
Hari baru saja berganti pagi saat sebuah kereta kuda yang ditarik dua ekor kuda jantan cokelat bergerak perlahan menuruni jalanan berumput di lereng timur bukit Lading. yang menjadi kusirnya tetap Sabarewang. raut muka lelaki kekar ini terlihat tegang, berkali- kali dia menarik nafas berat seakan ada suatu beban di hatinya.
Di sampingnya ada Satriyana yang duduk dengan mengangkat sebelah kakinya ke bangku tempat duduk kusir kuda. meskipun terlihat santai tapi gadis remaja itu nampak jauh lebih pendiam dari biasanya dan tidak banyak tingkah. anak ini seakan sedang memikirkan sesuatu masalah yang sangat rumit.
Masih teringat olehnya ucapan Roro Wulandari saat wanita cantik berjuluk Dewi Malam Beracun itu menjelaskan rencananya. meskipun diakuinya kalau itu sebuah siasat yang luar biasa tapi juga sangat menakutkan dan bakal menimbulkan banyak sekali korban. dan yang lebih membuat Satriyana terkejut dan risau, justru dialah yang bakal menentukan keberhasilan rencana perempuan yang telah dianggap sebagai kakaknya sendiri itu.
''Apakah diriku sanggup memanah sasaran dengan jarak sejauh itu, hanya sekali saja memanah dan harus berhasil., Gila..''
''Pantas saja Respati memaksaku untuk berlatih keras memanah dalam dua hari ini. dia seakan tahu kalau kakak Dewi bakal membuat rencana yang mengerikan seperti ini.!'' pikir Satriyana. saat berbicara dalam kereta kuda tadi malam. Roro yang selalu ceria, suka bercanda dan berlaku seenaknya sendiri seakan berubah menjadi sosok orang lain yang tegas dan kejam tak kenal ampun. semakin dipikirkan Satriyana merasa ngeri dan takut.
Dewi Malam Beracun memang tidak pernah memaksanya untuk mau melakukan tugas yang diberikan kepadanya. tapi kalau berkaitan dengan nyawa mereka berempat Satriyana merasa tidak punya pilihan lain.
''Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak merasa yakin sanggup melakukan tugas ini., aku akan mengantarmu ke tempat yang aman. jika masih hidup kami akan menjemputmu. tapi kemungkinan terbesar aku dan Respati bakal turut binasa.!''
Begitu juga dengan Sabarewang, Roro bahkan sempat mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf pada kusir kuda itu karena selalu berbuat sesuka hati dan suka memerintah seenaknya. bahkan dia bilang sudah menyiapkan sekantung besar uang emas sebagai bayaran Sabarewang selama ikut dalam perjalanan ini. apa yang diucapkan Roro seakan salam perpisahan dari orang yang bakal mati. yang lebih membuat Satriyana heran Respati cuma diam sambil pejamkan matanya.
__ADS_1
''Dari mana wanita cantik itu bisa mendapatkan barang yang mengerikan semacam itu., banyak sekali pihak yang menginginkan benda seperti itu. bahkan rela membayar dengan harga sangat tinggi hanya untuk beberapa genggam saja., semakin dipikirkan aku jadi semakin meresa takut dengannya. dibalik wajah cantik, genit dan sikap manjanya tersembunyi sifat kejam yang mengerikan hati..''
''Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun., sebenarnya kau ini wanita macam apa..?'' batin Sabarewang. sama seperti Satriyana, Roro juga tidak memaksanya untuk ikut serta. dia bisa pergi kapanpun Sabarewang mau. tapi setelah melewati banyak sekali rintangan bersama sanggupkah dia pergi meninggalkan kelompok ini.?
Wonokerto masih satu atau dua hari perjalanan. kalau dulu Sabarewang sangat ingin sampai kesana karena penasaran dengan apa yang bakal terjadi di sana., kini malah sebaliknya dia merasa sangat takut. di benaknya seakan sudah terbayang ratusan mayat- mayat bergelimpangan dan banjir darah yang menggenang di bumi.!
Dalam kereta kuda Roro terbaring di pangkuan Respati, wajah cantiknya terlihat kusut dan pucat. matanya sembab berair. perempuan ini menangis.
''Kau pasti marah karena tindakanku yang tanpa berunding dulu denganmu., mungkin ini terlampau kejam, tapi saat ini apalagi yang bisa kita lakukan..?'' bisik Roro sendu sambil menghapus air matanya. suaranya terdengar pasrah dan putus asa, entah kenapa dia menjadi rada cengeng.
''Kalau dipikirkan sebenarnya sejak awal kita berdua cuma dijadikan umpan oleh ketua perkumpulan. dulu pernah ada anggota yang mengatakan kalau kita semua cuma biji catur kecil yang bisa dikorbankan kapan saja., dan sepertinya hal itu ada benarnya..''
''Siapa orang yang mengatakannya.,?'' tanya Roro sambil menggeliat bangkit, tangannya membenahi rambut panjangnya yang kusut. karena pakaian dalamnya terputus satu tali bahunya membuat baju kutang hitam penutup buah dadanya terbuka sebagian. darah Respati berdesir kencang. Roro seakan juga tahu apa yang sedang dirasakan si pemuda. wanita ini cuma tertunduk malu tapi tidak berusaha menutupi dirinya. ''Ka., kau sedang melihat apa.,?''
''Ee, eeh., tidak ada., hanya saja kau., kau terlihat sangat cantik.,!'' bisik Respati tergagap. wanita itu semakin tertunduk, wajahnya bersemu merah. entah berapa ribu kali dia mendengar orang lain memuji kecantikan dan kemolekan tubuhnya. baginya itu sesuatu hal yang sangat lumrah. tapi selama dia mengenal Respati bertahun- tahun, seingatnya baru dua kali ini si pemuda memuji langsung dihadapannya. meskipun kata- katanya tidak ada hiasan sajak atau puisi indah, tapi terasa jauh lebih berarti.
__ADS_1
Roro Wulandari tidak berkata apapun., tiba- tiba saja tangannya merangkul Respati. kedua wajah mereka saling berdekatan. entah siapa yang memulainya bibir keduanya cepat berpanggutan dan saling peluk cium dengan eratnya. Respati terdorong sampai ke dinding kereta kuda. saat gelegak nafsu kedua orang ini sudah mulai naik, saat itupula mereka tersadar lalu perlahan saling melepaskan diri.
''Ma., maafkan aku Roro., tidak seharusnya diriku berlaku lancang kepadamu.!'' bisik Respati tergagap. dia bukanlah seorang pemuda baik- baik, beberapa kali pernah juga bermain dengan perempuan penghibur untuk melepaskan hasratnya. tapi meskipun dia tahu Roro bukan lagi wanita yang masih suci, tapi dia tetap merasa tidak tega untuk melakukannya.
''Eeh itu., itu tidak perlu kau pikirkan, aku yang salah karena menuruti hasrat., lagi pula aku juga sadar kalau diriku sudah sangat kotor dan tidak pantas untukmu.,'' jawab Roro sambil palingkan wajahnya. bahunya yang putih mulus terlihat bergetar menahan tangis. Respati cepat meraih tubuh wanita itu dan membalik menghadapnya dengan agak kasar., ''Roro Wulandari., kau pasti juga tahu kalau selama ini dihatiku hanya ada kau seorang..''
''Tapi sekarang aku hanya seorang wanita hina yang tidak bakal bisa memberikan keturunan., Hik., hi., hii., di dunia luar sana semua lelaki memuji diriku, bahkan banyak sekali yang ingin aku menjadi istrinya..''
''Berapa banyak wanita yang iri padaku, mereka selalu berpikir kalau diriku wanita yang sempurna., tapi apakah mereka tahu dengan semua penderitaan yang aku alami.,?''
''Aah., Roro Wulandari., Dewi Malam Beracun yang katanya cerdik, pintar dan cantik jelita. sebenarnya kau ini cuma seonggok sampah yang tidak berharga., Hik, hi.!'' ujar wanita itu sambil tertawa pedih. tubuhnya limbung dan jatuh dalam pelukan Respati.
''Menangislah sepuas hatimu jika itu dapat mengurangi kesedihanmu., kelak jika kita berdua masih berumur panjang, kita akan tinggalkan dunia persilatan dan hidup menyepi sebagai orang biasa, atau bisa juga kita kembali ke desa Pendamaran di bukit Damaraja. bagaimana kau mau.?'' bisik Respati lembut. wanita itu tersenyum dan mengangguk ''Iya., aku suka kemanapun, selama kau mau bersamaku.!''
Dua orang yang baru saling mengungkapkan isi hati itu terus berdekapan, rasa ketakutan dan putus asa yang tadinya terasa kini hilang berganti perasaan yakin dan bahagia. selama orang yang kau cintai dan menyayangimu berada di sampingmu, lalu apalagi yang kau takutkan dalam hidup.?
__ADS_1