13 Pembunuh

13 Pembunuh
Ilmu terlarang si Putri Penjerat.


__ADS_3

Sabarewang berdiri diam termenung. saat ini dia berada di dalam salah satu ruangan rahasia tempat latihan Ki Ageng Bronto si 'Pendekar Golok Bayangan Setan' seperti ruangan rahasia lain yang berada di bawah rumah besar juragan kuda dan kerbau terkaya di Wonokerto itu. dinding ruangannya terbuat dari susunan batu padas.


Ruangan ini sama dengan yang di gunakan Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun' untuk mempelajari ilmu pedang pembunuh yang dapat memperlancar semua rencananya. sudah sejak seminggu berlalu, Roro belum juga kembali dari dunia luar, entah apa yang sedang wanita cantik yang punya berjuta akal licik itu perbuat di luar sana.


Sementara sejak tiga hari yang lalu Sabrewang dan Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' juga sudah dapat bangkit dari pembaringan. meskipun luka mereka belum sembuh benar, tapi untuk berjalan dan sekedar berlatih ringan masih sanggup mereka lakukan.


Sebilah pedang buntung yang memancarkan cahaya kemerahan tergenggam di tangan kirinya. sebenarnya dia bukanlah seorang yang kidal, dia terpaksa memakai tangan kiri karena tangannya yang sebelah kanan pernah cedera bahkan sampai patah bagian lengan bahu sehingga tidak dapat di gerakkan sempurna.


''Kenapa di saat bertarung dengan nenek tua buta itu aku selalu merasa Nyi Sira, 'Mambang Wanita Buta' seperti sangat menginginkan pedang buntung ini. padahal pedang pusaka yang selalu tersarung dalam tongkat merah miliknya punya kesaktian yang lebih hebat dari pedang ini.


Sambil membatin begitu Sabarewang mulai menggerakkan tangannya. pertama dia cuma memutar pedang buntung itu secara perlahan untuk melemaskan ototnya. berikutnya dia mulai bermain jurus silat pedang yang umum dan bisa di kuasai pendekar pedang manapun. awalnya dia cuma memainkan jurus pedang kasaran tanpa aliran tenaga dalam.


Baru setelah melewati sepuluh jurus gerakan dan tenaga kesaktian yang tersalur ke dalam pedang buntung itu mulai terlihat. gerakan jurusnya juga sudah teratur dengan perbawa yang kuat. saat pedang menikam, membacok dan membabat terasa adanya angin tajam yang menyambar membelah udara di dalam ruangan itu.


Sekali ini tubuh tinggi besar Sabarewang bergerak memutar setengah lingkaran, seiring dengan putaran tubuhnya pedang buntung di tangannya menusuk dari bawah ke atas. selarik cahaya merah berbentuk bintang segi empat menyambar. jurus 'Bintang Langit Terpecah.!'


'Bheeet., whuuut.!'

__ADS_1


'Claaass., blaaar.!'


Salah satu sisi dari dinding ruangan batu tempatnya berlatih terlihat pecah membentuk bintang segi empat yang berwarna kehitaman, lalu runtuh ke bawah berupa kepingan puing batu padas. Sabarewang tersengal nafasnya dan jatuh terduduk di lantai.


Karena belum pulih betul, dia harus gunakan seluruh tenaganya untuk dapat melepaskan jurus pedang itu. pedang buntungnya sampai terlepas dari genggaman akibat tidak mampu menahan getaran tenaga sakti yang tersalur ke dalam pedang. namun dia tetap tersenyum melihat hasil jurus serangannya.


Meskipun belum mencapai puncak kekuatan jurus pedang 'Bintang Langit Terpecah' tapi dia telah mampu melubangi dan memecah dinding batu padas yang ada di ruangan itu. beberapa hari ke depan saat sudah kembali pulih seperti sediakala, Sabarewang yakin bakal mampu menggunakan semua jurus- jurus pedangnya dengan sempurna.


Dengan sedikit merangkak Sabarewang berusaha bangkit berdiri sambil mengambil kembali pedang buntungnya. saat itulah dia melihat ada suatu keanehan di gagang pedang buntung itu. sepertinya selain jadi bertambah agak panjang, ukiran pada gagang pedang itu juga berubah dan bergeser.


Awalnya Sabarewang menganggap gagang pedang buntung yang terbuat dari kayu hitam itu sudah agak lapuk atau rusak kuncian ikatannya dengan bagian hulu mata pedang akibat benturan saat jatuh ke lantai ruangan batu. ini karena ada sebuah pasak besi pengunci yang hilang. tapi saat hendak hendak di perbaiki gagang pedang itu malah terlepas.


''Sseet., sset.!'


''Uuts sial., hampir saja dirku celaka.!'' pekik Sabarewang tertahan. saat gulungan itu tercabut keluar, dari dalam gagang pedang yang kosong ikut tersembur dua buah jarum hitam beracun. masih untung orang ini memiliki kewaspadaan tinggi hingga masih mampu berkelit hingga lolos dari bahaya maut.


Setelah yakin tidak ada yang mencurigakan, Sabarewang perlahan membuka gulungan kulit yang sudah terlihat sangat tua dan tipis. di sana terdapat sebuah lukisan seorang tua yang sedang memainkan sebilah pedang. di sekeliling lukisan itu terdapat banyak tulisan dan guratan- guratan aneh berwarna merah. pada bagian atasnya tertulis sebuah kalimat 'Gerakan ketiga ilmu pedang 'Inti Bumi., Jurus 'Inti Bumi Meronta.!'

__ADS_1


Tidak jauh dari tempat Sabarewang berada terdapat sebuah ruangan rahasia lain yang lebih luas, bersih dan wangi. itulah tempat tidur Ki Ageng Bronto. seorang perempuan berbaju kuning terlihat duduk bersila di atas pembaringan itu. selapis cahaya kekuningan terlihat menyelimuti tubuhnya yang kecil dan ramping.


Sepeminum teh kemudian perempuan yang memang si Putri Penjerat itu membuka kedua matanya. sekilas cahaya tajam terbersit dari sana. bersamaan itu tangannya yang tinggal sebelah kanan mengibas beberapa kali ke atas. beberapa larik jalur sinar kuning yang tipis menyambar ke langit- langit ruangan tempat tidur.


Mendadak tubuh si Laba- Laba Kuning itu naik ke atas dengan kecepatan mengagumkan. sesampainya di sana tangan dan kakinya kembali bergerak. jalur- jalur benang baja kuning menyambar ke berbagai arah. tubuh ramping itu turut berkelebatan mengikuti arah sambaran benang sampai akhirnya dia kembali ke atas pembaringan itu.


Saat tiba di sana dia seakan merasa agak kecewa karena butuh waktu lebih lama dari perkiraannya untuk dapat mengitari sekeliling ruangan itu. meskipun ilmu meringankan tubuhnya tidak berkurang tapi karena belum pulih benar, kecepatannya menggunakan senjata benang bajanya menjadi sedikit lebih lambat.


''Kau tidak perlu merasa kecewa karena gerakanmu yang berubah agak lambat. lukamu baru saja sembuh, tidak perlu memaksakan diri untuk berlatih keras. lagi pula dalam keadaan seperti ini saja, aku yakin masih sedikit orang persilatan yang mampu menandingi ilmu ringan tubuh dan kecepatan bergerakmu..'' hibur Ki Ageng Bronto yang memperhatikan Putri Penjerat dari sudut ruangan.


''Aku harus secepatnya pulih karena diriku ingin segera mempelajari suatu ilmu kesaktian yang belum sempat aku pelajari. terus terang saja ilmu ini termasuk terlarang karena punya dampak mematikan bagi para penggunanya. kabarnya., dari lebih seratusan orang yang pernah mempelajari ilmu langka ini, hanya satu atau dua orang saja yang mampu bertahan hidup dan berhasil menguasainya. sedang sisanya keburu mati kehabisan tenaga..'' gumam Putri Penjerat dengan suara sedikit gemetar.


''Kalau memang ilmu itu sangat berbahaya, kenapa kau masih nekat mempelajarinya.?'' sela Ki Ageng Bronto. entah kenapa orang tinggi tambun berkumis tebal itu menjadi khawatir dengan rekannya. padahal semasa mereka masih berada dalam kelompok 13 Pembunuh hampir tidak ada tegur sapa yang terjadi diantara para anggotanya.


''Kalau aku tidak mampu menguasai ilmu ini, bagaimana caraku membantu si nomor dua belas dan tiga belas untuk menghadapi para musuhnya. lagipula aku sudah berhutang budi pada mereka berdua. tanganku juga buntung sebelah. aku perlu ilmu kesaktian baru untuk menutupi kelemahanku itu..'' jawab si Laba- Laba Kuning tegas.


Ki Ageng Bronto agak tertegun melihat tekat rekannya. kalau mau jujur sebenarnya dia juga sudah berhutang nyawa pada kedua orang itu. ''Bicara panjang lebar tapi dirimu masih belum juga mengatakan ilmu terlarang apa yang sebenarnya hendak kau pelajari..''

__ADS_1


''Suatu ilmu langka dari jaman kuno yang aku dapatkan saat mendapat tugas menghabisi seorang tua yang menjadi keturunan terakhir juru kunci ruang pusaka kerajaaan Mataram lama yang sudah punah ratusan tahun lampau. sebenarnya orang tua itu hanya ingin hidup tenang, maka terjadilah pertukaran. dia aku bebaskan dan sebagai gantinya orang tua itu memberiku sebuah ilmu kesaktian langka yang bernama 'Mecah Rogo Mecah Sukmo.!''


__ADS_2