
Di sebuah pulau karang terpencil yang terletak diantara belasan pulau- pulau kecil dan berada di antara selat Sunda, nampak sebuah kapal berukuran cukup besar baru saja berlabuh. tempat bersandarnya kapal itu letaknya agak tersembunyi diantara tonjolan batu karang hingga tidak mudah terlihat.
Hari itu sudah di penghujung senja. cahaya matahari yang hendak terbenam terlihat membias warna jingga kemerahan terpantul di atas permukaan laut. gulungan ombak yang tidak begitu besar disertai hembusan angin samudra membuat suasana cukup menenangkan hati.
Dari geladak kapal itu berlompatan keluar belasan orang berbaju kuning keemasan yang disusul oleh lima orang berpakaian ringkas warna hitam. dengan cepat mereka masuk kedalam pulau karang dengan meninggalkan beberapa orang berseragam kuning untuk menjaga kapal.
Selain kapal yang baru saja berlabuh, disana juga terdapat tiga buah kapal lain dengan ukuran yang sama dan sebuah kapal lagi terlihat lebih besar dan megah dibandingkan empat kapal lainnya. di ujung tiang layar kapal- kapal ini terdapat sebuah bendera yang berkibaran. sebuah lukisan seekor angsa emas terlihat di bendera itu.
Roro Wulandari baru saja selesai bersemedi untuk melatih tenaga dalamnya di sebuah kamar tempatnya beristirahat saat terdengar suara ketukan dari luar pintu. ''Apakah Nyi 'Dewi Malam Beracun' bisa keluar sebentar, para penjemput yang kami utus sudah kembali bersama orang- orang persekutuan 'Bulan Perak' pimpinan Nyi Dewi..''
Mata wanita cantik itu berkilat tajam. ''Terima kasih., kau boleh kembali dan mengatakan pada yang lainnya kalau aku segera kesana..'' sementara dalam hatinya dia terkekeh. ''Hii., hi., Nyi Rumilah kakak seperguruanku ini memang selalu bisa diandalkan dan tidak akan pernah membuat diriku kecewa..''
''Eehm., aku jadi punya pikiran. jika kelak semua urusan yang menyebalkan ini selesai, aku mesti mencarikannya lelaki tampan yang jujur, gagah, baik hati dan kaya raya sebagai calon suaminya. karena bagaimanapun juga., kakakku itu selain cukup cantik juga seorang tabib terkenal. jadi tidak sembarangan orang layak menjadi pasangan hidupnya..'' gumam Roro tersenyum sambil mengenakan kembali jubah gaun hitamnya yang tergantung di dinding kamar.
Sebelumnya dia mengambil sebuah gulungan kain putih dari atas tempat tidurnya. tidak ketinggalan Roro memercikkan cairan pengharum di tubuhnya. wanita cantik yang terkenal pemberani, tinggi hati dan punya seribu satu siasat licik ini paling takut kalau tubuhnya di bilang bau keringat. dengan sunggingkan senyuman Roro berkelebat keluar dari kamar tidurnya.
Saat dia tiba di sebuah ruangan besar, di sana sudah menunggu semua rekannya. Ki Ageng Bronto si 'Pendekar Golok Bayangan Setan', Sabarewang, Birunaka dan Jurata. tidak ketinggalan pula Puji Seruni si 'Dewi Seruni Putih' dan suami istri ketua perguruan silat 'Lutung Ciremai' alias si 'Raja Ratu Lutung Sakti'.
Dari pihak Istana Angsa Emas juga telah hadir Ki Sabda Langitan yang di juluki sebagai si 'Tangan Penggoncang Langit', Kyai Jabar Seto dan sahabat karibnya I Gede Kalacandra atau 'Dewa Serba Putih' serta dua orang 'Panglima Istana Kiri' dan Panglima Istana Tengah'.
Selain itu masih ada tiga orang lelaki kekar empat puluh tahunan yang memancarkan hawa kesaktian dari dalam tubuhnya dan membekal sebilah pedang besar dipunggung. Roro menduga mereka ini adalah pimpinan dari 'Pasukan Pedang Angsa Sakti'.
Saat itulah muncul tiga orang perempuan berbaju dan bercadar hitam dengan sulaman bulan sabit yang langsung menghampiri Roro. setelah memberi salam hormat salah satu diantaranya memberikan laporan. "Lapor ketua., lima saudara telah berkumpul di goa rahasia sambil membawa obat penangkal racun untuk para anggota persekutuan.."
"Dua orang lainnya sengaja memisahkan diri untuk memantau pergerakan dari kaum persilatan dan kerajaan yang sepertinya juga berniat untuk ikut mengadu peruntungan di pulau 'Seribu Bisa' sekaligus mencoba untuk menghubungi rekan- rekan ketua si 'Putri Penjerat, si 'Maling Nyawa' dan yang lainnya..''
''Hhm., terima kasih atas kerja kalian yang sangat cepat dan bagus..'' puji Roro memberi isyarat ketiga anak buahnya untuk mundur. pandangannya teralih ke tengah ruangan. di sana terdapat sebuah meja besar dengan beberapa peti kayu kecil diatasnya. saat dia membuka tutup peti itu, terlihat didalamnya puluhan periuk berwarna kemerahan.
Roro mengambil gulungan kulit binatang yang berada diatasnya. saat dibuka terdapat tulisan ''Karena waktu dan bahan yang terbatas, tidak mungkin bagiku untuk membuat minyak oles penangkal racun seperti yang kau berikan. tapi kubuat berupa butiran obat. secara keseluruhan aku hanya berhasil membuat empat ratus lima puluhan butir obat penawar racun. tapi yang harus kau ingat, obat itu hanya bisa bertahan paling lama satu hari penuh. setelah itu daya pemunahnya akan menurun dan lenyap dari dalam tubuh pemakainya.!''
__ADS_1
''Sebenarnya ada cara agar jumlah obat itu mencukupi untuk dipakai lebih banyak orang. kau bisa membagi obat itu menjadi dua bagian. tapi khasiat obat penangkal racun itu hanya akan bertahan kurang dari setengah hari saja. namuni orang yang punya tenaga dalam tinggi mungkin dapat lebih lama bertahan..''
''Satu cara lagi adalah mencampurkan dua butir obat ke dalam air kelapa muda. sebutir kelapa muda bercampur obat penangkal racun itu dapat di minum oleh lima atau enam orang. tapi khasiat obat hanya akan bertahan tidak lebih dari dua kali waktu penanakan nasi saja..''
''Mendiang guru kita pernah bilang meski kalau kau memiliki kemampuan berpikir yang tinggi namun dirimu juga punya kelemahan. kau kadang terlalu percaya diri dengan semua tindakanmu. ingatlah Roro., segala yang kita perbuat kadang bisa berakibat buruk tidak saja pada kita sendiri namun juga orang lain. berhati- hatilah dalam setiap langkahmu. dari kakak segurumu., Rumilah..''
Roro Wulandari mengatakan segala yang tertulis disana pada semua orang yang hadir di ruangan itu. ''Semua pesan yang dituliskan oleh kakak seperguruanku sudah kukatakan pada kalian semuanya. aku sudah sediakan obat penangkal racunnya, keputusan tentang cara apa yang akan di pilih untuk memakai obat itu agar cukup bagi semua., tergantung keputusan kalian sendiri dari 'Istana Angsa Emas..''
Saat bicara Roro juga lebih dulu mengambil empat buah periuk kecil dari salah satu peti. jika satu periuk berisikan lima butir obat, maka dia telah mengambil dua puluh butir obat penawar racun. tindakannya ini sempat membuat Panglima Istana Kiri dan pihak Istana Angsa Emas merasa curiga.
Tapi belum sempat lelaki itu bertanya Roro sudah keburu berkata. ''Semua ini akulah yang mengaturnya. obat penangkal racun itu kakak seperguruanku juga yang bersusah payah membuatnya. jadi sangatlah wajar jika diriku mengambil obat sebanyak yang aku mau. selain untukku sendiri tentu saja semua kawanku juga harus mendapatkan obat ini lebih dulu. sedangkan sisanya., silahkan saja kalian membaginya sendiri..''
Meskipun apa yang dikatakan Roro cukup beralasan namun tetap saja ada perasaan kurang enak di hati sebagian orang Istana Angsa Emas. tapi mereka tidak dapat berbuat apa- apa karena masih untung Dewi Malam Beracun mau berbagi obat penawar racun itu pada mereka.
''Soal pembagian obat aku dan sahabat- sahabatku tidak mau ikut campur. tapi yang jelas., dalam tiga hari ke depan kita mesti sudah berkumpul di pantai selatan Jawa. karena pada malam harinya adalah waktu yang sangat tepat bagi kita untuk berangkat menyeberangi lautan menuju pulau 'Seribu Bisa. untuk itu kita mesti persiapkan kapal- kapal yang besar dan sangat kuat untuk dapat membawa kita semua kesana..''
''Di kain putih ini sudah aku gambarkan dua buah tempat. satu adalah bagian dari pantai selatan dimana kita akan berangkat, sedang yang lainnya adalah denah dari pulau Seribu Bisa lengkap dengan goa dan tempat- tempat rahasianya yang pernah kulihat..'' terang Roro Wulandari sambil merentangkan gulungan kain putih itu diatas meja.
Semua orang turut membantu mendekat ke meja itu. di atas gulungan kain putih yang cukup lebar itu terlihat gambar pantai dan lautan. juga ada sebuah bulatan besar dengan banyak titik- titik aneh dan keterangan penjelasannya. di bagian tengahnya terdapat tulisan pulau Seribu Bisa.!
Di saat semua orang sedang memusatkan perhatiannya pada penjelasan Roro Wulandari mendadak wanita cantik berjubah dan bercadar kuning yang di gelari sebagai 'Panglima Istana Tengah' bertanya, 'Maaf saudari Roro., tapi kenapa kita mesti harus memilih berangkat ke sana pada malam hari.?''
Tanpa sadar semuanya tertegun. meskipun pertanyaan ini terdengar tidak penting tapi juga mengundang rasa penasaran. hampir bersamaan mereka menatap Roro yang cuma mendesah kesal. ''Itu karena pulau Seribu Bisa bukanlah tempat yang bisa terlihat dengan pandangan mata biasa. hanya dengan mantra tertentu dan waktu gelap pulau itu dapat terlihat.
Hujan yang mengguyur deras sejak senja hari itu baru saja mulai reda, saat dua sosok bayangan manusia berkelebat muncul di depan mulut sebuah goa batu yang berada di lereng sebuah bukit karang. salah satu dari kedua orang itu terlihat memanggul sesosok gadis muda yang telanjang bulat.
Tubuh gadis itu terlihat basah kuyup oleh siraman air hujan. dari keadaannya jelas dia sedang tertotok hingga tidak sadarkan diri. orang satunya yang bertubuh tinggi segera berseru, ''Ki Kala Mayit., kami dua orang sobat lamamu sengaja datang berkunjung dengan membawa buah tangan yang pastinya kau sukai.!''
__ADS_1
Dari dalam goa batu terdengar sautan gelak tawa seram. ''Haa., ha., ada angin apa hingga Ki Ageng Bangkal Sungsang dan Ki Maung Gembong sampai menerobos hujan lebat dan jarak yang jauh hanya untuk mengunjungiku. pastinya kalian berdua punya tujuan tertentu bukan.?''
Dua orang yang berada di luar goa saling lirik lantas terkekeh. ''Hee., he., kau masih saja tidak berubah. berangasan dan tidak suka berbasa- basi. sekarang kau terima dulu hidangan pembukanya. gadis perawan berdarah biru kesukaanmu yang baru saja kami culik dari rumah seorang bangsawan keraton..!'' seru orang bertubuh gemuk pendek yang bernama Ki Maung Gembong sambil melemparkan gadis muda dari atas panggulan ke dalam goa gelap yang berada di depannya.
Lemparan itu meskipun dilambari tenaga kesaktian namun bergerak tidak begitu cepat dan terarah seakan tubuh gadis telanjang itu sedang melayang lalu lenyap di balik kegelapan goa batu. tidak berapa lama kemudian dari dalam goa terdengar suara dengusan nafas memburu yang diakhiri dengan geraman keras yang menggetarkan sekitarnya.
''Haa., ha., sudah begitu lama diriku tidak merasakannya. sayangnya meskipun hasrat yang terpendamku sudah tersapu tapi kekuatanku masih belum pulih sepenuhnya hingga tidak dapat pergi keluar goa ini. karana jika tubuhku terkena cahaya matahari pasti kelumpuhan kembali menyerang tubuhku. Huhm., keparat sialan.!'' dengusnya penuh kebencian.
''Sudah kukatakan kami punya dua buah tangan. satu sudah kau nikmati sedang yang satu lagi aku jamin dapat menyapu habis penyakit yang menggerogoti tubuhmu. asalkan kau tahu saja., kami berhasil mendapatkan sebotol guci yang berisikan 'Darah Keabadian.!'' terang Ki Ageng Bangkal Sungsang yang bertubuh tinggi.
''Aa., aap., apa yang kau bilang., kalian telah mendapatkan Darah Keabadian.? cep., cepat berikan padaku.!'' teriak orang di dalam goa tergagap diliputi nafsu serakah. Ki Ageng Bangkal Sungsang menyeringai. ''Itu soal mudah, tapi kami inginkan sesuatu rahasia yang berhubungan dengan keberadaan dari pulau Seribu Bisa.!''
''Ken., kenapa kalian menginginkan rahasia tempat sialan itu. sudahlah., berikan Darah Keabadian itu padaku duluan baru kita bicara masalah itu..'' desak orang bernama Ki Kala Mayit itu dari dalam goa. dengan menyeringai Ki Ageng Bangkal Sungsang lemparkan sebuah guci kecil ke dalam goa. dari sana terdengar suara orang meneguk sesuatu. sepeminum teh berikutnya terjadi gemuruh dan ledakan tenaga sakti yang mengguncang goa batu.
''Haa., ha., luar biasa kekuatanku sudah pulih.!'' seru Ki Kala Mayit terbahak. terdengar angin berhembus disertai munculnya tubuh seorang tua bungkuk bermuka sangat pucat, berbaju rombeng dan bau apek. orang inilah yang bernama Ki Kala Mayit. ''Hhem., bagus jika kekuatan saktimu sudah kembali pulih. asalkan kau tahu saja., Darah Keabadian itu kami dapat dengan harga yang teramat mahal serta harus bersaing dengan banyak orang..'' ucap Ki Maung Gembong.
''Dari penelusuran kami akhirnya dapat kita pastikan kalau guci kecil yang berisi Darah Keabadian itu berasal dari pulau Seribu Bisa. tempat di mana adikmu si 'Kala Demit' pernah menjadi anggota nomor lima dari 'Kelompok 13 Pembunuh'. aku tahu semasa hidupnya adikmu pernah memberitahukan mantra yang dapat menembus tabir gaib pelindung pulau itu hingga tidak dapat terlihat..''
''Singkatnya., kita bertiga dan mungkin juga banyak kawan- kawan persilatan berniat untuk menyusup ke sana. kita rebut Darah Keabadian itu juga semua rahasia yang berkaitan dengan Istana Angsa Emas. karena jika Darah Keabadian itu ada di sana, maka si pemilik darah ajaib sekaligus sang pewaris Istana Angsa Emas itu juga pasti berada dalam cengkraman 13 Pembunuh.!'' ujar Ki Maung Gembong mulai menebar pancingan.
''Meskipun kelompok 13 Pembunuh punya kemampuan yang sangat menakutkan, tapi jika mereka harus menghadapi serbuan banyak tokoh silat kelas atas tentu juga merepotkan. kita biarkan saja mereka saling bunuh, lantas kita ambil semuanya terutama si pemilik Darah Keabadian itu..'' sambung Ki Ageng Bangkal Sungsang.
''Bagus., rencana yang hebat. kebetulan aku pernah mendapat tinggalan suatu minyak oles penangkal racun dari adikku Kala Demit. dengan demikian kita dapat lebih mudah untuk menyusup ke pulau Seribu Bisa.!'' sambar Ki Kala Mayit. ketiga orang inipun saling pandang dan tertawa bergelak sebelum berkelebat lenyap dari sana.
*****
Asalamualaikum., Salam sejahtera dan sehat selalu buat kita semua. kami author novel 13 Pembunuh mengucapkan banyak Terima kasih kepada para Reader pembaca, karena tidak pernah kami sangka novel 13 Pembunuh dapat menembus angka popularitas 1M👏.
Mungkin bagi author lain angka segitu tidak berarti. tapi bagi kami sudah luar biasa karena ini cuma iseng" nulis. Ora Serius Blas.! dulu perkiraan kami malah cuma 100 K saja sudah lumayan banyak ☺. sekali lagi Terima kasih dan Mohon maaf jika ada kesalahan dalam bentuk apapun. (Chapter yang ini adalah yang paling panjang di novel 13 Pembunuh)👌. Wasalamualaikum.
__ADS_1