13 Pembunuh

13 Pembunuh
Kipas Bayangan Pengejar Sukma.


__ADS_3

Dengan membawa sebuah keranjang dari anyaman rotan Roro Wulandari alias si Dewi Malam Beracun berjalan santai memasuki desa yang cukup besar dan ramai. dari tulisan di atas gapura pintu masuk desa dapat diketahui kalau tempat itu bernama desa Panjersari. perkiraan Roro desa itu masuk wilayah perbatasan terluar Kadipaten Muntilan, yang merupakan tetangga dari kadipaten Wonokerto.


''Hhm., ramai juga desa ini. kira- kira dimana aku bisa mendapatkan warung makan yang paling enak yah.? duh., perutku lapar sekali..'' gumam Roro sambil edarkan pandangannya.


Waktu itu sudah lewat tengah hari. jalanan di desa yang kering berdebu membuat Roro terbatuk saat ada angin menghempas. kedatangan wanita cantik jelita ini sesaat membuat mata orang- orang di desa itu seakan terpana. mungkin dalam pikiran mereka sedang mengira kalau ada bidadari khayangan yang kesasar turun ke desa ini.


Roro bukannya merasa risih atau malu di lihat penuh rasa kagum oleh hampir semua orang di jalan desa itu. malah dia seperti sengaja menebarkan senyuman manis dan gaya anggun yang menarik hati.


''Hhmm., Bukan salahku lho., kalau mereka sampai terpesona padaku. Uuh., jadi wanita cantik itu kadang serba salah. jika aku bersikap dingin dibilangnya sombong. tapi kalau aku tersenyum ramah mereka bilang aku genit dan sengaja menggoda orang..''


''Aah., persetan dengan semua itu. kalau kehadiran wanita cantik dan pintar sepertiku kalian anggap cuma membawa masalah. yah tinggal tutup saja mata kalian semua, jangan melihat padaku. memangnya cantik itu dosa., tidak kan.?'' Roro menggumam sendirian.


Dengan penuh percaya diri si pembunuh nomor dua belas itu memasuki sebuah warung makan yang ada di pertengahan jalan desa. warung makan itu cukup besar dan ramai pengunjungnya, apalagi saat ini tepat waktunya makan siang. Roro Wulandari seakan sudah menduga kalau kehadirannya bakal membuat para pengunjung warung makan yang sedang ramai itu terkesima. tapi dia tetap bersikap tidak perduli, malahan sepertinya Roro cukup menikmati tatapan kekaguman para lelaki dan pandangan iri hati kaum perempuan kepadanya. dari ujung matanya dia sempat pula melihat dua orang pengunjung yang baru masuk ke warung itu. Roro juga mengetahui kalau keduanya sengaja menyembunyikan sebilah pedang di belakang baju gombrong mereka.


Setelah memilih tempat di meja pojok yang menghadap ke luar Roro segera memesan makanan kepada pelayan warung yang datang menyambutnya. tidak lupa dia juga meminta tiga bungkus nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya untuk ketiga rekannya yang sedang menunggu di kereta kuda. hanya sebentar saja empat pesanan sudah siap di mejanya. tiga nasi bungkus dan hidangan nasi sayur asam dengan lauk ikan lele goreng lengkap dengan sambalnya. dan bukan itu saja, karena sesaat kemudian sang pelayan kembali datang dengan membawa iga kambing bakar yang menebar aroma luar biasa sedap.


''Gila., cantik- cantik makannya banyak juga..'' gumam para pengunjung. ''Apalagi kulihat tadi dia membayar dengan kepingan perak juga emas tanpa mau menerima kembalian. sepertinya wanita cantik ini sangat kaya..'' bisik yang lain.


''Kurasa dia bukan wanita sembarangan, karena berani berjalan datang sendirian ke warung ini dengan membawa banyak uang tanpa takut dirampok..'' kata seorang pemuda yang makan bersama kekasihnya. beberapa kali orang ini melirik- lirik Roro hingga membuat kekasihnya merasa cemburu dan sebal.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Roro bergegas pergi meninggalkan warung. beberapa pengunjung sempat bergumam sambil hidungnya mengendus ''Biarpun orangnya sudah berlalu, tapi bau harum tubuhnya masih tertinggal di sini..''


Hanya sesaat berlalu, dua orang pengunjung juga turut keluar. dari gerakan mereka yang ringan dan tangkas, bisa dipastikan mereka mempunyai bekal ilmu silat. dengan langkah cepat keduanya mengikuti Roro dengan jarak tertentu.

__ADS_1


Tapi alangkah terkejutnya mereka saat sampai di tikungan gapura batas desa, wanita itu sudah lenyap dari hadapan.!


''Sialan., kemana perginya wanita itu.?'' bisik si penguntit yang berpipi tembem sementara rekannya yang bermuka tirus celingukan sambil basahi bibirnya yang mesum. ''Aku heran kenapa kita berdua harus mengikuti kereta kuda itu sejak di tiba perbatasan, perempuan itu cantiknya luar biasa., rasanya diriku ingin merengkuh tubuhnya he., he.,.!''


Keduanya terjingkat kaget saat mendengar teguran dingin dari belakangnya. ''Katakan siapa kalian, dan kenapa mengikutiku.?''


Serentak mereka berpaling kebelakang, kini dihadapannya sudah berdiri wanita cantik berjubah gaun hitam yang memandang dengan sorot mata tajam. tanpa sadar keduanya tersurut mundur.


''Si., siapa yang mengikutimu. Ka., kami berdua cuma kebetulan lewat di jalan yang sama denganmu..''


''Be., benar. lagi pula jalanan desa ini bukan milikmu..'' bantah kedua orang itu gugup.


''Ooh begitukah., baiklah jika memang begitu, silahkan kalian berlalu. aku tidak suka jalan berdekatan dengan dua orang jelek dan tolol.!'' ejek Roro seenaknya. karuan kedua orang ini langsung naik darah.


''Wanita sialan., mulutmu harus dirobek biar tidak bicara sembarangan..'' damprat si pipi tembem. ''Beraninya memaki kami berdua..'' si muka tirus ikut gusar sambil cabut sebilah pedang dari pinggangnya.


Kedua orang itu terkejut dan saling pandang. tanpa banyak kata mereka menyerang Roro Wulandari dengan sabetan pedangnya. si pipi tembem menusuk langsung pundak kiri sekaligus membacok leher, sementara rekannya membabat pinggang kanan. dari angin serangan terlihat mereka cukup berisi. tapi jika di banding Roro kemampuan itu masih terlalu jauh. hanya dengan mundur selangkah dan menggeser tubuh sedikit ke kanan, dua serangan lawan bisa dia hindari.


Meskipun Roro cuma bertangan kosong juga menenteng keranjang berisi makanan di tangan kanannya, tapi dia sama sekali tidak merasa kesulitan menghadapi kedua orang penguntitnya. tiga jurus hanya menghindar, pada jurus selanjutnya Roro mulai balas menyerang.


Tangan kirinya membentuk yang cakar membuat gerakan berputar mencabik dan mencengkeram pergelangan tangan si pipi tembem yang mencekal pedang. sementara kaki kanan kirimkan dua tendangan ke perut dan pinggang si muka tirus.


'Bheet., beet., whuut.!'

__ADS_1


'Craask., dhees.!'


Dua orang meraung kesakitan saat tangan, perut dan pinggangnya terhajar serangan lawan. pedang si pipi tembem terlepas. kulit tangannya robek terpelintir. si muka tirus jatuh terjungkal memegangi perutnya. tapi sepertinya dua orang ini belum menyerah kalah. dengan nekat keduanya bangkit sambil hantamkan sebelah tinjunya. dari tenaga yang terpancar dari pukulan tangan kosong ini, dapat diketahui kalau keduanya masuk golongan pesilat kelas menengah yang cukup tangguh.


Terpaksa Roro mundur, tanpa buang waktu dia babatkan tangannya yang membentuk cakar serangkum angin tajam kemerahan membabat udara. dua orang penguntit menjerit tertahan. bagian dadanya hitam tercabik.!


Biarpun yang di lepaskan Roro sebenarnya adalah jurus Cakar Tengkorak Darah dengan tingkatan yang rendah, tapi sudah cukup membuat kedua lawannya terjungkal roboh.


''Cepat katakan siapa yang memerintahkan kalian untuk menguntit, atau racun cakarku bakal merenggut nyawa kalian berdua.!'' ancam Roro bengis. keduanya menggeliat mengerang kesakitan dijalan yang panas berdebu. beberapa orang mulai mendatangi tempat itu, tapi tak satupun yang berani ikut campur.


Aa., apakah kau akan men., menolong kami ber., berdua jika kami be., beri tahu.?'' ucap si muka tirus memahan rasa sakit dan panas di dadanya. sementara si pipi tembem mulai menjerit bergulingan. karena tangannya juga terluka dan patah. Roro cuma menyeringai. ''Yang jelas kalian pasti mati jika tidak mau menjawabnya. jadi jangan membuang waktuku.!''


Tidak ada jalan lain kecuali mengaku, bersama si pipi tembem keduanya berusahs duduk bersipuh di hadapan Roro ''Ba., baiklah nona., yang menyuruh kami adalah seorang tabib tua dari daerah Jepara yang anaknya..''


Hanya itu saja yang sempat di ucapkan si muka tirus, karena bersamaan dari satu arah melesat tidak kurang dari sepuluh senjata rahasia berupa panah hitam kearah mereka.!


Sambil merutuk Roro cabut kipas peraknya untuk menangkis serangan gelap itu sambil berjumpalitan di udara. meskipun cukup merepotkan tapi tujuh senjata rahasia itu mampu di buat mental. sayangnya tiga lainnya seperti sengaja ditujukan kepada dua orang penguntit itu. tanpa ampun mereka terkapar dengan bagian tubuh menghitam di sambar senjata rahasia panah beracun.


''Keparat jangan kabur.!'' bentak Roro marah. kipas peraknya dibabatkan kedepan. selarik sinar keperakan yang lebar berbentuk kipas menyambar ganas. dengan menggunakan jurus 'Kipas Bayangan Pengejar Sukma' itu Roro bermaksud membabat tubuh lawannya dari jarak jauh.!


Jarak tujuh tombak di depan sana, terdengar jeritan ngeri yang di sertai tersemburnya darah. sesosok bayangan manusia masih sempat berkelebatan diantara kerumunan para penonton. Roro tidak bisa terus menyerang karena khawatir terkena orang lain. tapi dia terkekeh melihat ada potongan tangan berlepotan darah tergeletak di tanah. Roro tahu jurus serangannya tidak mungkin meleset. setidaknya lawan pasti terluka parah.


''Tabib tua dari Jepara., anaknya.?'' Roro diam merenung. alis matanya mengernyit. dia jadi teringat kakak seperguruannya Rumilah. ''Jangan- jangan ini semua ada hubungannya dengan Serikat Kalong Hitam..'' pikirnya tegang.

__ADS_1


*****


Mohon tulis coment dan kritik sarannya. juga like👍 jika anda suka. kalau suka cerita silat seperti ini, anda bisa baca juga novel yang satunya Pendekar Tanpa Kawan. ada sedikit hubungan diantara kedua novel ini. Terima kasih🙏🙏🙏.


__ADS_2