sampai sekarang. jadi kurasa., orang sehebat diriku tidaklah pantas menjadi bawahan orang lain. Haa., ha.!''


Jika ketua 13 Pembunuh dan anak buahnya langsung terperanjat dan naik pitam dengan jawaban penuh kesombongan dan penghinaan dari pemuda pincang yang sebenarnya bernama Pranacitra itu hingga berniat mereka berniat menghabisinya saat itu juga dalam sekali hatam, tidak demikian dengan Roro yang baru tersadar dari pingsannya setelah mendapat penyaluran tenaga sakti dari Respati yang datang menolongnya.


''Hei., bukankah pemuda itu si pincang aneh yang kita temui saat kau bentrok dengan 'Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala. Waahh., apa kau mendengar ucapannya Respati. kukira tidak salah kalau sahabatku Puji Seruni sampai jatuh hati kepadanya. gaya dan kata- katanya yang sombong itu mirip sekali denganku yah.?'' gumam Roro tersenyum.


''Jangan mengagumi sesuatu yang tidak patut Roro, lagi pula kita masih dalam ancaman maut..'' sanggah Respati yang baru mengatur pernafasan. ''Ooh begitukah., atau jangan- jangan kau merasa cemburu karena diriku menyukai perangai bekas saingan beratmu dimasa lalu itu.?'' ledek Dewi Malam Beracun.


Respati tidak sempat perdulikan lagi cibiran 'Dewi Malam Beracun' karena disana Ketua 13 Pembunuh sudah menggembor murka sambil lepaskan pukulan sakti 'Patukan Angsa Emas Iblis' menderu ganas yang disusul dengan ajian' Kepakan Sayap Emas Pemusnah Jiwa'. nyawa pemuda pincang itu semakin terancam karena si buntung juga sudah bersiap untuk hantamkan jurus sakti 'Cabikan Seribu Roh Jerangkong Bergentayangan.!'

__ADS_1


*****


Mohon maaf karena kesibukan pekerjaan, kami selalu lambat update. mungkin akhir minggu ini 13 Pembunuh baru bisa update lagi.🙏 Terima kasih.


__ADS_2