13 Pembunuh

13 Pembunuh
Lorong bawah tanah.


__ADS_3

Malam yang penuh pertumpahan darah sudah berakhir seiring dengan ledakan maha dahsyat yang meruntuhkan serta membakar habis seluruh bangunan rumah rumah besar milik Ki Ageng Bronto. bahkan dinding pagar tinggi yang terbuat dari susunan bata dan batu kali juga turut roboh dan hancur saking kuatnya tenaga ledakan itu.


Tidak terhitung lagi jumlah korban dalam pembantaian besar yang cuma di akibatkan oleh sebuah keserakahan manusia. mayat yang terpotong dan darah yang menggenang bercampur suara rintihan sekarat meregang nyawa terasa semakin mengerikan saat tercium bau menyengat dari daging manusia yang hangus terbakar api.


Saat pagi hari menjelang tiba, di salah satu tempat di punggiran utara Wonokerto terdapat suatu hutan kecil namun cukup lebat serta rapat pepohonannya. dari dalam hutan samar terdengar suara rintihan dan mengeranga sakit dari beberapa orang.


Di balik lebatnya hutan yang masih di selimuti suasana gelap itu terlihat puluhan sosok tubuh manusia berbaju kuning. sebagian di antara mereka ada yang hanya bisa terlentang tubuhnya di diatas tanah, sementara rekannya mencoba merawat luka- luka mereka. meski kejadian itu sudah lewat beberapa waktu, namun bayangan ledakan besar di rumah Ki Ageng Bronto masih menghantui hati mereka.


Dua orang berjubah kuning emas terlihat duduk berlutut di samping seorang rekan mereka yang bertubuh tinggi besar dan sedang terbaring di atas tanah. jubah kuning yang di pakai orang ini terlihat sudah hancur dan hangus beberapa bagian. noda darah juga turut menghiasinya. meskipun lukanya sudah sangat parah, tapi orang ini masih hidup.


''Aaashh., ini semua salahku karena tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang di sampaikan pemuda yang bernama Birunaka itu. seandainya saja aku tidak terlalu curiga, pasti saudara kita 'Panglima Istana Kanan' dan semua anggota kita tidak akan menjadi korban ledakan dahsyat itu. dasar sial., sialan.!'' geram si jubah kuning bertubuh tinggi kurus yang kedua tangannya di penuhi gelang- gelang emas berduri.


''Sudahlah., jangan kau terus menyalahkan diri sendiri. aku juga bersalah karena terlambat mengingatkan semuanya. semestinya saat melihat suasana yang terjadi di pelataran rumah besar itu mirip dengan yang di telah gambarkan oleh Birunaka, aku tidak ragu- ragu lagi untuk menarik mundur pasukan kita..''


''Aaih., dari tiga ratusan anggota pasukan 'Pedang Sayap Angsa Emas' yang kita bawa, kini cuma tersisa tidak sampai seratus orang. bahkan., banyak diantaranya yang cacat dan luka parah..'' ucap jubah kuning bertubuh kecil langsing yang mengenakan sebuah kain cadar di wajahnya. rupanya dia seorang wanita.


Dari keadaan itu dapat di simpulkan kalau kedua orang ini bukan lain adalah 'Panglima Istana Kiri' dan 'Panglima Istana Tengah'. sedangkan orang yang terbaring di samping mereka berdua pastilah Panglima Istana Kanan. pastinya orang- orang berbaju kuning dengan sulaman seekor angsa emas dan bercelana hitam dengan membekal senjata pedang yang berada dalam hutan itu juga anggota pasukan dari Istana Angsa Emas.


''Kita tidak perlu lagi menyesali semua yang sudah terjadi. yang mesti kita lakukan adalah berusaha menolong saudara kita juga para anggota yang lain, lalu kembali secepatnya ke markas kita. aku sudah mengirimkan utusan kepada 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' agar dapat mengirimkan bantuan..'' ujar Panglima Istana Tengah mencoba menghibur rekannya.


Rupanya beberapa waktu sebelum penyerbuan besar di tempat Ki Ageng Bronto, ketiga orang panglima istana Angsa Emas ini telah bertemu dengan Birunaka yang mendapatkan perintah dari Satriyana dan kawan- kawannya untuk menyelidiki golongan orang yang mengaku anggota dari Istana Angsa Emas. setelah yakin kalau mereka memang masih keturunan dari sisa para pasukan istana Angsa Emas di masa lalu, Birunaka segera memperkenalkan dirinya bahkan nekat menunjukkan ciri jari kaki kirinya yang sama rata.


Meskipun sempat terkejut tapi mereka masih percaya dengan jati diri Birunaka. sayangnya saat Birunaka membeberkan rencana yang akan dibuat Roro dan Respati, mereka malah jadi curiga karena tahu kedua orang itu adalah anggota dari kelompok 13 Pembunuh yang secara nyata menjadi musuh Istana Angsa Emas karena pengkhianatan dimasa lalu.

__ADS_1


Akibatnya Panglima Istana Kiri yang gampang curiga berbalik marah dan bermaksud untuk meringkus pemuda itu. tentu saja Birunaka tidak tunggal diam. dia malah semakin geram karena di tuduh sebagai keturunan para pengkhianat Istana Angsa Emas. dengan mengandalkan senjata pentungan saktinya Birunaka mengamuk. tapi karena kepandaian silatnya masih dibawah Panglima Istana Kiri, pemuda itupun akhirnya kalah setelah bertarung lebih dari lima puluh jurus.


Meskipun demikian Birunaka masih berusaha memberikan penjelasan tentang semua rencana dari Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun' dan Respati si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' di Wonokerto. bahkan juga keberadaan Satriyana sang pemilik Darah Keabadian turut dia katakan.


Apa yang di katakan pemuda itu tentu saja membuat semua orang tersentak, tapi di sisi lain mereka juga ragu dan semakin curiga. akhirnya setelah berunding dengan orang tua yang disebut sebagai Tuan Sesepuh Pelindung Istana, ketiga panglima itupun berangkat ke Wonokerto bersama ratusan pasukannya sambil mencari tahu kebenaran dari cerita Birunaka.


Biarpun di saat terakhir sebelum ledakan dari 'Kereta Kuda Maut' didepan pintu rumah besar mereka sempat menyadari semuanya dan berusaha mundur sejauh mungkin, tapi tetap saja terlambat hingga korban jiwa pasukan merekapun menjadi teramat banyak.


''Tidak ada gunanya kalian berdua menyesali semua yang sudah terjadi. kami berduapun juga terlambat datang ke Wonokerto..''


''Sekarang juga kita mesti pulihkan saudaramu secepatnya, lalu menyusun rencana untuk menghadapi kelompok 13 Pembunuh.!'' tegur suara dua orang tua. serentak kedua panglima istana Angsa Emas menoleh waspada. tapi saat melihat siapa yang datang mereka jadi sumringah.


''Rupanya paman I Gede Kalacandra dan paman Kyai Jabar Seto yang datang.!'' seru kedua panglima itu hampir bersamaan. serentak mereka bangkit dan menjura hormat kepada kedua orang tua yang baru datang lalu menceritakan semua yang terjadi.


Butiran keringat terlihat membasahi kulit tubuhnya yang putih mulus tapi berbulu halus itu. di bawah cahaya api obor tubuh wanita ini nampak mengkilap. wajah yang cantik jelita dan potongan tubuh yang ramping membuat pikiran setiap lelaki melayang liar. terdengar helaan nafas tertahan dari seorang lelaki tinggi gempal setengah umur dan berkumis tebal.


''Dalam keadaan seperti ini kekasihmu masih sempat- sempatnya membangkitkan gairah orang lain. kau sungguh beruntung memiliki wanita ini..'' bisik si kumis lebat berpakaian hitam pada pemuda berbaju putih yang berada di belakangnya.


''Aduuh., jangan bicara yang terlalu berlebihan begitu Ki Ageng Bronto. aku memang tidak tahan dengan hawa panas jadi kubuka saja baju luarku..'' sahut wanita cantik itu sambil membalikkan badannya.


''Tapi apa benar diriku begitu menggairahkan., Aah kakang Bronto, dari dulu kau memang pria romantis yang selalu bisa menyenangkan hati wanita. tidak seperti dia yang dingin dan kaku seperti patung kayu..'' sindirnya menuding si pemuda berbaju putih yang cuma mendengus.


''Eehm., bagaimana jika kita teruskan dulu perjalanan kita ini baru bicara yang lain.?'' sela seorang perempuan cantik berbaju kuning dan bertangan kiri buntung mencoba menengahi. dari perjalanannya bersama Roro dan Respati, wanita bergelar si 'Putri Penjerat' ini jadi tahu kalau keduanya seringkali berselisih hanya karena masalah sepele.

__ADS_1


''Beruntung sekali kau ada bersama kita, sehingga tuas rantai pengikat bahan peledak yang berada di bawah kereta kuda dapat kita lepaskan dari jarak jauh dengan menggunakan benang bajamu yang mengait ke bawah kereta kuda. jika tidak terpaksa kita harus melepas rantai itu dari jarak dekat dengan pukulan sakti atau lemparan senjata rahasia..''


''Tentunya semua itu sangat berbahaya, salah- salah kita bisa turut binasa terhantam bahan peledak yang daya hancurnya sungguh tidak pernah kubayangkan sampai sehebat ini..'' puji Ki Ageng Bronto alias 'Pendekar Golok Bayangan Setan' sambil menepuk bahu Putri Penjerat.


''Kau dan Dewi Malam Beracun juga hebat, bisa- bisanya bersandiwara seakan kalian sedang bertarung sengit lalu memancing lawan agar datang mendekati kereta. kapan kalian berdua merencanakannya.?'' tanya Putri Penjerat penasaran.


Roro cuma tersenyum sambil jarinya yang lentik menuding sisi kepalanya. ''Kalau kalah jumlah dan tenaga, kita mesti pakai otak agar bisa menang. tidak perlu waktu yang lama bagi wanita cantik dan pintar sepertiku untuk membuat suatu siasat, sekali otakku bekerja semuanya pasti beres..''


''Tapi setidaknya berhentilah untuk terus memuji dirimu sendiri sebagai wanita cantik dan pintar. kita masih belum aman jadi cepat tunjukkan jalannya Roro.!'' sergah Respati mulai kesal dengan tingkah sepupu jauhnya.


Roro Wulandari melotot. ''Kau memang lelaki patung dan menyebalkan yang tidak mengerti perempuan.!'' omelnya lalu kembali berjalan menyusuri lorong itu di susul Respati. Ki Ageng Bronto dan Putri Penjerat hanya bisa saling pandang dan tertawa geli melihat kelakuan kedua rekannya itu.


Empat orang bekas anggota pembunuh bayaran nomor empat, sembilan, dua belas dan si nomor tiga belas dalam kelompok 13 Pembunuh itu terus berjalan menyusuri lorong yang lebarnya cuma serentangan tangan orang dewasa saja. Roro menjadi pemimpin dengan membekal obor. beberapa kali dia memberi isyarat rekannya agar berhati- hati dalam mengikuti langkahnya. karena dia bilang ada beberapa tempat yang dipasangi peralatan senjata rahasia yang mematikan. mau tidak mau ke tiga rekannya merinding juga


''Ki Ageng Bronto, kenapa si 'Golok Silmuman Kembar Penghisap Darah' mengurung dan menyiksamu, padahal dia kan bisa saja menghabisimu.?''


''Itu karena dia punya keinginan besar untuk menguasai sendiri peti penuh harta yang kubawa lari dari kelompok 13 Pembunuh. dia memaksaku untuk mengatakan tempat penyimpanan peti harta itu..'' Ki Ageng Bronto menjawab pertanyaan Roro Wulandari.


*****


Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu.🙏


Mohon sertakan komentar, kritik, saran juga like👍, vote jika anda suka. terimakasih kepada yang sudah bantu share novel ini dan menjadikannya Favorit👌. Terima kasih, Wasalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2