
Seorang perempuan muda berjubah dan bercadar kain kuning terlihat berdiri di tepian sebuah sungai, semilir angin pagi yang berhembus turut membawa bau aroma wangi yang lembut dari tubuhnya.
Entah sudah berapa lama wanita ini berdiri sendirian di tempat itu. sepasang matanya yang tajam dan bening terus saja memandangi permukaan sungai. meskipun saat ini musim kemarau tapi aliran air di sungai itu masih deras dan jernih hingga beberapa ikan yang berenang dapat terlihat jelas didalamnya.
Wanita yang mungkin belum menginjak tiga puluhan tahun ini balikkan tubuhnya yang ramping saat mendengar langkah dua sosok tubuh berjubah gombrong dekil macam pengemis. saat tiba di hadapannya kedua orang ini membuang jubahnya. ternyata dibalik jubah kotor dan rombeng itu keduanya memakai seperangkat baju kuning dan bercelana hitam. mereka juga membekal sebilah pedang dipunggungnya.
''Salam hormat 'Panglima Istana Tengah.,!'' ''Harap maafmu karena kami datang terlambat.!'' ucap kedua orang yang baru saja datang sambil membungkuk hormat.
Wanita berjubah kuning keemasan yang di bagian dadanya tersulam gambar seekor angsa emas dan dipanggil sebagai Panglima Istana Tengah hanya mengangguk lalu bertanya ''Bagaimana dengan tugas yang kuberikan, apakah sudah berhasil kalian kerjakan.?''
Orang yang berdiri di sebelah kiri sedikit menjura hormat baru menjawab, ''Sesuai perintah Panglima Istana Tengah, kami sudah menyebar mata- mata di seluruh penjuru negeri, bahkan sampai ke seberang pulau Bali dan Sumbawa di timur, serta tanah besar andalas di barat. sedangkan di daerah utara juga sudah ada orang kita yang bertugas di tanah Banjar dan Bugis.,!''
''Karena masih baru bertugas, maka belum ada berita yang masuk dari seberang pulau- pulau itu. tapi dalam perjalanan kesini ada selentingan kabar yang cukup mengejutkan kami.,!'' sambung orang yang di sebelah kanan, orangnya lebih pendek dan kekar dari rekannya.
''Kabar mengejutkan apa yang kalian maksudkan.?'' bertanya si wanita berjubah kuning. kedua orang bawahannya ini saling pandang sekejab baru menjawab. ''Ada satu peristiwa penculikan bayi yang terjadi di luar wilayah Jepara, pelakunya adalah seorang perempuan berjuluk 'Kuntilanak Hitam Penculik Bayi.!''
Wanita berjubah kuning bergelar Panglima Istana Tengah itu hanya mendesah pelan, ''Aku sudah pernah mendengar kalau dulu ada wanita setengah gila berilmu tinggi yang gemar menculik bayi, tapi sudah lama sekali tidak terdengar lagi kabar orang ini. kukira dia malah sudah mati, tidak disangka sekarang Iblis wanita ini muncul kembali.!'' gumamnya lalu menatap tajam bawahannya,
''Tapi., apa hubungannya peristiwa ini dengan Istana Angsa Emas kita.?''
__ADS_1
Rupanya wanita berjubah kuning dan kedua orang yang juga berbaju kuning itu adalah orang- orang dari Istana Angsa Emas.
''Justru inilah yang mengagetkan kami, dari berita yang tersebar di luar, bayi yang telah diculiknya bukan lain adalah bayi keramat keturunan dari keluarga Istana Angsa Emas kita.!'' jawab orang yang bertubuh lebih tinggi.
Seketika itu juga Panglima Istana Tengah terperangah kaget, ''Apa katamu., 'Jangan berani bicara sembarangan, salah- salah nyawamu taruhannya.!'' gertaknya marah. kedua bawahannya langsung membungkuk minta ampun.
''Sekali lagi kami mohon maaf, meskipun membingungkan tapi kami merasa kalau berita ini tidak boleh diremehkan, karena ini juga menyangkut masa depan kebangkitan Istana kita.!''
''Benar Panglima Istana Tengah., soal kebenaran berita ini bisa dicari sambil jalan, tapi kita juga tidak boleh cuma bediam diri saja.!'' ujar kedua anak buahnya memberi usul.
Wanita muda berjubah kuning itu terdiam, seakan sedang berpikir keras, ''Walau rasanya tidak sesuai dengan apa yang diceritakan Panglima Istana Kanan., tapi berita ini memang tidak dapat dibiarkan begitu saja.,'' batinnya ragu.
''Tapi kalian juga tetap harus mencari tahu keberadaan ketua kelompok 13 Pembunuh, juga dimana markas rahasia mereka, karena itu tugas utama kalian semua.!''
''Kami mengerti Panglima Istana Tengah., tugas akan kami laksanakan.!'' ujar kedua buahnya sembari kembali membungkuk hormat lalu berkelebat pergi.
Kini tinggal Panglima Istana Tengah yang masih berada ditepian sungai itu, sinar mentari pagi membias cahaya kemilau di atas permukaan air sungai. wanita ini merenung sendirian.
''Turut apa yang kudengar dari cerita Panglima Istana Kanan, seharusnya sekarang usia dari keturunan Istana Angsa Emas sudah menginjak remaja, atau paling rendah sudah diatas sepuluh tahun. 'Lalu bagaimana sekarang bisa muncul seorang bayi yang menjadi keturunan Istana.?'' batin wanita bercadar dan berjubah kuning ini bingung.
__ADS_1
''Apakah selama ini Panglima Istana Kanan telah salah mengira ataukah berita bayi itu yang cuma perangkap.?'' wajah dibalik cadar menegang saat menyadari ada beberapa orang sedang mengintainya.
''Mengintai seorang wanita adalah perbuatan hina, apakah kalian hanya kaum pengecut yang beraninya cuma main sembunyi.?'' bentak si Panglima Istana Tengah. suaranya terdengar keras menggetarkan karena dilambari tenaga dalam tinggi.
''Haa., ha., rupanya wanita ini sebangsa macan betina galak,!''
''Aku penasaran bagaimana wajah macan betina ini, apakah dia juga berkumis seperti macan sungguhan.?''
''Kalau kau ingin tahu tinggal kita buka saja cadarnya, siapa tahu dia bukan saja berkumis tapi juga bertaring., Haa.,ha.!''
Terdengar suara orang yang saling bersautan, bersamaan muncul lima orang berjubah ungu dari balik pepohonan yang ada di seberang tepian sungai. meskipun kelima orang ini berhenti tepat di bibir aliran sungai yang cukup deras arusnya, tapi anehnya tidak sepercik airpun yang bisa membasahi ujung kaki mereka.
Sungai itu tidak begitu lebar, paling jarak tepiannya cuma enam atau tujuh tombak saja sehingga membuat Panglima Istana Tengah dapat melihat jelas sosok kelima orang itu.
Mereka semuanya lelaki tiga puluh lima tahunan, berjubah ungu dan bertampang pucat menyeramkan. satu yang menarik adalah rambut dan janggut panjang kelima orang ini yang berwarna keperakan sama dikepang dan terlihat kaku.
Meskipun selama ini menyepi dan sibuk berlatih mempersiapkan diri untuk kebangkitan Istana Angsa Emas tapi Panglima Istana Tengah tetap mengetahui perkembangan dunia luar, dari ciri- ciri kelima orang yang ada diseberang sungai wanita bercadar kuning ini sudah dapat mengira siapa adanya mereka itu.
''Lima Hantu Ungu Berkepang Maut.!' gumam Panglima Istana Tengah, kelima orang yang kabarnya berasal dari daerah muara kali Jagir ini boleh dikatakan pendatang baru dalam dunia persilatan karena belum genap setengah tahun muncul. meskipun demikian sepak terjang mereka sudah cukup menggegerkan. mulai dari merampok barang kawalan, menculik perempuan, membunuh kaum persilatan, sampai membuat keonaran disalah satu rumah pejabat kerajaan.
__ADS_1
Maka tidaklah mengherankan kalau saat ini Lima Hantu Ungu Berkepang Maut menjadi salah satu nama yang paling diburu pasukan kerajaan dan kaum persilatan aliran putih yang merasa geram dengan perbuatan mereka.