
Beberapa hari sebelumnya.,
Tiga orang penunggang kuda berjubah putih memacu tunggangannya menembusi kegelapan malam, mereka seakan tidak perduli dengan kuda tunggangan mereka yang sudah kelelahan karena sudah dipacu sejak sore tadi. keadaan sekitar hutan belantara yang lebat dimana mereka bertiga sekarang ini berada menambah gelap suasana.
''Kita harus berpacu dengan waktu, jangan sampai kita terlambat sampai di rumah Nyai Sutra Malinda.!'' seru orang yang berkuda di tengah. orang ini terlihat sedikit lebih tua dari dua penunggang kuda di sampingnya. umurnya sekitar tiga puluh tahunan.
Ketiga orang berjubah putih ini sama memiliki paras yang agak serupa gagah dan cukup tampan. mungkin mereka masih bersudara.
''Kau benar kakang Soranata., Nyai Sutra Malinda adalah adik seperguruan dari paman kita Ki Sanggani yang telah merawat dan mendidik kita bertiga selama ini., kalau kita sampai gagal menyelamatkan beliau sekeluarga. kita pasti malu dengan mendiang paman Sanggani yang telah meninggal.!'' kata orang yang berkuda di sebelah kiri dan bertubuh paling kekar. tapi mungkin justru dia yang paling muda umurnya. mungkin baru dua puluh lima tahunan.
''Budi baik paman Sanggani tidak mungkin bisa kita balas seumur hidup. karenanya ini adalah kesempatan kita bertiga untuk sedikit membalas jasa beliau. saudaraku Arda Jaya dan Jalawira., sebentar lagi kita akan keluar dari hutan ini. seingatku tempat tinggal keluarga Nyai Sutra Malinda tidak terlalu jauh dari tepian hutan ini.!" ujar orang yang bernama Soranata itu pada kedua orang kawannya yang berkuda di sampingnya.
Sementara itu orang yang berkuda di sebelah kanan hanya diam dan terlihat gelisah hingga mebuat Soranata heran.
''Apa yang sedang kau pikirkan Jalawira, kulihat sejak memasuki hutan ini kau terlihat lebih pendiam dan beberap kali menoleh kebelakang.."
"Kau sedang kebingungan atau bagaimana.?" Arda Jaya ikut bertanya. Jawira sekali lagi menoleh kebelakang sebelum menjawab.
"Maaf kakang., sejak berada di pertengahan hutan tadi aku seakan merasa ada yang sedang mengikuti kita bertiga. tapi setiap kali aku melihat kebelakang dan sekeliling hutan ini tidak kulihat siapapun juga.''
__ADS_1
''Mulanya aku berpikir kalau itu cuma perasaanku saja, tapi semakin lama perasaanku ini malah semakin kuat, terakhir aku seperti mendengar suara derap kaki kuda di belakang kita.!'' ujar Jalawira hingga membuat kedua saudaranya terkejut dan seketika waspada.
Diantara tiga bersaudara ini Jalawira yang paling muda juga paling rendah ilmu silatnya. tapi justru indra pendengarannya yang paling tajam di bandingkan kedua kakaknya. maka tak heran kalau kedua orang ini langsung meraba gagang pedang di pinggangnya sambil memandang berkeliling tanpa hentikan laju kudanya.
Soranata yang ilmunya paling tinggi sesat menjadi terkesiap, dia merasakan kehadiran seseorang di sekitar mereka, tapi sekejab saja perasaan itu hilang begitu saja.
''Kita teruskan saja perjalanan kita, toh sebentar lagi kita akan sampai di rumah Nyai Sutra dan bergabung dengan para pesilat sahabat paman Sanggani., sekalian kita lihat apa benar ada yang berani menguntit kita.,'' bisik Soranata pada kedua saudaranya. saat itulah terdengar suara gelak tawa seram yang memecah kesunyian.
''Hak., ha., ha. tidak perlu jauh- jauh ke rumah Nyai Sutra Malinda, karena disana sudah tidak ada siapapun kecuali mayat.!''
Karuan ketiga bersudara itu terjingkat kaget dan hentikan lari kuda masing- masing.
''Siapa yang tertawa., tunjukkan dirimu sekarang.!'' seru Arda Jaya seraya mencabut pedangnya. di bawah cahaya bulan pedang itu terlihat memancarkan cahaya keperakan. kedua saudaranya turut berbuat hal yang sama. meskipun tidak melihat seorangpun tapi dari suaranya yang melengking dapat di duga dia mungkin seorang wanita.
Jubah merah mudanya yang terbuat dari kain tipis membuat lekuk tubuh sintal dan padat wanita ini terlihat dengan jelas. belahan bajunya membuat sepasang payu daranya yang besar dan putih sebagian menyembul keluar. bibirnya yang sedikit tebal di poles gincu merah, bedak pupur tebal memenuhi wajahnya yang lumayan cantik. bau harum merangsang menebar dari tubuh wanita yang mungkin umurnya sudah menginjak tiga puluh lima tahun ini.
''Hik., hi., sebenarnya tugasku dan si nomor tiga hanya untuk melenyapkan Nyai Sutra Malinda saja, siapa suruh dia mengundang tokoh silat lain seperti Ki Maha Bargola dan Ki Lindu Bumi. membuat kami berdua harus sedikit lebih bersusah payah.''
''Aih., terpaksa si nomor tiga kutinggalkan sendirian, habisnya dia sudah sekarat atau mungkin sekarang sudah mati menyusul Nyai Sutra dan kedua kawannya. Hik., hi., hi.,'' mulut perempuan cantik berdandan menor itu ngoceh sendirian, entah apa yang sedang dia bicarakan.
__ADS_1
''Ucapan wanita ini ngelantur tapi sangat mencurigakan kakang Soka,, siapa yang dia bilang orang nomor tiga tadi, bagaimana pula bisa tahu Nyai Sutra Malinda dan kedua sahabat paman.?'' bisik Arda Jaya curiga.
''Siapa kau Nisanak., bagaimana kau tahu dengan Nyai Sutra Malinda, juga Ki Maha Bargola dan Ki Lindu Bumi. apa yang terjadi pada mereka.?'' bertanya Sokanata kereng.
sementara hatinya terbayang sesuatu yang buruk telah menimpa Nyai Sutra.
''Wuiih., setelah kulihat betul- betul, kalian bertiga rupanya cukup gagah tampan juga. terutama kau., aku suka dengan dirimu.!'' tunjuk wanita genit itu pada Jalawira. ujung lidahnya terjulur membasahi bibir merahnya. ''Tapi., jika dua saudaramu mau, mungkin kita berempat juga boleh bersenang- senang bersama., hik, hi.!''
''Wanita sinting., cepat kau jawab pertanyaan kami.!'' bentak Jalawira marah juga risih melihat kelakuan wanita genit yang tidak tahu malu itu.
Wanita genit itu tersenyum sambil mengeluarkan sekuntum bunga mawar merah dari balik jubah merah mudanya lalu bunga itu diselipkan di celah sanggul rambut hitamnya yang ikal lebat. sepasang matanya seakan berubah memerah dan menyorot tajam menggidikkan. ''Kalian bertiga tidak perlu lagi datang ke tempat Nyai Sutra Malinda, sudah terlambat karena mereka semuanya sudah jadi mayat.!''
''Kurang ajar, wanita jahanam.,!'' apa yang telah kau lakukan pada Nyai Sutra dan keluarganya.!'' bentak Arda Jaya.
''Katakan siapa dirimu sebenarnya, atau kami akan bertindak kejam padamu.!'' Soranata ikut menggertak.
Wanita jalang itu terkikik sebentar, dari mulutnya keluar sebuah senandung.,
''Bunga mawar merah adalah bunga tanda cinta., tapi juga bisa menjadi bunga duka kematian yang menaburi tanah kuburan.,!'' desis wanira genit itu sambil melangkah perlahan. setiap langkahnya membuat belahan jubahnya sebelah bawah tersingkap, hingga sepasang betis dan paha mulusnya yang putih gempal terlihat jelas.
__ADS_1
Tiga Bersaudara Berpedang Perak sama berubah air mukanya. meskipun belum pernah bertemu tapi mereka sudah pernah mendengar cerita orang tentang seorang wanita jahat yang ciri- cirinya sama. dan kalau benar perempuan ini yang dimaksud maka saat ini ketiganya sedang berhadapan dengan orang yang sangat berbahaya.!
''Aa., apa., kau ini adalah perempuan sundal yang di juluki 'Iblis Betina Mawar Jalang'.? orang nomor delapan dari kelompok 13 Pembunuh.,?'' desis Arda Jaya dengan suara kelu terbata.