13 Pembunuh

13 Pembunuh
Gentong air wangi.


__ADS_3

Sebuah ruangan besar dengan dua buah pembaringan dari kayu jati itu menjadi terasa sedikit sempit setelah hampir sepuluh orang masuk kedalamnya. dengan hat- hati Jurata dan Birunaka membaringkan Sabarewang yang terluka parah. tubuh tinggi besar dan kekar orang ini seperti agak menyusut hingga nampak lebih kurus.


Di pembaringan sebelahnya tergeletak lemah I Gede Kalacandra. tubuh pesilat kawakan dari pulau Bali yang dijuluki Dewa Serba Putih itu terlihat menghitam. sesekali dia terlihat menggigil dan mengerang. asap kehitaman berbau hangus keluar bergantian dengan kabut putih yang disertai titik- titik embun berhawa dingin.


Dibantu oleh Ki Sabda Langitan, Kyai Jabar Seto cepat menegakkan punggung rekannya lantas duduk bersila dibelakangnya. dengan hati- hati dia mulai menyalurkan tenaga dalamnya untuk mendesak racun dan hawa panas yang mengeram didalam tubuh I Gede Kalacandra akibat ilmu pukulan 'Jelaga Hitam Pembungkus Nyawa' milik si 'Momok Jelaga Hitam.


Tidak sembarang pesilat kelas atas yang bisa memberikan pertolongan pada 'Dewa Serba Putih' karena dia memiliki dasar tenaga sakti yang bersifat dingin. mungkin cuma Kyai Jabar Seto yang punya sumber tenaga dalam yang hampir sama. butuh waktu sepenanakan nasi untuk mendesak keluar sebagian besar hawa panas yang berada didalam tubuh rekannya. maka tidak heran kalau orang tua ini sampai kepayahan.


Walaupun belum dapat pulih setidaknya aura hitam ditubuh I Gede Kalacandra sudah banyak berkurang. ''Eehm., Ki Sabda Langitan, berikan obat pengusir hawa panas ini pada kawanmu. meskipun mungkin tidak akan mampu melenyapkan seluruhnya, setidaknya masih dapat sedikit membantu..'' kata Roro sambil memberikan dua butir obat berwarna putih.


Saat menerima obat itu terasa oleh Ki Sabda Langitan di telapak tangannya hawa sejuk dari obat sebesar kelereng itu. belum sempat bertanya lebih lanjut wanita cantik berjubah gaun hitam itu sudah menuju pembaringan Sabarewang. setelah mengusap lembut wajah gagah lelaki brewok itu, Roro memberi perintah pada Birunaka dan Jurata untuk menyiapkan bahan ramuan obat untuk luka Saberewang.


''Semua bahan itu harus direbus mendidih hingga airnya tinggal separuh dan mengental. setelah agak dingin balurkan ke mulut lukanya. kakang Bronto., tolong kau bantu salurkan tenagamu pada kakang Sabarewang setelah dia sadar. berikan juga obat pemulih luka dalam yang sudah kusiapkan..'' semua rekannya langsung menyahut perintah Roro.


Melihat itu tanpa sadar orang- orang istana Angsa Emas sama membatin ''Sepertinya perempuan cantik berjuluk sang 'Dewi Malam Beracun' ini punya jiwa kepemimpinan yang hebat hingga mampu mengatur semua rekannya. padahal jika dibandingkan dengan Ki Ageng Bronto si 'Pendekar Golok Bayangan Setan' ilmu silatnya juga tidak terpaut jauh..''


''Nona Panglima Istana Tengah., kurasa kini sudah saatnya bagi kita berdua untuk dapat menjalani waktu pribadi. kau tunjukkan dimana tempatnya..'' ucap Roro Wulandari tersenyum sambil menggandeng tangan wanita berjubah dan bercadar kain kuning itu. ''Tunggu dulu., memangnya kau hendak mengajak dia kemana.?'' cegat si Panglima Istana Kiri curiga.

__ADS_1


Roro perlahan berpaling menyeringai licik. ''Kami berdua., hendak mandi air bunga wangi untuk membersihkan tubuh sekalian juga menenangkan pikiran. memangnya kenapa., kau ingin ikut mandi bersamaku.?'' tantang Roro melangkah maju. dengan gaya gemulai tanpa rasa malu dia membuka gaun hitamnya sebelah atas hingga bahu dan sebagian buah dadanya yang putih montok terlihat.


''Kaa., kau., kau., sungguh wanita yang tidak tahu malu. siapa sudi berbuat rendah seperti itu.!'' rutuk Panglima Istana Kiri tergagap geram, risih juga kebingungan karena tidak mengira akan mengalami kejadian seperti itu. ''Hik., Hi., kau bilang tidak sudi mandi bersamaku, tapi kalau mandi barengan kekasihmu ini., kau mau banget bukan.?'' goda Roro tertawa sambil menunjuk Panglima Istana Tengah yang tidak tahu mesti marah atau geli dengan kelakuan Roro.


Semua orang Istana Angsa Emas termasuk beberapa angota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' yang ikut berjaga dan mendengar semuanya dari luar ruangan juga tidak menyangka ada wanita cantik yang terlihat lemah lembut berani bertingkah genit seperti itu. sedangkan rekan- rekannya hanya bisa nyengir dengan kelakuan Roro.


Sebuah ruangan tempat mandi itu terlihat lebih terang dengan cahaya matahari yang menembus dari empat buah jendela ruangan yang terdapat di dinding sebelah atas. ditengah ruangan itu terdapat dua buah gentong besar juga tebal setinggi pinggang yang terbuat dari tanah liat yang dibakar hingga mengeras kehitaman dan diletakkan berdampingan. gentong besar tempat mandi itu sudah dipenuhi air dan bermacam bunga warna- warni.


Dengan sebelah tangannya Roro Wulandari meraih air gentong dan menciumnya. ''Cuih., belum sesuai dengan keinginanku. aromanya masih kurang harum..'' cibirnya kesal. dengan menggunakan beberapa tetes cairan obat yang dia simpan dalam sebuah guci kecil, seketika tercium bau wangi segar yang memenuhi ruangan. Panglima Istana Tengah langsung tertarik.


''Nah ini baru cocok dengan wanita- wanita cantik sekelas kita. ayoh tunggu apalagi., saatnya mandi dan bersantai..'' ujar Roro tersenyum puas sambil melepaskan seluruh pakaiannya. kini wanita itu sudah telanjang bulat. Panglima Istana Tengah tanpa sadar tertegun melihat keindahan tubuh wanita yang berdiri disampingnya. meski tubuhnya sendiri cukup indah, tapi jika dibandingkan dengan Roro dia merasa agak minder.


Suara tubuh yang memasuki air gentong menyadarkan perempuan itu. dengan gugup dia melepaskan jubah kuningnya lantas masuk kedalam gentong mandi. Roro melirik sekejap. ''Tubuhmu bagus juga. bekas luka bakar yang kau dapat akibat bertarung di sungai waktu itu sudah mulai hilang..''


''Eehm., tidak seindah punyamu. jangankan kaum pria, diriku yang sesama wanitapun juga kagum dengan kemolekan tubuhmu. tapi., maaf kau jangan tersinggung. tubuhmu buluan begitu..'' ucap Panglima Istana Tengah bergidik geli sambil menunjuk kedua ketiak putih Roro yang ditumbuhi bulu- bulu hitam. saat melihat kedalam gentong air rekannya, disana juga terlihat bayangan hitam yang lebih lebat lagi didaerah bawah perut wanita itu yang ramping rata dan putih mulus.


Melihat semua itu Panglima Istana Tengah merasa bersyukur. meski bentuk tubuhnya kalah indah serta wajahnya juga kalah cantik, setidaknya dia lebih bersih dan bebas bulu. tapi dia merasa jengkel sekaligus risih saat Roro menjawab sinis, ''Chuih., memangnya kenapa. bilang saja kau iri karena tidak punya bulu- bulu yang indah sepertiku..''

__ADS_1


''Hei., aku ini tidak sedang memujimu tahu. lagian siapa sudi punya bulu tubuh seperti itu. menjijikkan.!'' semprot Panglima Istana Tengah gusar. ''Sebaiknya kau mengurangi rasa percaya dirimu yang keterlaluan itu.!'' cibirnya sambil tangannya menyiramkan air gentong ke wajah Dewi Malam Beracun yang langsung membalasnya. setelah puas saling main siram dan guyur keduanya tertawa lalu bersandar tepian gentong.


''Coba katakan padaku apa yang akan kau rencanakan untuk menolong putri Satriyana. kenapa dalam keadaan seperti ini dirimu masih terlihat tenang, seperti tidak merasa khawatir dengan keselamatan tuan putri dan temanmu si Ular Sakti Berpedang Iblis.?''


Bukannya langsung menjawab, Dewi Malam Beracun malah pejamkan kedua matanya sambil bibir merahnya bersenandung entah lagu apa. namun suaranya memang terdengar sangat merdu. ''Aaish., tentu saja aku sangat khawatir dengan keselamatan mereka. tapi kuyakin ketua 13 Pembunuh tidak akan mau berbuat sembarangan. karena selain 'Darah Keabadian' manusia terkutuk itu juga sangat menginginkan suatu barang pusaka yang sangat penting baginya..''


''Selama barang itu belum didapatkan, dia tidak akan bertindak pada Satriyana. Eehm., sejak pertama kali bertemu aku belum tahu siapa namamu sebenarnya.?'' tanya Roro sembari mengusap rambutnya. Panglima Istana Tengah seketika mendekat hingga kedua buah dadanya yang montok tersembul keluar dari air gentong.


''Hanya kau seorang yang kuberi tahu. panggil saja namaku Indahsari. tapi barang pusaka apa yang kau maksudkan tadi.?'' tanyanya penasaran. ''Aku tidak tahu pastinya. tapi jika tebakanku benar, saat ini si nomor satu sedang mencari sebilah pisau yang disimpan dalam sebuah kotak kayu cendana hitam. dulu Satriyana sempat mengatakan kalau pernah melihat barang itu di rumahnya..''


''Pisau itu sangat mungkin ada hubungan erat dengan rahasia Istana Angsa Emas kalian. sekarang tinggal siapa pihak yang bisa lebih dulu mendapatkannya..'' terang Roro lantas bangkit keluar dari gentong air mandi. kulit putih mulus dan berbulu halus itu nampak mengkilap di basahi butiran air. bentuk tubuh wanita ini memang luar biasa sempurna.


''Laa., lalu ken., kenapa kita tidak berusaha mencarinya.?'' tanya Indahsari menutupi hatinya yang sempat terpukau dengan tubuh rekannya ini. ''Sebenarnya sudah sejak empat lima bulan belakangan aku memerintahkan orang- orangku untuk menyelidikinya dibantu beberapa sahabatku. jika semuanya lancar, mungkin sekarang benda itu telah mereka dapatkan..''


*****


Maaf jika ada tulisan yang tidak pantas atau jorok. (diskip saja๐Ÿ˜) sejujurnya risih upload cerita yang seperti ini๐Ÿ˜ž๐Ÿ™.

__ADS_1


__ADS_2