13 Pembunuh

13 Pembunuh
Akhir pertarungan si buntung.


__ADS_3

Baik Satriyana dan kedua orang tua yang berada di sampingnya hanya bisa mencibir risih melihat kelakuan Roro. mereka alihkan perhatiannya pada pertarungan antara 'Datuk Cebol Naga Guling' dengan si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' sudah berada pada puncaknya. jika saja duel sengit antara kedua anggota 'Kelompok 13 Pembunuh' ini berlangsung sejak awal bisa dipastikan si tua butung dapat memenangkan pertarungan ini lebih cepat. sayangnya dia keburu terluka dalam akibat pengeroyokan lawan.


Maka sekarang tidaklah mudah baginya untuk menghabisi anggota baru itu. meskipun begitu jika dilihat dari keadaan yang terjadi jelas orang tua ini berada di atas angin. apalagi nyali bertarung Datuk Cebol Naga Guling sebenarnya juga sudah mulai lumer saat dia melihat semua kawan dan anak buahnya tewas di bantai kipas sakti si 'Dewi Malam Beracun'.


Belum lagi kehadiran dua lelaki tua dan seorang gadis remaja yang dia kenali sebagai Satriyana sang pemilik 'Darah Keabadian'. dalam hatinya dia merasa terperanjat karena setahunya gadis pewaris 'Istana Angsa Emas' itu masih terkurung di dalam penjara dan sekarat setelah darah saktinya disedot terus- menerus secara paksa.


Sedangkan dua kakek tua yang bersamanya biarpun belum bisa mengenali siapa mereka tapi jelas berada di pihak yang sama dengan Lengan Tunggal Pengejar Roh. berakali- kali bayangan tengkorak hijau yang mengiringi serangan jurus 'Cakar Pisau Hijau Setan Gentayangan' nyaris merobek tubuhnya. biarpun sisik- sisik hitam ditubuhnya sangat keras bukan jaminan tidak dapat dibobol ilmu kesaktian lawan.


''Sialan., Setan alas. jika terus begini diriku bisa celaka. saat ini yang terpenting aku harus bisa kabur dari sini secepatnya..'' batin tokoh silat cebol golongan hitam itu merutuk semakin panik. ini adalah suatu kesalahan besar. karena terpecahnya sedikit perhatian saja dari seorang tokoh silat yang mempunyai ilmu kesaktian sehebat apapun, sudah dapat membuat nyawanya melayang jika dia sedang berada dalam suatu pertarungan.


Berpikir melarikan diri soal mudah tapi untuk bisa melakukannya bukan perkara gampang. dalam kurungan jurus pukulan lawan, dia bahkan tidak punya sedikitpun kesempatan untuk menjauh. jika saja tidak sempat mendapatkan Darah Keabadian dari rekannya si 'Momok Jelaga Hitam' yang kebetulan saja bertemu diperjalanan hingga kekuatannya dapat meningkat, mungkin saat ini dia sudah terkapar mati.


Tiba- tiba saja terjadi sesuatu masalah dalam aliran darahnya. entah kenapa kesaktiannya seperti merosot secara perlahan. ''Keparat., apa yang terjadi dengan diriku. kenapa tenaga saktiku terasa semakin melemah. padahal aku belum bertarung terlalu lama dengan si buntung jahanam ini.?'' batin Datuk Cebol. bahkan saat Cakar Naga Siluman Hitam miliknya menangkis jurus lawan yang datang mengancam leher dan kepalanya, rasa sakit dan panas menjalar sampai dipangkal lengan.


''Aaahk., bangsat tua lengan buntung. aku akan mengadu jiwa denganmu.!'' teriak Datuk Cebol Naga Guling meraung menahan rasa kesakitan dan lemas yang secara aneh terus menggerogoti bagian dalam tubuhnya. dengan gerakan adu jiwa yang diberi nama 'Naga Siluman Hitam Menerobos Langit' tubuh si cebol tua itu melesat cepat bagai bola peluru meriam. cahaya api kehitaman terlihat menyelimuti dirinya.

__ADS_1


Si Lengan Tunggal Pengejar Roh yang sangat yakin bakal mampu membunuh lawannya dalam sekali gebrakan terakhir sungguh tidak pernah mengira kalau lawan berbuat begitu nekat. tidak ada waktu lagi baginya untuk menahan ataupun menghindar. benturan dua ilmu kesaktian terjadi hingga empat atau lima kali di udara.


Untuk dapat mengeluarkan ilmu kesaktian adu jiwa itu, Datuk Cebol Naga Guling harus menggunakan seluruh tenaga kesaktiannya. hasilnya dia bukan saja sanggup menjebol kurungan bahkan juga melukai si Lengan Tunggal Pengejar Roh hingga tubuhnya terpental jauh semburkan darah. tapi orang tua buntung itu memang seorang pesilat kawakan. dalam keadaan terluka parah dia masih sanggup bersalto sekali diatas udara sebelum menjejakkan kakinya ke tanah.


Walaupun begitu orang ini tidak sanggup lagi berdiri. dia hanya jatuh terduduk dengan tangan semper seperti remuk. dua buah cakar pisaunya tanggal dari ujung jemarinya. darah kehitaman menetes dari celah jemari dan juga sudut bibirnya. Roro Wulandari dan tiga orang lainnya sama berseru kaget. hampir serentak mereka berkelebat untuk menghadang Datuk Cebol Naga Guling yang melesat kabur sekalian menolong si tua buntung.


Jika Roro dan 'Malaikat Copet' mengejar si cebol, maka 'Maling Nyawa' juga Satriyana bergegas datang membantu Lengan Tunggal Pengejar Roh. saat itulah terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Datuk Cebol Naga Guling tiba- tiba melolong keras. tubuhnya yang bersisik berselimut kobaran api hitam entah kenapa mulai padam dan berganti cairan merah busuk yang keluar dari dalam kulitnya.


Tubuh orang kate itu roboh bergulingan. cairan darah busuk yang keluar semakin banyak. dari mulut, hidung, mata hingga telinganya juga diantara selakangannya basah oleh darah busuk. dengan disertai teriakan parau pesilat mesum inipun tewas dengan keadaan berubah menjadi mayat kering yang bermandikan darahnya sendiri.!


''Hee., he., tidak kusangka rupanya campuran obat yang aku masukkan ke dalam guci- guci kecil berisikan Darah Keabadian itu dapat membunuh seorang pesilat kelas kakap seperti si cebol hitam jelek sampai menjadi onggokan mayat berdarah busuk..'' ujarnya sambil menyedot pipa cangklong kemenyan yang berada di tangannya.


Roro Wulandari yang mendengarnya seketika tertegun. dengan pandangan menyelidik dia menatap si Malaikat Copet. sebaliknya orang tua itu tanpa sadar melirik tubuh wanita cantik di sampingnya itu. ''Hei., kenapa kau melihatku seperti itu. ataukah dirimu lebih tertarik berkencan dengan kaum lelaki tua tapi masih gagah dan kaya raya sepertiku.?'' goda Malaikat Copet menyeringai mesum.


''Ooh, jadi kau merasa dirimu yang tua ini masih gagah perkasa. aku sih tidak yakin dengan omonganmu. lagipula., para lelaki muda, tampan dan berharta yang memuja diriku masih sangat banyak. sekalipun dirimu seorang ketua perkumpulan besar tapi maaf saja, aku tidak tertarik dengan orang tua yang badannya bau asap tembakau..'' sungut Roro bertolak pinggang.

__ADS_1


''Sekarang katakan padaku, apa maksud ucapanmu barusan kakek Malaikat Copet.?'' yang ditanya mendengus. ''Huhm., banyak orang bilang kau punya otak luar biasa cerdik. tapi kenapa tidak dapat menebaknya.?'' ganti Roro yang melotot kesal. ''Aku cuma sedang malas berpikir saja. jadi jangan mengira diriku tidak mampu menebaknya..''


''Sebelum datang ke goa tempat rahasia kami, kudengar kau sengaja memisahkan diri untuk melakukan sesuatu. padahal dirimu tiba di pulau Seribu Bisa ini bersama dengan kakek Maling Nyawa, sobatku si 'Putri Penjerat' juga si pincang 'Gelandangan Hantu'. aku rasa tujuanmu adalah lebih dulu menyusup ke dalam tempat penyimpanan guci- guci yang berisikan Darah Keabadian..''


''Guci- guci itu tersimpan didalam peti- peti besi yang pastinya selain sangat sulit dibuka juga ruangan penyimpanannya mungkin dipenuhi jebakan maut. selain diriku dan kakek Maling Nyawa, mungkin cuma kau saja di dunia persilatan yang punya kemampuan membongkar segala peralatan rahasia dan perangkap mematikan. karenanya kakek Malaikat Copet dengan mudah dapat masuk ke dalam sana..'' jelas Roro sunggingkan senyuman sombong hingga Malaikat Copet rada terpukau juga.


''Hallahh., kau jangan terkagum seperti itu kek., bagi wanita cantik sepintar diriku, soal sekecil ini sangat gampang untuk ditebak..'' ucapnya sembari tangannya kibaskan rambut hitamnya yang lebat panjang sepinggul. ''Jika cuma itu saja yang bisa kau katakan, Chuih., itu artinya kau hanya seorang wanita yang terlalu sombong..'' cibir Malaikat Copet setengah kesal.


''Aku belum selesai bicara copet tua. engkau datang kesana tentu punya tujuan. sebagian guci- guci kecil berisi Darah Keabadian pasti telah kau curi. sedangkan selebihnya sudah kau campuri sejenis racun pelemas tenaga dan pembusuk jalan darah yang akan bekerja lambat tapi menjadi mematikan jika orang yang meminumnya memakai banyak tenaga kesaktiannya dalam pertarungan..''


''Kurasa itulah penjelasan yang terjadi pada mayat orang kate jelek mesum itu..'' pungkas Roro Wulandari betulkan tali baju kutangnya yang melorot ke lengan. kali ini si Malaikat Copet tidak bisa mengelak lagi. dia cuma dapat tertegun diam, entah sebab kecerdasan Roro ataukah karena tubuh indah wanita cantik itu.


Tanpa sengaja pandangan mata Dewi Malam Beracun teralihkan ke dua buah patahan pisau hijau yang terlepas dari jemari tangan Lengan Tunggal Pengejar Roh yang tergeletak di tanah. sudut matanya juga melirik tangan Datuk Cebol Naga Guling yang kini tinggal kulit kering pembungkus tulang. satu seringai licik perlahan tersungging di bibir merah Roro Wulandari.


..........

__ADS_1


Jangan lupa untuk menuliskan komentar Anda👍 yah, Terima kasih🙏.


__ADS_2