13 Pembunuh

13 Pembunuh
Menunggu pagi hari.


__ADS_3

Roro Wulandari terus berusaha salurkan tenaga kesaktiannya ke dalam tubuh Satriyana. perlahan keadaan gadis itu mulai membaik. setidaknya sekarang nafasannya terdengar lebih beraturan meskipun masih sangat lemah. tidak berapa lama kemudian dia sudah mulai siuman dengan ditandai kedua matanya yang setengah terbuka.


Walaupun tubuhnya merasa masih sangat lemah dan kesadaran dirinya belum pulih seluruhnya tapi Satriyana bisa mengetahui siapa orang yang sedang duduk bersila dibelakang punggungnya sambil terus menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya. gadis itu mulai terisak. perasaan malu dan bersalah membuatnya seperti tidak punya keberanian untuk sekedar melirik wanita cantik itu.


Kegelisahan, perasaan bersalah, hina dan rendah diri membuat jiwa dan aliran darah Satriyana terguncang hingga penyaluran tenaga sakti dari tubuh Roro juga turut tersendat. ''Gadis bodoh., pusatkan saja seluruh perhatianmu dan jangan pikirkan masalah lain agar tenagaku tidak terbuang sia- sia.!'' umpat Roro kesal.


Gadis pewaris Istana Angsa Emas itu agak terkesiap. cepat dia menurut dan kembali pusatkan seluruh jiwa dan inderanya agar dia dapat kembali pulih. ''Segala masalah pasti ada penyebabnya. setelah semuanya selesai aku inginkan jawaban sejujurnya darimu. jika tidak dapat memuaskanku dan ternyata kau memang punya niatan busuk tersembunyi, diriku bisa lupa jika pernah punya adik angkat sepertimu.!'' ancam si 'Dewi Malam Beracun' dengan suara dingin.


Saat mendengar ucapan salah satu wanita paling cantik di dunia persilatan itu, bukan saja Satriyana yang terasa membeku hatinya tapi si 'Maling Nyawa' juga merasa bergidik ngeri. pencuri tua sakti yang masih sibuk memulihkan keadaan aliran tenaga dalam di tubuh Respati ini seolah baru percaya akan adanya ucapan 'Kalau wanita yang paling menakutkan adalah wanita yang sedang marah karena merasa dikhianati kekasihnya.!'


Sepenanak nasi kemudian semuanyapun berlalu. Roro tarik kembali kedua telapak tangannya dari punggung Satriyana. selapis asap kabut kemerahan masih terlihat berputar di atas kepalanya sebelum lenyap seiring tarikan tenaga sakti Roro Wulandari yang mesti juga mengatur pernafasannya agar kembali pulih setelah cukup lama dia menguras tenaga dalamnya.


Adik seperguruan Nyi Rumilah si 'Tabib Mata Hati' itu bangkit berdiri. melihat Satriyana yang cuma memakai lembaran kecil kain hitam sisa dari pakaiannya yang sudah koyak untuk menutupi bagian pinggang dan dadanya hingga dia nyaris bugil, wanita itu tetap saja merasa tidak tega hingga melepas jubah gaun hitamnya sebelah atas lalu di tutupkan ke tubuh adik angkatnya itu.


Sementara Maling Nyawa yang juga hampir bersamaan selesai membantu memulihkan keadaan muridnya tanpa sengaja menoleh ke samping. dibawah cahaya api obor yang tertancap di dinding goa batu terlihat jemari pemilik tubuh langsing semampai itu sedang mengatur rambut hitamnya yang lebat sepanjang pinggul. dengan hanya memakai baju dalam berupa kutang hitam sebatas pinggang, membuat kulitnya yang putih mulus berhias bulu- bulu halus di beberapa bagian terlihat sangat memukau.


''Hei, kakek tua., matamu sedang melihat apa. 'Ileng- ileng umurmu mbah, sampeyan iki wis tuo'. (Ingat- ingat umurmu kek, kau ini sudah tua). atau jangan- jangan., sampai setua ini kau belum pernah bertemu wanita secantik diriku yah.? duh., jika memang benar begitu, kasihan banget. kurasa hidupmu sungguh sia- sia..'' ejek Roro mencibir bertolak pinggang. kalau lagi kumat, perempuan sombong ini memang tidak pernah lupa untuk merendahkan orang lain sekalipun dia tokoh kalangan tua yang sudah selayaknya dihormati.


Maling Nyawa tertegun lalu nyengir malu. ''Aahs., aku hanya menoleh sedikit. kebetulan saja kau cuma memakai pakaian dalam begitu..'' sangkalnya mencoba berkilah. ''Tapi., kuakui dirimu adalah wanita paling memukau yang pernah aku lihat. pantas saja dulu saat bocah lelaki ini masih bersamaku, seringkali dia teringat padamu dan merasa penasaran saat dewasa nanti kau bisa menjadi secantik apa. Hee., he..''

__ADS_1


Roro Wulandari tanpa sadar tersenyum malu. sambil menunduk jemarinya memilin- milin ujung rambutnya yang tergerai indah. gayanya berubah seperti gadis remaja yang baru mengenal asmara, hingga pencuri tua itu menjadi heran. ''Kalau melihat tingkahnya sekarang ini, dia tidak mirip dengan wanita pembunuh bayaran keji yang ditakuti dan bahkan baru saja mengancam nyawa Satriyana..'' batin Maling Nyawa agak bingung.


Sesaat lamanya terjadi keheningan dalam goa itu sampai raut wajah lugu si Maling Nyawa'' berubah tegas. ''Aku rasa sekarang sudah waktunya untuk memperjelas segalanya. Respati kau yang bicara lebih dulu.!'' perintah pencuri tua itu pada muridnya. dengan lebih dulu menarik nafas berat, Respati beringsut maju lantas duduk menunduk di depan Roro yang masih berdiri.


Berikutnya Satriyana juga turut bersimpuh dihadapan orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu. Roro Wulandari hanya mendengus melihat keduanya. setelah terlebih dulu menarik nafas untuk sekedar mengurangi beban hati, Respati mulai bicara. ''Aku sadar kalau kami berdua tidak layak meminta maafmu. tapi kejadian sebenarnya tidaklah seperti yang terlihat..''


''Andaikan kau ingin menyalahkan seseorang, akulah orang yang layak kau salahkan karena jiwaku terlalu lemah. kuharap engkau juga jangan menyalahkan Satriyana sebab dia telah mengorbankan segalanya demi untuk menyelamatkan diriku, termasuk miliknya yang paling berharga..'' tutur Respati sembari terus menunduk. meskipun ucapannya terdengar wajar namun semua orang tahu kalau beban hatinya teramat besar.


.........


Malam semakin beranjak menuju keujungnya. mungkin dalam tidak terlalu lama lagi awal pagi hari akan tiba. di luar sana pertarungan besar- besaran antara pihak 'Kelompok 13 Pembunuh' yang bersekutu dengan para pesilat golongan hitam melawan orang- orang 'Istana Angsa Emas' dan kaum persilatan aliran putih sepertinya juga telah memasuki bagian akhir.


Tidak terhitung lagi jumlah mayat- mayat yang bergelimpangan merata di hampir seluruh pulau 'Seribu Bisa'. darah dan bau busuk yang menggenang seolah siraman air hujan dari atas langit hingga membasahi pulau karang itu. dari keadaannya dapat terlihat kalau kaum persilatan golongan putih sudah berada di ujung tanduk dan cuma menunggu waktu saja bagi mereka untuk menjemput ajalnya.


Jika banyak orang lain yang keheranan, maka tidak demikian dengan orang Istana Angsa Emas yang sudah pernah melihat pertanda buruk ini saat mereka dulu terlibat dalam pertarungan besar di lembah sunyi tempo hari. ''Awas., cepat menyingkir. manusia setan itu telah mengeluarkan mantra sihir untuk membangkitkan mayat seperti tempo hari.!" teriak Dewa Serba Putih panik.


"Haa,, ha., sudah terlambat I Gede Kalacandra. kalian semuanya pasti binasa di penghujung malam ini.!" gelak 'Momok Jelaga Hitam' sambil berusaha bangkit pegangi dadanya yang sesak akibat bentrok pukulan dengan lawannya. "Ketua kami sengaja menunggu sampai mayat yang menumpuk melebihi seribu supaya dapat sekalian membangkitkan seribu mayat hidup.!" si timpal Setan Arak bengis.


Pemabuk jahat ini sebenarnya juga sudah terdesak hebat oleh jurus serangan Ki Sabda Langitan. beruntung saat orang tua berjuluk 'Tangan Penggoncang Langit' itu hendak menghabisinya, gumpalan kabut putih pekat yang muncul membuatnya terperanjat hingga lawan punya kesempatan untuk selamatkan dirinya dari kematian.

__ADS_1


Biarpun para pesilat aliran putih yang bekerja sama dengan pihak Istana Angsa Emas belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang akan terjadi, tetapi mereka memilih untuk menurut dan mundur sejauhnya dari gumpalan kabut itu. sekarang semua pesilat golongan lurus yang jumlahnya tinggal dua ratusan orang saja ini sudah sama berada di satu tempat dengan 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dan orang persekutuan 'Bulan Perak' berada. beberapa orang pesilat menggunakan kesempatan ini untuk sekedar mengobati lukanya sedangkan yang lainnya sama bersiap menghadapi ancaman lawan.


Tidak perlu menunggu lama bagi mereka untuk dapat mengetahui apa yang bakalan terjadi. didahului suara raungan, lolongan juga jeritan parau menyeramkan, dari bawah gumpalan kabut putih muncul ratusan mayat- mayat hidup. ''Huhm., sekarang kalian semua boleh merasakan lagi kehebatan ilmu 'Angonan Mayit Sewu' milik ketua kami yang tidak tertandingi ini.!'' dengus 'Iblis Tangan Biru' yang berdiri di samping pemimpinnya. bekas anggota dari partai Gapura Iblis itu memang suka mencari muka pada ketuanya.


Melihat kepanikan mulai melanda para pesilat yang baru mengetahui ilmu pembangkit mayat itu, Kyai Jabar Seto cepat berseru memberi petunjuk. ''Hilangkan saja segala perasaan dalam hati pada semua rekan atau kerabat kalian yang sudah mati. mereka kini hanyalah mayat hidup yang dibangkitkan dengan ilmu sihir oleh manusia jahanam itu.!''


''Cara terbaik untuk menghabisinya, tikam di tengah dahi lantas penggal kepalanya. ingat, jangan sampai kalian tergigit oleh mereka karena jika mati jasad kalianpun juga akan menjadi mayat hidup seperti mereka.!'' tukas si pemuda pincang bertongkat besi hitam sambil mendahului serangan. sekali saja tongkatnya menusuk sembilan jalur sinar hitam disertai suara ledakan halilintar dan hawa sangat panas melabrak.


Jurus yang dinamai 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' ini bukan saja mampu membuat dahi mayat- mayat hidup berlubang hangus namun juga meledakkan kepala mayat. melihat kejadian itu semangat para pesilat kembali terbangkit. dengan gunakan senjata dan pukulan sakti masing- masing mereka sama mengincar sasaran kepala mayat hidup. sayangnya meskipun terlihat mudah tapi jika diserbu beratus- ratus mayat hidup secara serentak dari delapan penjuru pastilah mereka menjadi kerepotan. ibarat kata dua tiga mayat ditumbangkan, satu atau dua nyawa pendekar harus menjadi gantinya.


Yang agak melegakan adalah kekuatan mayat hidup baru ini tidaklah sehebat dua puluh empat mayat hidup telanjang yang kebal senjata dan pukulan sakti. karena biarpun si pincang bernama Pranacitra, si 'Putri Penjerat' dan juga beberapa pesilat kawakan aliran putih yang punya kesaktian sangat tinggi mampu membuat hancur raga dari mayat hidup itu namun anehnya tubuh mereka yang tercerai- berai bahkan hancur gosong dapat kembali bersatu hingga utuh kembali.


''Celaka., rupanya dua puluh empat mayat hidup bugil itu telah diberikan ilmu 'Mecah Rogo Mecah Sukmo' oleh ketua Kelompok 13 Pembunuh..'' desis Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' terperanjat. dia baru saja berhasil memotong dua sosok mayat hidup menjadi beberapa bagian dengan benang baja saktinya. tapi potongan tubuh mayat itu kembali menyatu.


Putri Penjerat tahu betul kehebatan salah satu ilmu larangan dari Istana Angsa Emas itu karena dia juga menguasainya meskipun belum sempurna. tidak ada jalan lain kecuali terus bertahan dan bertarung sekuat tenaga sambil berusaha mencari jalan keluar. ''Kalian harus berusaha untuk bertahan setidaknya sampai pagi hari tiba.!'' teriaknya memberi semangat pada para pesilat aliran putih.


''Benar kata Putri Penjerat. setahuku di pagi hari kekuatan mayat- mayat hidup ini akan melemah karena tidak tahan dengan cahaya matahari.!'' timpal si 'Panglima Istana Tengah' yang bahu dan tangan kirinya nyaris saja tergigit oleh dua sosok mayat hidup, jika saja rekannya Puji Seruni tidak keburu datang menolongnya.


Biarpun pagi hari mungkin akan tiba tidak lama lagi namun waktu yang biasanya cuma sebentar saja seolah menjadi begitu lama di rasakan oleh setiap pesilat aliran putih. beberapa diantaranya juga mulai putus asa hingga perhatiannya terpecah. dalam hatinya mereka merasa sangat menyesal sudah turut dalam penyerbuan ke pulau Seribu Bisa ini.

__ADS_1


.......


Silahkan menuliskan komentar Anda. Terima kasih.


__ADS_2