13 Pembunuh

13 Pembunuh
Angonan Mayit Sewu., Penggembala Seribu Mayat. (bag2)


__ADS_3

Jika orang- orang yang berada dipihak 'Istana Angsa Emas' merasa terdesak hebat, tidak demikian halnya dengan kelompok 13 Pembunuh. dengan berdiri dibelakang sang pimpinan mereka sama tergelak melihat pembantaian yang berlangsung didepan mata. Sekali lagi si topeng tengkorak gerakkan kedua tangannya, kabut gaib berlipat menjadi lebih tebal meskipun kadar racunnya tidak lagi seganas sebelumnya.


''Haa., ha., orang- orang istana Angsa Emas, tidak perlu lagi membuang tenagamu. Aku sarankan untuk tunduk dan menyerah saja, siapa tahu ketua kami dapat memberikan ampunan.!'' gelak si Setan Arak sambil teguk kendi minuman kerasnya. ''Huhm., paling tidak jika matipun raga kalian akan tetap utuh..'' timpal Klowor Gombor mendengus hina.


''Dasar manusia keparat bermulut busuk., jangan pernah berharap kami menyerah. lebih baik kami bertarung sampai tetes darah terakhir.!'' seru salah satu anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' gusar sambil sabetkan pedangnya memenggal kepala satu mayat hidup. ''Benar kawan., lagian kita juga belum tentu kalah.!'' sambung yang lain turut menyemangati rekan- rekannya.


''Ketua 13 Pembunuh., kau sudah mendengar apa yang dikatakan mereka. anggota Istana Anggsa Emas bukanlah kaum pengecut yang takut kehilangan nyawa.!'' teriak Ki Sabda Langitan. Sekali kedua kepalan tangannya menghantam empat kepala mayat hidup pecah berantakan bersamaan dada mereka jebol berlubang besar.


Secara beruntun Respati dengan pedang Iblis Hitamnya, juga Kipas Darah Bulan Mentari ditangan Roro Wulandari, tidak ketinggalan juga Ki Ageng Bronto alias si 'Pendekar Golok Bayangan Setan, Birunaka dengan pentung saktinya bersama Satriyana serta para tokoh silat lainnya sudah gunakan senjatanya masing- masing berusaha untuk merobohkan pasukan mayat hidup yang datang seolah tiada hentinya.


Kabut gelap kelabu yang tersebar semakin tebal dan meluas hingga pandangan mata semua orang jadi terhalang. belum lagi bau wangi menyengat hidung bercampur aroma busuk yang memuakkan yang terpancar membuat orang terpaksa harus menahan pernafasannya.


Pertarungan besar- besaran yang terjadi dilembah sunyi dalam waktu yang sangat lama ini sungguh memaksa para tokoh silat yang terlibat didalamnya menguras seluruh tenaga dan segala ilmu kesaktiannya hanya untuk dapat bertahan hidup.


Sementara itu jauh dalam hatinya Roro si 'Dewi Malam Beracun' merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini. karena meskipun berada diatas angin dengan pasukan mayat hidupnya, tapi ketua 13 Pembunuh tidak seharusnya hanya diam tanpa memerintahkan apapun pada anak buahnya. dalam pikiran wanita cerdik itu keadaan seperti ini adalah sesuatu yang aneh.


''Bukankah jika dia mau menggunakan anak buahnya untuk turut menyerbu, kemenangan pasti akan lebih cepat diraihnya karena kami sudah dalam keadaan kelelahan. tapi kenapa orang itu hanya membuat kabut semakin tebal meskipun kadar racunnya justru berkurang. sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan.?'' batin Roro berpikir keras sambil kipasnya membabat dua mayat hidup yang mendadak muncul dari balik kabut.

__ADS_1


''Bedebah sialan., pandangan mataku jadi terbatas sampai kesulitan melihat sekitarku. bukan hanya harus mengatur pernafasan yang sesak bahkan bagaimana keadaan teman- teman juga tidak kuketahui. Aah tunggu dulu., jangan- jangan ketua 13 Pembunuh memang sengaja hendak membuat kami saling terpisah oleh kabut beracun.!''


''Jika begitu sasaran dia yang sebenarnya pastilah., Aah setan alas. Siapapun tolong lindungi Satriyana., adikku berhati- hatilah mungkin akan ada orang yang mengincarmu. Birunaka kau jaga gadis itu, aku akan segera datang.!'' seru Roro panik dengan tiga kali kebutan kipasnya dia membuat kabut pekat tersibak, lantas betuntun membabat putus leher sesosok mayat hidup yang hendak menggigit leher salah satu anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti.


Wanita cantik jelita itu baru saja berniat menerobos kepungan mayat hidup menuju tempat Satriyana berada. tapi dari balik kabut terdengar teriakan kesakitan dan makian Birunaka yang disusul suara jeritan Satriyana yang meminta pertolongan. ''Birunaka cepat bangunlah. Aakh., kakak Dewi, kakang Respati tolong kami.!''


''Aah sialan. Ughh., hugh., kita semua harus tetap berdekatan agar dapat saling bantu. mereka seperti sengaja berniat membuat kita terpisah dengan kabut asap ini.!'' teriak Respati memberi peringatan. karena bicara diapun sempat terbatuk- batuk kemasukan kabut asap. meski racunnya tidak begitu mematikan tapi dapat membuat nafas sesak dan tubuh melemah.


''Satriyana bertahanlah., kakak akan datang menolongmu. Birunaka, apa yang terjadi padamu.?'' jerit Roro gusar dan panik. Kipas Darah Bulan Mentari yang tergenggam ditangannya menggebut buyar kabut asap sekalian menotok tembus dan membabat putus batok kepala empat mayat hidup yang mengepungnya. wanita ini benar- benar mengamuk.!


Roro tiba hampir bersamaan dengan Kyai Jabar Seto' dan Ki Ageng Bronto. disebabkan kabut yang tebal ketiganya hampir saja salah sasaran, nyaris saling serang diantara rekan sendiri. beruntung si Maling Nyawa yang tiba terakhir dapat mencegahnya. baru mereka semua menyadari kalau kabut gelap itu juga mampu mengacaukan pikiran orang lain.


''Satriyana adikku., dimana kau. Birunaka. apa yang terjadi denganmu.?'' ucap Roro berusaha membangunkan pemuda itu yang tergeletak dengan dada terluka tusukan pedang. dibantu Kyai Jabar Seto yang salurkan tenaga saktinya Birunaka mulai tersadar, tapi lukanya masih menetes darah.


Sementara itu Maling Nyawa dan Ki Ageng Bronto terus menghantam pasukan mayat hidup yang terus bermunculan dari balik kabut untuk melindungi mereka bertiga. pikiran yang rawan terpecah dan pernafasan yang sesak cukup menggangu keduanya. korban terus berjatuhan jerit kematian juga bersautan.


Di saat semuanya sudah berada dipuncak ketegangan, bersamaan diufuk timur terlihat sinar matahari dari balik perbukitan yang menyorot terang. hampir serentak terdengar suara meraung dan melolong keras yang bersautan. anehnya kabut asap pekat berbau wangi menyengat bercampur aroma busuk memuakkan yang menutupi pandangan itu seolah tersapu hilang oleh cahaya mentari pagi.

__ADS_1


Beratus- ratus mayat hidup bertumbangan jatuh ketanah. asap tipis melesat keluar dari tubuh mereka yang kering menyusut seolah bayangan roh terkekang yang baru terlepas meninggalkan raganya. diseantero lembah terlihat bergelimpangan ribuan mayat yang menjadi korban pertarungan besar itu. ilmu hitam 'Angonan Mayit Sewu' rupanya hanya dapat digunakan dalam kegelapan. mayat hidup itu sangat peka dengan cahaya terang.


Walaupun semua orang yang berada disana adalah para pendekar kawakan yang sudah berpengalaman dirimba persilatan dan telah terbiasa melihat darah dan mayat, namun hati semua orang tetap merasa merinding dan bergidik ngeri melihat pemandangan yang sangat menyaramkan dipagi hari itu.


''Hanya di karenakan dendam kesumat, nafsu keserakahan akan kekuasaan haruskah mengorbankan ribuan nyawa sia- sia.?'' batin Kyai Jabar Seto sedih dan prihatin. orang tua itu mengucap Istighfar berulang kali sambil membacakan doa untuk arwah para korban pertempuran.


''Manusia keparat itu telah lenyap bersama para begundalnya, mereka semua telah kabur menghilang.!'' seruan dari Ki Sabda Langitan si 'Tangan Penggoncang Langit' langsung menyadarkan semua orang. benar saja tidak terlihat lagi ketua 13 Pembunuh dan gerombolannya disana.


''Satriyana., Respati., kalian berdua ada dimana, jawab aku. sialan., setan keparat, kemana mereka berdua. semuanya., cepat bantu aku mengejarnya.!'' teriak Roro Wulandari kalut. si Dewi Malam Beracun berteriak penuh kesedihan hati menyadari kedua orang yang paling dekat dengannya turut mengilang dari lembah itu.


Sebuah tangan dan teguran dingin menahan gerakan Roro Wulandari yang sedang panik. ''Tidak ada gunanya kau berteriak- teriak seperti orang kalap seperti itu bocah ayu. tenangkan dulu dirimu, kudengar kau selalu mengandalkan otakmu untuk bertindak.!'' si Maling Nyawa meraih lengan wanita itu.


''Tenang kau bilang., bagaimana mungkin diriku bisa tenang kalau kedua temanku menghilang begitu saja di depan mataku.!'' sentak Roro beringas. tapi tangan pencuri tua sakti itu bagaikan batangan besi yang menjepit lengannya hingga dia tetap tidak mampu beranjak.


''Lantas kau mau berbuat apa, jika ingin mengejar mereka memangnya dirimu tahu mesti menuju kemana, juga yang mungkin menantimu disana. apa kau pikir hanya dirimu saja yang kebingungan dan marah.?'' bentak Maling Nyawa membuat Roro terdiam lemas juga merasa segan pada guru Respati.


''Mem., memangnya kita mesti kem., kemana mencari mereka kakek Maling Nyawa.?'' Roro bertanya lesu. pencuri sakti itu mendengus. ''Huhm., kenapa otak cerdikmu berubah jadi tolol begini. tempat rahasia mana lagi yang 13 Pembunuh kuasai kecuali pulau ''Seribu Bisa.!''

__ADS_1


__ADS_2