
Saat matahari sudah berada di seperempat perjalanan waktunya, kereta kuda yang mereka tumpangi baru bisa keluar dari wilayah kaki bukit Lading, penyebabnya selain jalanan yang agak sempit dan rada suram, daerah itu juga masih liar dan jarang sekali di jamah oleh manusia hingga harus berhati- hati saat menuruni bukit dengan menggunakan kereta kuda yang cukup besar dan berat itu. beberapa kali Sabarewang harus turun untuk menyingkirkan batang pohon tumbang dan batu besar yang melintang jalan. atau sebaliknya menimbun lubang yang menganga di tanah agar kereta kuda tidak sampai terperosok.
Alasan lainnya adalah sebenarnya hati kusir kuda ini tengah bimbang dan ragu untuk memutuskan apakah dia akan tetap ikut rombongan kecil ini ke Wonokerto atau pergi saja hingga tanpa sadar Sabarewang malah membuat pelan jalan kudanya, biarpun Dewi Malam Beracun dan Respati tidak akan menghalangi apapun yang menjadi keputusannya, tapi tetap saja semua terasa berat dan sulit baginya.
Sudah lebih dari dua bulan lamanya mereka berempat merasakan susah dan senang bersama, berbagai kejadian aneh, lucu, seram dan mengharukan telah mereka alami. tanpa sadar Sabarewang tertawa sendiri saat teringat semua kenangan bersama ketiga rekannya itu.
''Alangkah tololnya diriku jika sampai pergi meninggalkan mereka., dalam hidupku sudah berapa ratus kali aku bermain- main dengan maut tanpa ada rasa gentar., sekarang biarpun belum sehebat Nyi Dewi dan Respati, tapi ilmu silatku juga sudah mengalami banyak kemajuan..''
''Lagipula sekarang aku membekal sebuah pedang pusaka buntung yang kuberi nama 'Pedang Lading Buntung.' kalau sampai pergi, kelak diriku pasti menyesal berat seumur hidup. Hhum., paling banter bakal mati terbunuh.!'' pikir Sabarewang sambil menyeringai. entah kenapa dia malah menjadi tenang dan bersemangat. sekali sentak kereta kudanya melaju cepat menuju Wonokerto.
Karena Sabarewang mendadak memacu kereta kudanya membuat Satriyana yang sedang melamun tersentak kaget, hampir saja dia hilang keseimbangan dan terjatuh. beruntung sebelah tangan Sabarewang cepat menahannya, karuan saja gadis itu langsung ngomel dan terus menyumpah- nyumpah. tidak perduli si kusir sudah meminta maaf dia tetap saja ngamuk, tetapi saat Sabarewang berjanji akan memasakkan makanan ikan bakar bumbu pedas kesukaan Satriyana, gadis itu langsung terkekeh riang sambil memuji- muji Sabarewang., Dasar gadis berperut karung yang licik..!
''Apa yang ada dalam pikirkanmu sekarang Tuan Putri Satriyana.?'' tanya Sabarewang. dia sengaja meyebut tuan putri karena bermaksud menghormati tapi juga sekaligus menggoda Satriyana yang punya darah keturunan terakhir keluarga Istana Angsa Emas. gadis itu mencibir pencongkan bibir mungilnya yang mulai merah ranum. ''Kau ini sengaja mau mengejekku yah.?''
''Aku tidak tahu apakah rencana kakak Dewi itu termasuk kejam atau tidak., meskipun dia bilang hanya akan melakukannya saat benar- benar terjepit dan menemui jalan buntu, tapi bagiku tetap saja itu terlalu mengerikan., apalagi dia bilang kalau panahkulah yang akan menentukan keberhasilan siasatnya..''
''Terus terang saja aku merasa ragu bakal sanggup melakukannya..'' gumam Satriyana resah seakan kehilangan kepercayaan diri.
''Walaupun itu benar., jangan kau jadikan beban. pikirkan saja dengan hati yang tenang, tadi aku juga merasakan hal yang sama. sempat terpikir olehku untuk pergi meninggalkan kalian., tapi aku pasti bakal menyesal seumur hidup jika melakukannya..''
Satriyana merangkul pundak Sabarewang yang kekar. ''Benar kakang Sabarewang., lagipula kalau kau pergi siapa yang akan memasak enak untukku., juga mengusiri kereta kuda maut ini.,?''
''Kau ini bocah menyebalkan., yang dipikirkan cuma makanan saja.!'' gerutu Sabarewang sambil mengucek rambut kepala Satriyana. ''Tapi sejujurnya aku suka saat melihat masakanku selalu habis kau ganyang.,''
Kedua orang tua muda ini saling pandang lalu tertawa bersama. seenaknya Satriyana sandarkan dirinya ke bahu si kusir sambil mulai bernyanyi riang., hati anak ini sangat gampang merasa gembira.
__ADS_1
''Sabarewang., saat tengah hari nanti carilah tempat yang nyaman untuk beristirahat. kita perlu mengisi perut, lebih baik lagi kalau bisa bertemu desa yang ada warung makannya..!'' terdengar suara Dewi Malam Beracun memberi perintah dari dalam kereta kuda. si kusir mengiyakan, kedua kuda cokelat meringkik saat tali kekangnya di sentakkan. kereta kuda maut kembali melaju dengan kencangnya.
Jalanan berumput mulai lebar dan rata, satu kali mereka juga sempat bertemu seorang pemburu dan pencari kayu bakar pertanda ada perkampungan di daerah itu.
Benar saja sepeminum teh kemudian dari kejauhan di depan sana sudah terlihat puluhan rumah penduduk. sepintas desa itu cukup ramai penduduknya.
''Nyi Dewi., agak jauh di depan sana terlihat ada suatu perkampungan.'' seru Sabarewang.
''Ooh ya.,? kalau begitu hentikan kereta kudanya disini saja., aku mau turun..''
Biarpun tidak mengerti kenapa mesti berhenti agak jauh dari desa itu tapi kusir kuda itu menurut saja.
Respati dan Roro turun dari dalam kereta kuda. ''Kenapa kita harus berhenti disini, tidak masuk saja ke dalam desa itu Nyi Dewi.?'' tanya Sabarewang bingung.
''Aku tidak mau kejadian di Punggingan terulang lagi di desa itu., kau tahu bukan wanita cantik sepertiku selalu membuat pria tergoda. apalagi dengan pakaianku yang rada terbuka begini., kalian berdua para lelaki pergilah membeli makanan disana. aku dan Satriyana tinggal menunggu saja di sini.!'' ucap Dewi Malam Beracun. wanita ini memang gemar memerintah orang lain.
''Eeh., tapi itukan kenyataan Respati sayang., jadi jangan membantah. turuti saja apa yang kukatakan., mengerti.!'' semprot Roro sambil mendelik bertolak pinggang. Satriyana dan Sabarewang cuma nyengir mendengar pertengkaran kedua orang itu. sementara dalam hati Respati membatin ''Kenapa aku bisa tahan dengan wanita sombong, aneh dan suka memerintah orang seperti ini.,?''
''Bagaimana kalau aku saja yang pergi kesana, kalian bertiga tunggu saja disini..!'' usul Satriyana tiba- tiba. ketiga orang itu saling pandang, belum lagi menjawab gadis itu sudah berlari cepat menuju desa yang jaraknya masih seratusan tombak lebih.
''Hei dik., memangnya kau membawa uang.?'' seru Roro pada Satriyana. beberapa hari belakangan ini dia kadang memanggil gadis itu dengan sebutan adik. yang dipanggil cuma menoleh sebentar sambil lambaikan tangannya. entah mengiyakan atau malah tidak mendengarnya.
Desa itu cukup besar dan ramai meskipun letaknya sangat jauh dari pusat kotaraja. dari pengamatan Satriyana cukup banyak juga kaum pedagang dan pengembara yang singgah di desa ini. setelah edarkan pandangannya akhirnya gadis remaja itu menjumpai sebuah warung makan kecil yang berdiri di sudut kiri jalan desa. dengan menepuk perut langsingnya yang mulai keroncongan meminta jatah, diapun menuju ke warung itu.
Baru beberapa langkah dia berjalan, dari dalam warung terdengar suara keributan disusul terlemparnya tubuh dua orang lelaki kurus bertampang kasar ke tepi jalan. muka dan tubuh kedua orang ini terlihat babak belur. lalu dari dalam warung itu keluar seorang pemuda gagah delapan belas tahunan berbaju rompi warna biru. di tangan kanannya tergenggam sebuah pentungan dari kayu jati.
__ADS_1
''Kurang ajar kau Birunaka., kami diperintah oleh Ki Kebo Dungkul untuk menarik uang pajak keamanan bagi para pedagang yang berada dan sedang lewat di desa Randung ini. tapi kau bukan saja menolak untuk membayarnya malah berani melawan kami.!''
''Apakah kau sudah kepingin mampus dan menyusul orang kedua tuamu ke akhirat.?'' gertak dua lelaki kurus brewokan seraya bangun dari jalan sekaligus mencabut golok dari pinggangnya masing- masing.'
''Wah disini bakal ada keramaian nih, nonton dulu Aah,.'' batin Satriyana bersorak. perutnya yang lapar dan niatnya untuk membelikan makanan seketika terlupakan. bersama para penduduk desa Randung dan pedagang lainnya dia turut melihat keramaian yang bakal terjadi ditempat itu.
''Dasar keparat., kalian berdua tidak perlu berkoar apapun di depanku. dan jangan pernah menyebut kedua orang tuaku, kalian semua tidak layak..!'' bentak pemuda yang bernama Birunaka itu marah.
''Pemuda hina., rasakan ketajaman golokku.!'' rutuk orang yang tubuhnya lebih pendek dari rekannya. bersama kawannya dia menyerbu sambil bacokkan goloknya masing- masing.
Dari cara menyerangnya saja Satriyana dapat mengira kalau ilmu silat kedua orang ini sangat rendah. jurusnya kasar sasarannya juga ngawur. ''Huhm., paling banter dua jurus sudah keok., membosankan.!'' gerutu gadis itu kecewa karena tadinya dia berharap akan mendapat tontonan seru. dua orang pemuda desa yang berdiri di sampingnya dan kebetulan mendengar gumamannya merasa heran. tapi saat terdengar suara dua tubuh terjatuh di sertai jeritan kesakitan, keduanya baru paham kalau gadis hitam manis itu bukan bicara sembarangan.
Dua orang begundal itu cuma sempat kirimkan dua atau tiga bacokan golok yang semuanya dapat dihindari lawannya. tapi sebaliknya saat pentungan kayu ditangan lawan bergerak, tubuh keduanya terjungkal dengan tulang lengan kaki patah, gigi rompal, muka bengkak berdarah. hebatnya golok mereka turut tanggal dan patah. pertanda pentungan kayu itu bukanlah pentungan kayu biasa.!
''Katakan pada Ki Kebo Dungkul., Birunaka si 'Pentung Sakti' akan segera membuat perhitungan dengannya. sekarang kalian enyahlah sebelum aku hilang kesabaran..!'' bentak pemuda berbaju biru itu sambil putar- putar pentungan kayunya. dengan setengah merangkak menahan sakit dua orang begal kurus itupun pergi ketakutan. beberapa penduduk desa terlihat lega dan senang melihat kejadian itu. tapi banyak juga yang merasa khawatir.
Rupanya kekhawatiran mereka terjadi lebih cepat dari perkiraan, karena dari luar jalan desa muncul belasaan orang berperangai kasar bergerak cepat mendatangi. berjalan paling depan adalah seorang lelaki setengah umur berbadan gemuk kekar, kulitnya hitam berambut gimbal dan brewok. dia memakai baju tanpa lengan dari kulit kerbau. di pinggangnya terselip sepasang senjata berbentuk tanduk kerbau terbuat dari besi hitam. dari raut wajahnya tersirat hawa kemarahan.
''Gawat., Ki Kebo Dungkul dan anak buahnya telah datang kemari.!''
''Celaka., ayoh cepat menyingkir dari pada kita kena imbasnya..!''
''Aah., kasihan Birunaka. tapi apa yang bisa kita perbuat..!'' gumam para penduduk desa itu sambil beranjak menyingkir. salah satu diantaranya sempat mengajak Satriyana untuk ikut menghindar. tapi jawaban anak ini membuat mereka tercengang.
''Pergi.,? memangnya kenapa., disini bakal ada pertunjukan bagus. sayang banget kalau dilewatkan begitu saja.!''
__ADS_1
Dua orang pemuda desa itu saling pandang dengan wajah prihatin. ''Sayang sekali gadis cantik manis ini otaknya sudah gila. mungkin kerasnya kehidupan membuatnya bosan dan kepingin cepat mati..'' batin mereka geleng- geleng kepala lalu pergi menyingkir.