
Pertarungan sengit dilembah sunyi yang terpencil itu sudah berlalu seiring dengan datangnya cahaya mentari pagi. saat segala sesuatunya menjadi jelas, maka terlihatlah hamparan ribuan mayat korban pertempuran sengit antara pihak 'Istana Angsa Emas' dan kelompok 13 Pembunuh. meskipun pagi hari itu terasa cerah namun tidak seorangpun yang berminat untuk menyambutnya.
Angin pagi hari yang berhembus menyapu pedataran lembah itu membawa bau anyir darah dari mayat- mayat yang sebagian mulai membusuk, membuat suasana hati orang yang berada disana menjadi semakin gelisah dan ngeri. bahkan beberapa anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' ada yang muntah dan pingsan akibat tidak kuat melihat pemandangan itu.
Sebuah pertempuran panjang yang sangat melelahkan dengan korban ribuan nyawa ini bakal selalu membekas dihati semua orang yang pernah terlibat didalamnya. jangankan hanya pesilat kelas bawah, tokoh persilatan yang sudah kawakan seperti Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan juga harus terus menguatkan jiwanya melihat kawan- kawan karib mereka yang telah tewas.
Meskipun tidak seorangpun didunia ini yang sanggup menghindar dari sebuah takdir kematian tapi orang akan selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya dengan segala cara. dibalik kesedihan hatinya kedua orang itu juga merasa bersyukur jika mereka masih selamat dan dapat bertahan hidup.
'Pulau Seribu Bisa.!' bagi sebagian besar orang yang mendengar ucapan si 'Maling Nyawa' itu sama tercengang dan saling pandang karena belum pernah mendengar nama pulau itu. mungkin hanya Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan saja yang pernah mendengar nama pulau Seribu Bisa itu. tapi mereka tidak pernah mengetahui betul letak dari pulau ini berada dimana.
Lain halnya dengan Roro Wulandari dan Ki Ageng Bronto. sebagai bekas anggota 13 Pembunuh mereka berdua bukan saja tahu keberadaan pulau itu, bahkan pernah cukup lama tinggal didalam sana dengan segala keangkerannya termasuk bermacam hewan beracun yang menghuninya.
''Kalau begitu kita tunggu apalagi., sekarang juga kita semuanya pergi kesana untuk menyelamatkan tuan putri Satriyana sekalian melenyapkan kelompok 13 Pembunuh.!'' usul Panglima Istana Kiri memecah suasana hening. hampir semua orang melihatnya dengan tatapan mata sinis seakan sedang memandang orang bodoh.
''Memangnya kau tahu dimana letak pulau Seribu Bisa. bagaimana cara kita kesana juga apa yang sedang menantimu dipulau itu. kau pikir hanya dirimu saja yang cemas dengan hilangnya Satriyana. jika tidak paham apapun sebaiknya kau diam saja.!'' bentak Roro garang. wanita cantik ini jelas sedang dilanda amarah bukan saja karena Satriyana tapi juga Respati yang turut lenyap.
Seketika semuanya terdiam. entah kenapa saat melihat perempuan ini murka mereka menjadi segan. Roro menarik nafas panjang pejamkan matanya untuk sekedar tenangkan dirinya yang panik. dia sadar hanya dengan ketenangan hati otak pintarnya barulah dapat bekerja.
__ADS_1
Ketika kedua matanya yang indah itu terbuka seulas senyuman sombong dan genit yang menjadi cirinya kembali tersungging dibibir merahnya. ''Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan, kurasa kita perlu tempat istirahat untuk memulihkan tubuh dan pikiran karena semuanya pasti merasa sangat kelelahan. nona 'Panglima Istana Tengah., apakah dimarkas kalian ada tempat yang nyaman untuk mandi.?''
''Huhm., memangnya kenapa, apa kau berniat untuk berkunjung ke tempat rahasia kami. tapi markas kami tidak sembarangan orang boleh memasukinya.!'' potong Panglima Istana Kiri, rupanya orang ini masih merasa kesal dengan sikap Roro Wulabdari yang suka meremehkan orang lain.
''Hei., Dengar muka pucat kurus. pertama., aku sedang tidak bertanya padamu. kedua., kalau memang aku ingin kesana lantas apa yang bakal dirimu perbuat, memangnya kau ingin mandi juga bersamaku. Chuih., jika kalian tidak suka dengan kami, tidak jadi masalah. kita putuskan saja kerja sama kita sekarang juga. kawan- kawanku., mari kita pergi. persetan dengan Istana Angsa Emas.!'' damprat Roro balik mengancam.
Melihat Dewi Malam Beracun dan semua rekannya beranjak pergi membuat Panglima Istana Kiri tertegun kebingungan. kawannya si Panglima Istana Tengah yang memakai kain cadar kuning dan Kyai Jabar Seto coba menengahinya. sedang Ki Sabda Langitan melotot sekejap pada pemuda bergelang emas itu hingga dia merasa menyesal.
''Eehm., saudari Dewi Malam Beracun, harap jangan kau ambil hati perkataan kawanku tadi. dia hanya sedang dilanda kekhawatiran yang berlebihan saja..'' ucap wanita bergelar Panglima Istana Tengah itu. ''Kurasa tidak ada salahnya kalian datang ketempat rahasia kami untuk beristirahat sekaligus mengatur rencana selanjutnya. tapi sebelumnya kita mesti mengurusi dulu mayat rekan- rekan kita yang telah tewas..'' sambung Kya Jabar Seto.
Hampir tengah hari semuanya selesai. rasa lelah haus dan lapar membuat orang tidak berdaya. Roro keluarkan suitan nyaring dengan nada tertentu. sepeminum teh kemudian muncul lima orang perempuan berbaju dan bercadar hitam dengan sulaman bulan sabit perak dari balik perbukitan yang mengurung lembah.
Dihadapan Dewi Malam Beracun mereka membungkuk hormat sambil menurunkan buntelan besar dipundak masing- masing. ada bau sedap terpancar dari dalamnya. Roro sempat membisikkan sesuatu pada lima orang anggota persekutuan Bulan Perak yang jadi anak buahnya sebelum menyuruh mereka pergi. ''Kalian semua cepat ambilah sekedar makanan pengganjal perut dalam buntelan itu..''
Sambil bicara dia lebih dulu mengambil dua paha ayam bakar dan kendi minuman yang sebentar saja sudah ludes dia gasak. Jurata, Birunaka dan yang lainnya turut mengambil. ''Kalau kalian tidak mau akan kusuruh anak buahku mengambilnya kembali.!'' cibirnya melihat orang Istana Angsa Emas yang ragu- ragu hendak mengambil makanan. hampir bersamaan merekapun berebutan.
''Kau dan yang lainnya bisa lebih dulu berangkat bersama orang Istana Angsa Emas. nanti diriku menyusul belakangan. ada suatu masalah penting yang harus aku urusi terlebih dahulu..'' ujar Maling Nyawa. ''Memangnya kakek hendak kemana, tidak bisakah masalahmu ditunda dulu agar kita bisa pergi bersama.?'' tanya Roro heran dan terkejut begitu pula yang lainnya.
__ADS_1
''Itu benar saudara Maling Nyawa. lagi pula jika kau sendirian lantas bagaimana caramu untuk menemukan tempat rahasia kami.?'' Ki Sabda Langitan ikut menimpali. ''Hee., he., kalian tidak perlu khawatir. selama tempat itu masih berada dibumi ini, aku pasti dapat menemukannya. karena tidak ada tempat yang tidak mampu ditembus oleh si Maling Nyawa.!''
Yang tertinggal hanyalah suara dan gema tawanya saja, karena tubuh orang tua itu sudah keburu lenyap dari hadapan mereka tanpa satu orangpun tahu kapan dia mulai bergerak. semua orang tidak dapat menutupi rasa terkejutannya melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh si Maling Nyawa yang jauh lebih cepat dari hantu gentayangan.
''Sungguh edan., meskipun sudah pernah kudengar ketinggian ilmu ringan tubuh orang itu tapi baru kali ini diriku dapat melihatnya sendiri. aku yakin diantara kami semua tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kecepatan gerakannya.!'' gumam Ki Sabda Langitan. Sementara Kyai Jabar Seto juga pesilat yang lainnya hanya bisa geleng- geleng kepala.
Karena tidak ada lagi yang bisa mereka perbuat, akhirnya semua orang beranjak pergi dipimpin Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan menuju tempat rahasia mereka. Jurata dan Birunaka mesti membuat tandu untuk Sabarewang yang masih belum pulih dari lukanya.
Demikian juga orang Istana Angsa Emas juga menandu I Gede Kalacandra yang luka dalam sangat parah dan belum sadar akibat terkena pukulan 'Jelaga Hitam Pembungkus Nyawa' milik si 'Momok Jelaga Hitam'. jika saja pesilat dari pulau Bali ini tidak memiliki hawa kesaktian bersifat dingin yang mampu menahan hawa panas dari ilmu pukulan lawannya, mungkin dia sudah keburu tewas.
Maling Nyawa terus berkelebat diantara rapatnya pepohonan hutan. gerakannya jauh lebih cepat dari setan kelaparan. yang dituju bukan lain adalah tempat awalnya dia bertemu si pemuda pincang murid 'Malaikat Copet'. dalam waktu singkat pencuri sakti itu sudah sampai disana.
Meskipun tidak terlihat seorangpun ditempat itu tapi orang tua bemuka lugu itu tidak menjadi heran. dengan melewati dua buah gundukan batu besar yang ada didepannya dia sudah menemukan satu celah sempit dari mulut sebuah goa yang tertutupi rumput belukar liar.
Sepuluh langkah saja masuk dia sudah dapat melihat rekan lamanya si Malaikat Copet dan si 'Laba- Laba Kuning' alias Putri Penjerat yang sedang duduk bersemedi beralas anyaman daun. dari ubun- ubunnya mengepulkan asap kuning tebal dengan tubuh gemetaran bermandi keringat tanda perempuan ini sedang berada dipuncak ilmu semedinya yang pantang terganggu apapun.
Pemuda pincang bernama Pranacitra juga terlihat disana. yang membuatnya sangat terkejut adalah kehadiran seorang tua bermuka bengis yang cuma punya sebelah lengan saja. Maling Nyawa menatap tajam jemari tangan kiri si buntung yang ditancapi pisau- pisau hijau tajam melengkung bagaikan cakar iblis. guru Respati itu tahu betul betapa ganasnya manusia buntung ini, karena di masa lalu keduanya pernah berada dalam perkumpulan pembunuh bayaran yang sama.!
__ADS_1