
Tiga orang itu masih berada di sisi luar kereta kuda, meskipun terasa lelah tapi tidak satupun yang ingin tidur. semua berharap agar Roro Wulandari sahabat mereka yang berada di dalam kereta kuda cepat pulih dan menyelesaikan semedinya. sepenanak nasi kemudian dari dalam kereta kuda terdengar suara bergetar yang sertai keluarnya kabut tipis berhawa dingin.
Respati memberi isyarat kedua rekannya agar sedikit menjauh dari pintu belakang kereta kuda, beberapa saat kemudian terdengar suara Roro membentak keras dibarengi gelombang hawa dingin yang menghempas keluar dari pintu kereta itu.!
'Whuuuss., Blaaash.!'
Sebelumnya Satriyana tidak mengerti kenapa Respati menyuruh mereka menjauh, rupanya inilah alasannya. beruntung Respati tahu apa yang bakal terjadi, hingga mereka bertiga tidak sampai terkena sambaran hawa sedingin es yang terbuang keluar dari dalam tubuh Roro.
Jarak tiga empat tombak dari pintu belakang kereta kuda terlihat butiran titik- titik embun yang di selimuti kabut dingin menutupi hamparan tanah berumput belukar. kalau di perhatikan lebih seksama rumput belukar yang terkena embun dingin itu terlihat layu dan mati membeku.
Sesosok tubuh wanita berjubah gaun hitam yang sudah compang- camping perlahan keluar dari dalam kereta kuda. biarpun wajahnya masih terlihat pucat letih juga penampilannya kusut berantakan, tapi tetap tidak dapat menutupi wajahnya yang cantik jelita dan anggun.
''Ilmu kesaktian Dewa Serba Putih itu memang luar biasa., hampir saja aku mati membeku ditangannya kalau tidak dapat menahan dan mengeluarkan gumpalan hawa dingin yang mengeram dalam tubuhku..''
''Kakak Dewi., syukurlah kau selamat, aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk padamu.!'' seru Satriyana menghambur dan langsung memeluk Roro, gadis itu terisak menangis bercampur tawa gembira hingga keadaannya jadi aneh dan menggelikan. Respati serta Sabarewang saling pandang dan tersenyum lega, bersama mereka menghampiri Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun.
''Aku benar- benar lega Nyi Dewi dapat cepat pulih dari luka dalam akibat pukulan sakti I Gede Kalacandra. eh Satriyana., sampai kapan kau bersikap seperti anak kecil begitu, biarkan Nyi Dewi beristirahat dulu..'' tegur Sabarewang. gadis itu cuma menoleh lalu mencibir dan leletkan lidahnya mengejek si kusir kuda.
''Aah., biarkan saja gadis manja ini bertingkah sesukanya. lagi pula., sejujurnya aku hampir saja tidak mampu keluar dari lubang maut. aku., aku sungguh senang masih diberikan umur panjang dan bisa terus bersama kalian semua..''ucap Roro sambil tangannya lembut mengelus kepala Satriyana yang bersandar di dadanya.
__ADS_1
''Kita perlu mencari tempat yang baik dan aman untuk beristirahat serta menyusun rencana selanjutnya. Roro., aku sungguh tidak mengira kau sampai nekat memakai tahap terakhir ilmu 'Cakar Tengkorak Darah' yang dinamai 'Api Iblis Tengkorak Darah.!''
''Tapi syukurlah semuanya sudah terlewati dan termyata kau mampu mengendalikan hawa kekuatan jahat yang terkandung dalam jurus itu. selamat kuucapkan untukmu..'' ujar Respati seraya menjura rangkapkan tangan.
Dewi Malam Beracun tersenyum lalu balas menghormat ''Kuucapkan selamat juga untuk Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis yang sudah mampu menembus tingkatan kedua dari kitab ilmu 'Kobra Iblis.' aku yakin dengan jurus 'Sepasang Kobra Inti Neraka' kau akan semakin sulit ditandingi, bahkan oleh para pentolan kawakan 13 Pembunuh sekalipun.!''
''Semua ini tidak akan bisa terwujud tanpa adanya Darah Keabadian Satriyana., tuan putri istana Angsa Emas., aku Respati, Roro juga Sabarewang berhutang budi dan nyawa padamu..'' ucap Respati menghormat di ikuti Sabarewang. gadis itu hanya tertawa kecil ''Aku hanya ingin terus berpetualang dengan kalian bertiga. Ayoh kita segera selesaikan semua ini secepatnya.!'' serunya penuh semangat.
Ketiga rekaannya saling pandang tertawa geli. ''Tapi sebelum itu kita perlu tempat yang aman untuk beristirahat pulihkan diri dan menyusun rencana yang lebih matang..''
''Kau benar., Wonokerto sudah semakin dekat, saat masuk kesana kita tidak bisa mundur lagi., hanya boleh terus maju dan harus berhasil.!'' kata Respati menimpali ucapan Sabarewang. kereta kuda kembali bergerak seiring cahaya fajar yang mulai menyingsing.
Di sebuah pulau terpencil yang berada jauh sekali dari pantai selatan tanah jawa., Pulau Seribu Bisa.!
Meskipun ada dua belas kursi batu pulam putih lainnya di sekeliling sebuah meja besar berbentuk bundar yang juga terbuat dari bahan batu pualam yang sama, tapi kursi yang diduduki oleh si tinggi besar berjubah kuning itu terlihat lebih besar dan tinggi di banding lainnya.
Wajah orang berjubah kuning yang terdapat sulaman seekor angsa emas itu tidak terlihat karena tertutupi sebuah topeng tengkorak menyeramkan yang terbuat dari bahan perak.
Di atas meja batu pualam putih tergeletak sebuah bungkusan kain bernoda darah yang sudah mengering. sebuah kepala manusia yang sudah di awetkan terlihat di tengah bungkusan kain yang terbuka ikatannya. wajah dibalik topeng tengkorak menyeringai puas.
__ADS_1
''Pembunuh nomor dua si 'Naga Urat Hijau'., tugasmu membunuh tokoh silat dari barat sekaligus ketua perguruan silat 'Kujang Kencana' yang berada gunung Sanggabuana' telah kau lakukan dengan baik..''
''Awalnya aku sedikit merasa ragu untuk memberikan tugas ini padamu, mengingat Ki Darma Bumi alias si 'Pendekar Kujang Dewa' bukanlah tokoh silat yang gampang d habisi. selain itu dia juga dikenal punya banyak kawan para pesilat kelas satu di rimba persilatan., tapi kau memang tidak pernah mengecewakanku. bagus., bagus., Haa., ha.!'' ujar si topeng tengkorak lalu tertawa bergelak. saat bicara juga tertawa suaranya terdengar menggaung seram seakan berasal dari dunia lain.
Di hadapan si topeng tengkorak berjubah kuning yang pastinya adalah sang ketua kelompok 13 Pembunuh itu, dua langkah di seberang meja bundar pualam putih terlihat berdiri tegak sesosok lelaki tinggi kekar berjubah dan berpenutup kepala hitam. meskipun raut wajahnya tidak terlihat secara jelas karena memakai penutup kepala, tapi masih dapat dilihat ada tiga buah goresan bekas luka yang menghiasi rahang dan pipi kirinya.
Kalau di lihat perawakan orang ini sangat kekar dan gagah. tubuhnya hampir sama tingginya dengan si topeng tengkorak. yang paling mengetarkan adalah sepasang tangan kekar orang ini mulai jari hingga pangkal lengannya seakan penuh di lingkari jalur- jalur aneh yang mengeluarkan cahaya kehijauan. orang inilah yang di juluki si 'Naga Urat Hijau' pembunuh nomor dua dalam kelompok pembunuh bayaran 13 Pembunuh.
Kabarnya orang ini punya tingkat kepandaian yang sangat tinggi dan belum sekalipun pernah menemui tandingan, sampai- sampai para anggota lama kelompok pembunuh bayaran itu sedikit merasa segan kepadanya. apalagi sang ketua perkumpulan juga sangat mengandalkan kemampuan orang ini.
Biarpun demikian, diantara para anggota dalam kelompok itu cuma dialah yang paling jarang mendapatkan perintah dari ketuanya, kecuali untuk tugas yang sangat berat.!
''Berikan saja uang jasaku sekarang., karena tugas ini sangat berat aku juga minta tambahan uang jasa. soal siapa yang mesti memberikan kepala Ki Darma Bumi pada si pelanggan bisa kau suruh orang lain untuk melakukannya..''
''Perjalananku cukup jauh dan melelahkan, aku perlu istirahat.!'' ujar Naga Urat Hijau dengan nada tegas dan lugas seakan tidak perduli sedang berhadapan dengan sang ketua kelompok 13 Pembunuh.!
Si topeng tengkorak terkekeh sekejap, dari balik jubah kuningnya dia lemparkan dua buah kantung kulit berisi emas permata ke arah lelaki berjubah mantel hitam yang mungkin umurnya baru empat puluhan tahun itu. dengan hanya lambaikan tangan kirinya yang di penuhi jalur- jalur hijau orang tinggi kekar ini menyambut pemberian ketuanya. sedikit membungkuk hormat lantas berbalik pergi tinggalkan tempat itu.
''Tingkah sombong bocah itu semakin lama makin menjadi, jika tidak memamandang dirimu mungkin sudah aku betot keluar jantungnya.!'' geram orang berlengan buntung yang berdiri di belakang si topeng tengkorak.
__ADS_1
''Haa., ha., tidak biasanya kau gampang naik darah 'Lengan Tunggal Pencabut Roh'. meski terhitung masih muda tapi 'Naga Urat Hijau' adalah orang yang paling bisa kuandalkan dibandingkan para anggota baru di kelompok 13 Pembunuh..''
''Lagi pula., sikapnya yang liar, tinggi hati dan sangat percaya diri itu mengingatkanku pada masa mudaku dulu. meskipun mungkin agak berbahaya tapi orang ini cukup menarik dan sangat berguna buat kelompok kita..'' gumam sang ketua sambil tergelak.