
Ketiga orang itu memandanginya dengan tatapan mata jahil. Puji Seruni merasa dirinya sedang ditelanjangi. apalagi Roro Wulandari yang mulutnya terkenal usil. tanpa perduli dengan perasaan sahabatnya dia seenaknya mengolok dan menggoda. ''Kalau kalian berdua tidak percaya, bisa tanyakan langsung padanya..''
''Hik., Hi., duuhh., coba kalian berdua lihat raut wajah cantiknya yang bersemu kemerahan. jangan khawatir begitu sahabatku sayang., karena tidak lama lagi kau akan bertemu kembali dengan kekasih hatimu yang sudah lama menghilang itu. asal kau tahu saja., dia sempat muncul dilembah sunyi tempat pertempuran besar antara Istana Angsa Emas melawan 13 Pembunuh..'' goda si 'Dewi Malam Beracun' tertawa mengikik hingga Puji Seruni makin merah padam wajahnya.
''Sii., sia., siapa yang kau maksudkan sebagai sepasang kekasih. aku dan dia hanyalah teman dekat. jangan sembarangan omong didepan orang lain Roro.!'' bentak Puji Seruni salah tingkah meski dalam hati dia juga kaget dan senang dengan kabar kemunculan si pincang. ''Aah., jadi kalau kalau bicara didepan orang lain kalian cuma teman dekat, tapi kalau hanya padaku kau berani mengaku kalau pemuda pincang itu adalah kekasihmu. begitu yah.?''
''Jika demikian, kasihan sekali si Pranacitra itu. dia seperti sedang digantung karena hubungan yang tidak jelas. padahal banyak juga perempuan cantik yang kesengsem dengannya. apa aku ikut bersaing saja untuk mendapatkan pemuda itu. lagi pula., kalian berdua cuma teman dekat..'' pancing Roro memanasi.
''Kurang ajar., jika kau berani menelikung sahabat lamamu sendiri, jangan salahkan aku kalau sampai berbuat kasar padamu Roro.!'' maki Puji Seruni bangkit dari kursinya sambil menggebrak tepian meja kayu sampai pecah. tapi sekejap kemudian gadis itu menyadari sesuatu hingga mukanya merah padam menahan rasa jengkel dan malu.
''Nahh., nah., akhirnya kau keterlepasan omongan juga. Chuih., apanya yang cuma teman dekat. dilihat dari sikapmu ini saja, orang paling dungu sekalipun juga paham kalau di dalam hatimu cuma ada si pincang alias 'Pendekar Tanpa Kawan'. Hoii dengarkan semuanya., Nyi Puji Seruni sedang jatuh cinta. Haa., Ha.!'' Roro Wulandari berseru mengolok lalu tergelak penuh kemenangan.
Biarpun sudah lama tahu mulut berbisa Roro yang licik, tapi baru kali inilah Puji Seruni merasakannya. gadis murid Nyi Pariseta itu jadi semakin geram sekaligus geli melihat Ki Tirtayasa dan Nyi Kunarsih istrinya turut pula terkekeh. sampai akhirnya dia cuma bisa mendengus sebal pada sahabatnya. melihat itu Roro jadi tidak tega juga untuk terus menggodanya.
''Baik., baiklah., aku cuma bercanda. tidak mungkin diriku merebut kekasih dari sahabat terbaikku sendiri. lagi pula., terlepas dari dia adalah seorang pendekar hebat dan terkenal, gelandang pincang dan miskin seperti dirinya tetap saja bukan seleraku..'' Roro Wulandari mencibir sinis.
Mendengar pemuda pujaannya direndahkan seperti itu membuat si 'Dewi Seruni Putih' tidak terima. ''Hei Roro., lalu apakah si Respati kekasihmu itu juga bukan orang kere. ''Dasar mulut nyinyir., 'Kowe iki yen omong ojo sa'penake udelmu dewe'. (Kamu ini kalau bicara jangan seenak perutmu sendiri).!''
''Kamu yang bicara ngawur. asal kau tahu saja, hasil kerja kami selama jadi pembunuh bayaran sangatlah banyak. lagi pula., 'Kawit lahir aku iki anake wong cukup. Bapak Ibuku juragan paling sugih sa'desoku. kowe paham ora'. (Sejak lahir aku ini anak orang berkecukupan. bapak ibuku juragan paling kaya sekampungku. kamu paham tidak).!'' balas Roro tidak mau kalah.
Wanita cantik yang sombong ini memang suka memandang rendah siapapun juga, tidak perduli dia kekasih dari teman baiknya sendiri. jika orang lain yang mendengar pasti bakalan marah atau langsung menggampar mulut Roro yang nyinyir. tapi Puji Seruni yang sudah paham wataknya cuma bisa bersabar sambil mengelus dada.
Setelah puas menggoda sahabat baiknya dan meminum dua tiga teguk tuak untuk membasahi tenggorokannya, Roro si Dewi Malam Beracun kembali alihkan perhatiannya ke atas meja didepannya. kotak kayu cendana hitam yang sedikit berlepotan tanah lumpur itu masih berada disana.
__ADS_1
Saat itu sikapnya seperti berubah menjadi orang lain. tidak tertinggal sedikitpun kebiasaannya yang sering meremehkan sesuatu. segala pikiran, perhatian dan tenaganya dia kerahkan pada kotak persegi itu seolah sedang berusaha untuk dapat masuk kedalamnya.
Setelah membersihkannya dari sisa lumpur tanah, jemarinya yang lentik terus meraba dan mengetuk hampir semua bagian kayu itu. di saat lain dia menggurat- gurat papan meja kayu jati seperti menulis atau menghitung sesuatu yang sangat rumit. udara pagi itu cukup dingin namun peluh sudah mulai membasahi kening dan tubuh wanita cantik itu. bahkan sampai ada selapis kabut panas yang sangat tipis muncul di atas kepalanya, pertanda dia sedang memaksakan diri.
Raja dan Ratu Lutung Sakti tanpa terasa ikut menjadi tegang. Puji Seruni yang kembali duduk di kursinya turut mengamati dengan penuh perhatian tanpa berani bicara apapun. dia tahu betul kalau otak sahabatnya ini sedang bekerja sangat keras untuk bisa membongkar peralatan rahasia yang mengunci kotak kayu itu.
''Sialan., biarpun kotak kayu ini diluarnya terlihat sederhana namun semakin diriku mencoba menyelaminya barang ini malah bertambah rumit. semua peralatan rahasia didalam kotak ini sangat luar biasa. sedikit saja salah perhitungan kotak kayu ini bisa meledak dan menyemburkan ratusan senjata rahasia bahkan cairan beracun.!"
"Meskipun aku yakin masih mampu untuk membongkarnya tapi yang paling sukar ditembus adalah adanya hawa gaib yang membentengi bagian luar dari kotak ini. dasar kekuatan sihir yang pernah kupelajari dari mendiang guru tidak mencukupi untuk dapat menembusnya hingga hawa murniku sampai terkuras.." gumam Roro kesal bercampur penasaran.
"Tapi tunggu dulu., kalau tidak salah Satriyana sempat bercerita kalau dia tanpa sengaja pernah menjatuhkan kotak ini hingga terbuka. apakah hanya pemilik 'Darah Keabadian' atau orang yang punya hubungan dengan Istana Angsa Emas saja yang dapat membuka tutup kotak rahasia ini.?'' batinnya jengkel.
Melihat rekannya gelisah Puji Seruni segera tahu kalau Roro sedang mengalami kesulitan besar dalam usahanya. ''Serumit itukah peralatan rahasia yang ada didalam kotak itu.?'' dengan penasaran dia bertanya. ''Yang jadi masalah besar bukan peralatan rahasia dan jebakan maut didalamnya. melainkan tabir gaib yang menutupi kotak wasiat ini..'' keluh Roro hingga membuat ketiga orang disana saling pandang tidak mengerti.
''Kalau memang demikian sia- sia saja kau bersusah payah mendapatkan kotak kayu cendana hitam ini Roro..'' ujar Puji Seruni setengah mengejek. ''Mungkin kotak pusaka itu memang bukan rejekimu Nyi Dewi Malam Beracun..'' sambung Nyi Kunarsih turut kecewa.
Roro cuma melirik ketiga orang itu. sambil tersenyum sinis dia berdiri melepas jubah gaun hitamnya sebelah atas. kini perempuan cantik itu hanya memakai pakaian dalam kutang hitam penutup buah dada hingga sebatas pinggang. ''Chuih., terlalu cepat untuk bilang semua usahaku sia- sia. wanita cantik sepintar aku tidak mungkin gagal hanya karena sebuah kotak kayu jelek seperti ini..'' ucap Roro Wulandari sembari keluarkan suara suitan beberapa kali.
''Entah apa yang sebenarnya ada dalam kepala si brengsek ini. dalam keadaan apapun dia selalu saja tidak pernah lupa untuk memuji dirinya sendiri. Huhm., kalau saja kau bukan sahabat baikku, pasti sudah aku gampari wajah sombongmu yang menyebalkan itu..'' sungut Puji Seruni dalam hati. meskipun dia kesal tapi anehnya juga terselip rasa geli melihat tingkah rekannya.
''Kalau cuma bicara memang mudah Roro, lantas apa yang akan kau lakukan sekarang.?'' sindir Puji Seruni coba memanasi. baru saja dia selesai bicara pintu gubuk sudah dibuka. seorang perempuan setengah umur berbaju hitam ketat dengan cadar hitam bersulam bulan sabit perak penutup separuh wajahnya itu berjalan cepat menghampiri Roro.
''Apakah kau juga membawa kotak berisi butiran obat dan jarum pemberian kakakku Rumilah.?'' tanya Roro pada perempuan yang menjura hormat itu. tanpa bicara wanita bernama Nyi Sapta Kenanga itu segera mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari balik pakaiannya lalu diberikan pada sang pimpinan persekutuan 'Bulan Perak'.
__ADS_1
Dengan isyarat tangan Dewi Malam Beracun memerintahkan bawahannya untuk berlalu. saat membuka isi kotak kayu jati berukiran bulan sabit dan pedang pendek melengkung bersilangan itu raut mukanya sedikit kesal. disana nampak enam butiran obat berwarna putih. empat kuning dan cuma dua butir obat saja yang berwarna merah. bau harum lembut bercampur aroma rempah tanaman tercium dari dalam kotak obat ini.
''Sejujurnya aku tidak yakin percobaanku ini akan berhasil. meskipun begitu tetap harus kucoba karena diriku tidak dapat menemukan cara lain. serumit apapun suatu peralatan dan senjata rahasia, diriku tetap punya keyakinan tinggi untuk dapat membongkarnya. hanya masalah tabir gaib ilmu sihir inilah yang sangat sukar untuk disingkirkan..''
''Besar dugaanku kalau selubung sihir gaib pelindung kotak ini cuma dapat dibuka dengan menggunakan mantra tertentu yang hanya diketahui oleh orang- orang istana Angsa Emas ataupun juga si pemilik 'Darah Keabadian..'' terang Roro Wulandari sembari mengusap keringat dikeningnya dengan sehelai sapu tangan hitam beraroma wangi.
Sambil berkata dia mengambil sebutir obat berwarna kemerahan yang besarnya hampir sama dengan biji buah salak. dengan bantuan beberapa tetesan air dari kendi minum dia meremas hancur buturan obat ditangannya menjadi serupa lumpur merah. meski masih beraroma wangi, namun kini ada sedikit bau aneh yang tercium dari sana. setelah membulatkan tekadnya, seluruh gumpalan obat itu dioleskan merata diatas kotak kayu cendana hitam itu.
Dewi Malam Beracun sempat kecewa setelah beberapa kejap kemudian tidak terjadi apapun pada kotak itu. disaat putus asa justru dari kotak kayu terdengar suara mendesis keras disertai dengan kepulan asap tipis merah kehitaman. Roro Wulandari terkekeh, ''Jadi benar dugaanku, cuma orang Istana Angsa Emas dan 'Darah Keabadian' yang dapat membuka mantra pelindung gaib kotak ini..''
Kejadian itu membuat Puji Seruni dan 'Raja Ratu Lutung Sakti' dari gunung Ciremai tidak dapat menutupi rasa kagetnya. serentak ketiga orang ini menatap Roro seakan minta penjelasan. sambil kembali duduk wanita cantik yang sombong itu mengambil dua batang jarum panjang dari kotak obat.
Selain itu dia juga mencabut tusuk kundai bulan sabit emas dari atas kepalanya hingga gelungan rambutnya yang hitam lebat panjang sepinggul jatuh tergerai. tanpa perduli dengan tali baju kutangnya sebelah kiri yang melorot ke lengan hingga sebagian buah dadanya terlihat, si genit licik itu mulai kembali mengutak- atik kotak kayu pusaka di depannya. mata tua si Raja Lutung Sakti sempat melotot dan menelan ludah melihat pemandangan itu sebelum istrinya memukuli jidatnya dan mengomel kesal.
Sambil sesekali mengusap keringat yang membasahi kulit ditubuhnya yang putih mulus dan berbulu halus dia mulai bicara ''Satriyana sempat bilang kalau dia pernah berusaha membuka kotak ini tapi tidak berhasil. padahal dia melihat sang kakek sangat mudah menggeser penutup kotak..''
''Karena terlalu keras tangannya sampai luka tergores tepian kotak kayu ini dan terjatuh ke lantai. yang aneh adalah kotak itu seketika terbuka. akupun jadi berpikir rasanya tidak mungkin hanya karena benturan lantai yang jadi penyebabnya. melainkan pasti akibat tetesan darah dari luka di tangan bocah itu yang tanpa sengaja terpercik dipermukaan kotak kayu cendana hitam ini..''
''Aku punya kakak seperguruan yang sangat ahli dalam ilmu pengobatan. saat kami berempat mampir ke tempatnya, atas ijin Satriyana dia berhasil membuat suatu ramuan obat langka yang sangat luar biasa hebat dengan menggunakan campuran Darah Keabadian yang mengalir ditubuh gadis itu..'' terangnya sambil terus sibuk menusuk dan mengorek beberapa lubang- lubang kecil di kotak kayu cendana hitam didepannya.
''Obat berwarna kemerahan itulah yang aku maksudkan. karenanya dengan mengusapkan sebutir obat yang mengandung darah sakti itu dan kucampurkan dengan sedikit air, tabir gaib yang melindungi kotak wasiat ini dapat kusingkirkan. sekarang tinggal mengandalkan keterampilan tangan dan otakku yang pintar untuk membuka penutupnya.!" tutur Roro menyeringai.
*****
__ADS_1
Mohon tulis komentar Anda. maaf bila ada tulisan yang tidak berkenan. Trims🙏.