
Walaupun jarak antara perahu berpenumpang empat orang itu dengan kapal besar milik persekutuan 'Bulan Perak' terpaut lebih seratus tombak dengan gelombang besar dan angin badai yang mulai menggulung di kegelapan malam, namun perahu ini perlahan dapat memperpendek jarak hingga lima puluh tombak dari kapal besar di depannya.
Setelah itu kecepatan mereka tidak berubah seakan bermaksud untuk menjaga jarak. orang tua berbahu perlente dan berblangkon hitam yang duduk paling depan tidak pernah berhenti menghisap pipa cangklong besi hitam yang menebar aroma kemenyan. biarpun hujan dan percikan air laut beberapa kali menerpa tapi tidak mampu memadamkan api pipa cangklong di tangan lelaki tua itu.
''Apa tidak sebaiknya kita bergabung saja dengan kapal orang- orangnya si Dewi Malam Beracun yang berada di depan sana dari pada kita bersusah payah mendayung ke pulau 'Seribu Bisa..'' sungut orang tua berblangkon hitam yang kesepuluh jemarinya di lingkari cincin emas bermata berlian. dia bukan lain adalah ketua perkumpulan kaum pencoleng terkenal di dunia persilatan berjuluk 'Malaikat Copet.!
''Kau tahu apa copet tua., meskipun Dewi Malam Beracun adalah kawan sendiri tapi kita tidak tahu soal anak buahnya. kaki tangan 13 Pembunuh ada dimana- mana. bukan tidak mungkin mereka sudah menguntai kehadiran kapal Bulan Perak atau bahkan malah ada yang menyusup ke atas kapal itu. dengan bergerak senyap begini kita bisa mengawasi dari jauh sekaligus tidak sampai diketahui lawan..'' jawab orang tua yang rambutnya di kuncir ekor kuda sambil kedua tangannya kembali mendayung.
''Kakek tua si 'Maling Nyawa., sebelumnya engkau berkata kalau hendak menyelundup masuk ke pulau Seribu Bisa lewat jalan rahasia yang pernah kau buat di dalam goa tempat dirimu dulu pernah tinggal. apa kakek Maling Nyawa yakin jalan itu masih aman untuk dilalui.?'' yang bertanya adalah wanita cantik berbaju dan bercadar kain kuning. lengan baju kanan perempuan ini terlihat kosong melambai tertiup angin.
''Kau tidak perlu khawatirkan masalah itu 'Putri Penjerat'. sebagai bekas anggota dari 'Kelompok 13 Pembunuh' pastinya engkau juga paham kalau terdapat banyak goa karang di pulau itu. sebenarnya dulu aku sempat diam- diam membuat jalan rahasia yang lain tapi terpaksa kuhentikan pada bagian akhir karena ada masalah penting berkaitan dengan mumculnya pewaris 'Istana Angsa Emas' yang hilang..''
''Kalau begitu percuma saja kek, saat jalan rahasia lama terbongkar lawan kau tetap tidak dapat menyusup ke sana karena jalan rahasiamu yang lainnya juga belum tembus..'' ujar Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' rada kecewa. orang yang dipanggil sebagai Maling Nyawa itu cuma nyengir tipis penuh rahasia.
''Aku melihat ada kabut tebal jauh di depan sana. mungkinkah itu kabut gaib beracun pelindung pulau yang pernah kau ceritakan pada kami.?'' seru pemuda pucat yang duduk paling belakang dan sedari tadi diam. si Maling Nyawa jadi sedikit menegang raut mukanya.
''Belokkan perahu ke arah kiri. kita mesti lewat jalan memutar. selain kabut gaib di sebelah sana agak tipis dan mahkluk siluman penjaga lautnya paling sedikit, daerah itu juga lebih dekat menuju sisi timus pulau tempat jalan rahasia dalam goa yang pernah kubuat dulu.!''
Tanpa membuang waktu perahu itupun bergerak ke arah yang ditunjukkan si Maling Nyawa. benar saja lapisan kabut dingin gaib di wilayah ini terlihat lebih tipis hingga mata empat orang itu dapat melihat bayangan samar sebuah pulau karang yang berdiri dua ratusan tombak dibalik gumpalan kabut. hawa sangat dingin yang terasa menusuk tubuh dan menyesakkan jalan pernafasan membuat mereka harus mengerahkan tenaga dalam agar bisa menahannya.
Saat jarak tinggal sepuluh tombak si Maling Nyawa dan Putri Penjerat berdiri bersedekap tangan didepan dada dengan mata terpejam. mulut mereka komat- kamit membaca sebaris mantra yang tidak jelas terdengar. berikutnya tangan bekas anggota 13 Pembunuh dari angkatan yang berbeda itu terentang ke muka lalu membuat gerakan seperti mengebut dan membelah.
Meski tidak ada gulungan angin tajam yang tersembur namun kabut putih di depan sana memisah tersibak oleh kekuatan yang tidak berwujud. dari dalam permukaan laut timbul pusaran- pusaran gelombang lalu semburat terpecah. beberapa ekor ikan hiu besar berkepala ular dengan gigi dan sisik- sisik tajam berkilat melesat keluar dari sana dengan kecepatan luar biasa langsung melabrak perahu keempat orang itu.
__ADS_1
'Byuaaaarr., 'slhaaass., slhaaass.!'
'Wheeeesss., wheeeesss. shraaatt.!'
Putri Penjerat yang lebih dulu mengambil tindakan. tangannya yang tinggal sebelah mengayun secara bersilangan beberapa kali. sambaran cahaya kuning dari senjata benang bajanya bergerak mencambuk sekaligus memotong tubuh ikan- ikan siluman sebelum mereka sampai di depan perahu. tapi mereka hanya terpukul mundur tanpa terluka. si Laba- Laba Kuning rada terperanjat. rupanya sisik ikan hiu berkepala ular itu sekuat lempengan besi.!
Gerombolan ikan- ikan siluman itu kembali muncul. kali ini dari mulut mereka yang bergigi tajam dengan lidah bercabang mirip lidah ular tersembur uap kehitaman berbau busuk tanda mengandung racun. tenaga dari terjangan mahkluk aneh ini seolah berlipat lebih kuat.
Malaikat Copet mendengus gusar. sebelah tangannya menggebut keras dengan gerakan mencabik, meremas dan mencengkeram hancur sasarannya. cahaya hitam panas berbentuk cakar hitam berkelebat bagai bayangan hantu yang bergentayangan di gelap malam. inilah ilmu kesaktian 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa.!'
Tiga ekor ikan hiu kepala ular jejadian yang berada paling dekat keluarkan suara keras mendesis saat tubuh mereka tercabik hancur sebelum terbanting berserakan di atas lautan. asap tipis kehitaman yang mengepul ke udara membawa bau amis busuk dan terbakar
''Mahkluk jejadian juga siluman biasanya tidak tahan dengan api atau hawa yang sangat panas..'' ujar si pemuda pucat. tanpa beranjak dari tempatnya duduk dia ayunkan sebuah tongkat besi hitam ke muka. dua larik sinar hitam pekat berhawa panas melesat cepat bagai tikaman dua tombak kembar berapi.
Bagaikan mendapatkan pencerahan, si Laba- Laba Kuning tidak mau kalah. lima benang bajanya telulur lebih panjang. cahaya kuning berubah agak memerah saat tangannya mengibas ke depan, lima cahaya merah bagai cambuk berapi menyambar. dua ekor lagi ikan hiu jejadian tercabik hangus lalu hilang ditelan ombak lautan.
Tersisa empat ekor ikan hiu kepala ular yang menerjang ganas dari empat penjuru. tanpa bersepakat lebih dulu, keempat orang diatas perahu sudah hantamkan jurus kesaktiannya masing- masing. biarpun empat ikan terakhir ini punya tubuh dan daya tahan lebih kuat dari sebelumnya namun dengan dua tiga kali pukulan saja merekapun menyusul mampus.
Malaikat Copet mengisi pipa cangklong menyannya yang habis. sekali mulut peotnya menyedot, nyala api kembali mengepul dari lubang pipanya. Maling Nyawa menguap lalu duduk bersandar terkantuk- kantuk. ''Kami berdua sudah tua renta. tenaga orang muda lebih cocok untuk mendayung perahu ini..''
Putri Penjerat mendelik kesal mendengar ucapan si Maling Nyawa. si muka pucat cuma dapat menghela nafas. sekali tangan mereka menepuk dan mengayun permukaan air laut di samping kiri kanannya, perahu yang mereka tumpangi sudah melesat cepat menembus kabut dingin beracun yang sudah tersibak mantra.
---------
__ADS_1
Dalam sebuah ruangan goa batu yang gelap dan berada di sisi timur pulau Seribu Bisa, terlihat seorang tua berwajah dingin bengis sedang menatap dinding batu yang berada di depannya. dinding itu nampak lebih rata jika dibandingkan dinding lainnya yang berada dalam goa batu itu.
Dengan tangannya yang tinggal sebelah kiri serta jemarinya ditancapi pisau- pisau tajam melengkung bersinar kehijauan, dia membuat sebuah gerakan membabat, menghantam sekaligus meremas. lima buah sinar hijau setajam cakar setan berkelebat kemuka.!
'Whuuutt., whuuutt., shrraaat.!'
'Craaaakk., blaaaarr., glaaarr.!'
Ledakan keras terdengar seiring dinding goa batu padas setebal lebih satu jengkal yang ambrol remuk dihantam ilmu kesaktian si tua buntung. debu dan kerikil panas semburat berhamburan. dari sini dapat diperkirakan tingkat ketinggian ilmu dari orang tua bergelar 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' itu.
Seringai tipis sekilas tersungging di bibir peot si tua buntung saat melihat ada sebuah lorong gelap dan panjang muncul dari balik dinding yang roboh. rupanya dinding batu itu adalah sebuah pintu penutup dari suatu jalan rahasia yang arahnya entah menuju kemana.
Dengan satu isyarat dia memerintahkan tiga orang berseragam hijau dan memakai topeng tengkorak putih penutup wajah yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. di tangan masing- masing nampak membawa beberapa tabung bambu bersumbu dan kendi batu berisi minyak tanah.
Dengan cepat mereka masuk ke dalam lorong goa. sepeminum teh kemudian ketiganya sudah kembali di hadapan si Lengan Tunggal Pengejar Roh. setelah sama menjura hormat mereka berkelebat keluar goa meninggalkan si tua buntung sendirian di dalam sana.
Sepasang mata tua dan cekung itu sekilas menatap beberapa buah gundukan batu besar berbentuk mirip meja, kursi dan tempat tidur yang berada di tengah ruangan goa. dia tahu betul dulu si Maling Nyawa sering kali menghitung hasil curiannya di goa tempat tinggalnya ini.
''Hehm., aku hanya bisa berbuat sampai disini saja. setelahnya urusan hidup atau mati terserah nasib kalian sendiri..'' gumamnya menghela nafas. setelah sekali lagi melirik meja dan tempat tidur batu, orang tua berlengan kanan buntung inipun berkelebat pergi tinggalkan tempat itu.
*****
Silahkan Anda tuliskan komentarnya. Terima kasih🙏.
__ADS_1