
Pertarungan besar- besaran itu masih terus berlangsung hingga jumlah korbanpun makin banyak yang berjatuhan. jeritan menyayat hati denting beradunya senjata dan teriakan penuh dendam amarah seakan irama lagu iblis yang mengundang jiwa menuju alam kematian. waktu malam terus berputar mungkin sudah melewati dini hari.
Sabarewang berdiri dengan angker sambil lintangkan pedang buntung ditangan kirinya, sebelum tubuh tinggi besarnya menerjang maju. pedang buntung menikam lurus sejajar dada. lima larik cahaya merah hitam yang disertai bunyi ledakan menyambar ke depan, inilah jurus 'Lima Sambaran Petir Maut.!
'Whuuuuut., wheeeet., jdaaaarr.!'
'Trraaaang., traaang., ctaaarr.!'
''Aaakh., kusir kuda keparat, malam ini akan kubuat dirimu menemui ajal.!'' seru Bajul Buntung kalap. dalam bentrokan jurus tadi pedang lawan mampu melukainya. meskipun tidak sampai tembus terlalu dalam, tapi lima bayangan mata pedang Sabarewang yang menyambar mampu melukai dada serta kedua bahunya kiri kanan..
Orang terakhir yang masih hidup dalam 'Tiga Siluman Buaya Kali Getih' itu menggembor murka. tanpa perduli dengan lukanya dia kembali menerjang. golok bermata gergaji ditangannya membabat serata perut lantas naik keatas menyapu dada, leher sekaligus memancung kapala lawan. bayangan seekor buaya buas merah mengiringi serangannya.
Kabarnya selama ini belum pernah ada pesilat yang dapat lolos dari serangan jurus, 'Buaya Siluman Melahap Jiwa' yang dilancarkan si Bajul Buntung. sesuai nama jurusnya lawan yang diserang seakan berhadapan dengan seekor buaya siluman raksasa yang sangat menyeramkan, hingga nyali lawan runtuh dan jiwanya seakan terbetot keluar dari raganya.
Tapi sayangnya Bajul Buntung tidak tahu kalau si kusir kuda bertangan kidal yang sedang dia hadapi ini bukan lain adalah orang yang telah membunuh sang ahli pedang kawakan dari kelompok 13 Pembunuh yang bernama Nyi Sira alias si 'Mambang Wanita Buta.!'
__ADS_1
Berturut- turut Sabarewang lancarkan jurus 'Lima Sambaran Petir Maut' yang disusul dengan jurus 'Pusaran Petir Tunggal'. sejak menghisap 'Darah Keabadian' dari tubuh Satriyana dan mendapatkan pedang pusaka buntung, dia berlatih keras di bukit Lading. kemampuan ilmu pedangnya jadi semakin meningkat tajam. gerakan jurus tetap sama, tapi kekuatannya berkali lipat lebih mematikan.
Orang terakhir yang tersisa dari 'Tiga Siluman Buaya Kali Getih' itu terpengah kaget. biarpun jurus goloknya tidak sampai musnah tapi kekuatannya seakan tertahan bahkan dapat ditembus jurus pedang lawannya yang datang laksana hujan geledek, sehingga beberapa kali hawa pedang yang tajam terasa menyayat dan menusuk kulit tubuhnya.
Darah terpercik dari beberapa luka ditubuh si Bajul Buntung. rasanya perih panas seperti terbakar api. dengan kertakkan giginya dia meraung gusar. hampir seluruh tenaga dalamnya dikerahkan untuk dapat melibas balik serangan pedang yang mengancamnya. ''Kusir kuda bangsat., serahkan nyawamu.!'' bentaknya sembari putar golok gergajinya yang serupa deretan gigi buaya yang tajam.
''Haa., ha., seekor buaya buntung hendak menjadikan diriku mangsanya., setan alas. sebentar lagi akan kurajam tubuhmu sekalian mengirimmu ke liang neraka menyusul kedua saudaramu yang duluan mampus.!'' balas Sabarewang tertawa bergelak. dengan tetap mengandalkan jurus- jurus pedang yang sama kusir ini masih yakin mampu merobohkan lawannya. pertarungan merekapun meningkat lebih menegangkan.
Bagi kelompok 13 Pembunuh, kematian dari 'Bidadari Berpayung Emas' dan si 'Naga Urat Hijau' ditangan 'Dewi Malam Beracun' yang disusul dengan dua orang dari 'Tiga Siluman Buaya Kali Getih' sungguh diluar dugaan. meskipun dari pihak Istana Angsa Emas juga kehilangan Ki Sambi Puntung si 'Pendekar Kaki Buntung' tapi tetap saja kerugian mereka lebih banyak.
''Jangan harap kalian bisa menghalangi kami, modar kowe kabeh.!'' damprat pemuda itu gusar. pentungan kayu besar ditangannya terangkat lurus diatas kepala. dengan mata terpejam mulutnya komat- kamit membaca mantra. sekali dia membentak dihantamkan senjata pentungan itu ke bawah.
'Whuuukk., braaaak., draaaak.!'
'Blaaaarr., glaaar., glaaarr.!'
__ADS_1
Suara ledakan menggelegar yang disertai rengkahnya permukaan tanah membuat bumi seakan dilanda gempa besar. puluhan anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis berjatuhan terjungkal. tubuh mereka terperosok kedalam lubang tanah yang rengkah. beberapa orang diantaranya mati terjepit dan tertimbun lubang tanah yang longsor.!
Terakhir kalinya pemuda yang menjadi cucu sekaligus murid dari si 'Dewa Pentung' itu mengeluarkan ilmu kesaktian pentungnya saat melibas Ki Kebo Dungkul dan puluhan anak buahnya yang sedang mengeroyok dirinya. hari itu juga untuk pertama kalinya Birunaka bertemu dengan Satriyana.
Melihat puluhan anak buahnya mati, si 'Sukma Tertawa' mengumpat gusar. tubuhnya yang tambun berjumpalitan di udara. setelah semburkan asap pipa cangklongnya dia hantamkan kedua tangannya yang gempal. dua larik gelombang sinar dan kabut hijau berhawa panas melabrak. dalam kemarahan orang ini tidak lupa mengumbar suara tawa iblisnya yang merobek gendang telinga.!
Dalam kemarahannya orang ini lepaskan dua ilmu kesaktiannya sekaligus. pukulan sakti bernama 'Geledek Hijau Tinju Tertawa' dan ilmu 'Tawa Gila Membetot Sukma' yang sanggup memutuskan urat jantung lawan yang mendengarnya.
Jurata dan Birunaka yang baru saja berhasil menyelamatkan tubuh Roro merasakan telinga dan kepala mereka sakit bagai ditusuk ribuan jarum. juga jantung mereka seakan terbetot dari rongga dadanya, hingga tanpa tertahan merekapun muntah darah. belum sempat pulih dua cahaya hijau sudah menyambar.!
''Haa., haa., ha., mati kalian.!'' bentak Sukma Tertawa. dengan sekuat tenaga Birunaka dan Jurata memutar senjatanya dan berusaha menghindar. golok Jurata berkelebat keluarkan cahaya keperakan, bersamaan itu pentungan Birunaka menyapu kedepan angin sekeras dinding baja melabrak.!
Meskipun tidak mampu menahan ilmu pukulan Sukma Tertawa, tapi masih dapat sedikit mengurangi kekuatannya. kedua orang inipun terpental roboh. golok Jurata terlepas dari gengaman. Birunaka bergulingan kebelakang. saat dua cahaya hijau panas kembali datang mereka tidak mampu lagi bertahan.
Kematian seakan sudah berada di depan mata, semua rekan mereka Sabarewang, Ki Ageng Bronto, Respati, Putri Penjerat maupun para anggota istana Angsa Emas yang sedang bertaruh nyawa menghadapi lawan masing- masing tidak mampu berbuat apapun. tanpa sadar mereka berseru panik.
__ADS_1
Saat itulah melesat dua buah anak panah ungu yang disertai kilatan cahaya petir menyambar. dua kekuatan sakti bertemu, ledakan keras terjadi di udara. meskipun terluka dalam tapi Jurata dan Birunaka selamat dari maut. ujung mata mereka melihat sosok Satriyana berdiri tegak sambil merentang busur panah saktinya.