
Sudah seminggu berlalu sejak peristiwa di rumah saudagar emas, kini perasaan Roro Wulandari menjadi lebih tenang, sebagian besar bebannya terasa hilang, dia tidak tahu kenapa malah melepaskan Nyai Durganda dan putranya, padahal sebelumnya dia bertekad hendak membalaskan dendam padanya. mungkin memaafkan seseorang kadang malah bisa membuat hati menjadi lebih tenteram.
Secangkir wedang jahe panas bercampur gula aren berikut tiga buah pisang rebus sudah terhidang di mejanya, sekarang dia sedang berada didalam sebuah rumah besar yang baru dibelinya. rumah itu berada di ujung sebuah jalan besar yang menuju ke arah jepara, meski cukup ramai tapi tetap nyaman untuk ditinggali. sore itu cuaca cukup cerah, setelah tadi siang hujan turun deras. waktu yang tepat baginya untuk bersantai.
Meskipun sudah menghabiskan banyak biaya untuk membeli segala keperluannya, namun sisa harta dan uang yang diambil dari rumah Ki Durganda masih terlalu banyak. Rumilah sedang membaginya ke dalam beberapa peti kecil agar lebih mudah disimpan. dengan bekal ilmu pengobatan yang dimilikinya gadis pucat dan kurus itu berencana membuka rumah pengobatan di tempat itu.
Sepotong pisang rebus sudah berpindah ke dalam perutnya, berikutnya wedang jahe panas sudah terminum separuh, di cuaca dingin begini minuman ini paling cocok untuk menghangatkan badan. meskipun begitu Roro justru cuma memakai pakaian dalam berupa baju kutang berwarna hitam diatas tubuhnya, hingga nampak kulitnya yang putih mulus dan berbulu halus.
Rumilah yang muncul dari dalam sambil membawa semangkuk kacang rebus cuma geleng- geleng kepala, dia sudah maklum kebiasaan Roro yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. dulu waktu masih di gunung Lawu, Roro sering dipaksa guru mereka untuk berendam kedalam sebuah kolam yang sangat dingin berselimut es untuk menghilangkan penyakitnya. mulanya latihan ini sangat berat baginya, tubuhnya terasa dingin membeku, tapi semakin lama dia menjadi terbiasa, penyakitnya akibat dicekoki obat dan selalu merasa haus akan darah perlahan menghilang. karena itu jika bagi orang lain udara terasa dingin tapi bagi Roro biasa saja, malah kadang dia masih merasa kegerahan.
''Semua keperluanmu sudah kusiapkan, sekarang katakan padaku apa yang sedang kau rencanakan,?'' tanya Rumilah sambil mulai memakan kacang rebusnya. yang ditanya habiskan wedang dalam gelasnya baru menjawab, ''Sebelum guru meninggal beliau menuliskan sebuah surat berisi pesan agar aku mencari jejak bekas sahabatnya, jika kawan lamanya sudah berubah menjadi orang baik- baik, maka permasalahan diantara mereka bisa dianggap selesai. tapi kalau bekas kawan karibnya itu semakin hilang kendali, aku diharuskan untuk membunuhnya.!''
__ADS_1
''Memangnya kau tahu siapa kawan lama guru kita itu?' tanya Rumilah penasaran. adik angkatnya itu cuma menggeleng, ''Aku hanya diberi tahu kalau kawan lama guru kita itu adalah seorang nenek tua penjual bawang., aneh yaah.?''
Seiring perbincangan santai kedua gadis seperguruan ini matahari sudah semakin condong kebarat. hidangan di meja juga sudah ludes diganyang. ''Sudah kusiapkan air hangat untukmu mandi..'' ujar Rumilah sambil memeluk adik angkatnya dari belakang, hubungan keduanya sangat erat. satu lagi kebiasaan aneh Roro, meskipun tidak betah dengan hawa panas, tapi dia sering minta air hangat kalau mandi. ''Setelah kau pergi besok, entah kapan kita bisa bertemu lagi.!''
Roro tersenyum kecil, ''Kau tahu aku juga tidak suka perpisahan, tapi kita tidak punya pilihan, tugas dari guru harus kulaksanakan..''
Rumilah lepaskan pelukannya dibahu Roro, ''Cepatlah mandi, jangan lupa membersihkan bulu yang ada di ketiakmu itu, 'Iiih, risih aku melihatnya.!'' ujar Rumilah sambil mencabut bulu hitam halus yang menyembul dari lipatan ketiak Roro yang putih. gadis cantik ini terpekik ''Iih aduh., sakit kak Rumilah',!'' sambil berlari masuk kedalam rumah, ''Roro., Roro., cantik- cantik kok buluan.,!'' Rumilah tertawa geli.
Itu kisah lima tahun yang lalu., kalau teringat Roro sering tersenyum sendiri. semenjak mereka berdua berpisah Roro Wulandari belum sekalipun berkunjung menemui Rumilah kakak seperguruannya, bukannya dia tidak mau, tapi Roro tidak ingin sampai terjadi apa- apa pada Rumilah, sebagai seorang pembunuh bayaran tentu dia punya banyak musuh. Roro tidak ingin musuhnya mengetahui kalau dia masih punya saudara seguru yang sangat dia sayangi, mereka bisa menggunakan hal itu untuk mengancamnya. meskipun begitu Roro selalu mengirim kabar secara rahasia kepada kakaknya itu.
Secara lahiriah Roro dan Satriyana sungguh berbeda, sejak kecil sepupunya itu sudah terlihat cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. sedangkan Satriyana meskipun berdarah ningrat tapi kehidupannya tidak berbeda dengan rakyat jelata, persamaan kedua gadis ini adalah pernah mengalami penderitaan dan siksaan dalam hidupnya.
__ADS_1
Obat sudah selesai direbus dalam periuk kecil, Respati membangunkan Satriyana yang masih tertidur, gadis itu membuka matanya, cairan berisi obat diminumnya, karena masih panas dia hanya minum perlahan. Roro sengaja menambahkan madu hutan agar rasa obat itu menjadi lebih segar. Satriyana menggelendot didada Respati, pemuda ini hanya diam sambil membelai rambut anak itu yang mulai tertidur kembali.
''Nyi Dewi., apa yang akan kita lakukan setelah ini., kurasa kita harus mengatur rencana untuk menghadapi segala masalah yang mungkin ada didepan kita.!'' ujar Sabarewang sambil menambahkan kayu bakar ke api unggun. Dewi Malam Beracun tersenyum sombong, ''Rencana sudah ada di kepalaku., tapi kita lihat dulu keadaan yang ada, yang penting selain sebagai kusir kuda, kau juga harus menjaga Satriyana dan bayiku. soal musuh yang menghadang biar aku dan Respati yang menghadapinya.,!''
Sabarewang mengangguk mantap, ''Soal itu Nyi Dewi tidak perlu cemas, lagi pula aku juga berhutang nyawa kepada Satriyana, selama aku masih bernyawa tidak akan kuijinkan siapapun menyakiti kedua anak itu.!''
Baru saja Sabarewang selesai bicara, dari arah kejauhan sayup- sayup terdengar suara derap kaki kuda mendekat, kedua orang ini bergerak cepat, nyala api unggun seketika dipadamkan, demikian juga lentera yang menerangi kereta kuda, rupanya telinga Respati yang tajam juga sudah mendengar kedatangan orang lain., dari balik pepohonan Dewi Malam Beracun dan Sabarewang melihat ke ujung jalan, disana terlihat beberapa nyala api obor dan rombongan berkuda mendekat. tidak berapa lama kemudian rombongan yang berjumlah dua puluhan orang itu sudah melewati jalan di depan mereka.
Tapi baru belasan tombak mereka lewat, mendadak seorang diantara penunggang kuda itu berseru sambil mengangkat tangannya, ''Berhenti dulu sebentar.,!'' orang ini adalah seorang lelaki muda tiga puluh tahunan berparas gagah, berbaju kuning yang membekal dua senjata keris dan trisula di belakang pinggangnya. kepala rombongan berkuda yang adalah pria empat puluh lima tahunan berseragam kepala pasukan kerajaan dan berkuda paling depan mendengus kesal, ''Ada apa., kenapa kita harus berhenti di tengah hutan begini.?''
Pemuda baju kuning cepat menghampiri dan berbisik, ''Maaf pimpinan., tadi dari kejauhan kita sempat melihat ada nyala api unggun, itu berarti ada orang disana, tapi sekarang api unggun itu lenyap, kalau kuhitung jaraknya seharusnya api unggun itu ada disekitar sini. apa tidak sebaiknya kita periksa dulu daerah ini.,?'' Sang pemimpin rombongan berkuda itu agak berubah mukanya, dengan mencabut pedangnya dia perintahkan beberapa anak buahnya untuk turun memeriksa tempat itu.
__ADS_1
Roro Wulandari atau Dewi Malam Beracun mengernyitkan alisnya, ''Apa yang membuat pasukan kerajaan Demak sampai berkeliaran dihutan malam- malam begini.,?'' desisnya heran. Sabarewang hanya diam, matanya mengamati sibaju kuning dengan pandangan tajam, tangannya mengepal keras sampai ototnya keluar, Roro tertegun melihat sikap rekannya ini.
''Apa kau mengenali orang berbaju kuning itu.,'' tanya Roro berbisik. Sabarewang cuma mengangguk sementara sepasang matanya terus menatap tajam si baju kuning. ''Siapa dia, teman ataukah musuhmu.,?'' Sabarewang menarik nafas berat., ''Kedua- duanya iya.,!'' Sebuah jawaban yang singkat dan aneh. tapi Roro paham kusir kudanya tidak sedang bercanda.