
Bertarung sengit melawan siluman hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan cuma bisa sesekali menyerang balik cukup membuat Respati kesulitan. saat mahkluk siluman campuran serigala, kera lutung dan kelelewar itu menggebrak dia pasti kewalahan. sebaliknya di waktu ada kesempatan menyerang semuanya jurusnya dapat dimentahkan dengan sangat mudah.
Siluman ganas bermata tiga yang sekujur tubuhnya dipenuhi bulu hitam itu kebal senjata dan pukulan sakti. biarpun Respati sangat penasaran tapi apa daya dia masih belum sanggup menemukan kelemahannya.
Bersamaan itu terlihat jarum dan paku beracun yang dilepaskan Roro juga bernasib sama. terhempas bermentalan oleh kibasan sayap besar siluman itu. kebutan dua sayap raksasa ini bukan cuma menagkis, tapi juga menimbulkan gulungan angin keras yang menghempas apapun di sekitarnya, termasuk Roro yang sampai tersurut mundur beberapa langkah.
Meskipun terkejut dan gusar serangannya dapat dikandaskan semudah itu, tapi wanita cantik berjuluk Dewi Malam Beracun ini tidak menjadi gugup. malahan dengan penuh penasaran dia berniat mengulang sekali lagi serangannya dengan jurus yang berbeda.
Sekali ini kedua kakinya memutul tanah. seketika tubuh Roro Wulandari mencelat tinggi ke atas. dari ketinggian lebih dua tombak dia menyerang mahkluk siluman itu dengan selusin jarum dan paku beracun yang dilambari inti ilmu kesaktian 'Cakar Tengkorak Darah'. disusul kibasan senjata kipas peraknya yang juga dialiri ilmu kesaktian yang sama. dengan menggunakan jurus 'Angin Hujan Jarum Perak' si Dewi Malam Beracun berniat untuk menggempur mahkluk siluman itu dari atas udara.
''Rasakanlah ini mahkluk siluman jelek.!'' seru Roro sengit. bebarengan itu kedua tangannya langsung menggebut.
'Whuuuss., Wheees.!'
'Bheeet., Sheeet.!'
Berpuluh- puluh jarum terbang beracun yang memancarkan cahaya merah melesat cepat menyusup kegelapan. hujan senjata rahasia ini berkali lipat lebih dahsyat dan mematikan karena disertai hembusan angin sekencang badai topan berhawa sepanas bara.!
__ADS_1
Jika saat ini yang di serang adalah seorang tokoh silat kelas atas sekalipun, mungkin orang itu bakalan mati atau setidaknya terluka parah oleh serangan jurus 'Hujan Angin Jarum Perak' yang di lambari hawa sakti dari ilmu 'Cakar Tengkorak Darah.' andalan Roro.
Tapi sayangnya lawannya adalah sesosok mahkluk siluman jahat dari gunung Kawi yang kebal senjata dan pukulan sakti. maka tidak heran jika untuk kesekian kalinya serangan jurus Dewi Malam Beracun bukan saja gagal menembus kulit tubuh siluman itu. bahkan akibat hempasan kibasan sayap mahkluk itu membuat jarum terbang berapi yang Roro lepaskan berbalik semburat mental kesegala penjuru arah.
''Siluman edan., kampret sialan.!'' maki Roro Wulandari dan Respati sembari memutar pedang dan kipasnya untuk menangkis jarum api beracun yang berbalik menyerang mereka. bahkan Sabarewang yang berdiri agak jauh juga sempat memukul rontok sebatang jarum yang tersapu ke arahnya.
Beruntung kusir kuda ini terus bersikap waspada, jika tidak bisa jadi tubuhnya sudah tertembus jarum beracun yang nyasar.
Kini keadaan menjadi berbalik, siluman jahat yang sakti itu mengamuk sejadinya karena merasa terus di halangi untuk mendapatkan sasarannya yang berada di dalam kereta kuda. ketiga matanya semakin memerah, dengus nafasnya semakin memanas seakan pertanda kehausan akan darah. Roro dan Respati langsung terdesak hebat. dari pemburu kini mereka yang jadi mangsanya.
Keadaan ini membuat Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis merutuk dalam hati. saking kesalnya pemuda ini sampai mendamprat sepupunya.
''Sudah diam., kau pikir aku bisa membiarkan dirimu melawan siluman kampret bermuka monyet ini sendirian.?'' Roro Wulandari balik membentak. sambil melompat berjumpalitan dia berusaha menjauhi kebutan sayap dan terkaman buas mahkluk itu. tapi biarpun sudah berada cukup jauh tapi angin kibasan sayap siluman itu sanggup merobek jubah gaun hitam Roro. demikian juga Respati, baju putihnya basah kuyup oleh keringat dan sudah tidak karuan lagi bentuknya.
Pertarungan antara dua orang manusia yang melawan mahkluk siluman dari gunung Kawi bertambah sengit. Roro dan Respati sudah semakin terdesak hebat. jika pada awalnya mereka masih yakin sanggup menghadapi mahkluk buas itu. kini untuk lepas dan kabur dari terjangan siluman penghisap darah itu sudah sangat sulit.
Sabarewang sangat cemas, dia ingin turut serta membantu kedua rekannya. tapi dia sadar ilmunya masih belum terlalu kuat meskipun sudah mengalami cukup banyak peningkatan.
__ADS_1
''Sialan., apa yang mesti kulakukan. apakah sebaiknya aku nekat membantu mereka, atau malah membawa pergi Satriyana.?''
''Darah keabadian yang mengalir di tubuh gadis itu menjadi incaran banyak orang. jika sampai siluman buas itu mendapatkannya, aku tidak dapat membayangkan malapetaka apa yang bakalan melanda dunia.!''
Di saat puncak kecemasan melanda hati Sabarewang dan keadaan dua rekannya yang sudah berada di tepi jurang kematian, dari balik kegelapan muncul dua sosok bayangan putih yang langsung melesat ke tengah pertarungan sambil mengeluarkan bentakan keras. ''Cepat minggir saja kalian berdua.!''
''Biar kami yang menghadapi siluman ganas penghisap darah itu.!''
Baik Roro Wulandari dan Respati merasa pernah mendengar suara salah satu dari kedua orang pendatang yang sama berjubah putih itu. karena pikiran sedikit bercabang hampir saja leher keduanya menjadi sasaran taring tajam siluman buas itu. beruntung dua orang pendatang ini mampu menghadang terjangan ganas siluman itu.
Baru setelah berhasil menjauh dari kalangan dengan selamat, Roro juga Respati teringat pada seseorang. biarpun siasana di tepian hutan itu cukup gelap, tapi salah satu dari kedua pesilat berjubah putih itu masih dapat dikenali.
''I Gede Kalacandra., si 'Dewa Serba Putih..!" desis Roro Wulandari terkejut sekaligus heran. sementara Respati dan Sabarewang yang mendatangi jadi saling pandang tak kalah kagetnya. di saat ketiga orang ini masih keheranan, dari kalangan pertarungan terdengar dua bentakan keras yang di susul dengan dentuman dahsyat membahana dan suara meraung buas memekakkan telinga.
Diantara gemuruh suara tenaga kesaktian yang baru saja saling labrak dan gulungan deru debu yang memenuhi kalangan pertarungan, dalam keremangan kegelapan itu terlihat dua orang lelaki tua yang sama berjubah putih. satu diantaranya mereka kenali sebagai seorang tokoh silat kawakan dari aliran putih yang berasal dari tanah Bali bernama I Gede Kalacandra alias Dewa Serba Putih. pertama kali Roro dan kawan- kawan bertemu orang ini saat kereta mereka di hadang oleh 'Sepasang Kupu- Kupu Darah' dan Ki Suket Gajah si 'Sabit Perak Pencabut Nyawa.'
''Kenapa orang tua ini bisa muncul lagi di hadapan kami, apakah dia masih curiga dengan anak angkatku Anggana.?'' batin Roro bimbang. dia dan kedua kawannya sesaat saling pandang waspada. matanya beralih pada orang kedua yang berdiri di samping Dewa Serba Putih. lelaki yang kira- kira umurnya sebaya dengan I Gede Kalacandra itu juga mengenakan sehelai jubah putih. hanya bedanya dia juga mengenakan sebuah sorban putih di atas kapalanya. raut wajahnya bersih dengan janggut pendek di dagunya. jemari tangan kanan orang tua itu sedang memutar sebuah untaian kalung tasbih yang terbuat dari potongan- potongan kecil kayu cendana.
__ADS_1
Dalam pengembaraannya selama bertahun- tahun di dunia persilatan, Roro Wulandari sang Dewi Malam Beracun punya banyak sekali kenalan, di antaranya ada juga dari kaum Muslim. meskipun Roro tidak mengenal siapa orang tua itu, tapi jika di lihat dari penampilannya mungkin dia adalah seorang penganut agama Islam yang mulai berkembang di jaman kesultanan Demak ini.