13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rengkah Langit Bumi., Panah Langit Petir Ungu.


__ADS_3

Di serang hampir dua puluhan orang begitu rupa tidak membuat Birunaka gentar atau takut. malah dengan keluarkan suara dengusan dan sunggingkan senyuman menghina pemuda itu berkelebat maju sambil ayunkan senjata pentungan kayunya.


'Whuuuk., whuuuk.!'


'Blaang., braak., dheees.!'


''Modar., enyahlah kalian semuanya..!'' teriak Birunaka. ayunan pentungan kayunya bukan saja tidak mempan ditebas golok belasan lawannya. malah hanya dalam beberapa gerakan putaran pentungnya dia sudah mampu membuat lima orang terjungkal roboh dengan tulang tubuh patah remuk. bahkan ada yang mukanya sampai bersimbah darah. rupanya pentungan kayu itu bukanlah senjata sembarangan.


''Aaaahk., aaakh., akh!''


Suara jeritan kesakitan diseling sumpah serapah dan makian kotor terdengar dari mulut anak buah Ki Kebo Dungkul, pimpinan keamanan desa Randung ini menggeram marah. dengan memutar senjata tanduk besi kembarnya dia bermaksud menghadang senjata lawannya sekaligus lancarkan empat tusukan ketubuh si pemuda. gerakan jurus manusia gemuk hitam ini mirip seekor kerbau gila yang sedang mengamuk. pantas saja kalau dia dinamai Ki Kebo Dungkul.


Gerakan pentung Birunaka baru berhenti saat tertahan oleh dua senjata tanduk besi Ki Kebo Dungkul yang besarnya dua kali lipat dari tanduk kerbau asli. bukan itu saja dia juga harus selamatkan terlebih dulu perut dan dadanya dari tusukan tanduk besi lawan yang datang melabrak dari bawah ke atas.


Birunaka mengumpat marah, pentungan kayunya terjepit diantara dua tanduk besi lawan. tapi dia tidak menjadi panik kaki kirinya cepat menjejak mencari tumpuan berikutnya kaki kanan menyapu pinggang dan perut orang gemuk brewokan itu.


Serangan si pemuda tidak berhenti sampai di situ saja, karena bersamaan itu dengan tenaga dalam penuh telapak tangan kirinya turut membacok dagu sekaligus hendak mematahkan tulang leher Ki Kebo Dungkul. meskipun mungkin terasa lambat, tapi sebenarnya beberapa gerakan ini seakan dilakukan dalam waktu sangat cepat dan hampir bersamaan.!


Ki Kebo Dungkul meraung buas, dia sungguh tidak mengira lawannya yang masih begitu muda memiliki ilmu bela diri yang setinggi itu. namun dia orang yang cukup punya pengalaman luas dalam pertarungan. tubuhnya yang gemuk kekar membalik cepat, tanduk besi di tangan kirinya tetap menahan pentungan Birunaka. sementara satunya membuat gerakan membabat dan menusuk paha juga perut lawan. ini membuat Birunaka terpaksa harus tarik pulang tendangannya sambil bergerak mudur kalau tidak ingin paha dan perutnya jebol tertikam tanduk besi.


''Awas di belakangmu.,!'' seru seseorang memberi peringatan. walaupun tidak tahu apa yang sedang mengancam dibelakang juga siapa yang berteriak kepadanya, tapi Birunaka juga tidak mau ayal. dengan membalikan tubuh dia ayunkan pentungan kayu saktinya beberapa kali. saat itulah dia baru sadar ada beberapa anak buah Ki Kebo Dungkul yang berniat membacok leher dan punggungnya dari belakang. untung ada yang berseru padanya hingga bokongan itupun gagal.


Sebaliknya gebukan pentungan kayu sakti Birunaka kembali mampu membuat tiga orang anak buah Ki Kebo Dungkul terkapar dengan tulang tubuh remuk. ayunan senjata pemuda itu menggaung seakan hempasan angin puyuh menderu. meskipun sempat dibuat kocar- kacir tapi dengan andalkan jumlah banyak mereka tetap mendesak si pemuda dengan hujan bacokan golok.


Belum lagi ditambah gebrakan Ki Kebo Dungkul sendiri, jurus serangan orang ini bagaikan seekor kerbau jantan gila yang terluka. dia mengamuk dengan sepasang senjata tanduk besinya. gerakan menikam, mencongkel dan membabat mampu dia lakukan dalam waktu hampir bersamaan.

__ADS_1


''Hek., he., ayoh anak- anak terus desak dan habisi pemuda keparat ini., siapapun nanti yang mampu membunuhnya akan mendapat imbalan besar dari Ki Lurah Mangun Gondo.!'' seru Ki Kebo Dungkul memberi semangat anak buahnya. karuan saja mereka menjadi semakin kesetanan, seakan saling berebut untuk membunuh Birunaka. perlahan keadaan jadi berubah. si pemuda mulai terdesak.


''Huhm., menyerang lawan dengan andalkan jumlah banyak apa hebatnya., sungguh membuatku bosan dan muak.!'' kembali terdengar suara seorang gadis. meskipun cuma perlahan tapi jelas terdengar. serentak beberapa orang anak buah Ki Kebo Dungkul menoleh mencari si pemilik suara. mereka tercengang saat melihat ada seorang gadis remaja cantik lima belas tahunan berkulit hitam manis berdiri di jalanan, dekat sekali dengan kancah pertarungan itu.


''Hai., tadi aku yang ngomong. tidak baik main keroyok, itu pengecut namanya..'' ujar gadis manis itu tersenyum sambil goyangkan sebelah tangannya. gadis bebaju hitam tanpa lengan ini membekal bumbung kayu berisi belasan anak panah berwarna ungu di punggungnya. sementara sebuah busur keemasan yang terlipat menggantung di pinggang kiri. sikap anak ini terlihat seenaknya.


''Setan alas cilik., siapa kau dan berasal dari mana..?''


''Ssst., kalau diperhatikan gadis remaja ini cantik juga, tubuhnya juga padat dan indah..''


''Kalau kita bisa membekuk dan membawa dia kepada Ki Lurah Mangun Gondo kita pasti dapat hadiah besar darinya..!''


''Aah., lebih baik kita nikmati saja sendiri gadis ini, soal uang bisa kita cari., rejeki di depan mata jangan disia- siakan., he., he.,!''


Beberapa orang ini saling berbisik sambil matanya memelototi tubuh si gadis yang tentunya Satriyana. walaupun cuma berbisik tapi telinga Satriyana yang tajam mampu mendengarnya. seketika gadis ini naik pitam.


Kejab berikutnya tubuh gadis remaja ini menerjang maju, gerakan langkahnya cepat dan tidak terbaca. ''Kaki melangkah ringan seakan tanpa arah untuk mengacau mata lawan. gunakan busur untuk bertahan dan anak panah untuk menyerang. itulah dasar dari tiga jurus ilmu silat Panah Srikandi.!'' gumam si gadis.


Anak panah ungu ditangan kanan menusuk cepat ke sasaran. bersamaan busur emas membabat dan memukul kepala lawannya.


'Sheet., sheet., whuut.,!'


'Traang., traang, dhess.,!'


Dua orang anak buah Ki Kebo Dungkul menjerit parau memegangi perutnya yang jebol tertusuk panah lalu roboh tertendang. dua orang lagi sempat menghindar sambil babatkan goloknya beberapa kali, tapi hanya lewat beberapa jurus saja mereka sudah menyusul ambruk saat kepalanya dihantam busur.

__ADS_1


Satriyana tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau mampu mengalahkan empat orang lawannya secepat ini. ''Ilmu silatku yang hebat atau mereka yang lemah.?'' batinnya, sesaat dia terdiam bingung.


''Awas saudari., ada serangan datang..!'' seru Birunaka. meskipun tidak mengenal si gadis tapi dia yakin kalau dialah yang tadi memberi peringatan kepadanya. Satriyana bergerak lincah, tiga orang pembokongnya punya ilmu sedikit lebih baik dari kawannya yang sudah terkapar. tapi mereka tetap bukan tandingan putri Istana Angsa Emas. meskipun bahu kirinya sempat tergores mata golok lawan, tapi hanya dalam lima jurus saja gadis hitam manis itu mampu merobohkan mereka semua.


Ki Kebo Dungkul menggembor ngamuk, sepasang tanduk besinya diadu hingga timbulkan suara berdentang keras dan bunga api kehitaman lalu menerjang buas dengan tusukkan tanduk besi kembarnya yang kini mengeluarkan percikan bunga api dan asap hitam tipis. serangan orang ini benar seperti serudukan kerbau jejadian yang mengamuk.!


''Hak., ha., ilmu 'Sundang Kebo Ketaton..' apa hebatnya jurus itu..!'' ejek Birunaka mengenali ilmu lawannya sambil kembali ayunkan pentungannya menggebuk roboh dua orang pengeroyoknya. karena jumlah pengeroyoknya sudah berkurang banyak dia dapat melompat mundur menjauh. Birunaka berniat menghajar balik lawannya dalam sekali gebrakan. pemuda ini berdiri diam pejamkan matanya menunggu lawan mendekat sembari mengangkat pentungan saktinya ke atas kepalanya. segulung angin tenaga terasa berputar keras di sekitarnya. dia perlu jarak dan waktu yang tepat untuk menghantam lawan.


Tepat disaat jarak Ki Kebo Dungkul dan enam anak buahnya yang menyerbu tinggal dua tombak saja darinya mendadak Birunaka membuka kedua matanya, sambil berteriak keras dia hantamkan pentungan kayunya ke bumi, terjadilah hal yang hebat.!


''Rengkah Langit Bumi., Mampus kalian semuanya..!''


'Whuuuk., Blaaarr., Kraaask..!'


Tanah sekitar dua tiga tombak disana tiba- tiba bergetar pecah dan bergemuruh keras laksana dilanda gempa. anak buah Ki Kebo Dungkul menjerit ngeri. tubuh mereka terperosok kedalam lubang tanah yang terpecah lebar dan dalam. Ki Kebo Dungkul pucat pasi sebelah kakinya sudah terperosok lubang yang anehnya seakan menghisap tubuhnya ke bawah tanah. orang ini terpaksa harus lepaskan senjatanya agar kedua tangannya dapat menahan tubuhnya yang terperosok semakin dalam. dia semakin ketakutan melihat Birunaka kembali hendak menghantam.


''Jangan., ampun..!'' ratap Ki Kebo Dungkul dengan kerahkan seluruh kekuatannya akhirnya orang ini sanggup berguling keluar dari jepitan lubang tanah. bersamaan itu pentung sakti melabrak, bumi bergetar hebat. tanah yang tadi pecah kembali tersapu rata dan menutup. sungguh ilmu yang mengerikan.!


Ki Kebo Dungkul berteriak kabur ketakutan secepat yang dia mampu tanpa perduli anak buahnya yang terkubur hidup- hidup. Birunaka menyumpah serapah, dia tidak mampu mengejar. tubuhnya lemas kehabisan tenaga karena ilmu Rengkah Langit Bumi memang membutuhkan tenaga dalam tinggi untuk dapat menggunakannya.


Satriyana menatap nyalang Ki Kebo Dungkul yang dalam sekejab sudah menjauh belasan tombak dari sana. busur emas diangkat keatas, panah ungu juga sudah terpasang. anehnya gadis itu malah membidikan panahnya ke arah langit.


Ki Kebo Dungkul sudah kabur lebih dari dua puluh tombak jauhnya, bibir Satriyana komat- kamit merapalkan sesuatu. anak panah ungu terlepas dari busurnya melesat ke langit. diatas sana terdengar bunyi ledakan dan pijaran cahaya ungu menyilaukan.


Cahaya itu lalu melesat ke bawah bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghentak keras seantero jagad. tubuh Ki Kebo Dungkul sesaat laksana terpatek kaku saat cahaya ungu itu menghunjam tubuhnya.

__ADS_1


Dengan keluarkan jeritan parau menyayat jiwa tubuh kekar itu roboh berkelojotan dan hangus terbakar setelah di sambar ilmu 'Panah Langit Petir Ungu' yang merupakan jurus terhebat dari tiga ilmu silat Panah Srikandi yang di dapat Satriyana dari Respati saat mereka semua berada dalam goa rahasia si Maling Nyawa di bukit Lading.


__ADS_2