
Pintu kolam rahasia itu terbuat dari papan kayu yang tebalnya hampir sama dengan tiga ruas jari orang dewasa, dibentuk serupa dan diberi warna yang sama dengan dinding kamar Rumilah sehingga sulit dibedakan antara dinding dan pintu rahasia. kalau dibuka seperti biasa tentu ada jeda waktu yang membuat lawan bisa bersiap terlebih dulu. maka jalan terbaik adalah menjebol pintu dan langsung menyerang.
Kaki kanan mundur setindak hingga dibibir undakan tangga, Roro perlu tumpuan kuat dan jarak yang cukup untuk menghancurkan pintu. tenaga dalamnya tersalur penuh hingga cahaya serta asap merah darah semakin panas menyala. dan saat tangan kiri itu menghantam lima larik cahaya merah panas melabrak dasyat, pintu itupun jebol.!
'Wheet., Craas., Brraaak.,!'
'Sheeet., seet.,!'
Begitu pintu jebol, tubuh Roro Wulandari langsung berkelebat cepat keluar ruangan, dia sengaja bergerak bergulingan ke lantai sambil melepaskan selusin jarum dan pisau terbang beracun untuk mempersulit daya pandang mata lawan.
Di sana terdengar jeritan tertahan disusul terjungkalnya dua sosok tubuh berbaju hitam. seorang lagi lebih sigap menghadapi serangan mendadak ini. dengan pedangnya orang ini bukan saja berhasil menangkis rontok tiga senjata rahasia Roro, malah juga mampu langsung balas menyerang pertanda ilmu silatnya lumayan tinggi.!
Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun tidak dapat melihat wajah penyerangnya karena tertutup kedok hitam, cuma sepasang matanya yang terlihat mencorong tajam. sekilas dia juga melihat Rumilah duduk diatas balai bambu dengan pandangan mata kaget dan bingung, tapi anehnya tubuh Rumilah tidak bergerak seakan tertotok kaku.
''Kakak Rumilah., bagaimana keadaanmu., jawab aku.!'' seru Roro, dia makin khawatir karena Rumilah cuma diam membisu. tapi Roro tidak dapat berpikir lama karena serangan pedang orang berkedok hitam semakin gencar menggempurnya. jurus serangannya bukan saja aneh tapi juga ganas, selama lebih dari lima jurus Roro terkurung ditengah sambaran pedang lawan.
Tidak ada peluang baginya untuk melepas pukulan sakti atau senjata rahasia bahkan untuk mengeluarkan kipas peraknya saja juga tidak sempat. dia terpaksa hanya bisa mengandalkan tangan kakinya untuk bertahan dan menyerang balik. beberapa kali tubuhnya hampir termakan pedang lawan, masih untung dia memiliki ilmu meringankan tubuh dan kelicahan gerak yang hebat hingga masih mampu selamat dari maut, tapi entah sampai kapan dia bisa bertahan.
'Wheet., Sheet., Crass.!'
'Whuuk., Plaak., Dheess.,!'
__ADS_1
Dua sosok tubuh terpental kedua jurusan, Dewi Malam Beracun berdiri terhuyung, kaki kirinya sedikit goyah, celana hitam yang menutupi pahanya robek mengucurkan darah. di penjuru lain si kedok hitam jatuh terjengkang perutnya yang serasa jebol terkena dua tendangan beruntun Roro. kain hitam yang menutupi mulutnya terlihat basah, orang ini luka dalam dan muntah darah.
Dewi Malam Beracun seakan tidak perduli dengan luka di paha kirinya, ''Katakan siapa dirimu sebenarnya.,!'' bentak Roro sambil membentang kipas peraknya, sementara ditangan kiri siapkan jarum beracun yang hanya tersisa empat batang saja.
Orang itu tertawa mengekeh, pedangnya dilemparkan ke depan, sementara tubuhnya berguling kebalai bambu, Roro merutuk, kipasnya begerak menangkis pedang lawan yang meluncur cepat, saat hendak memyerang balik dia langsung terdiam.
''Hek., he., 'Buang senjatamu sekarang atau nyawa kakakmu lenyap.!'' gertak si kedok hitam sambil lintangkan sebilah pisau belati tajam dileher Rumilah, wajah wanita itu terlihat pucat ketakutan. ''Lepaskan dulu totokanmu dilehernya, aku ingin bicara dengannya.,!'' ucap Roro sangsi. si kedok hitam melirik Rumilah sebentar lalu menggeleng. ''Aku yang membuat aturannya, kau tinggal menuruti saja.!'' geramnya marah. ''Cepat buang senjatamu, atau lebih baik lagi kau bunuh dirimu sekarang juga.,!''
Roro tersenyum tipis, bibir merahnya keluarkan suara mendesah, kipas perak dan jarum beracunnya dibuang begitu saja di lantai ruangan. kedua tangannya terangkat membuka gelungan kecil diatas rambutnya. seketika rambut hitam lebat dan panjang jatuh hingga ke pinggangnya.
Wanita secantik bidadari ini melangkah gemulai mendekati lawannya, orang itu sekejab menelan ludah melihat pemandangan ini. tapi dia cepat sadar dan membentak garang, ''Cukup., Berhenti disitu,!''
Wajah Roro memelas ''Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan kepada kakak seperguruanku tercinta., Senjata sudah kubuang kekuasaan ada ditanganmu, apa lagi yang perlu kau takuti dariku.,?'' sambil bertanya dia terus saja melangkah perlahan, lalu berhenti hanya dua langkah didepan Rumilah.
Rumilah masih beruntung, saat Roro mulai mendekat dia sudah waspada hingga sempat gulingkan tubuhnya, dari sudut ruangan wanita ini menyerang Roro dengan buas. jari tangan kanan menotok, telapak tangan kiri menghantam. cahaya kuning redup dan hawa dingin mengiringi serangannya.!
''Totokan Pembeku Jantung., 'Tapak Peremuk Tulang.!'' seru Roro kaget saat mengenali ilmu pukulan lawannya. karena kedua jurus inilah yang paling diandalkan Rumilah., meskipun yang ini belum sempurna tapi cukup berbahaya.
Roro mendengus, sepasang tangannya yang membentuk cakar berwarna merah darah menyambar, hawa dan asap panas berbau anyir menghampar, maka tak ampun lagi ilmu Cakar Tengkorak Darah saling hantam dengan jurus Totokan Pembeku Jantung dan Tapak Peremuk Tulang.!
'Whuuss., Whuus., Braaakk.,!'
__ADS_1
''Aaaahk.,!''
Jeritan menyayat keluar dari mulut Rumilah, tubuhnya terpental keras menabrak dinding. sepasang tangannya hancur sampai ke lengan, hawa panas pukulan Roro terus merasuk hingga mengoyak rongga tulang dadanya. tak ampun lagi wanita inipun tewas dengan darah berhamburan.
Roro Wulandari berdiri terhuyung lalu jatuh terduduk, sepasang tangannya terjuntai kaku tak mampu digerakkan, pernafasannya terasa sesak. dia harus kerahkan tenaga dalam untuk melawan hawa dingin yang menyerangnya.
Justru karena jatuh terduduk, dia bisa melihat ada dua pasang kaki manusia di bawah balai tempat tidur Rumilah. anehnya Roro malah tertawa lepas meskipun baru saja membunuh saudara segurunya. apakah hati wanita ini sudah sedemikian kejamnya,?
Setelah mampu bangkit, Roro membalik balai bambu itu, disana terbujur dua orang perempuan., Rumilah dan muridnya.!
Dengan tangan kanan Dewi Malam Beracun membebaskan totokan yang membuat tubuh kedua orang itu kaku, setelah mengatur nafas Rumilah mampu berdiri, lalu cepat menolong muridnya yang sepertinya terluka dalam cukup parah.
Roro bergerak menghampiri sosok tubuh perempuan yang telah jadi mayat, tangannya menarik selembar topeng tipis dari wajah perempuan itu, ''Topeng yang bagus, pasti buatan seorang ahli.!'' gumam Roro kagum. dia mengamati wajah mayat yang masih cukup muda, ''Kau kenal dengannya.,?'' tanya Roro sambil menoleh. Rumilah menarik nafas berat lalu mengangguk, ''Dulu dia salah satu muridku, bahkan murid pertamaku.!'' jawabnya dengan raut muka sedih. sementara kedua telapak tangannya terus menempel ke punggung sang murid untuk mengobati luka dalamnya.
Rupanya Rumilah yang tadi menyerang Roro bersama si kedok hitam yang sudah jadi mayat itu adalah bekas muridnya yang sedang menyamar, alias Rumilah palsu.! Roro membuka kedok hitam ketiga orang yang terkapar di lantai, Roro juga tidak mengenali mereka, tapi dia agak terkejut saat membuka pakaian hitam ketiganya.
Dibagian dada mereka bertiga terajah gambar seekor kelelawar besar berwarna hitam sedang mencengkeram sebatang pedang. ''Serikat Kalong Hitam.,!'' desis Roro mengenali tanda di dada ketiga mayat itu. perempuan cantik ini merenung, dia tahu betul tentang perkumpulan ini, karena mereka sama dengannya dari 13 Pembunuh, sama- sama perkumpulan pembunuh bayaran. bahkan bisa dikatakan saingannya.
Sejauh ini kedua perkumpulan ini sudah dua kali bentrok, pertama hampir tujuh tahun silam, saat itu pembunuh nomor lima mendapat tugas menghabisi seorang pesilat ternama yang baru saja diangkat menjadi salah satu tokoh silat istana, tapi rupanya ada pihak lain yang juga mengincar sasaran yang sama, meskipun pembunuh nomor lima berhasil melaksanakan tugasnya, tapi dia kembali dalam keadaan luka parah, sebelum mati orang ini sempat menyebut nama Serikat Kalong Hitam.!
Kejadian ini membuat ketua 13 Pembunuh naik pitam. pembunuh nomor dua, tiga, nomor enam atau si Gada Rahwana dan nomor sepuluh diperintah untuk menghancurkan Serikat Kalong Hitam yang telah berani bersengketa dengannya. setelah seminggu mencari akhirnya keempat pembunuh itu mampu menemukan sarang perkumpulan itu sekaligus membantai hampir seluruh anggotanya, konon beberapa pentolan perkumpulan ini berhasil kabur dengan membawa luka parah. sejak saat itu jejak mereka lenyap.
__ADS_1
Bentrokan kedua terjadi tiga tahun setelahnya, tepatnya saat 13 Pembunuh membantu kaum pemberontak untuk menggulingkan kekuasaan Majapahit, rupanya para petinggi kerajaan itu juga menyewa orang- orang dari Serikat Kalong Hitam untuk menghadang serbuan pasukan pemberontak. meskipun Roro Wulandari tidak ikut terlibat dalam penyerbuan itu tapi cerita ini juga sempat di dengarnya.
Suara ketukan dari luar kamar menyadarkan lamunan Roro, perlahan dibukanya pintu kamar itu, dua orang perempuan tua muda berada di depannya, yang setengah umur menggendong bayi, seorang lagi gadis remaja belasan tahun berbaju hitam tanpa lengan sepertinya. ''Kakak Dewi lama sekali perginya., kami makin khawatir dengan luka kakang Sabarewang.,!'' ucap gadis yang bukan lain Satriyana. tanpa bicara Roro berkelebat keluar sembari mengutuki dirinya sendiri.