
Nenek tua yang memanggul tubuh Gumoro dibahunya itu sepintas berjalan perlahan saja, tapi sekuat- kuatnya Rumilah berusaha menyusul hasilnya tetap saja sama, jarak diantara keduanya seakan tidak berubah, masih terpaut sepuluh langkah. meskipun harus jatuh bangun dan memaksakan dirinya gadis kurus itu tidak mau menyerah, karena dia yakin kalau si nenek tidak berniat untuk meninggalkannya.
Tanpa terasa mereka sudah berjalan cukup jauh memasuki hutan kecil, untuk kesekian kalinya nenek tua itu mendongak lalu mengendusi udara seakan mencari sesuatu. sekali lagi dia berjalan, kini langkahnya semakin cepat menembusi hutan membuat Rumilah kewalahan menyusulnya. dibawah sebatang pohon tua yang hampir roboh nenek itu hentikan langkahnya, didepannya terlihat sebuah gundukan tanah yang masih baru. dengan nafas terengah Rumilah berhasil tiba disamping si nenek.
''Inikah makam Roro.?'' batin Rumilah ragu.
''Benar., Ini memang makam temanmu yang bernama Roro Wulandari itu.!'' ujar si nenek seakan tahu apa yang ada dipikiran Rumilah.
Nenek tua berbaju hitam yang rambutnya sudah memutih semua itu goyangkan bahunya, tubuh Gumoro langsung terlempar ke bawah, pemuda gemuk itu hanya sebentar keluarkan suara mengerang lalu kembali pingsan. ''Sekarang juga kau gali makam ini.!'' perintah sinenek tiba- tiba. Rumilah hanya terbengong tak mengerti. nenek tua itu menoleh, ''Bukankah kau ingin bertemu temanmu Roro., dia ada di dalam sini, sekarang galilah makamnya., Cepat.,!''
''Apakah sekarang telingamu mendadak jadi tuli sampai tidak mendengar ucapanku, waktu kita tidak banyak., cepat lakukan,!'' damparat si nenek marah. sepasang mata tuanya seakan memancarkan cahaya tajam mengidikkan hati, membuat Rumilah tersurut mundur. ''Gali kuburannya kataku.!'' desis nenek itu, Rumilah bagai baru mendengar perintah gaib, dengan sepasang tangan kurusnya dia mengeruk gundukan tanah itu, ''Iya., gali., gali., aku menggali., aku menggali makamnya.!'' gumam Rumilah, meskipun kedua tangannya sudah terluka berdarah- darah dan berlepotan lumpur tapi dia tidak juga menghentikannya.
''Bagus., bagus., anak baik yang penurut dan setia kawan., hik., hik.,hi, kalau memang nasib temanmu mujur, kau juga boleh ikut denganku. 'Gali terus., gali terus.!'' ujar si nenek sambil tertawa mengikik seperti kuntilanak. beberapa lama kemudian sepasang tangan Rumilah seperti telah menyentuh papan kayu panjang dan keras, setelah dibersihkan sekenanya terlihatlah sebuah peti mati yamg terbuat dari kayu.
''Sekarang berhentilah menggali, dan berdiri dibelakangku, ingat apapun yang kau lihat jangan pernah bersuara sedikitpun, lebih baik lagi jika kau pejamkan matamu, kecuali kau ingin cepat mati.! 'Kau mengerti.?'' ucap nenek tua berpakaian hitam itu. Rumilah mengangguk, entah kenapa dia selalu hanya bisa menurut semua kata si nenek, seakan setiap perintah yang keluar dari mulutnya tidak dapat dibantah. dengan perlahan dia keluar dari dalam lubang tanah dan berdiri di belakang si nenek lalu pejamkan matanya.
__ADS_1
Si nenek tua komat- kamit mulutnya seperti merapal mantra, saat kedua tangannya terentang kedepan peti mati dibawahnya seakan bergetar, sekali telapak tangannya diputar mengibas, tutup peti mati itu mencelat keudara lalu jatuh ketanah dalam keadaan pecah. bebarengan dengan itu dari dalam peti mati melesat sesosok tubuh wanita kurus kering, pucat dan menyebar bau busuk. saat menjejakkan diri terlihatlah wujudnya, kalau saja Rumilah tahu pastilah dia akan lari ketakutan atau setidaknya pingsan, karena sosok tubuh itu bukan lain Roro Wulandari. sahabatnya yang sudah terkubur mati tiga hari yang lalu.!
Sosok wanita kurus kering dengan tatapan mata kosong itu memang Roro adanya, hanya saja keadaan tubuhnya jauh lebih mengerikan, bukan saja sangat pucat tapi juga menebar bau busuk menyengat seperti bangkai. ''Kau masih ingat siapa dirimu.?'' tanya si nenek tua itu setengah berbisik, meskipun begitu suaranya terdengar cukup jelas dan menggema. yang ditanya cuma diam mematung.
''Kau adalah Roro Wulandari anak dari Sindu Wijoyo. dirimu baru saja melewati alam kematian karena perbuatan dari seseorang bernama Gumoro., kau ingat.?'' bisik sinenek dengsn penuh tekanan.
''Aku., aku Roro., Roro Wulandari., aku mati., mati karena orang bernama., Gumoro., mati karena., Gumoro., Gumoro.,!'' ucap sosok kering pucat seperti mayat hidup itu dengan terpatah- patah. suaranya seakan terdengar menggaung dari tempat yang jauh.!
''Hik., hik., hii., benar. Gumoro., dialah orang yang telah membuatmu menderita, sekarang kau merasakan kehausan, aku tahu dirimu haus., sangat haus, juga lapar., 'Kau harus meminum sesuatu.!'' bisik si nenek sambil menunjuk tubuh Gumoro yang masih tergeletak di tanah.
''Yang kau inginkan ada disini., orang yang terbaring itu adalah Gumoro, orang yang telah menghancurkan hidupmu, keluargamu, juga seluruh warga desamu.! 'Dia layak mati., 'Layak dilempar kealam kematian.! dia juga memiliki sesuatu yang menghilangkan rasa lapar dan dahagamu.,!''
''Dia ada didepanmu., Gumoro ada disini., Ambil nyawanya, reguk darahnya agar hilang dahagamu. 'Makan jantungnya supaya lenyap rasa laparmu.,!'' kata si nenek memberi perintah, seakan terjingkat, Roro yang sudah menjadi seperti mayat hidup itu melesat kedepan, leher Gumoro digigit lalu dihisap darahnya.
Pemuda gemuk itu tersadar dan berusaha meronta, tapi tenaganya sangat lemah, dia hanya bisa menjerit ketakutan dan melolong kesakitan, apalagi saat mengenali sosok yang sedang menghisap darahnya adalah Roro Wulandari, gadis yang dulu dipujanya dan sudah mati beberapa hari lalu, membuat Gumoro semakin bertambah ngeri. jeritan panjang menyayat hati terdengar kala Roro membenamkan tangannya ke dada Gumoro. saat tangan itu dicabut keluar, nampak segenggam jantung yang masih berdenyut dan berlepotan darah segar, dengan rakus jantung itu dimakannya mentah- mentah.!
__ADS_1
Rumilah masih pejamkan matanya, dia tidak berani membukanya barang sedikitpun. tapi dari semua suara yang dia dengar gadis ini dapat membayangkan apa yang sedang terjadi. lututnya mulai goyah, dadanya sesak menahan mual, rasa takut dan ngeri sudah menjalari jiwa raganya.
''Hiik., hik., hi. Cukup., sudah cukup., sekarang rasa haus dan lapar pada dirimu sudah hilang. 'Gumoro., orang yang telah menghancurkan hidupmu juga sudah kau kirim ke neraka, saatnya dirimu tidur kembali.!'' si nenek memberi perintah.
Roro Wulandari menggeleng- geleng keras.
''Tidak mau., aku tidak mau, 'Aku masih haus, juga masih lapar., aku., aku mau lagi.,!' desis Roro sambil mengendus- endus udara. tiba- tiba matanya menyala merah, tangannya menyambar cepat kebelakang bahu si nenek, Rumilah menjerit saat merasa ada tangan dingin dan kaku mencengkeram bahunya,
'Whuut., Breet., beet.!'
''Hentikan sekarang.!'' bentak si nenek tua marah, tangan Roro ditelikung, lalu dibanting ke tanah, meskipun sudah terlepas dari bahaya tapi tak urung baju Rumilah robek besar di bagian bahu, kulitnya juga tergores dan berdarah.
Nenek tua berjubah hitam itu kebutkan tangannya, selapis sinar putih redup disertai angin tajam menyambar lewat didepan Roro, tiga kali totokan di dahi langsung membuat gadis malang itu terjatuh lemas seketika. dengan mendengus dia tendang mayat Gumoro ke dalam lubang bekas kuburan Roro Wulandari, sekali lagi kedua tangannya bergerak menyapu, serangkum angin keras menderu seakan menggusur tanah dan menimbun lubang makam.
Orang tua itu mendongak, di langit awan hitam terlihat menggantung, pertanda kalau sebentar lagi hujan akan turun. dengan kaki kanan dicungkilnya tubuh Roro Wulandari lalu dipanggulnya dibahu kanan. ''Aku tidak punya banyak waktu karena harus segera sampai ditempat kediamanku agar bisa mengobatinya., karena itu aku harus berangkat secepatnya.!' kalau kau mau bisa menyusulku ke 'Sendang Bulan Keramat' di lereng timur gunung Lawu., tapi jika tidak, kau bisa mencari jalan hidupmu sendiri.!'' kata si nenek sambil lemparkan sekantung penuh campuran uang perak dan tembaga kepada Rumilah.
__ADS_1
Sekali tubuhnya berkelebat sinenek sudah lenyap dari tempatnya berdiri, kini tinggal Rumilah yang terdiam lemas, saat tersadar gadis kurus itu berteriak keras, ''Nenek tua., Roro adalah temanku., aku harus datang kesana, apapun halangannya aku pasti tiba ke tempatmu.!'' setelah mengambil kantung uang itu Rumilah turut tinggalkan tempatnya.
Lalu siapakah nenek aneh namun sakti yang telah menolong Roro itu.? hampir tiga puluh tahun silam di dunia persilatan ada sepasang perempuan setengah umur yang mempunyai ilmu silat sangat tinggi, tapi yang paling menonjol adalah kepandaian mereka dalam ilmu pengobatan, racun dan juga sihir. salah satu dari mereka adalah nenek tua itu, yang di dalam rimba persilatan disebut sebagai 'Nenek Tabib Selaksa Racun,!' konon perempuan tua ini mempunyai sifat yang aneh, dia hanya mau mengobati orang keracunan yang sudah di ambang kematian, itupun dengan cara menggunakan racun melawan racun. sejak belasan tahun lalu dia dikabarkan menghilang setelah berselisih dengan kawannya. bahkan sempat tersiar berita kalau dia mati terbunuh. meskipun begitu namanya kadang masih disebut orang sebagai salah satu tabib sekaligus ahli racun terbaik yang pernah ada.