
Seketika ratusan orang yang terlibat pertarungan besar di luar gapura sebelah timur kadipaten Wonokerto itu hampir serentak hentikan serangan pada lawannya. dengan tetap menjaga kewaspadaan mereka sama melihat empat buah kereta hitam yang datang dari kejauhan dan masing- masing di tarik oleh dua ekor kuda coklat melaju cepat dari empat penjuru.!
Empat kereta kuda itu masing- masing di oleh seorang kusir kuda berbaju hitam dan bercaping. anehnya di pertengahan jalan keempat kusir kuda ini sama melompat ke jalanan hingga bergulingan beberapa kali sebelum akhirnya berkelebat lenyap dan menghilang dari pandangan.
Karuan saja kejadian ini mengundang rasa curiga di hati semua orang. namun demikian mereka tidak dapat berpikir lebih jauh karena meskipun tanpa kusirnya, kereta kuda hitam itu terus saja melaju kencang hingga menerobos kerumunan para pesilat yang ada di sana.
''Edan., kereta kuda ini hendak menabrak kita..'' maki seseorang panik lantas berusaha menjauh di ikuti yang lain.
''Cepat menyingkir., kuda- kuda itu sudah menjadi gila.!'' seru yang lainnya setelah melihat mulut semua kuda itu berbusa dengan pandangan mata merah melotot. sementara suara meringkik keras juga terus terdengar. sepertinya kuda- kuda itu sudah kesurupan.
Empat kereta kuda yang menggila terus melaju kencang menerobos kerumunan beratus orang yang ada di sana. beberapa ada yang terlambat menghindar hingga terinjak dan terlindas kereta kuda.
Beberapa tokoh silat yang punya kepandaian dan pengalaman lebih tinggi malah berani menghadang. dengan gerakan cepat dan bertenaga senjata di tangan mereka ganas menebas putus leher kuda sekaligus menghentikan laju kereta hitam.
Kejadian itu berlangsung hampir bersamaan, tubuh delapan ekor kuda coklat yang tersungkur tanpa kepala dengan darah yang menggenang membuat suasana semakin seram. keempat kereta hitam sama berhenti di empat tempat yang terpisah.
Tanpa sadar para pesilat yang datang dari berbagai aliran itu saling lirik dan pusatkan perhatian ke salah satu dari empat kereta hitam yang paling dekat dengan mereka.
Empat kereta hitam di empat penjuru dengan pintunya yang terikat gembok rantai besi. di antara empat kereta hitam itu, manakah yang membawa peti kayu cendana hitam berisi peta rahasia istana Angsa Emas.?
__ADS_1
''Akulah yang telah berhasil menebas leher kuda ini., jadi diriku juga yang punya hak pertama untuk memeriksa isi kereta hitam ini. siapa yang merasa tidak terima., aku Ki Maruta si 'Pendekar Belibis Putih' akan siap menebas kepalanya dengan pedang 'Sayap Belibis Saktiku' ini.!'' ancam seorang tua berjubah putih bertubuh jangkung. di tangan kanannya tergenggam sebatang pedang bermata lentur dan tipis yang gagangnya terukir kepala seekor burung belibis yang memancarkan cahaya putih berkilauan.
Sebagian besar orang persilatan yang ada di sana sama terjingkat kaget. karena dalam kalangan persilatan nama Ki Maruta atau lebih dikenal sebagai 'Pendekar Belibis Putih' adalah seorang pendekar pengembara dari aliran putih yang terkenal berbudi luhur dan gemar menolong sesama. selain itu dia punya hubungan yang baik dengan berbagai kalangan.
Orang ini terkenal dengan tutur kata yang halus, serta jarang turun tangan kejam bahkan pada orang yang sangat jahat sekalipun. hingga beberapa pentolan rampok konon sampai ada yang merasa sungkan jika bertemu dengan orang ini. tapi sekarang sikapnya seperti berubah telengas dan buas hingga mampu menebas putus leher dua ekor kuda. biarpun cuma binatang tapi tindakan ini cukup kejam jika di lakukan oleh seorang tokoh silat aliran putih yang dikenal penyabar dan welas asih.
Belum lagi kalimat bernada tantangan yang dia ucapkan, membuat orang lain berpikir apakah semua berita yang tersiar mengenai keluhuran budi Ki Maruta alias Pendekar Belibis Putih yang selama terdengar hanya isapan jempol belaka. ataukah sebuah peta rahasia istana Angsa Emas dapat merubah perangai seseorang.?
''Huhm. Ki Maruta., apa kau pikir cuma kau saja yang mampu memenggal leher seekor kuda. kalau bukan kamu memangnya tidak ada lagi orang yang bisa melakukannya.?'' damprat Ki Lembu Singkil atau 'Raja Celurit Emas' sembari silangkan kedua celuritnya di depan dada.
''Kalau hanya seekor kuda., tukang jagal daging di pasar juga bisa melakukannya..'' timpal 'Iblis Cebol Kepala Plontos'. orang ini sedang berada di puncak kemarahannya setelah kehilangan rekannya si 'Iblis Cebol Rambut Jabrik' yang tewas dalam pertarungan melawan 'Empat Mayat Hijau'.
''Lihat., Iblis Cebol Kepala Plontos itu telah lancang mendahului kita. anak- anak ayoh bunuh dia.!'' seru Ki Lembu Singkil gusar. dengan mengandalkan sepasang celurit emasnya sang ketua perkumpulan 'Celurit Kembar' ini membabat tubuh si Iblis Cebol. sasarannya jelas punggung dan tengkuk leher lawannya.
Sementara itu Ki Maruta mengumpat dalam hati melihat perbuatan Iblis Cebol Kepala Plontos. tapi untuk mencegahnya sudah tidak mungkin karena dia mesti menghadapi serbuan keenam anak buahnya terlebih dahulu.
Gebrakan yang terjadi di antara tiga tokoh silat itu seakan menyadarkan semua orang yang hadir. hampir serentak mereka kembali saling bunuh hanya karena ingin secepatnya mengetahui isi dari empat kereta hitam itu.
Tidak terkecuali juga para prajurit Demak beserta senopati kepala pasukan yang penasaran dengan peti kayu cendana hitam yang kabarnya berada di dalam salah satu kereta kuda itu., tapi yang manakah itu.?
__ADS_1
Di karenakan sekarang ada ermpat buah kereta kuda hitam di sana, membuat semua perhatian para pendekar yang terlibat pertarungan menjadi terpecah. sekarang mereka seperti terdiri dari empat kelompok pertarungan. masing- masing berebut untuk dapat masuk ke dalam salah satu dari kereta hitam yang mereka yakini menyimpan peti kayu cendana hitam.
Akibatnya jumlah korban tewas lebih cepat berjatuhan. saat waktu belum beranjak siang hari saja sudah hampir separuh dari para petarung itu terkapar menjadi mayat. darah terus mengalir membasahi bumi. kini tinggal para pentolan yang punya ilmu silat tinggi dan nama besar saja yang masih dapat bertahan.
Agak jauh dari tempat pertepuran besar terjadi, dari balik pepohonan terlihat tiga orang berbaju hitam dan bercaping sedang berdiri menghadap seorang lainnya yang juga memakai seperangkat pakaian hitam yang serupa. namun perawakan tubuh orang ini terlihat lebih besar dari ketiga orang lainnya. dia juga membekal golok panjang yang besar.
Dari balik pakaiannya dia lalu mengeluarkan tiga buah kantung uang lalu di berikan pada ketiga orang yang berada di depannya. setelah menerima uang itu tanpa banyak bicara mereka cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Orang bercaping bambu dan bergolok besar, edarkan pandangan matanya dulu sebelum membuka caping lebar yang menutupi sebagian wajahnya. awalnya dia tidak mengerti kenapa pemuda berjuluk 'Ular Sakti Berpedang Iblis' itu memintanya untuk memesan empat buah kereta kuda hitam beserta tiga orang kusirnya. tapi sekarang dia baru memahami kalau itu semua adalah siasat untuk memecah juga mengurangi jumlah lawan yang bakal mereka hadapi.
''Ingat Jurata., sebarkan berita kalau si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' akan menuju Wonokerto dan Empat Mayat Hijau memiliki surat rahasia istana 'Angsa Emas..''
''Selain itu usahakan kau dapat memesan setidaknya empat buah kereta kuda hitam yang serupa dengan kereta kami itu..''
''Setelah semuanya siap kau perlu membuat beberapa pekerjaan lagi untukku., sedang kapan dan apa yang harus kau lakukan dengan empat kereta kuda itu, tunggu saja perintah dariku. kelak aku akan menemuimu atau bisa juga kusuruh orang lain untuk menyampaikan pesanku..'' kata Respati waktu itu sambil memberikan sekantung besar penuh berisi uang kepadanya.
Setelah hampir tiga bulan lamanya Jurata menunggu, akhirnya datang seorang pemuda bernama Birunaka yang mengaku membawa pesan dari si Ular Sakti Berpedang Iblis dan Dewi Malam Beracun agar dia mulai bersiap menjalankan perintah.
Rupanya orang itu adalah Jurata, yang beberapa waktu lalu sempat bertarung dengan Sabarewang. orang yang telah lama berkelana untuk mencari pembunuh dan pemerkosa adik perempuannya dari perguruan silat 'Lutung Ciremai' itu pada akhirnya mampu menemukan sekaligus memenggal kepala si pembunuh adik perempuannya.
__ADS_1
Jika saja Sabarewang tidak mengetahui penyamaran orang yang menjadi rekannya, mungkin sampai saat ini Jurata masih belum bisa menemukan murid murtad perguruan Lutung Ciremai yang menjadi buruannya itu.